Menembus Batas Kasatmata: Nyimas Indah Indigo, dari Kartu Tarot Hingga Jejak Misteri di Bekasi

JAKARTA | MEDIA BELA RAKYAT — Di balik hiruk-pikuk Jakarta, ada kisah seorang perempuan muda nan cantik jelita yang sejak kecil mengaku akrab dengan pengalaman yang berada di luar jangkauan penglihatan sebagian orang. Nyimas Indah Indigo (23) dikenal sebagai sosok indigo sekaligus pembaca kartu tarot, ia tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur.

Indah menjalani aktivitas membaca tarot sebagai media untuk membantu orang memahami persoalan hidup melalui simbol-simbol kartu. Baginya, setiap kartu bukan sekadar gambar, melainkan rangkaian simbol yang dibaca dengan intuisi dan disampaikan secara jujur.

“Saya sejak kecil sudah mengalami hal-hal yang menurut saya berkaitan dengan dunia kasatmata (gaib-red). Saya bisa melihat dan berkomunikasi dengan sosok yang mungkin tidak bisa dilihat orang lain, tapi saya tidak pernah ingin menakut-nakuti siapa pun. Saya hanya menjalani apa yang saya alami dan berusaha memahami semuanya dengan tetap mengingat Tuhan,” ujar Nyimas Indah kepada awak media, Jum’at (18/9/2026).

Perkenalannya dengan kartu tarot mulai berkembang ketika Indah berusia sekitar 17 tahun. Dari aktivitas tersebut, namanya perlahan dikenal. Ia mengaku pernah memberikan perspektif kepada seorang pengusaha yang sedang berada dalam kondisi bangkrut. Setelah mengikuti solusi yang disampaikan, menurut cerita yang diterima Indah, usaha tersebut kemudian kembali bangkit dan berkembang. Namun bagi Indah, pengalaman itu bukanlah bukti bahwa dirinya memiliki kekuatan untuk menentukan nasib seseorang.

“Saya hanya membaca simbol dan memberikan perspektif. Kalau kemudian seseorang menemukan jalan keluar, semua tetap atas izin dan kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Pengalaman spiritual kemudian membawa saya menapaki lokasi-lokasi yang dikenal memiliki kisah mistis, mulai dari pabrik kosong, apartemen terbengkalai hingga pemakaman yang dianggap keramat. Salah satu penelusuran terbarunya dilakukan di kawasan Kemang, Pondok Gede, Bekasi. Di tempat tersebut, saya beserta Kang Aditya Damar Wijaya mencoba menyusuri lokasi yang oleh masyarakat sekitar kerap dikaitkan dengan cerita penampakan, suara-suara aneh serta pengalaman mistis lainnya,” ungkapnya.

Menurut Indah, “Penelusuran bukan semata-mata mencari sensasi, melainkan mencoba memahami pengalaman yang berkembang di tengah masyarakat. Saya tidak meminta semua orang mempercayai pengalaman saya. Itu adalah bagian dari perjalanan spiritual yang saya alami. Yang paling penting bagi saya, semua tetap kembali kepada Tuhan,” tuturnya.

“Sosok ‘Nyimas’ yang melekat pada namanya juga memiliki cerita tersendiri. Indah menegaskan bahwa sebutan tersebut bukan gelar bangsawan ataupun gelar keturunan resmi. Menurut pengakuannya, sebutan itu berkaitan dengan pengalaman spiritual dan sosok pendamping yang diyakininya. Ia menyebut adanya sosok ‘Bunda Ratu’, simbol macan putih, serta kisah leluhur yang menurutnya memiliki keterkaitan dengan Brawijaya, Siliwangi dan garis keluarga Dayak,” jelasnya.

Dalam penelusuran di Kemang, Indah tidak berjalan seorang diri. Ia didampingi Aditya Damar Wijaya, sosok yang memiliki pengalaman dalam dunia penelusuran mistis dan pernah menjadi host sekaligus bagian dari tim Lingkar Ghaib. Pengalaman tersebut membuat Aditya cukup akrab dengan berbagai lokasi yang memiliki cerita misteri. Namun menurutnya, penelusuran semacam itu tidak boleh semata-mata dibangun di atas ketakutan atau sensasi.

“Penelusuran mistis yang kami lakukan pada 8 September 2026 lalu bukan sekadar datang ke tempat gelap lalu mencari sesuatu yang menyeramkan. Ada cerita masyarakat yang perlu didengar, ada kondisi lokasi yang perlu diperhatikan, dan ada pengalaman masing-masing orang yang harus dihargai. Yang paling penting, tetap menggunakan akal sehat dan tidak buru-buru menyimpulkan sesuatu sebagai fakta,” ungkap Aditya Damar Wijaya.

“Cerita mengenai TPU di kawasan Kemang, Pondok Gede, misalnya, selama ini berkembang melalui pengalaman warga yang mengaitkannya dengan penampakan genderuwo, kuntilanak hingga suara-suara misterius. Namun cerita tersebut tetap merupakan kesaksian dan kepercayaan masyarakat yang belum menjadi bukti ilmiah mengenai keberadaan makhluk gaib. Justru di titik inilah perjalanan saya dengan Nyimas Indah menjadi sebuah kisah tentang manusia yang mencoba menelusuri batas antara pengalaman, keyakinan dan sesuatu yang belum mampu dijelaskan. Sebab misteri boleh menjadi pintu untuk bertanya, tetapi kebenaran tetap membutuhkan kehati-hatian; dan bagi Indah, sejauh apa pun manusia menyibak yang tak kasatmata, pada akhirnya seluruh kuasa tetap kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Pungkas Aditya Damar Wijaya.
(CP/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *