STOP SU’UDZON: Jangan Sibuk Bongkar Aib Orang Lain, karena Kita Punya Aib yang Allah Tutupi

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI/ F-PKS / Kalimantan Selatan I 

STOP SU’UDZON! 

Jangan terlalu sibuk melihat kekurangan orang lain. Jangan terlalu mudah menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat oleh mata. Jangan tergesa-gesa menyimpulkan niat seseorang hanya dari satu ucapan.

Dan, jangan membangun prasangka hanya karena mendengar satu cerita. Jangan merasa diri kita lebih baik hanya karena Allah sedang menutupi keburukan kita.

Sebab, boleh jadi orang yang hari ini kita anggap buruk justru jauh lebih dekat kepada Allah daripada kita.

Boleh jadi orang yang hari ini kita cela sedang berjuang memperbaiki dirinya. Boleh jadi dosa yang pernah dilakukan seseorang telah ia tinggalkan dan ia tangisi dalam sujudnya.

Sementara kita yang merasa bersih justru sedang diuji dengan penyakit hati: merasa lebih suci, lebih baik, lebih benar, dan lebih mulia.

Di sinilah pentingnya menjaga hati. Karena terkadang dosa yang paling berbahaya bukan hanya dosa yang dilakukan oleh anggota badan, tetapi dosa yang tumbuh diam-diam di dalam hati: su’udzon, meremehkan orang lain, mencari-cari kesalahan, iri, dengki, merasa lebih baik, lalu membicarakannya di belakang.

1. ALLAH MELARANG KITA BERLEBIHAN DALAM BERPRASANGKA

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain…”

Ayat ini sangat luar biasa. Perhatikan bagaimana Allah menyusun peringatannya: prasangka → mencari-cari kesalahan → ghibah.

Satu penyakit hati dapat membuka pintu kepada dosa berikutnya. Awalnya hanya prasangka.

“Jangan-jangan dia begini…”

“Mungkin dia melakukan itu…”

“Kayaknya dia punya niat buruk…”

Lalu kita mulai mencari pembenaran. Kemudian mulai mencari informasi.

Mulai membuka percakapan lama. Mulai bertanya kepada orang lain. Mulai melihat media sosialnya. Mulai memperhatikan gerak-geriknya.

Akhirnya sesuatu yang tadinya hanya dugaan berubah menjadi “seolah-olah kebenaran”.

Kemudian kita ceritakan kepada orang lain. Di situlah prasangka berubah menjadi ghibah.

Dan kalau informasi yang kita sampaikan ternyata tidak benar, maka persoalannya bisa berkembang menjadi fitnah dan kebohongan.

Allah bahkan memberikan gambaran yang sangat keras tentang ghibah: membicarakan keburukan saudara kita diserupakan dengan memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal.

Pertanyaannya: Mengapa begitu keras? Karena orang yang sedang kita bicarakan tidak berada di hadapan kita untuk membela dirinya.

Ia tidak dapat menjelaskan. Ia tidak dapat meluruskan. Ia tidak dapat menjawab. Dan kita merasa aman karena dia tidak mendengar. Padahal Allah mendengar.

2. TIDAK SEMUA YANG KITA DENGAR HARUS KITA PERCAYA

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.”

Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Rasulullah ﷺ juga melarang mencari-cari kesalahan, memata-matai, saling dengki, saling membenci, dan saling membelakangi.

Betapa relevannya nasihat ini dengan kehidupan kita hari ini. Apalagi di zaman media sosial.

Satu potongan video bisa menimbulkan prasangka. Satu kalimat yang dipotong dari konteks dapat menimbulkan fitnah. Satu foto dapat disalahartikan. Satu komentar dapat dibaca dengan niat yang berbeda. Satu pesan yang tidak dibalas dapat langsung dianggap sebagai penghinaan.

Padahal kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu, seorang mukmin harus belajar mengatakan: “Saya tidak tahu.”

Kalimat sederhana, tetapi sangat menyelamatkan. Tidak semua hal harus kita komentari. Tidak semua berita harus kita teruskan. Tidak semua kesalahan orang harus kita ketahui.

Dan tidak semua informasi yang sampai kepada kita harus menjadi bahan pembicaraan.

3. TABAYYUN: JANGAN MEMBANGUN KESIMPULAN DARI KABAR YANG BELUM JELAS

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

فَتَبَيَّنُوا

“Maka telitilah kebenarannya.”

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini sangat penting. Ketika mendengar:

“Si A katanya begini.”

“Si B katanya melakukan itu.”

“Dia katanya punya niat buruk.”

“Dia katanya menghina kita.”

Jangan langsung percaya. Jangan langsung marah. Jangan langsung menyebarkan. Jangan langsung membuat kesimpulan.

Periksa. Tabayyun. Karena bisa jadi informasi itu tidak lengkap.

Bisa jadi ada konteks yang hilang. Bisa jadi seseorang salah memahami. Bisa jadi berita tersebut sudah berubah setelah berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain.

Dan bisa jadi orang yang kita tuduh ternyata sama sekali tidak seperti yang kita bayangkan.

4. GHIBAH ITU BISA TERJADI MESKIPUN YANG KITA BICARAKAN BENAR

Ini yang sering dilupakan. Sebagian orang berkata: “Kan saya ngomongnya benar.”

Justru kalau yang dibicarakan tentang seseorang memang benar tetapi dia tidak suka hal itu dibicarakan ketika dia tidak ada, maka itu termasuk ghibah.

Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan makna ghibah kepada para sahabat.

Intinya, ghibah adalah menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang tidak ia sukai.

Para sahabat bertanya, bagaimana jika yang kita katakan itu memang benar?

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika yang kita katakan itu benar, maka itulah ghibah; jika tidak benar, maka itu menjadi kedustaan terhadapnya.

Maka jangan menjadikan kalimat: “Tapi kan benar…” sebagai pembenaran untuk membuka aib seseorang.

Benar belum tentu boleh dibicarakan. Benar belum tentu harus disebarkan. Benar belum tentu menjadi hak kita untuk mengumumkannya.

Ada perbedaan antara menasihati demi kebaikan dengan membuka aib demi kepuasan hati.

5. RASULULLAH SAW MEMBERIKAN PERINGATAN TENTANG NAMIMAH

Ada pula penyakit yang lebih berbahaya: namimah, yaitu menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan atau akibat menimbulkan kerusakan hubungan.

Rasulullah SAW pernah melewati dua kuburan dan memberitahukan bahwa kedua penghuninya sedang mendapatkan azab. Salah satunya disebabkan karena membawa namimah, yakni menyebarkan perkataan yang menimbulkan permusuhan di antara manusia. Hadis ini terdapat dalam Shahih Al-Bukhari.

Bayangkan. Satu perkataan. Satu cerita. Satu kalimat.

Bisa membuat dua orang yang sebelumnya bersaudara menjadi bermusuhan.

Satu keluarga menjadi retak. Satu persahabatan menjadi hancur. Satu organisasi menjadi terpecah.Satu lingkungan menjadi saling curiga.

Karena itu, sebelum menyampaikan sesuatu kepada orang lain, tanyakan: Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini akan memperbaiki keadaan atau justru merusaknya?

Kalau tidak ada manfaatnya, lebih baik diam.

6. JANGAN MERASA AMAN DARI DOSA YANG SEDANG MENIMPA ORANG LAIN

Ada nasihat indah dari kalangan salaf yang patut menjadi bahan renungan.

Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah berkata:

إني لأرى الشيء أكرهه، فما يمنعني أن أعيبه إلا كراهية أن أبتلى بمثله

“Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tidak aku sukai. Tidak ada yang menghalangiku untuk mencelanya kecuali aku takut akan diuji dengan hal yang sama.”

Nasihat ini dinukil dalam karya-karya biografi dan atsar tentang Ibrahim An-Nakha’i.

Lihatlah kedalaman rasa takut orang saleh. Ketika melihat keburukan orang lain, ia tidak sibuk berkata: “Untung saya tidak seperti dia.”

Tetapi justru berkata: “Aku takut Allah mengujiku dengan hal yang sama.”

Inilah hati yang sehat. Ketika melihat orang jatuh, ia tidak menertawakan. Ia takut suatu hari dirinya yang jatuh.

Ketika melihat orang melakukan kesalahan, ia tidak merasa paling suci. Ia takut dirinya melakukan kesalahan yang sama.

Ketika melihat orang mendapat ujian, ia tidak merasa aman. Ia berdoa: “Ya Allah, lindungi aku.”

7. KISAH DAN NASIHAT IMAM HASAN AL-BASHRI

Dinukil dari Hasan Al-Bashri rahimahullah:

مَنْ رَمَى أَخَاهُ بِذَنْبٍ قَدْ تَابَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ، لَمْ يَمُتْ حَتَّى يُبْتَلَى بِهِ

Artinya: “Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang telah ia taubati kepada Allah, ia tidak akan mati sampai ia diuji dengan dosa tersebut.”

Riwayat perkataan ini dinukil dalam kumpulan atsar dan nasihat ulama salaf. Kita perlu memahami nasihat ini dengan hati-hati.

Ini bukan berarti setiap orang yang mencela seseorang pasti secara mutlak akan melakukan dosa yang sama, karena perkara ujian, takdir, dan dosa berada di bawah kehendak Allah.

Namun pesan moralnya sangat dalam: Jangan pernah merasa diri kita kebal dari dosa.

Hari ini kita melihat orang lain jatuh. Besok bisa jadi kita yang membutuhkan pertolongan.

Hari ini kita melihat seseorang menangis karena kesalahannya. Besok mungkin kita yang menangis karena kesalahan kita sendiri.

Hari ini kita melihat orang lain sedang memperbaiki diri. Jangan halangi jalan taubatnya dengan terus mengungkit masa lalunya.

8. JANGAN MEMBONGKAR AIB YANG ALLAH TUTUP

Ada orang yang merasa bahwa dirinya hebat karena mengetahui banyak rahasia orang.

Dia tahu siapa yang pernah melakukan dosa. Dia tahu siapa yang pernah gagal. Dia tahu siapa yang pernah bermasalah. Dia tahu siapa yang pernah jatuh. Dia tahu kehidupan pribadi banyak orang.

Kemudian semua informasi itu menjadi bahan cerita. Padahal bisa jadi kemampuan Allah menutup aib kita adalah salah satu bentuk kasih sayang-Nya.

Kalau seluruh dosa kita dibuka kepada manusia, apakah kita masih sanggup berjalan dengan kepala tegak?

Kalau semua kesalahan kita sejak kecil sampai hari ini diumumkan, apakah kita masih berani mengatakan bahwa kita lebih baik daripada orang lain?

Tidak. Karena kita semua memiliki sesuatu yang ingin Allah tutupi.

Maka ketika Allah menutup aib saudara kita, jangan kita menjadi orang yang membuka apa yang Allah tutup.

9. ADA PERBEDAAN ANTARA NASIHAT DAN MEMBUKA AIB

Ini juga penting. Islam bukan mengajarkan kita untuk membiarkan kemungkaran. Islam mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar.

Namun cara menyikapinya harus benar. Nasihat bertujuan memperbaiki.

Sedangkan membuka aib sering kali bertujuan mempermalukan. Nasihat dilakukan dengan hikmah.

Ghibah dilakukan dengan menikmati cerita. Nasihat dilakukan seperlunya.

Ghibah semakin panjang semakin menyenangkan. Nasihat tidak membutuhkan penonton.

Sedangkan membuka aib sering kali mencari penonton. Maka sebelum menegur seseorang, tanyakan kepada diri:

“Aku ingin dia berubah atau aku ingin dia malu?” Kalau jawabannya ingin dia berubah, maka pilih cara yang paling baik.

10. JANGAN MUDAH MENGHAKIMI MASA LALU SESEORANG

Ada manusia yang hari ini baik karena masa lalunya pernah buruk. Ada orang yang hari ini rajin beribadah karena dahulu pernah jauh dari Allah. Ada orang yang hari ini lembut karena dahulu pernah merasakan pahitnya kesalahan. Ada orang yang hari ini sangat menjaga lisannya karena pernah menyesal akibat perkataannya.

Jangan kita kunci seseorang dengan masa lalunya. Manusia bisa berubah. Pintu taubat Allah terbuka.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” Maka jangan menjadi manusia yang terus mengingatkan seseorang pada dosa yang telah ia tinggalkan.

Bisa jadi Allah sudah mengampuninya, sementara kita masih sibuk mengungkitnya.

11. KITA SERING MELIHAT DOSA ORANG LAIN, TETAPI LUPA MELIHAT DOSA SENDIRI

Salah satu penyakit hati adalah: sibuk memperbaiki orang lain, tetapi lupa memperbaiki diri.

Kita tahu siapa yang salah. Kita tahu siapa yang buruk. Kita tahu siapa yang kurang baik. Kita tahu siapa yang tidak sesuai dengan harapan kita.

Tetapi apakah kita tahu berapa banyak dosa yang kita lakukan setiap hari? Berapa banyak perkataan yang menyakiti orang lain? Berapa banyak prasangka buruk yang kita simpan? Berapa banyak kesempatan untuk berbuat baik yang kita sia-siakan? Berapa banyak nikmat Allah yang kita kufuri? Berapa kali kita lalai dari mengingat Allah? Berapa kali kita merasa lebih baik daripada orang lain?

Inilah mengapa orang yang benar-benar mengenal dirinya akan lebih banyak sibuk dengan islah an-nafs, memperbaiki dirinya sendiri.

12. JIKA TIDAK SENGAJA MELIHAT AIB ORANG, MAKA TUTUPLAH

Jika kita tidak sengaja melihat keburukan seseorang, jangan langsung mencari informasi tambahan.

Jangan berkata: “Wah, ternyata dia begitu.”

“Pantas saja selama ini…”

“Berarti benar dugaan saya.”

Jangan. Segera hentikan. Alihkan pembicaraan. Tutup pintu yang bisa membawa kita kepada ghibah.

Jika berita tentang keburukan saudara kita sampai kepada kita, salah satu sikap yang baik adalah mendoakan:

غَفَرَ اللهُ لَنَا وَلَهُ

“Semoga Allah mengampuni kita dan dia.”

Kemudian selesai. Tidak perlu memperpanjang. Tidak perlu menggali. Tidak perlu menyebarkan. Tidak perlu menjadikannya bahan obrolan.

Karena mungkin saja orang tersebut sedang berjuang melawan dirinya sendiri.

13. JANGAN BIARKAN SETAN MENGUBAH “RASA INGIN TAHU” MENJADI DOSA

Setan sangat pandai. Ia jarang mengajak manusia langsung kepada dosa besar.

Kadang dimulai dari: “Cuma ingin tahu.”

Kemudian: “Cuma bertanya.”

Lalu: “Cuma cerita sedikit.”

Kemudian: “Tapi memang benar kok.”

Lalu: “Semua orang juga sudah tahu.”

Akhirnya kita terjebak dalam ghibah. Karena itu, jangan remehkan dosa lisan.

Satu kalimat yang keluar tidak bisa ditarik kembali. Satu pesan yang dikirim tidak bisa dihapus dari ingatan orang.

Satu berita yang disebarkan bisa berpindah dari satu grup ke grup lainnya. Dan jejak digital bisa bertahan jauh lebih lama daripada yang kita bayangkan.

14. MEDIA SOSIAL JUGA BISA MENJADI LADANG SU’UDZON DAN GHIBAH

Di zaman sekarang, menjaga lisan bukan hanya berarti menjaga apa yang kita ucapkan.

Tetapi juga menjaga: jari. Karena jari kita bisa menjadi “lisan digital”. Komentar. Postingan. Status. Caption. Share. Forward. Voice note. Screenshot.

Semua bisa menjadi jalan pahala. Tetapi semua juga bisa menjadi jalan dosa.

Sebelum membagikan berita tentang seseorang, tanyakan: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini adil? Apakah orang tersebut akan dirugikan? Apakah saya rela jika berita yang sama tentang diri saya disebarkan kepada orang lain?

Kalau tidak, jangan sebarkan. Karena semua itu bisa menimbulkan fitnah nan dosa.

15. ADA SAATNYA KITA HARUS MEMAAFKAN TANPA MENGETAHUI SEMUA DETAIL

Tidak semua masalah harus kita pahami sampai tuntas. Tidak semua konflik harus kita ketahui siapa yang salah. Tidak semua cerita harus kita dengarkan. Kadang menjaga hati berarti berkata: “Saya tidak ingin ikut campur.”

Bukan karena tidak peduli. Tetapi karena kita sadar bahwa hati kita juga harus dijaga.

Ada peperangan yang tidak perlu kita masuki.

L Ada perdebatan yang tidak perlu kita ikuti. Ada cerita yang tidak perlu kita dengarkan. Ada rahasia yang tidak perlu kita ketahui. Dan ada keburukan yang lebih baik kita tutup daripada kita sebarkan.

16. BELAJAR BERBAIK SANGKA, TANPA MENJADI NAIF

Husnuzon bukan berarti kita harus percaya kepada semua orang tanpa pertimbangan. Islam tetap mengajarkan kehati-hatian.

Jika ada bukti yang jelas, kita tidak boleh menutup mata. Jika ada kezaliman, harus ada penyelesaian. Jika ada hak yang dirugikan, harus diperjuangkan. Jika ada bahaya nyata, kita harus mengambil langkah pencegahan.

Namun jangan menambahkan sesuatu yang tidak kita ketahui. Bukti adalah bukti. Dugaan tetap dugaan. Prasangka bukan fakta. Inilah kedewasaan dalam berpikir.

17. JANGAN MENILAI ISI HATI ORANG

Kita hanya melihat lahiriah. Allah mengetahui batin.

Kita tidak tahu mengapa seseorang melakukan sesuatu. Kita tidak tahu apa yang sedang ia perjuangkan. Kita tidak tahu doa apa yang ia panjatkan dalam kesendirian. Kita tidak tahu air mata yang ia sembunyikan. Kita tidak tahu dosa apa yang sedang ia tinggalkan. Kita tidak tahu hubungan rahasianya dengan Allah.

Maka jangan mudah mengatakan: “Dia pasti sombong.”

“Dia pasti riya.”

“Dia pasti punya niat buruk.”

“Dia memang orang seperti itu.”

Kita boleh menilai perbuatan secara lahiriah jika memang jelas salah. Tetapi jangan merasa mampu memastikan isi hati seseorang.

Karena hati adalah wilayah yang sangat dalam dan Allah-lah yang paling mengetahui.

18. PELAJARAN BESAR DARI PARA ULAMA SALAF

Para ulama terdahulu sangat takut terhadap penyakit hati. Ibrahim An-Nakha’i tidak mau mencela sesuatu yang ia benci karena takut diuji dengan hal tersebut.

Hasan Al-Bashri juga dikenal dengan nasihat keras agar manusia tidak merasa aman ketika mencela saudaranya yang telah bertaubat.

Mereka bukan manusia yang tidak mengetahui kesalahan. Mereka justru sangat memahami bahwa manusia memiliki kelemahan.

Tetapi ilmu mereka melahirkan rasa takut kepada Allah, bukan kesombongan.

Semakin mengenal Allah, seharusnya semakin takut kepada dosa. Semakin mengenal diri, seharusnya semakin sedikit menghakimi orang lain. Semakin banyak ilmu, seharusnya semakin lembut hati.

19. KALAU KITA TERLANJUR GHIBAH, APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Jangan putus asa. Segera bertaubat kepada Allah. Menyesal. Berhenti. Bertekad tidak mengulanginya.

Kemudian perbaiki kerusakan yang telah kita sebabkan. Jika kita telah menyebarkan berita palsu, luruskan.

Jika kita telah merusak nama baik seseorang, perbaiki sebisa mungkin. Jika kita telah menyakiti seseorang, minta maaf dengan cara yang bijaksana.

Dan perbanyak mendoakan orang yang pernah kita bicarakan. Jangan sampai setelah melakukan ghibah, kita malah terus mencari pembenaran: “Tapi dia memang begitu.”

Tidak. Kita sedang membicarakan dosa kita sendiri.

20. MULAI HARI INI, JAGA TIGA HAL

Pertama: Jaga mata.  Jangan sengaja mencari-cari aib orang.

Kedua: Jaga hati. Jangan memelihara prasangka tanpa dasar.

Ketiga: Jaga lisan dan jari

Jangan menyebarkan sesuatu yang dapat merusak kehormatan orang lain. Karena bisa jadi keselamatan kita justru terletak pada sesuatu yang tidak kita katakan.

21. KALIMAT SEDERHANA YANG BISA MENYELAMATKAN KITA

Ketika mendengar keburukan seseorang, katakan: “Semoga Allah mengampuni kita dan dia.”

Ketika mendengar berita yang belum jelas: “Kita tabayyun dulu.”

Ketika seseorang mulai membicarakan aib orang lain: “Sebaiknya jangan kita bahas.”

Ketika muncul prasangka: “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Ketika melihat orang jatuh: “Semoga Allah menjaga kita dan memperbaiki dia.”

Ketika melihat orang bertaubat: “Semoga Allah meneguhkan taubatnya.”

Kalimat-kalimat sederhana seperti ini bisa menjadi benteng hati.

22. PADA AKHIRNYA, KITA SEMUA AKAN KEMBALI KEPADA ALLAH

Suatu hari nanti kita tidak lagi sibuk dengan siapa yang menang dalam perdebatan.

Tidak lagi sibuk dengan siapa yang lebih populer. Tidak lagi sibuk dengan siapa yang lebih kaya. Tidak lagi sibuk dengan siapa yang lebih tinggi jabatannya. Tidak lagi sibuk dengan siapa yang pernah melakukan kesalahan.

Kita akan berdiri sendiri di hadapan Allah. Saat itu yang kita perlukan bukan reputasi di hadapan manusia.

Yang kita perlukan adalah rahmat Allah. Maka jangan habiskan umur untuk mengumpulkan dosa melalui lisan.

Jangan tukarkan pahala kita dengan keburukan orang lain. Jangan sampai seseorang tidur dengan tenang sementara kita kehilangan pahala karena membicarakannya. Jangan sampai kita sibuk menghitung dosa orang lain, sementara dosa kita sendiri tidak pernah kita hitung.

STOP SU’UDZON

Mulai hari ini: Berhenti mencari-cari kesalahan. Berhenti membuka aib. Berhenti menebar prasangka. Berhenti menikmati cerita keburukan orang lain. Berhenti menyebarkan berita yang belum jelas. Berhenti merasa diri paling baik. Dan berhenti menghakimi masa lalu seseorang yang mungkin sudah bertaubat.

Mari belajar menjadi manusia yang ketika melihat kesalahan orang lain, justru semakin takut kepada Allah. Ketika melihat orang lain jatuh, kita ulurkan tangan.

Ketika melihat orang lain salah, kita nasihati dengan kasih sayang. Ketika mendengar keburukan seseorang, kita tutup pembicaraan. Ketika melihat dosa orang lain, kita ingat dosa diri sendiri.

Dan ketika Allah menutup aib seseorang, kita jangan menjadi orang yang membukanya. Karena kita tidak pernah tahu: Aib siapa yang sedang Allah tutupi.

Dosa apa yang sedang Allah ampuni. Taubat siapa yang sedang Allah terima.

Dan ujian apa yang suatu hari mungkin Allah berikan kepada kita. Maka lebih baik sibuk memperbaiki diri daripada sibuk menghakimi orang lain. Lebih baik memperbanyak istighfar daripada memperbanyak komentar.

Lebih baik mendoakan daripada mencela. Lebih baik menutup aib daripada menyebarkannya.

Dan lebih baik berkata:

غَفَرَ اللهُ لَنَا وَلَهُ

“Semoga Allah mengampuni kita dan dia.” Kemudian diam.

Karena terkadang diam bukan berarti kita tidak tahu. Diam adalah tanda bahwa kita tahu, tetapi kita takut kepada Allah.

PENUTUP

Semoga Allah membersihkan hati kita dari su’udzon, hasad, iri, dengki, ujub, takabbur, ghibah, fitnah, namimah, dan segala penyakit hati.

Semoga Allah mengajarkan kita untuk melihat kekurangan diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain.

Semoga Allah menjaga lisan kita dari perkataan yang menyakiti. Semoga Allah menjaga jari-jari kita dari menyebarkan fitnah.

Semoga Allah menutup aib kita di dunia dan akhirat.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dosa kedua orang tua kita, keluarga kita, guru-guru kita, sahabat-sahabat kita, serta seluruh kaum Muslimin dan Muslimat.

Dan semoga kita termasuk orang-orang yang ketika melihat keburukan saudaranya, bukan tertawa, bukan mencela, bukan menyebarkan, tetapi justru berkata:

“Ya Allah, perbaikilah dia dan perbaikilah aku. Jangan Engkau uji aku dengan keburukan yang sedang menimpanya.”

STOP SU’UDZON.

Jaga hati. Jaga lisan. Jaga jari. Jaga kehormatan saudara. Dan sibukkan diri dengan memperbaiki diri sendiri.

والله أعلم بالصواب

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *