Oleh: M. Sarmuji, SE, MSi, Sekjen DPP Partai Golkar dan Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI
Rekan-rekan AMPI yang berbahagia. Alhamdulillah pada hari ini kita bisa menyaksikan satu pertemuan yang pertemuan itu bukan pertemuan biasa. Ini pertemuan yang luar biasa karena sebelum-sebelumnya ada dinamika yang luar biasa juga.
Tadi Bung Jerry (Sambuaga, Ketua Umum DPP AMPI) sudah sampaikan, bahwa AMPI ini adalah organisasi tempat kita belajar bersama. Banyak tokoh-tokoh bangsa ini yang lahir dari AMPI karena AMPI memang adalah wadah belajar pada saat orang-orang itu muda.
Dan kesalahpahaman pada anak muda, itu menurut saya biasa. Kalau ada anak muda yang salah, dampaknya enggak hebat-hebat banget. Tapi kalau orang tua salah, itu dampaknya bisa jauh lebih hebat daripada kalau anak-anak muda yang salah.
Kalau ada anak muda nakal, paling-paling ya… Tapi kalau orang tua nakal, ada anggota DPR RI nakal, salah atau sengaja menghilangkan atau menambah satu pasal saja, dampaknya bisa seluruh Indonesia.
Karena itulah semangat belajar itulah kami sangat menghargai anak-anak muda.
Ketua Umum (Partai Golkar, Bahlil Lahadalia) sangat respect pada AMPI. Apalagi beliau pernah menjadi calon Ketua Umum AMPI juga dulu. Saksinya Pak Haris Soelarto, beliau dulu adalah ketua tim suksesnya Ketua Umum Bahlil waktu mencalonkan menjadi Ketua Umum.
Jadi, Ketua Umum akan memberikan perhatian yang penuh pada AMPI. Jadi mohon maaf enggak bisa hadir karena ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan.
Bahkan ketika AMPI akan menyelenggarakan Munas, Ketua Umum menyampaikan kepada saya, ‘Jen, nanti tolong back up pembiayaannya’. Tapi karena panitia meng-WA saya itu pas akhir pekan, ya untuk back up itu juga perlu waktu. Kan enggak mungkin kita tekan ATM keluar Rp200 juta keluar ke tempatnya Bung Dito… untuk memenuhi kebutuhan Munas ini.
Tapi insya Allah kemarin saya sudah ngomong ke Zigo, ‘Zigo, masih bisa diatasi? Siap pak Sekjen’. Saya bicara ke Zigo bukan sebagai calon Ketua Umum, tapi sebagai anggota fraksi. Kalau anggota fraksi kan jangan dikasih urusan kecil begini kan kalau dipertanyakan. Tapi tenang saja, hari ini kita selesaikan.
Rekan-rekan sekalian, saya juga pernah mengalami konflik yang hebat. Ini juga untuk menjawab melanjutkan tadi ada video saya pernah ada Q and A, Question and Answer waktu diadakan di AMPI waktu itu. Ada satu pertanyaan yang sering datang ke saya dan belum pernah saya jawab hari ini, hari-hari ini belum pernah saya jawab. Ada satu pertanyaan yang sering ditanyakan ke saya dan forum ini saya rasa tepat untuk saya sampaikan supaya ada proses membagi pengalaman.
Saya sering ditanya, ‘Pak Sekjen, kenapa kok Pak Sekjen tampak tenang sekali menghadapi dinamika yang hebat?’ Seperti tahun… bulan Agustus tahun lalu ada dinamika yang luar biasa hebat di gedung ini. Tapi saya sebagai Ketua Fraksi, alhamdulillah hanya Ketua Fraksi Golkar yang waktu itu berani tampil untuk menyampaikan sikap bagaimana menghadapi situasi…
Itu semua karena ada proses belajar yang intens. Saya pernah suatu saat terpilih menjadi ketua umum cabang di sebuah organisasi. Tetapi dinamikanya luar biasa. Saya terpilih hanya menang satu suara, sementara mid-formatur saya dua-duanya lepas.
Kalau di organisasi kami, itu menyusun pengurus itu satu orang formatur sekaligus ketua formatur dan dua orang pembantu formatur. Saya terpilih hanya satu suara, tetapi begitu memilih mid-formatur, saya kalah. Jadi mid-formatur dua-duanya lepas dari saya. Terjadi dinamika yang luar biasa proses penyusunannya. Lalu menyusun pengurusnya sudah susah sekali untuk… Akhirnya saya menerima SK. SK ada pengesahan pengurus, tetapi dalam satu periode, kalau Pak Jerry tadi satu periode diberikan kesempatan Sekjen, saya satu periode yang seharusnya setahun menerima tujuh kali SK dari Pengurus Besar. Pertama SK pengesahan, kedua SK pencabutan SK, ketiga SK caretaker, keempat SK pencabutan caretaker, kelima SK pengesahan kembali, dan dua kali lagi SK. Pak Haris Soelarto tahu cerita ini.
Itu terjadi dinamika yang luar biasa pada saat-saat itu. Pada saat terjadi konflik, saya membaca buku namanya buku Bhagavad Gita. Di dalam Bhagavad Gita itu diceritakan bagaimana Arjuna sewaktu mau perang Baratayuda hendak meletakkan busur Arjuna yang halus. Lalu terjadi dialog yang luar biasa antara Kresna dengan Arjuna.
Kresna mengatakan, ‘Wahai Arjuna, kenapa engkau letakkan kembali busurmu, kenapa tidak engkau lontarkan anak panahmu?’ Lalu Arjuna menjawab, ‘Wahai Kresna, sang pengusung. Bagaimana aku bisa mengarahkan busur ini, melepaskan anak panahku kepada saudara-saudaraku sendiri yang berdiri di depan mata? Ada Bisma, ada saudaraku, kemudian ada saudara sepupuku’.
Tetapi apa kata Kresna? Kata Kresna, ‘Wahai Arjuna, bukan engkau yang menyelesaikan masalah, melainkan Dharma suara hati’. Saya ceritakan ini karena konfliknya sudah selesai. Kalau konfliknya belum selesai, enggak usah cerita nanti malah tambah konflik. Akhirnya Arjuna melontarkan anak panah. Dan ada korban yang luar biasa.
Karena itulah ketika ada konflik di AMPI yang dinamikanya sudah tidak sehat untuk AMPI, sebelum perang Baratayuda terjadi, kita jaga agar konflik itu tidak menjadi perang Baratayuda.
Saudara-sekalian yang saya hormati, kenapa saya katakan ini? Karena setiap konflik pasti harus ada ujungnya. Setiap dinamika harus ada konsensusnya. Bahkan di Partai Golkar pun, kami merajut konflik jangan sampai konflik itu mengarah pada membentur pada keretakan dan kehancuran.
AMPI hari ini menunjukkan proses belajar yang intens dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Proses belajar yang akhirnya menemukan titik temunya, menemukan konsensusnya.
Saudara Jerry dengan segala kelebihan dan kekurangan telah mendharmabaktikan tenaganya, pikirannya, dan mungkin dananya untuk melanjutkan eksistensi kebesaran organisasi. Dengan segala kekurangannya juga, kelebihannya hebat. Saudara Jerry telah berbesar hati melihat konteks dan momentumnya yang mau mempercepat Musyawarah Nasional AMPI demi untuk kepentingan yang lebih besar.
Kader AMPI dan eksponennya memang harus memiliki ketajaman terhadap konteks politik dan momentum. Kalau konteks politiknya seperti ini, apa yang harus dilakukan? Kalau momentumnya seperti ini, apa yang harus kita kerjakan? Dan hari ini kita menyaksikan bersama-sama kemampuan kader Golkar, meskipun paham anak muda, memahami konteks dan momentum politik untuk tujuan yang lebih besar.
Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, ada satu pertanyaan juga mengenai organisasi kita. Ketika ada AMPG yang tujuannya juga untuk menjangkau pemilih muda, pertanyaannya: apakah AMPI masih relevan di saat ada gerakan muda Partai Golkar, wadah lainnya bernama AMPG?
Dulu, waktu saya masih remaja, di desa kami hanya ada dua organisasi yang eksis di desa tersebut, plus satu lagi. Yang eksis waktu itu satu adalah AMPI dan dua adalah Karang Taruna. Hari ini, AMPI masih eksis dan ini juga masih eksis. Tetapi tantangannya adalah ada satu organ anak muda di Partai Golkar yang juga eksis yaitu Angkatan Muda Partai Golkar.
AMPI harus mengambil ceruk dan segmentasi sendiri. AMPI harus mampu menentukan di mana pergerakan dia. AMPI harus mampu melihat celah apa yang paling mungkin dikerjakan oleh organisasi kepemudaan yang berafiliasi pada Partai Golkar tapi tidak in-body di dalam partai.
Kalau AMPG, itu karena in-body dia memakai seragam Partai Golkar. Saya hari ini mohon maaf tidak memakai seragam partai secara terang karena memang saya kalau datang ke ormas kebiasaan saya tidak membawa seragam partai. Tapi saya tetap beridentitas partai supaya tahu mana yang ormas, mana yang in-body di dalam partai.
AMPI itu penting dan harus mengambil peran karena melalui AMPI ini anak-anak muda bisa melakukan sosialisasi politik. Anak-anak muda tidak bisa didekati dengan cara yang hardcore, tidak bisa didekati dengan sesuatu yang terang. Politiknya tidak mau mereka terang. Tetapi bisa didekati dan difungsikan AMPI ini untuk melakukan sosialisasi politik, penyesuaian pelan-pelan anak muda untuk masuk ke dalam dunia politik.
Mereka banyak yang apatis. Mereka banyak yang alergi politik. Tetapi kalau didekati oleh AMPI sebagai media pembelajaran, sebagai media untuk mendekati anak muda, mungkin mereka tidak akan kaget dan sebagainya pada saatnya mereka masuk dalam dunia politik. Pelan-pelan dengan soft entry, dengan pendekatan yang jauh lebih halus, anak-anak muda itu bisa dibangkitkan kepeduliannya pada politik dan lama-kelamaan akan masuk dalam politik, khususnya kepada Partai Golkar.
Kalau AMPI mampu menggunakan segmentasi itu, insya Allah AMPI akan makin diperhitungkan baik sebagaimana sebagai organisasi kepemudaan maupun sebagai instrumen Partai Golkar.
Anak-anak muda sekarang punya karakter yang jauh berbeda dengan generasi saya, generasi Bung Jerry. Kalau generasi saya mencari informasi dari buku, dari koran, dari majalah. Tapi kalau anak muda generasi Z mencari informasi dari internet.
Belum hilang kaget-kagetan kita dengan generasi Z, Gen Z, sudah datang satu generasi baru yang pendekatannya jauh berbeda. Gen Z adalah digital native. Mereka sejak kecil sudah mengenal internet. Generasi saya masih menggunakan internet sebagai teknisi internet. Gen Z tidak menyadari lagi memakai internet seolah-olah bukan lagi sebuah alat.
Datang generasi baru, Gen A, Generasi Alpha, yang bukan lagi digital native tetapi mulai AI native. Generasi digital itu karakternya minta informasi melalui internet, tapi generasi Alpha mencari jawaban melalui AI.
Anak-anak sekarang kalau ditanya bukan kepada orang tuanya, tidak mencari informasi dari buku, dari koran, tetapi mereka cuma bertanya kepada AI. Minta jawaban kepada AI, ‘Wahai AI, aku ingin ini apa jawabannya? AI, aku ada soal ini apa jawabannya?’ Langsung fokus.
Mendapati Generasi Z dan Generasi Alpha tentu membutuhkan pendekatan yang jauh berbeda dengan generasi-generasi kami, generasi milenial, apalagi… Hanya anak-anak muda, terutama di Golkar, hanya anak-anak AMPI yang mampu melakukan pendekatan pada Generasi Z dan Generasi Alpha.
Karena itulah, ini tugas yang sangat berat yang nanti akan diemban oleh… Partai Golkar mengharapkan anak-anak AMPI yang lebih muda, yang lebih Gen Z dan Generasi Alpha membantu kami untuk mensosialisasikan, menyebarluaskan ekosistem digital supaya penggunaan di partai semakin masif.
Karena partai hari ini tanpa memahami karakter dunia digital dan AI pasti cepat atau lambat pasti akan dimakan oleh zaman. Orang-orang tua yang senior-senior seperti Bang Gandung, Prof Gandung Dasahum, mungkin tidak menggunakan ekosistem digital, mungkin tidak terasa akibatnya. Tetapi partai ini tanpa menggunakan ekosistem digital seperti tidak tersambung dengan masa depan.
Kalau hari ini kita bisa eksis berkat generasi-generasi senior yang tidak paham AI dan digital, partai ini masih bisa eksis. Tapi 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, orang tidak mau memahami dunia digital sudah pasti akan dimakan oleh zaman dan keadaan.
Karena itu, kami minta sekali kepada AMPI untuk makin mendekati anak-anak muda yang punya karakter yang jauh berbeda. Yang punya kemauan berbeda. Yang memiliki isu berbeda. Mengharuskan kita untuk memakai pendekatan yang berbeda.
Kalau AMPI bisa melakukan peran itu ke depan, insya Allah eksistensi AMPI akan semakin dihormati. Akan makin banyak lahir tokoh-tokoh politik dari AMPI. Akan makin banyak calon anggota DPR RI dari AMPI. Akan makin banyak menteri dari AMPI dan menjadi tokoh-tokoh bangsa dari AMPI.
Saudara-saudara yang saya hormati, barangkali itu saja yang perlu saya sampaikan pada kesempatan kali ini.”






