Bahaya Kenikmatan Dunia: Ketika Nikmat Menjadi Bencana

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, F-PKS, Kalimantan Selatan I

Banyak orang hancur bukan karena tidak punya dunia, tapi karena ditenggelamkan oleh dunianya sendiri.

Rasulullah SAW bersabda dengan sangat keras:
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ

“Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan.” (HR. Baihaqi)

Cinta dunia tidak langsung membuat orang kafir, tapi ia membuka semua pintu dosa satu per satu.

Inilah 7 Bahaya Paling Mematikan dari Kenikmatan Dunia:
BAHAYA 1: MELALAIKAN DARI MENGINGAT ALLAH

Ini bahaya paling awal dan paling halus.

Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Wahai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Bentuknya kekinian: Sibuk meeting sampai lewat waktu shalat. Sibuk cek saham, cek orderan, cek like Instagram, tapi Qur’an sehari tidak dibuka. Bukan karena benci agama, tapi karena terlalaikan.

BAHAYA 2: MENIMBULKAN KESOMBONGAN DAN MERASA HEBAT – PENYAKIT QARUN

Harta membuat orang lupa darimana asalnya.

Qarun berkata:
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي

“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)
Ia lupa bahwa itu titipan. Akhirnya Allah benamkan Qarun beserta rumah dan hartanya ke dalam bumi.

Ini terjadi sekarang pada orang yang baru naik jabatan, baru punya mobil, baru viral — lalu merendahkan orang lain, tidak mau dinasehati, merasa paling berjasa.

BAHAYA 3: DUNIA MEMPERBUDAK MANUSIA

Rasulullah bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ

“Celakalah hamba dinar dan hamba dirham.” (HR. Bukhari)
Orang yang menyimpan dunia di tangan, ia menganggap dunia titipan Allah. Ia pakai untuk ibadah. Ia tenang.

Orang yang menyimpan dunia di hati, ia menganggap semua miliknya. Akibatnya ia diperbudak. Hidupnya ditentukan oleh ada tidaknya harta. Kalau untung ia sangat gembira, kalau rugi ia sangat stres sampai depresi, bahkan bunuh diri. Karena Tuhannya sudah bukan Allah, tapi hartanya.

BAHAYA 4: TIDAK PERNAH PUAS, SEPERTI MINUM AIR LAUT

Manusia yang terlena akan mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya terus. (QS. Al-Humazah: 2-3) Ia mengira hartanya akan mengekalkannya.
Sifat dunia: Makin dikejar, makin haus.

Punya motor ingin mobil, punya mobil ingin mobil mewah, punya rumah 1 ingin 3. Gaji 10 juta kurang, 20 juta kurang, 100 juta pun masih kurang. Inilah yang disebut Rasulullah sebagai At-Takatsur – bermegah-megahan yang melalaikan sampai masuk ke liang kubur. (QS. At-Takatsur: 1-2)

BAHAYA 5: MENJERUMUSKAN KEPADA YANG HARAM

Karena cinta dunia, orang menghalalkan segala cara.

Demi target, demi closing, demi gengsi:
• Berani ambil riba, pinjol, paylater

• Berani korupsi, curang dalam timbangan

• Berani suap, berani menipu
Padahal Rasulullah sudah ingatkan:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau.” (HR. Muslim) Manis di awal, tapi racun di akhir jika salah cara mengambilnya.

BAHAYA 6: MEMBUAT PANJANG ANGAN-ANGAN DAN LUPA MATI

Orang yang cinta dunia menunda taubat. Pikirnya: “Nanti saja hijrahnya, masih muda. Nanti saja shalatnya, masih sibuk.”

Rasulullah memegang pundak Ibnu Umar dan berkata:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah di dunia seperti orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari)
Pengembara tidak pernah berpikir untuk membangun istana di tempat persinggahannya. Ia hanya bawa bekal secukupnya untuk lanjut perjalanan.

BAHAYA 7: PENYESALAN DI AKHIRAT YANG TIDAK BERGUNA

Di Padang Mahsyar nanti, semua ditanya. Dan manusia baru sadar:
يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan amal saleh untuk hidupku ini.” (QS. Al-Fajr: 24)

Hidup yang sebenarnya adalah di akhirat. Dunia ini cuma tempat meninggal, bukan tempat tinggal.

KISAH SEJARAH SEBAGAI BUKTI
1. Raja Namrud: Punya kekuasaan seluas dunia, akhirnya mati karena seekor nyamuk yang masuk ke hidungnya. Hina.

2. Firaun: Mengaku sebagai Tuhan karena kerajaannya, hartanya, sungainya. Akhirnya ditenggelamkan di Laut Merah dengan segala tentaranya.

3. Sahabat yang Selamat: Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, sangat kaya raya. Tapi mereka selamat karena rumusnya: Dunia di tangan, bukan di hati. Utsman membeli sumur Raumah untuk umat, membiayai setengah pasukan Perang Tabuk. Hartanya menjadi jembatan ke surga, bukan jurang ke neraka.

KONTEKS KEKINIAN – WAJAH BAHAYA DUNIA HARI INI
1. Penyakit Flexing: Pamer harta di TikTok/IG untuk validasi. Padahal itu mengundang hasad orang lain dan mengundang murka Allah. Rasulullah melarang kita berlebih-lebihan.

2. Hedonisme dan YOLO: Prinsip “You Only Live Once” dipakai untuk foya-foya, bukan untuk beramal. Hidup seakan tidak akan mati.

3. Jeratan Pinjol dan Gaya Hidup: Statistik

OJK menunjukkan ribuan orang terjerat pinjol karena ingin terlihat kaya. Rumah tangga hancur, karena memaksakan gaya hidup yang bukan kemampuannya.

4. Burnout Spiritual: Banyak orang kaya tapi tidak bahagia, cemas, insomnia, kosong hatinya. Karena yang diisi hanya perut dan rekening, tapi ruhnya tidak pernah diberi makan dengan dzikir dan sujud.

PENAWAR BAHAYA DUNIA
Imam Ghazali memberi obatnya:

1. Introspeksi Harian: Tanya setiap malam, “Hari ini hartaku lebih banyak untuk diriku atau untuk Allah?”

2. Zuhud, Bukan Miskin: Zuhud bukan berarti tidak punya apa-apa. Zuhud artinya hatimu tidak bergantung pada apa yang ada di tanganmu. Kalau ada, bersyukur. Kalau tidak ada, bersabar.

3. Perbanyak Mengingat Pemutus Kenikmatan: Yaitu kematian. (HR. Tirmidzi)

4. Berkumpul dengan Orang Shaleh: Karena teman yang cinta dunia akan menularkan cinta dunia.

Akhirnya, mari kita amalkan doa Abu Bakar Ash-Shiddiq: Ya Allah, jadikan dunia dalam genggaman tangan kami, jangan jadikan dunia di dalam hati kami. Jadikan dunia sebagai kendaraan kami menuju surga-Mu, bukan sebagai penjara yang menjauhkan kami dari-Mu.
Wallahu a’lam.

Semoga Allah selamatkan kita dari fitnah dunia.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *