Pemuda LIRA Kecam Pernyataan Cak Imin Soal NU Terpuruk karena Alumni HMI: Jangan Cari Kambing Hitam Saatnya Kolaborasi!

JAKARTA – BELA RAKYAR –  Ketua Umum DPP Pemuda Lumbung Informasi Rakyat (LIRA), sekaligus mantan Bendahara Umum PB HMI Habibie Mahabbah mengecam pernyataan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang menyebut keterpurukan Nahdlatul Ulama (NU) terjadi karena organisasi tersebut dipimpin oleh alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Pernyataan Cak Imin itu disampaikan saat jadi tanu undangan menghadiri bedah buku “Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik dan Kemasyarakatan” di Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026) lalu.

Bacaan Lainnya

Menurut Habibie, pernyataan tersebut tidak penting karena tak produktif bahkan justru berpotensi membangun sekat antara dua kekuatan besar dalam tradisi keislaman, intelektualitas, kepemudaan, dan kebangsaan Indonesia.

Habibie menilai, persoalan organisasi sebesar NU seharusnya dibicarakan di ruang sempit secara lebih substantif, bukan disederhanakan menjadi persoalan latar belakang organisasi kemahasiswaan seseorang.

“Saya menyayangkan pernyataan seperti itu. Menurut saya, pernyataan tersebut tidak berkualitas dan tidak selayaknya disampaikan oleh pejabat di hadapan publik, apalagi oleh seorang ketua umum partai politik yang memiliki posisi strategis dalam kehidupan kebangsaan kita ini,” ujar Habibie kepada wartawan, Jakarta, Senin (31/8/2026).

“Kadang kita malu mendengarkan pejabat publik kita berkomentar tidak intelek di ruang publik. Seolah mereka belum paham bahwa komentar di ruang publik harus tetap terjaga sebagai bahan didikan suri teladan di tengah masyarakat. Kita harus lindungi ruang informasi kita tidak tercemari hal tak positif bahkan berpotensi mengganggu hubungan kedua lembaga HMI dan NU. Padahal, keduanya satu kesatuan selama proses membangun negeri ini,” sambung  Habibie yang juga mantan Wakil Ketua GP Ansor Jakarta Timur ini.

Jangan Cari Kambing Hitam

Habibie mengatakan, jika benar ada persoalan yang sedang dihadapi NU, maka yang harus dilakukan adalah mencari akar persoalannya secara objektif.

Menurut dia, pembicaraan seharusnya diarahkan pada bagaimana memperkuat organisasi, meningkatkan kualitas kaderisasi, memperkuat ekonomi umat, meningkatkan pendidikan, memperluas pengabdian sosial, serta memastikan NU tetap menjadi kekuatan keumatan dan kebangsaan.

“Sejatinya, kalau memang ada persoalan di NU, Cak Imin harus mencari kebersamaan untuk berkolaborasi bagaimana mengatasi keterpurukan itu agar NU kembali maju dan berjaya. Bukan justru menyalahkan alumni HMI,” tegas Habibie.

Ia menilai alumni HMI yang tersebar di berbagai bidang kehidupan tidak dapat dipukul rata hanya berdasarkan almamater organisasinya.

Alumni HMI, kata Habibie, banyak yang berkiprah di pemerintahan, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat, lembaga sosial, hingga berada di tengah-tengah masyarakat untuk menjalankan pengabdian kepada rakyat dan umat.

“Banyak alumni HMI yang hari ini mengabdi untuk bangsa, negara, rakyat dan umat. Mereka bekerja di berbagai sektor dengan kapasitas masing-masing. Karena itu, tidak tepat kalau kemudian alumni HMI dijadikan biang kerok persoalan NU,” katanya.

Kan Lucu, NU yang Bermasalah, HMI Jadi Kambing Hitam”

Habibie bahkan menyebut narasi tersebut sebagai sesuatu yang kontraproduktif. Kenapa?

“Ini kan lucu. NU yang punya masalah, kok HMI yang jadi kambing hitam. Kalau memang ada masalah di internal NU, mari kita bicara secara jujur dan terbuka mengenai persoalan yang sebenarnya,” ujar Habibie.

Bagi Habibie, organisasi sebesar NU sudah sangat matang dengan memiliki sejarah, struktur, kader, ulama, pesantren, lembaga pendidikan, badan otonom, serta jaringan masyarakat yang sangat luas. Karena itu, dinamika NU tidak mungkin disederhanakan hanya berdasarkan latar belakang organisasi seorang tokoh.

Ia menegaskan bahwa kualitas seorang pemimpin tidak ditentukan semata-mata oleh organisasi tempat seseorang pernah berhimpun. Banyak faktor mengitari, tegas Habibie.

“Yang harus dilihat adalah kapasitas, integritas, gagasan, rekam jejak, kemampuan memimpin, keberpihakan kepada umat, dan apa yang sudah diberikan kepada bangsa. Bukan semata-mata apakah dia alumni HMI, PMII, organisasi lain, atau bukan,” katanya.

Habibie: Bangun Sinergisitas, Jangan Pertentangkan HMI dan NU

Habibie mengajak seluruh elemen HMI, NU, PMII, organisasi kepemudaan, tokoh agama, akademisi dan kelompok masyarakat sipil untuk tidak terjebak dalam pertentangan identitas organisasi.

Mantan Wakil Sekjen DPP KNPI ini menjelaskan, Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak kolaborasi, bukan semakin banyak sekat.

“Membangun kebersamaan dan membangun sinergisitas jauh lebih baik daripada menyalahkan HMI sebagai biang kerok. Ruang publik seharusnya digunakan untuk membangun negeri, bukan untuk mempertentangkan sesama anak bangsa hanya karena perbedaan almamater organisasi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Habibie mengatakan, tantangan bangsa Indonesia jauh lebih besar daripada sekadar perbedaan antara HMI dan PMII.

Persoalan kemiskinan, pendidikan, pengangguran, ketahanan ekonomi umat, transformasi digital, kualitas sumber daya manusia, korupsi, ketahanan sosial, serta tantangan geopolitik membutuhkan kerja bersama seluruh komponen bangsa.

“Bangsa ini membutuhkan energi anak muda, ulama, intelektual, aktivis, profesional dan seluruh elemen masyarakat untuk bekerja bersama. Jangan energi kita habis hanya karena berdebat siapa alumni organisasi apa,” katanya.

HMI dan NU Memiliki 7 Kesamaan

Habibie juga menyoroti banyaknya di antaranya 7 kesamaan antara HMI dan NU. Menurut dia, baik HMI maupun NU sama-sama memiliki perhatian besar terhadap Islam, pendidikan, intelektualitas, kaderisasi, pengabdian masyarakat dan kehidupan kebangsaan.

Pertama, HMI dan NU sama-sama berlandaskan nilai-nilai Islam. Keduanya menjadikan Islam sebagai landasan perjuangan dengan perhatian terhadap pembentukan manusia yang beriman, berilmu dan berakhlak.

Kedua, keduanya menekankan pendidikan dan intelektualitas. HMI dikenal dengan tradisi intelektual, diskusi dan kaderisasi mahasiswa. Sementara NU memiliki jaringan pesantren, madrasah, perguruan tinggi serta lembaga pendidikan yang sangat luas.

Ketiga, HMI dan NU sama-sama mendorong kemajuan bangsa. Keduanya memiliki perhatian terhadap persoalan kebangsaan dan memandang nilai-nilai Islam memiliki dimensi sosial yang dapat menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat dan negara.

Keempat, keduanya memiliki komitmen terhadap ke-Indonesia-an. Habibie menilai sejarah HMI dan NU menunjukkan bahwa keislaman dan keindonesiaan dapat berjalan bersama. Nilai agama tidak harus dipertentangkan dengan kecintaan terhadap NKRI.

Kelima, keduanya memiliki tradisi kaderisasi. HMI mempunyai sistem perkaderan melalui berbagai jenjang pelatihan dan pembinaan. NU juga memiliki kaderisasi melalui pesantren, badan otonom, lembaga pendidikan dan berbagai organisasi kepemudaan.

Keenam, keduanya mempunyai kepedulian terhadap masyarakat. HMI maupun NU memiliki tradisi pengabdian dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan kegiatan kemanusiaan.

Ketujuh, keduanya mempunyai tradisi intelektual dan diskusi.

HMI memiliki tradisi kajian dan pemikiran kritis, sedangkan NU mempunyai khazanah intelektual yang kuat melalui pesantren, kajian kitab, bahtsul masail dan pemikiran para ulama.

“Jadi kalau kita lihat, titik temunya justru sangat banyak. Kenapa yang dibangun perbedaannya? Kenapa yang diperbesar sekatnya? Padahal kita bisa membangun kerja sama dari begitu banyak kesamaan itu,” ujar Habibie.

Banyak Kader NU yang Berkiprah di HMI

Habibie juga mengingatkan bahwa hubungan antara tradisi NU dan HMI dalam sejarah tidak selalu berada dalam posisi berhadap-hadapan.

Ia menerangkan, dalam perjalanan sejarah organisasi kemahasiswaan dan kehidupan intelektual Indonesia, terdapat banyak persinggungan antara kader dari berbagai latar belakang organisasi.

Bahkan, menurut Habibie, tidak sedikit orang yang memiliki latar belakang tradisi NU kemudian aktif, belajar, berkembang dan berkontribusi melalui HMI.

“Banyak kader NU yang sukses berproses di HMI. Jadi jangan kita membangun tembok seolah-olah HMI dan NU itu dua dunia yang tidak boleh bertemu,” katanya.

Ia kemudian memberikan salah satu contoh yang menurutnya mudah dilihat dalam kehidupan politik nasional.

“Saya contohkan satu saja, Sekjen Partai Golkar M. Sarmuji. NU banget. Tetapi beliau juga memiliki pengalaman dan perjalanan di HMI. Ini menunjukkan bahwa identitas keislaman, tradisi NU dan pengalaman kaderisasi HMI tidak harus dipertentangkan,” ujar Habibie.

Tak hanya itu, dia juga menegaskab, pengalaman tersebut justru dapat menjadi modal sosial dan intelektual untuk membangun komunikasi lintas organisasi.

Alumni HMI Bisa Berkontribusi untuk NU

Habibie mengatakan, alumni HMI yang berkiprah di lingkungan NU justru dapat memberikan kontribusi positif.

Pertama, memperkuat tradisi intelektual, melalui kajian pemikiran Islam, kebangsaan, demokrasi dan berbagai isu kontemporer.

Kedua, mengembangkan organisasi dan manajemen, termasuk tata kelola lembaga, advokasi kebijakan, komunikasi publik dan penguatan jaringan.

Ketiga, memperkuat pengabdian kepada masyarakat, terutama dalam pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kepemudaan dan sosial.

Keempat, menjembatani NU dengan dunia kampus dan profesional, sehingga kebutuhan masyarakat, pesantren dan warga NU dapat semakin kuat diperjuangkan dalam ruang kebijakan publik.

Kelima, memperkuat moderasi Islam dan kebangsaan, dengan mempertemukan tradisi keislaman dengan wawasan akademik dan pengalaman organisasi.

“Kalau ada alumni HMI yang masuk dan berkontribusi di lingkungan NU, kenapa harus dicurigai? Kalau dia membawa ilmu, pengalaman dan jaringan untuk kemajuan umat, justru harus diapresiasi,” kata Habibie.

Sebaliknya, Latar Belakang NU Juga Memperkaya HMI

Habibie menegaskan, hubungan tersebut juga berlaku sebaliknya. Mereka yang mempunyai latar belakang tradisi NU dan kemudian berproses di HMI dapat memberikan warna dan kekayaan tersendiri bagi organisasi.

Pertama, mereka dapat memperkaya pemahaman keislaman, terutama khazanah Ahlussunnah wal Jamaah, tradisi pesantren dan pemikiran ulama.

Kedua, mereka dapat menguatkan karakter keagamaan kader, sehingga intelektualitas berjalan bersama akhlak dan nilai-nilai keislaman.

Ketiga, mereka dapat membangun jembatan HMI dengan pesantren dan ulama, khususnya dalam kegiatan pendidikan, sosial dan keumatan.

Keempat, mereka dapat memperluas perspektif kebangsaan, melalui pengalaman panjang NU dalam kehidupan masyarakat dan sejarah perjuangan Indonesia.

Kelima, mereka dapat mendorong dialog antartradisi Islam, sehingga HMI semakin kaya secara intelektual maupun sosial.

“Ini namanya pertukaran energi positif. Bukan saling melemahkan,” ujar Habibie.

HMI dan NU Bukan Dua Dunia yang Harus Dipertentangkan

Habibie menegaskan, HMI dan NU bukan dua dunia yang harus dipertentangkan. HMI memiliki kekuatan dalam tradisi intelektual, kaderisasi mahasiswa dan pengabdian kebangsaan. Sementara NU memiliki kekuatan dalam tradisi pesantren, keulamaan, akar masyarakat dan pengalaman panjang dalam kehidupan keumatan serta kebangsaan.

Ketika alumni HMI berkontribusi di NU, mereka membawa energi intelektual dan pengalaman kaderisasi.

Sebaliknya, ketika kader atau alumni berlatar belakang NU berkiprah di HMI, mereka membawa kekayaan khazanah pesantren, tradisi keulamaan dan pengalaman sosial-keumatan.

“Di situlah terjadi pertukaran energi positif. HMI memberi warna intelektual kepada gerakan keumatan, NU memberi kedalaman tradisi keislaman kepada gerakan intelektual. Keduanya bertemu pada satu titik: Islam, keumatan dan Indonesia,” ujar Habibie.

Habibie Ajak Cak Imin Bangun Kebersamaan

Habibie berharap Cak Imin sebagai tokoh nasional dan Ketua Umum PKB dapat mengambil peran lebih besar dalam mempertemukan berbagai kelompok, bukan justru memperlebar jarak.

Ia mengatakan, kritik terhadap NU tentu diperlukan. Namun kritik harus diarahkan untuk menemukan solusi dan membangun perbaikan, bukan menyalahkan kelompok berdasarkan identitas organisasi.

“Kalau Cak Imin ingin NU kembali maju dan berjaya, mari kita cari jalan keluarnya bersama. Ajak alumni HMI, ajak alumni PMII, ajak pesantren, ajak ulama, ajak akademisi, ajak anak muda. Duduk bersama, bicara bersama, bekerja bersama,” katanya.

Menurut Habibie, NU memiliki potensi yang sangat besar untuk terus menjadi kekuatan keumatan dan kebangsaan. Karena itu, seluruh potensi yang ada seharusnya dirangkul.

“Jangan ada lagi politik kambing hitam. Jangan ada lagi narasi bahwa karena alumni HMI maka NU terpuruk. Itu tidak menyelesaikan masalah. Yang kita butuhkan adalah kepemimpinan yang mampu menyatukan seluruh kekuatan,” tegasnya.

Kolaborasi untuk Indonesia

Habibie menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elemen bangsa kembali kepada semangat kolaborasi.

Ia menilai Indonesia tidak akan maju jika energi anak bangsa terus dihabiskan untuk mempertentangkan identitas organisasi.

“HMI dan NU punya sejarah, punya kader, punya intelektual, punya ulama, punya anak muda dan punya jaringan pengabdian yang luar biasa. Kalau semua potensi itu disinergikan, dampaknya bukan hanya untuk HMI atau NU, tetapi untuk Indonesia,” ujarnya.

Ia berharap ruang publik ke depan lebih banyak diisi dengan gagasan tentang pendidikan, pemberdayaan umat, penguatan ekonomi rakyat, peningkatan kualitas generasi muda, penegakan hukum, demokrasi dan pembangunan nasional.

“Mari kita berhenti mencari siapa yang salah dan mulai mencari apa yang bisa kita lakukan. Mari berhenti mencari kambing hitam dan mulai membangun sinergi. Karena Indonesia membutuhkan kolaborasi, bukan polarisasi.”

Habibie menegaskan bahwa perbedaan almamater semestinya menjadi kekayaan dalam membangun bangsa, bukan alasan untuk saling menegasikan.

“HMI, NU, PMII dan seluruh organisasi kemasyarakatan serta kepemudaan adalah bagian dari rumah besar Indonesia. Kita boleh berbeda almamater, tetapi kita punya tujuan yang sama: menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat, umat dan bangsa,” pungkas Habibie.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *