Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Ada bahaya yang tidak selalu terlihat oleh mata. Tidak berbentuk luka. Tidak selalu terdengar suaranya. Tidak selalu bisa dijelaskan dengan kasatmata.
Namun dalam ajaran Islam, ada sesuatu yang Rasulullah SAW ingatkan keberadaannya. Itulah ‘ain.
‘Ain adalah salah satu perkara yang wajib kita imani keberadaannya berdasarkan hadis-hadis Rasulullah ﷺ. Tetapi sebagai seorang Muslim, kita juga harus memahaminya dengan benar.
Jangan sampai karena takut ‘ain, setiap sakit langsung dianggap ‘ain. Setiap usaha gagal dianggap terkena ‘ain. Setiap rumah tangga bertengkar langsung menuduh ada orang yang iri. Jangan pula kita menuduh seseorang tanpa bukti.
Sebab semua yang terjadi tetap berada dalam ilmu, kehendak, dan takdir Allah SWT.
Allah berfirman:
“Dan jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia.” QS. Al-An‘am: 17
Jadi, kita meyakini ‘ain itu ada, tetapi kita tidak boleh takut kepada ‘ain melebihi ketakutan dan ketergantungan kita kepada Allah.
APA ITU ‘AIN?
‘Ain secara umum dipahami sebagai pengaruh buruk yang terjadi karena pandangan seseorang, yang dapat disertai rasa kagum, iri, atau dengki, dengan izin Allah SWT.
Rasulullah ﷺ bersabda:.“Al-‘ainu haqq.” “Ain itu benar adanya.” HR. Muslim no. 2187
Hadis ini sangat jelas. Rasulullah tidak mengatakan bahwa ‘ain hanya cerita orang-orang terdahulu.
Beliau SAW menyatakan: ‘Ain itu benar adanya. Namun sekali lagi, ‘ain bukanlah kekuatan yang berdiri sendiri.
Mata manusia tidak memiliki kekuasaan mutlak untuk mendatangkan mudarat. Jin tidak memiliki kekuasaan mutlak.
Manusia tidak memiliki kekuasaan mutlak. Harta tidak memiliki kekuasaan mutlak.
Semuanya berada di bawah kehendak Allah SWT. Karena itu, perlindungan terbaik bukanlah jimat, benda keramat, atau mencari pertolongan kepada dukun. Perlindungan terbaik adalah Allah SWT.
MATA, HATI, DAN HASAD
Allah SWT memerintahkan kaum beriman untuk menjaga pandangan.
Allah berfirman:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” QS. An-Nur: 30
Kemudian Allah berfirman:
“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” QS. An-Nur: 31
Pandangan adalah pintu yang sangat penting untuk dijaga. Mata melihat. Hati menilai. Hati kemudian bisa kagum, cinta, iri, atau bahkan dengki.
Karena itu Islam tidak hanya mengajarkan kita menjaga anggota tubuh, tetapi juga membersihkan hati.
Jangan sampai melihat kesuksesan orang lain membuat kita sakit hati.
Jangan sampai melihat rumah orang lain membuat kita tidak bersyukur terhadap rumah sendiri.
Jangan sampai melihat pasangan orang lain membuat kita meremehkan pasangan sendiri.
Jangan sampai melihat kekayaan orang lain membuat kita mempertanyakan rezeki Allah.
Sebab penyakit hati sering kali lebih berbahaya daripada penyakit tubuh.
BAHAYA HASAD
Allah SWT mengajarkan kepada kita agar berlindung:
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” QS. Al-Falaq: 5
Hasad adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Hasad bukan sekadar ingin mendapatkan nikmat yang sama. Hasad adalah ketika seseorang tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat dan berharap nikmat tersebut hilang.
Melihat orang sukses: “Kenapa dia?”
Melihat orang bahagia: “Kok hidupnya enak terus?”
Melihat orang mendapatkan jabatan: “Harusnya saya.”
Melihat orang memiliki keluarga harmonis: “Pasti ada sesuatu di balik itu.”
Kalau hati terus dipenuhi pikiran seperti itu, yang rusak pertama kali sebenarnya adalah diri sendiri.
Orang yang dengki bisa saja kehilangan ketenangan karena terus membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
Padahal Allah sudah membagi rezeki setiap hamba dengan hikmah-Nya.
KISAH SAHL BIN HUNAIF
Ada kisah penting yang diriwayatkan dalam hadis mengenai Sahl bin Hunaif dan Amir bin Rabi’ah.
Pada suatu kesempatan, Sahl bin Hunaif mandi. Amir bin Rabi’ah melihat Sahl dan merasa kagum terhadap kondisi fisiknya.
Tidak lama kemudian Sahl mengalami kondisi yang membuatnya jatuh sakit.
Peristiwa tersebut kemudian disampaikan kepada Rasulullah ﷺ.
Nabi ﷺ menegur Amir dan mengajarkan bahwa apabila seseorang melihat sesuatu yang membuatnya kagum, hendaknya ia mendoakan keberkahan.
Dalam riwayat tersebut Nabi ﷺ mengajarkan agar seseorang tidak sekadar mengagumi, tetapi mengucapkan doa keberkahan.
Kisah ini memberikan pelajaran penting: Ketika melihat nikmat orang lain, jangan biarkan kekaguman berhenti pada mata.
Turunkan kekaguman itu menjadi doa. Melihat anak orang lain pintar: “Masya Allah, Allahumma barik.”
Melihat seseorang sukses: “Masya Allah, semoga Allah memberkahinya.”
Melihat rumah yang bagus: “Masya Allah, Allahumma barik.”
Melihat seseorang mendapatkan rezeki: “Barakallahu fiik.”
Dengan begitu, hati kita dilatih untuk menjadi hati yang bersih.
KETIKA MELIHAT NIKMAT SENDIRI
Allah SWT menceritakan kisah seorang pemilik kebun dalam QS. Al-Kahfi ayat 39. Ketika melihat nikmat yang dimilikinya, seharusnya ia berkata:
“Masya Allah, la quwwata illa billah.”
Artinya: “Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud. Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Ini adalah pendidikan tauhid. Ketika kita punya rumah, jangan merasa: “Ini semua karena saya.”
Ketika punya bisnis, jangan merasa: “Saya sukses karena saya hebat.”
Ketika mendapatkan jabatan, jangan merasa: “Saya mendapatkan ini karena kemampuan saya semata.”
Ketika mempunyai anak yang sukses, jangan lupa: Allah yang memberikan.
Ketika mendapatkan kesehatan: Allah yang memberikan.
Ketika mendapatkan rezeki: Allah yang memberikan.
Maka ucapkan: “Masya Allah, la quwwata illa billah.”
PERISAI PERTAMA: DZIKIR PAGI DAN PETANG
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa perlindungan: “Bismillaahil-ladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis-samaa-i wa Huwas-Samii’ul-‘Aliim.”
Artinya: “Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakan di bumi maupun di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dibaca tiga kali pada pagi dan petang. HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.
Jangan hanya hafal bacaannya. Pahami maknanya. Kita sedang mengatakan: “Ya Allah, aku berlindung dengan nama-Mu.”
Bukan kepada manusia. Bukan kepada benda. Bukan kepada kekuatan gaib lainnya. Tetapi kepada Allah.
PERISAI UNTUK ANAK-ANAK
Orang tua juga harus membiasakan mendoakan anak. Rasulullah SAW memberikan contoh dengan mendoakan Hasan dan Husain.
Beliau SAW membaca: “U’iidzukuma bikalimaatillaahit-taammah, min kulli syaithaanin wa haammah, wa min kulli ‘ainin laammah.”
Artinya: “Aku memohon perlindungan untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, binatang berbisa, dan dari setiap mata yang jahat.” HR. Bukhari no. 3371
Lihat bagaimana Rasulullah SAW menjaga anak-anak dengan doa. Maka orang tua jangan hanya memikirkan: “Anakku sudah makan belum?” “Sekolahnya bagaimana?” “Nilainya bagus tidak?” “Besok punya pekerjaan apa?”
Tetapi jangan lupa: “Ya Allah, lindungi anakku.Lindungi tubuhnya.
Lindungi pikirannya. Lindungi hatinya. Lindungi imannya. Lindungi langkahnya. Lindungi dari segala keburukan yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
AL-FALAQ DAN AN-NAS: DUA SURAT PERLINDUNGAN
Biasakan membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
Terutama sebelum tidur. Rasulullah ﷺ mengajarkan membaca ketiga surat tersebut kemudian mengusapkan ke seluruh tubuh. HR. Bukhari.
Surat Al-Falaq secara khusus mengajarkan kita berlindung kepada Allah dari berbagai macam kejahatan, termasuk: “kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
Sementara Surat An-Nas mengajarkan kita berlindung dari bisikan-bisikan jahat yang masuk ke dalam dada manusia.
Maka jangan remehkan surat-surat pendek tersebut. Bacaan mungkin singkat. Tetapi kandungan perlindungannya sangat besar.
AYAT KURSI
Ayat Kursi juga termasuk ayat yang sangat agung. QS. Al-Baqarah: 255.
Biasakan membacanya setelah shalat dan sebelum tidur sesuai tuntunan yang sahih. Bukan karena huruf-hurufnya memiliki kekuatan sendiri.
Tetapi karena Allah-lah yang memberikan perlindungan. Inilah perbedaan aqidah seorang Muslim dengan keyakinan terhadap benda-benda mistis.
Kita tidak menggantungkan hati kepada benda. Kita menggantungkan hati kepada Allah.
HATI-HATI DENGAN PAMER NIKMAT
Zaman sekarang ada satu hal yang perlu kita renungkan. Dulu, orang mungkin hanya melihat nikmat tetangganya dari balik pagar.
Sekarang? Satu unggahan media sosial bisa dilihat: puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang.
Rumah baru dipamerkan. Mobil baru dipamerkan. Perjalanan dipamerkan. Perhiasan dipamerkan. Makanan dipamerkan. Anak dipamerkan. Prestasi dipamerkan. Penghasilan dipamerkan. Tidak semua yang melihat akan iri. Banyak yang justru ikut bahagia.
Tetapi kita tetap perlu memiliki adab dan kebijaksanaan. Tidak semua nikmat harus diumumkan. Tidak semua kebahagiaan harus dipertontonkan. Tidak semua pencapaian harus diketahui dunia.
Kadang-kadang menyimpan sebagian kebahagiaan untuk diri sendiri justru membuat hati lebih tenang.
Posting boleh. Bersyukur boleh. Berbagi inspirasi boleh. Tetapi jangan sampai berubah menjadi kesombongan.
Dan jangan lupa: Ketika mendapat nikmat, ucapkan “Masya Allah, la quwwata illa billah.”
JANGAN PULA MENJADI ORANG YANG CURIGA
Berbicara tentang ‘ain juga harus membuat kita lebih dewasa.
Jangan setiap sakit berkata: “Saya kena ‘ain.”
Jangan setiap bisnis turun berkata: “Ada yang iri.”
Jangan setiap rumah tangga bermasalah berkata: “Pasti ada orang yang mengirim sesuatu.”
Jangan setiap musibah langsung menuduh orang lain. Seorang Muslim tetap diperintahkan melakukan ikhtiar.
Kalau sakit, berobat. Kalau ada masalah rumah tangga, komunikasikan dan cari jalan keluar. Kalau bisnis turun, evaluasi usaha. Kalau mengalami masalah psikologis atau emosional, cari bantuan yang tepat.
Dan bersamaan dengan semua ikhtiar itu: berdoa kepada Allah.
Ruqyah syar’iyyah tidak bertentangan dengan pengobatan yang benar. Islam mengajarkan ikhtiar dan tawakal.
SEPERTIGA MALAM: TEMPAT MENGADU YANG TERBAIK
Ada saat ketika dunia menjadi sunyi. Orang-orang tidur. Telepon berhenti berbunyi.
Media sosial mulai sepi. Tetapi seorang hamba justru bangun. Berwudhu. Menggelar sajadah. Mengangkat tangan. Kemudian bersujud.
Itulah sepertiga malam terakhir. Rasulullah ﷺ bersabda tentang keutamaan sepertiga malam terakhir dan seruan untuk berdoa kepada Allah. HR. Bukhari dan Muslim.
Maka ketika hati sedang takut… Bangunlah.
Ketika hidup terasa berat… Bangunlah.
Ketika kita merasa banyak masalah… Bangunlah.
Jangan hanya mencari manusia. Carilah Allah.
Setelah shalat malam, bersujudlah lebih lama. Tidak perlu doa yang terlalu indah.
Bicaralah kepada Allah dengan hati yang jujur: “Ya Allah, aku tidak tahu siapa yang menyukaiku dan siapa yang membenciku.”
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok.”
“Aku tidak tahu dari mana datangnya ujian.”
“Tetapi Engkau Maha Mengetahui semuanya.”
“Maka lindungilah aku dan keluargaku.”
DOA PERLINDUNGAN DARI SEGALA KEBURUKAN
Ya Allah… Kami berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang terlihat dan yang tidak terlihat. Kami berlindung kepada-Mu dari hasad. Kami berlindung kepada-Mu dari dengki. Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan manusia. Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan jin. Kami berlindung kepada-Mu dari ‘ain yang buruk.
Ya Allah… Lindungilah kedua orang tua kami. Lindungilah pasangan kami. Lindungilah anak-anak kami. Lindungilah keluarga kami. Lindungilah rumah kami.
Lindungilah kesehatan kami. Lindungilah harta dan rezeki kami. Lindungilah iman dan hati kami. Jika kami memiliki nikmat, jadikan kami orang yang pandai bersyukur.
Jika orang lain memiliki nikmat, jadikan kami orang yang mampu ikut bahagia.
Jika kami melihat sesuatu yang mengagumkan, ajarkan lisan kami untuk mendoakan keberkahan.
Jika dalam hati kami tumbuh iri dan dengki, bersihkanlah hati kami.
Jangan biarkan hati kami menjadi sumber keburukan bagi orang lain. Dan jangan pula Engkau jadikan kami sebagai sasaran keburukan orang lain.
Ya Allah, jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hidup kami. Jadikan dzikir sebagai ketenangan hati kami.
Jadikan shalat sebagai kekuatan kami. Jadikan doa sebagai senjata kami. Jadikan tawakal sebagai pegangan kami.
PESAN UNTUK KITA SEMUA
‘Ain itu nyata. Tetapi jangan lupa: Allah lebih nyata kekuasaan-Nya.
Jangan takut berlebihan kepada pandangan manusia. Takutlah kepada Allah.
Jangan sibuk menghitung siapa yang iri kepada kita. Sibukkan diri dengan memperbaiki hati kita sendiri.
Jangan sibuk memikirkan siapa yang mungkin membenci kita. Sibukkan diri untuk menjadi hamba yang dicintai Allah.
Ketika melihat nikmat orang lain: Jangan iri. Doakan keberkahan. Ketika mendapatkan nikmat: jangan sombong. Bersyukurlah.
Ketika mendapatkan ujian: Jangan putus asa. Bersabarlah.
Ketika merasa takut: Jangan mencari perlindungan kepada selain Allah.
Dan ketika malam tiba… Bangunlah. Ambillah wudhu. Laksanakan qiyamul lail. Kemudian bersujudlah.
Karena mungkin ada doa yang selama ini kita panjatkan di tengah malam yang belum kita lihat jawabannya.
Bukan berarti Allah tidak mendengar. Allah mendengar. Bukan berarti Allah tidak peduli. Allah Maha Mengetahui.
Mungkin Allah sedang menyiapkan jawaban pada waktu yang paling tepat. Maka jangan berhenti berdoa.
Jangan berhenti bersujud. Jangan berhenti berharap kepada Allah.
PENUTUP
Jaga mata. Jaga hati. Jaga lisan. Jaga aurat. Jaga dzikir. Jaga shalat. Jaga keluarga.
Dan jaga hubungan kita dengan Allah. Ketika kagum, katakan: “Masya Allah, Allahumma barik.”
Ketika mendapat nikmat, katakan: “Masya Allah, la quwwata illa billah.”
Ketika takut, katakan: “Hasbunallahu wa ni’mal wakil.”
Ketika menghadapi kesulitan, berdoalah. Ketika malam datang, bersujudlah.
Sebab tidak ada perlindungan yang lebih sempurna daripada perlindungan Allah SWT.
Semoga Allah melindungi kita, keluarga kita, anak-anak kita, rumah tangga kita, harta kita, kesehatan kita, dan seluruh kaum Muslimin dari segala keburukan, termasuk ‘ain, hasad, dengki, godaan setan, dan segala musibah yang tidak kita ketahui.
Aamiin Allahumma Aamiin.
Wallahu a’lam bish-shawab.




