JAKARTA – Ada banyak cara menggambarkan kedekatan antarsesama anggota DPR RI. Namun, interaksi antara Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Harris Turino dan I Nyoman Parta memperlihatkan sisi politik yang jauh dari kesan kaku dan formal.
Dalam sebuah video yang diunggah melalui akun Instagram masing-masing, Harris Turino menyapa I Nyoman Parta dengan penuh keakraban. Ia menyebut Nyoman Parta sebagai “saudara saya, Bli Nyoman Parta”, sembari merangkul pundak rekannya tersebut.
Suasana pun berlangsung hangat, santai, dan penuh canda. Di tengah latar ruangan DPR RI yang formal, keduanya justru memperlihatkan komunikasi yang cair dan penuh persahabatan.
Harris bahkan secara terbuka menyampaikan kekagumannya terhadap I Nyoman Parta, khususnya atas besarnya dukungan masyarakat Bali yang mengantarkannya kembali duduk di parlemen.
“Ini adalah Anggota DPR yang saya kagumi, ya, luar biasa sekali,” ujar Harris dalam video tersebut.
Ia kemudian menyebut perolehan suara Nyoman Parta yang mencapai 281.866 suara dari daerah pemilihan Bali.
Bagi Harris, angka tersebut menarik untuk dicermati. Ia bahkan mengaku penasaran mengenai “modal” yang dimiliki Nyoman Parta hingga mampu memperoleh dukungan sebesar itu.
“Bli, modalnya apa, ya?” demikian kira-kira pertanyaan Harris kepada Nyoman Parta.
Jawaban yang tergambar dari cerita Harris justru bukan tentang kemewahan, pencitraan berlebihan, atau gaya kampanye yang serba glamor. Ia menggambarkan sosok Parta sebagai figur yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Harris menceritakan gaya Parta ketika menemui warga. Dari mobil Innova, Parta turun kemudian berjalan menghampiri masyarakat.
Dengan gaya bercanda, Harris bahkan memperagakan langkah tersebut sambil mengucapkan, “teng teng teng teng teng”, yang membuat suasana menjadi semakin cair.
Parta yang mendengar cerita tersebut tampak tertawa dan tersenyum. Ia merespons pujian Harris dengan gestur sederhana, tanpa menunjukkan sikap berlebihan.
Namun, di balik candaan tersebut terdapat pesan politik yang cukup serius.
Menurut Harris, kekuatan Parta bukan hanya terletak pada bagaimana ia menyapa masyarakat ketika masa kampanye. Lebih jauh, ia menilai Parta memiliki kebiasaan untuk terus merawat hubungan dengan konstituen setelah mendapatkan mandat sebagai wakil rakyat.
“Semua warga konstituennya dirawat. Yang sakit, yang meninggal…” kata Harris dalam video tersebut.
Pernyataan itu menggambarkan bahwa hubungan politik dengan masyarakat tidak berhenti ketika surat suara telah dicoblos dan hasil pemilu telah ditetapkan.
Justru setelah mendapatkan mandat, seorang wakil rakyat dituntut untuk terus hadir di tengah masyarakat.
Ketika ada warga yang sakit, ada kepedulian. Ketika ada keluarga yang berduka, ada kehadiran. Ketika masyarakat menghadapi persoalan, ada upaya untuk mendengar dan membantu sesuai kapasitas yang dimiliki.
281.866 Suara dan Makna di Baliknya
Perolehan 281.866 suara yang disoroti Harris bukan sekadar angka dalam statistik pemilu.
Di balik setiap suara terdapat individu, keluarga, komunitas, dan masyarakat yang memberikan kepercayaan kepada seorang calon wakil rakyat.
Karena itu, perolehan suara besar idealnya tidak hanya dibaca sebagai keberhasilan memenangkan kontestasi elektoral. Angka tersebut juga menjadi pengingat mengenai besarnya tanggung jawab yang melekat setelah seseorang memperoleh mandat.
Dalam konteks itulah Harris melihat sosok Nyoman Parta sebagai figur yang menarik untuk dipelajari.
Kesederhanaan ketika turun ke masyarakat, kebiasaan menyapa warga, serta kepedulian terhadap konstituen menjadi bagian dari proses panjang membangun kepercayaan.
Politik tidak selalu harus hadir dalam bentuk pidato besar atau panggung kampanye yang megah. Terkadang, politik justru tumbuh dari hal-hal sederhana: datang, menyapa, mendengar, mengingat persoalan warga, dan tidak menghilang setelah pemilu selesai.
Bukan Sekadar Datang Saat Butuh Suara
Pesan yang muncul dari perbincangan Harris dan Nyoman Parta juga menyentuh satu persoalan penting dalam kehidupan demokrasi: hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat.
Masyarakat tentu berharap wakil yang dipilihnya tidak hanya hadir ketika membutuhkan suara.
Sebaliknya, wakil rakyat diharapkan tetap hadir ketika masyarakat membutuhkan perhatian.
Karena itu, kisah tentang Nyoman Parta yang disampaikan Harris menjadi refleksi bahwa membangun basis dukungan politik bukan semata-mata pekerjaan menjelang pemilu.
Kepercayaan masyarakat dibangun dalam waktu panjang. Ia dirawat melalui interaksi sehari-hari, kepedulian terhadap persoalan warga, dan konsistensi untuk tetap turun ke lapangan.
Bagi seorang politisi, suara masyarakat memang menjadi modal penting dalam memperoleh mandat. Namun setelah mandat diberikan, suara tersebut berubah menjadi tanggung jawab.
Kedekatan Dua Politisi PDI Perjuangan
Interaksi Harris Turino dan I Nyoman Parta juga memperlihatkan sisi lain kehidupan politik di parlemen.
Keduanya berasal dari Fraksi PDI Perjuangan dan tampak menunjukkan hubungan yang akrab sebagai sesama kolega.
Sapaan “saudara saya” yang disampaikan Harris memperlihatkan adanya rasa persaudaraan di antara keduanya.
Tidak ada kesan bahwa percakapan tersebut harus selalu dibungkus dengan bahasa politik yang berat. Justru candaan dan tawa membuat pesan yang disampaikan terasa lebih dekat dengan masyarakat.
Di tengah kesibukan DPR RI dengan agenda legislasi, pengawasan, dan penganggaran, hubungan antarsesama anggota parlemen seperti ini menjadi gambaran bahwa politik juga memiliki dimensi kemanusiaan dan persahabatan.
Kesahajaan sebagai Pesan Politik
Apa yang disampaikan Harris tentang Nyoman Parta pada akhirnya dapat dibaca sebagai pelajaran sederhana.
Seorang wakil rakyat tidak harus selalu tampil dengan kemewahan untuk menunjukkan keberhasilan.
Kadang, turun dari mobil, berjalan menghampiri warga, berjabat tangan, mendengarkan cerita masyarakat, atau hadir ketika ada warga yang sakit dan berduka justru memiliki makna yang lebih dalam.
Masyarakat ingin merasa dilihat, didengar, dan diperhatikan. Di situlah politik memperoleh wajah manusianya.
Kisah I Nyoman Parta yang dibagikan Harris Turino menunjukkan bahwa popularitas dan perolehan suara dapat menjadi hasil dari proses panjang membangun hubungan dengan masyarakat.
Namun, proses tersebut tidak boleh berhenti setelah pemilu. Konstituen bukan sekadar angka dalam daftar perolehan suara. Konstituen adalah manusia yang memberikan kepercayaan, dan kepercayaan itu harus dirawat.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah tuntutan masyarakat terhadap politik yang lebih dekat, sederhana, transparan, dan berpihak pada kebutuhan nyata warga.
Pada akhirnya, politik bukan hanya tentang bagaimana seseorang mendapatkan suara. Politik adalah tentang bagaimana seseorang menjaga amanah setelah mendapatkan suara tersebut.
Dan dari kesahajaan I Nyoman Parta yang dikagumi Harris Turino, muncul sebuah pelajaran: jangan hanya datang ketika membutuhkan suara masyarakat. Hadirlah ketika masyarakat membutuhkan kita.






