HIDUP ITU ANTARA ADZAN DAN SHALAT: Sebuah Renungan Singkatnya Perjalanan Manusia

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I

Kita lahir diadzankan, kita wafat dishalatkan. Di antara dua seruan itu, itulah seluruh hidup kita.

Bacaan Lainnya

Kalimat ini sederhana, tapi jika direnungkan akan membuat bulu kuduk berdiri. Betapa singkatnya hidup. Betapa tidak ada celah untuk kesombongan di dalamnya.

1. Makna yang Mengguncang Hati
Ketika seorang bayi lahir dalam Islam, sunnahnya adalah diadzankan di telinga kanan dan diiqamahkan di telinga kiri. Bayi itu belum mengerti apa-apa, belum bisa shalat, tapi telinga pertamanya sudah diperdengarkan kalimat paling agung: Allahu Akbar.

Dan ketika manusia itu wafat, tidak ada lagi adzan untuknya. Yang ada adalah seruan shalat. Manusia-manusia diseru: “Shalatlah kalian untuk saudara kalian.”

Lahir = diadzankan, belum shalat.
Mati = dishalatkan, tak bisa adzan lagi.

Jarak antara adzan dan shalat itu biasanya hanya 10-15 menit. Itulah perumpamaan umur kita di dunia. Sangat singkat.

Allah Ta’ala berfirman:
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1-2)

Imam Asy-Syafi’i berkata, seandainya manusia merenungkan surat ini saja, niscaya cukup baginya sebagai nasihat.

Dan Allah juga mengingatkan tujuan penciptaan kita:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Hidup bukan dari lahir sampai mati. Hidup adalah dari adzan ke shalat. Maka pertanyaannya: apa yang kita isi di antara keduanya?

2. Dalil-Dalil Tentang Singkatnya Waktu
a. Dalil Al-Qur’an

Allah menggambarkan betapa singkatnya manusia merasa hidup di dunia ketika di akhirat kelak:
قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ. قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ

“Allah bertanya: Berapa tahun lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab: Kami tinggal sehari atau setengah hari.” (QS. Al-Mu’minun: 112-113)

Rasulullah juga diingatkan tentang batas waktu shalat sebagai pengatur hidup:
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan bacaan fajar. Sesungguhnya bacaan waktu fajar itu disaksikan.” (QS. Al-Isra: 78)

Ayat ini mengajarkan bahwa hidup seorang mukmin itu terikat porosnya pada shalat, bukan shalat yang menyelip di sela hidup.

b. Dalil Hadits
“Amal yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya.” (HR. Bukhari No. 527 & Muslim No. 612)

Rasulullah SAW bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari No. 6416)

Seorang musafir tidak membangun istana di tempat persinggahan. Ia hanya berteduh sebentar, lalu melanjutkan perjalanan. Kita pun begitu.

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi No. 2307, hadits hasan)

Mengingat mati bukan membuat putus asa, tapi membuat kita fokus.

3. Kisah Sejarah yang Menjadi Cermin
Kisah 1: Umar bin Khattab RA dan Cincinnya

Amirul Mukminin Umar bin Khattab memiliki cincin yang bertuliskan: “Kafa bil mauti waa’izhan” – Cukuplah kematian sebagai penasihat.

Padahal beliau adalah pemimpin super power dunia saat itu, menguasai Persia dan Romawi. Tapi setiap melihat cincinnya, beliau menangis. Beliau tahu, semua kekuasaan itu tidak akan dibawa ke liang lahat. Yang akan ditanya bukan berapa luas wilayahmu, tapi berapa rakaat shalatmu, berapa amanah yang kau tunaikan.

Kisah 2: Hasan Al-Bashri dan Sang Pemuda

Seorang pemuda datang kepada Hasan Al-Bashri, ulama besar Tabi’in, dan berkata, “Wahai Imam, saya ingin dunia.”

Hasan Al-Bashri menjawab, “Jika engkau ingin sesuatu yang tidak akan kekal, engkau akan kecewa. Umurmu seperti embun pagi. Matahari sebentar lagi terbit dan embun itu akan hilang. Carilah yang kekal.”

Pemuda itu terdiam. Ia baru sadar, mengejar dunia seperti mengejar bayangan. Semakin dikejar, semakin menjauh.

Kisah 3: Sultan Sulaiman Al-Qanuni

Sultan Sulaiman, penguasa Ottoman di puncak kejayaannya, berwasiat sebelum wafat: “Jika aku wafat, keluarkan kedua tanganku dari keranda, agar semua orang melihat bahwa Sulaiman yang menguasai dunia pun keluar dengan tangan hampa.”

Itulah hakikatnya. Kita datang tidak membawa apa-apa, pulang pun tidak membawa apa-apa kecuali amal.

4. Konteks Kekinian: Kita Terjebak di Antara Dua Adzan

Jika para sahabat takut waktunya terbuang, bagaimana dengan kita hari ini?

a. Penyakit Flexing dan Haus Validasi

Di era Instagram, TikTok, dan media sosial, manusia berlomba pamer. Harta dipamerkan, jabatan dipamerkan, bahkan ibadah pun kadang dipamerkan. Padahal hakikat “antara adzan dan shalat” mengajarkan: semua yang kau sombongkan akan ditinggalkan. Kain kafan tidak memiliki saku.

Rasulullah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim)

b. Hustle Culture yang Melupakan Shalat
Banyak anak muda hari ini bangga dengan istilah “hustle”, kerja 16 jam sehari, tidur 4 jam, kejar target dunia. Tapi shalatnya bolong-bolong. Padahal logikanya terbalik. Kita diciptakan bukan untuk bekerja lalu sempatkan shalat, tapi kita bekerja agar bisa menegakkan shalat. Rezeki itu sudah dijamin, tapi shalat belum tentu diterima.
Kita sering berkata: “Nanti saja shalatnya, kerja dulu.”

Seharusnya: “Shalat dulu, nanti Allah yang bereskan kerja kita.”

c. Menunda Taubat
Karena merasa hidup masih panjang, kita berkata: “Nanti saja hijrahnya kalau sudah tua.” Padahal tidak ada jaminan adzan Ashar kita masih mendengar, dan shalat Ashar kita masih sempat.

Berapa banyak orang yang sehat sore hari, tapi dishalatkan keesokan paginya? Berita kecelakaan, serangan jantung, dan kematian mendadak setiap hari ada di beranda kita. Itu bukan tontonan, itu peringatan.

5. Apa Amal di Antara Adzan dan Shalat Itu?
Jika hidup sesingkat itu, apa yang harus kita lakukan?

1. Jaga Shalat di Awal Waktu. Ini adalah inti dari perumpamaan itu sendiri. Adzan adalah panggilan, shalat adalah jawaban cinta. Jangan biarkan Allah memanggil, kita menjawab: “Sibuk.”

2. Qiyamul Lail di Sepertiga Malam. Seperti pesan penutup antum: “Waktunya sepertiga malam banyak berdo’a dan shalat QIAMUL LAIL.” Di saat semua orang tidur, bangunlah. Di situlah Allah turun ke langit dunia dan berkata: “Siapa yang berdoa akan Aku kabulkan.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Rendah Hati dan Banyak Berbuat Baik. Karena sadar waktu singkat, jangan buang untuk membenci, iri, dengki, dan ghibah. Isi dengan sedekah, membantu sesama, birrul walidain.

4. Selalu Siapkan Husnul Khatimah. Jangan hanya berencana untuk masa depan dunia 5 tahun ke depan. Rencanakan juga:

“Bagaimana saya ingin wafat?” Apakah sedang sujud? Apakah lisan sedang berdzikir? Karena kita akan diwafatkan sesuai kebiasaan hidup kita.

Saudaraku,

Hidup bukan tentang berapa lama kita hidup, tapi tentang apa yang kita isi di antara adzan dan shalat itu.

Semoga Allah SWT menjadikan kita pribadi yang rendah hati, tidak silau oleh dunia, memperbanyak amal saleh, dan mengakhiri hidup dengan husnul khatimah.

Ya Allah, jadikanlah umur kami berkah, jadikanlah sisa hidup kami penuh ketaatan, dan wafatkanlah kami dalam keadaan bersujud kepada-Mu.

Aamiin Allahumma Aamiin.

Wallahu a’lam bishawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *