Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada diam yang lahir karena takut. Tetapi ada pula diam yang lahir karena cinta. Dan sering kali, diam orang tua ketika dikecewakan anaknya adalah cinta yang sedang menahan luka.
Jangan kira mereka diam karena tidak punya jawaban. Jangan pula menganggap mereka tidak mampu melawan. Mereka tahu apa yang ingin dikatakan, tahu kesalahan yang telah dilakukan, bahkan mungkin memiliki seribu alasan untuk marah. Tetapi mereka memilih menahan kata, karena tahu bahwa kata-kata orang tua memiliki kekuatan yang berbeda, sekali terucap dalam amarah, ia bisa menjadi luka yang dibawa anak sepanjang hidup.
Maka mereka diam. Bukan karena kalah. Tetapi karena cinta membuat mereka lebih memilih menyelamatkan anak daripada memenangkan pertengkaran.
Orang tua bisa kecewa, tetapi berusaha tidak membuat anak kehilangan tempat untuk pulang. Mereka bisa terluka, tetapi tetap memikirkan masa depan anaknya. Bahkan ketika hatinya sendiri dihancurkan, yang mereka khawatirkan justru jangan sampai anaknya hancur oleh kata-kata mereka.
Betapa dalam cinta orang tua: yang terluka adalah dirinya, tetapi yang tetap dipikirkannya adalah kita.
Namun jangan salah memahami diam. Diam bukan berarti kesalahan dibenarkan. Diam bukan berarti orang tua tidak memiliki batas. Ada saatnya mereka menegur, menasihati, bahkan bersikap tegas. Tetapi ketegasan yang lahir dari cinta bertujuan memperbaiki, bukan membalas, menyadarkan, bukan menghancurkan.
Dan mungkin di sinilah seorang anak perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri:
Sudahkah aku menyadari berapa banyak kecewa yang ditelan orang tuaku demi menjaga perasaanku?
Kita kadang merasa orang tua terlalu banyak menuntut, menasihati, atau mengatur. Tetapi kita lupa bahwa sebagian besar hidup mereka telah mereka habiskan agar kita baik-baik saja.
Kita menghitung apa yang tidak mereka berikan, sementara mereka tidak pernah menghitung apa yang telah mereka berikan.
Kita mudah meminta dimengerti, tetapi sering lupa belajar memahami.
Kita ingin kesalahan kita dimaklumi, tetapi terkadang begitu sulit memaklumi kelemahan mereka.
Jangan sampai kita dewasa dalam usia, tetapi terlambat dewasa dalam menghargai orang tua.
Sebab ada luka yang masih bisa disembuhkan dengan meminta maaf. Ada hubungan yang masih bisa dipulihkan dengan kerendahan hati. Tetapi ada kesempatan yang tidak selalu datang dua kali.
Jika hari ini orang tua masih ada, jangan tunggu mereka pergi untuk menyadari nilainya. Datanglah ketika masih bisa datang. Peluklah ketika masih bisa memeluk. Genggam tangannya ketika tangan itu masih bisa kita genggam. Dan katakan maaf sebelum penyesalan tidak lagi memiliki tempat untuk menyampaikannya.
Sebab suatu hari nanti, yang paling menyakitkan bukanlah ketika orang tua memarahi kita.
Yang paling menyakitkan adalah ketika kita ingin mendengar suara mereka, tetapi yang tersisa hanya kenangan.
Maka, jika hari ini orang tua memilih diam, jangan gunakan diam itu untuk semakin menjauh.
Bisa jadi di balik diamnya ada air mata yang disembunyikan, kecewa yang ditelan, doa yang tidak pernah berhenti, dan cinta yang(meskipun terluka) masih membuka pintu bagi anaknya untuk kembali.
Orang tua mungkin mampu membalas, tetapi memilih memaafkan. Mampu berkata keras, tetapi memilih menahan diri. Mampu meninggalkan, tetapi memilih tetap mendoakan.
Itulah ketika amarah kalah oleh cinta. Dan mungkin, itulah pesan paling sunyi yang perlu kita dengarkan:
Jangan tunggu kehilangan untuk belajar menghargai. Jangan tunggu penyesalan untuk belajar meminta maaf. Dan jangan biarkan ego membuat kita terlambat pulang kepada hati yang sejak awal tidak pernah berhenti mencintai kita.





