HIDUP BUKAN UNTUK MATI, TAPI MATI ITULAH UNTUK HIDUP: 7 Amalan Menata Kehidupan Sesaat Menjemput Kehidupan Abadi

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS/ Kalimantan Selatan I

Ada sebuah kalimat yang sederhana, tetapi jika direnungkan dengan hati yang jernih, mampu mengubah cara seseorang memandang seluruh kehidupannya:

Bacaan Lainnya

“Hidup bukan untuk mati, tetapi mati itulah untuk hidup.”

Kalimat ini bukan berarti manusia harus membenci kehidupan, meninggalkan dunia, atau menunggu kematian tanpa berbuat apa-apa. Justru sebaliknya. Islam mengajarkan manusia untuk menggunakan kehidupan dunia sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.

Kita hidup di dunia hanya sementara. Kita bekerja, membangun rumah, mencari rezeki, menuntut ilmu, membesarkan anak, membangun karier, berorganisasi, berdagang, berpolitik, membantu masyarakat, mengejar cita-cita dan berbagai urusan lainnya. Semua itu boleh dilakukan.

Tetapi ada satu pertanyaan besar yang sering terlupakan: Untuk apa semua itu kita lakukan? Apakah hanya untuk mendapatkan pujian manusia? Apakah hanya untuk mengejar harta? Apakah hanya untuk memperoleh jabatan? Apakah hanya untuk menjadi terkenal? Ataukah semuanya kita jadikan jalan untuk mendekat kepada Allah SWT?

Allah mengingatkan:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Kematian adalah kepastian. Tidak ada manusia yang bisa bernegosiasi dengan ajal.

Yang kaya akan mati. Yang miskin akan mati. Yang memiliki jabatan akan mati. Yang tidak memiliki jabatan juga akan mati. Yang terkenal akan mati. Yang tidak dikenal manusia pun akan mati.

Presiden, menteri, anggota parlemen, pengusaha, ulama, akademisi, pekerja, petani, nelayan, orang kota dan orang desa, semuanya akan sampai pada pintu yang sama.

Kematian tidak mengenal status sosial. Yang membedakan manusia setelah kematian bukanlah berapa banyak hartanya, berapa tinggi jabatannya, atau seberapa banyak pengikutnya. Yang akan menentukan adalah iman dan amalnya.

DUNIA HANYALAH PERSINGGAHAN

Allah SWT berfirman:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini bukan larangan untuk menikmati kehidupan dunia. Islam tidak mengajarkan kemiskinan sebagai satu-satunya ukuran kesalehan.

Islam justru mengajarkan keseimbangan. Kita boleh kaya, tetapi jangan diperbudak kekayaan.

Kita boleh memiliki jabatan, tetapi jangan diperbudak jabatan. Kita boleh terkenal, tetapi jangan hidup hanya demi popularitas.

Kita boleh memiliki media sosial, tetapi jangan sampai media sosial membuat kita kehilangan hubungan dengan Allah.

Kita boleh mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai kesuksesan membuat kita lupa bahwa suatu hari nanti kita akan meninggalkan semuanya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari)

Seorang musafir tidak akan membangun seluruh kehidupannya di tempat persinggahan. Ia tahu bahwa perjalanan masih panjang.

Demikian pula seorang mukmin. Dunia adalah tempat perjalanan, bukan tujuan terakhir.

CERDASNYA ORANG BERIMAN

Orang yang cerdas menurut Islam bukan hanya orang yang memiliki gelar tinggi. Bukan hanya orang yang mampu menguasai teknologi.

Bukan hanya orang yang pandai berbicara. Bukan hanya orang yang memiliki strategi bisnis. Tetapi orang yang mampu berpikir jauh melampaui kehidupan dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)

Inilah kecerdasan spiritual. Orang seperti ini akan bertanya sebelum melakukan sesuatu: “Apakah Allah ridha?”

Sebelum berbicara: “Apakah ucapan saya akan dipertanggungjawabkan?”

Sebelum mengambil uang: “Apakah ini halal?”

Sebelum membuat keputusan: “Apakah keputusan ini akan membawa manfaat atau mudarat?”

Sebelum mengunggah sesuatu: “Apakah postingan ini menjadi pahala atau justru menjadi dosa yang terus mengalir?”

Inilah pertanyaan yang sangat relevan di zaman digital.

ZAMAN SEKARANG: DOSA PUN BISA MENJADI DIGITAL

Dahulu, seseorang melakukan kesalahan mungkin hanya diketahui beberapa orang.

Hari ini berbeda. Satu komentar dapat dibaca jutaan orang.

Satu video dapat tersebar ke berbagai negara. Satu fitnah dapat menjadi viral.

Satu berita bohong dapat menghancurkan nama baik seseorang. Satu unggahan bisa menjadi jejak digital bertahun-tahun.

Karena itu, seorang muslim harus memahami bahwa jari tangan juga akan dimintai pertanggungjawaban secara moral atas apa yang ia lakukan.

Allah berfirman:

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)

Maka sebelum membagikan berita, tabayyun. Sebelum menuduh, periksa fakta. Sebelum menghina, tahan jari. Sebelum menyebarkan aib, ingat bahwa kita juga memiliki aib.

Sebelum menulis komentar kasar, ingat bahwa di balik layar ada manusia yang bisa terluka.

Jangan sampai tangan kita menghasilkan dosa yang terus berjalan ketika kita sudah berada di dalam kubur.

JANGAN TAKUT KEPADA KEMATIAN, TETAPI TAKUTLAH KEPADA APA YANG KITA BAWA

Mengingat kematian bukan berarti menjadi pesimis. Justru mengingat kematian dapat membuat manusia lebih hidup.

Orang yang sadar bahwa hidupnya terbatas akan lebih menghargai waktu. Ia tidak ingin menghabiskan seluruh umur untuk permusuhan.

Ia tidak ingin bertahun-tahun memendam dendam. Ia tidak ingin seluruh hidupnya habis untuk mengejar pengakuan manusia. Ia ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan,” yakni kematian. (HR. Tirmidzi)

Mengapa kematian disebut penghancur kenikmatan? Karena kematian mengingatkan kita bahwa sebesar apa pun kenikmatan dunia, semuanya memiliki batas.

Tetapi perlu diluruskan: Islam tidak mengajarkan seseorang untuk mencari kematian atau mempercepat kematian.

Nabi ﷺ justru melarang seseorang berharap mati karena kesulitan yang menimpanya.

Karena itu, sikap seorang muslim bukan: “Saya ingin mati karena hidup ini berat.”

Tetapi: “Saya ingin hidup dalam ketaatan dan ketika ajal datang, saya ingin bertemu Allah dalam keadaan diridai-Nya.”

Ini perbedaan yang sangat penting. Kita harus renungkan semua yang sedang terjadi di sekeliling kita.

KEMATIAN BUKAN AKHIR BAGI ORANG YANG BERIMAN

Al-Qur’an menggambarkan kehidupan dunia sebagai fase yang sementara. Setelah kematian, manusia memasuki alam barzakh. Kemudian akan datang hari kebangkitan.

Allah berfirman: “Kemudian sesungguhnya kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat.” (QS. Al-Mu’minun: 16)

Karena itu, kematian bukanlah akhir dari eksistensi manusia. Kematian adalah perpindahan menuju fase berikutnya. Pada hari kiamat, manusia akan dibangkitkan.

Allah berfirman:

“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya.” (QS. Al-Anbiya: 104)

Kemudian manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya. Ini janji pasti Allah.

Allah berfirman:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Artinya, tidak ada kebaikan yang benar-benar sia-sia di hadapan Allah.

TUJUH AMAL YANG BISA MENJADI BEKAL

Tulisan ini menjadi dasar tujuh amalan yang baik untuk dijaga setiap hari. Namun perlu ditegaskan bahwa istilah “tujuh sunnah Nabi” tersebut bukanlah sebuah paket tujuh sunnah yang secara khusus ditetapkan dalam satu hadis Nabi ﷺ.

Sebagian amalnya memang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadis, tetapi kita perlu berhati-hati dalam menisbatkan keutamaan tertentu.

Mari kita lihat satu per satu.

1. TAHAJJUD: KETIKA DUNIA TIDUR, HAMBA MENDEKAT KEPADA ALLAH

Tahajud memiliki kedudukan yang istimewa. Karena tidak semua insan mampu melaksanakan ibadah ini.

Allah berfirman:

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)

Bayangkan suasana malam. Telepon genggam sudah diletakkan. Media sosial berhenti. Kesibukan dunia mulai sunyi. Sebagian besar manusia tertidur.

Kemudian seorang hamba bangun. Ia mengambil wudu. Ia berdiri di hadapan Allah. Tidak ada kamera. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penghargaan. Tidak ada manusia yang memuji.

Hanya dirinya dan Allah. Inilah keikhlasan yang luar biasa. Tahajud bukan sekadar gerakan fisik. Tahajud adalah latihan hati.

Ia mengajarkan bahwa: “Saya tetap membutuhkan Allah bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat saya.”

2. AL-QUR’AN: SEBELUM MATA MELIHAT DUNIA, BIARKAN HATI MENGENAL ALLAH

Bayangkan jika hal pertama yang kita lihat setiap pagi bukanlah media sosial. Tapi Al Qur’an. Sangat mulia.

Bukan notifikasi. Bukan komentar. Bukan berita politik. Bukan gosip. Bukan konflik. Tetapi Al-Qur’an.

Allah berfirman:

“Bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)

Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca. Ia harus dipahami. Kemudian diamalkan.

Karena tujuan Al-Qur’an bukan sekadar membuat lidah bergerak, tetapi membuat kehidupan berubah.

Membaca satu halaman mungkin sederhana. Tetapi satu ayat yang benar-benar diamalkan bisa mengubah hidup seseorang.

3. MEMAKMURKAN MASJID DAN MENJAGA SALAT SUBUH

Masjid bukan sekadar bangunan. Masjid adalah tempat manusia mengingat kembali siapa dirinya.

Di luar masjid kita mungkin berbeda status. Ada pejabat. Ada rakyat. Ada pengusaha. Ada buruh. Ada akademisi. Ada pedagang.

Tetapi ketika berdiri dalam satu saf, semuanya menjadi hamba Allah.

Allah berfirman:

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (QS. At-Taubah: 18)

Karena itu, jangan hanya datang ke masjid ketika membutuhkan sesuatu. Datanglah ketika hati membutuhkan Allah.

4. SALAT DHUHA

Salat Dhuha memiliki dasar yang kuat dalam hadis. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap hari, dan salat Dhuha dapat mencukupinya. (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa Dhuha bukan sekadar ritual tambahan. Ia merupakan bentuk syukur atas tubuh dan nikmat Allah.

Tetapi perlu diluruskan pula kalimat: “Kunci rezeki terletak pada salat Dhuha.”

Kalimat tersebut populer di masyarakat, tetapi jangan diperlakukan sebagai kutipan hadis Nabi ﷺ yang sahih.

Rezeki memang berada di tangan Allah, dan ibadah merupakan sebab datangnya keberkahan. Namun jangan sampai kita melakukan Dhuha semata-mata sebagai transaksi: “Saya salat, maka Allah harus memberi saya uang.” Ibadah yang benar dilakukan karena Allah.

5. SEDEKAH SETIAP HARI

Sedekah tidak selalu berarti memberikan uang dalam jumlah besar. Tersenyum juga merupakan sedekah.

Membantu orang lain adalah kebaikan. Menolong orang yang kesulitan adalah kebaikan. Memberikan makanan kepada orang lapar adalah kebaikan. Menyingkirkan gangguan dari jalan juga termasuk sedekah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan kecil. Bisa jadi kita menganggapnya tidak berarti. Tetapi di sisi Allah, justru itulah amal yang menyelamatkan kita.

6. MENJAGA WUDU

Wudu bukan hanya membersihkan tubuh. Ia juga mengajarkan kedisiplinan spiritual. Sebelum salat, kita membersihkan diri.

Tangan dibasuh. Mulut dibersihkan. Wajah dibasuh. Kepala diusap. Kaki dibersihkan. Secara lahiriah kita bersih. Secara batiniah kita bersiap menghadap Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang Muslim berwudu lalu memperbagus wudunya dan mendirikan salat kecuali Allah mengampuni dosa-dosa antara salat itu dan salat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi yang berbeda dalam beberapa riwayat)

Adapun ungkapan populer bahwa orang yang selalu berwudu “senantiasa seperti orang yang salat” atau mendapat dua doa malaikat dengan redaksi tertentu, sebaiknya tidak langsung dinisbatkan sebagai hadis Nabi ﷺ tanpa verifikasi sumber.

Dalam urusan agama, ketelitian adalah bagian dari amanah.

7. ISTIGHFAR

Istighfar adalah salah satu senjata terbesar seorang mukmin.

Nabi ﷺ sendiri banyak beristighfar. Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau beristighfar kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Dalam riwayat Muslim disebut seratus kali sehari.

Kalau Rasulullah ﷺ yang maksum saja banyak beristighfar, bagaimana dengan kita? Kita yang setiap hari mungkin melakukan kesalahan.

Kesalahan melalui mata. Kesalahan melalui lisan. Kesalahan melalui tangan. Kesalahan melalui pikiran. Kesalahan melalui transaksi. Kesalahan melalui media sosial. Kesalahan kepada keluarga. Kesalahan kepada tetangga.

Maka: Astaghfirullah. Bukan hanya ketika terkena masalah. Tetapi setiap hari.

Allah berfirman:

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu…” (QS. Nuh: 10–12)

JANGAN MENUNDA TAUBAT

Salah satu penyakit manusia modern adalah: “Nanti.”

Nanti saya salat. Nanti saya membaca Al-Qur’an. Nanti saya meminta maaf. Nanti saya berhenti dari maksiat. Nanti saya berubah. Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin beribadah.

Masalahnya, kita tidak pernah memiliki kontrak dengan kematian. Tidak ada manusia yang tahu apakah besok ia masih hidup.

Allah berfirman:

“Dan tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok, dan tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)

Maka jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah. Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur. Jangan menunggu kematian orang lain untuk mengingat kematian kita sendiri. Taubatlah sekarang.

TIGA DOA YANG BAIK DIAMALKAN

Ada beberapa doa yang sangat baik untuk diamalkan.

Pertama: Memohon keteguhan hati

Doa yang masyhur: اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Allahumma ya muqallibal-qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.

“Ya Allah, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Doa ini memiliki dasar hadis yang kuat. Rasulullah ﷺ sering berdoa demikian.

Kedua: Memohon husnul khatimah

Kita boleh berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ

Allahumma inni as’aluka husnal khatimah.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu akhir kehidupan yang baik.”

Ini merupakan doa yang baik meskipun lafaz tersebut bukan hadis khusus yang harus dibaca dengan redaksi tertentu.

Yang terpenting adalah maknanya: memohon kepada Allah agar kehidupan kita ditutup dengan iman dan ketaatan.

Ketiga: Memohon taubat sebelum kematian

Kita dapat berdoa:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي تَوْبَةً نَصُوحًا قَبْلَ الْمَوْتِ

Allahummarzuqni taubatan nasuha qablal-maut.

“Ya Allah, karuniakanlah kepadaku taubat yang sebenar-benarnya sebelum kematian.”

Ini adalah doa yang baik dari sisi makna. Dan Allah sendiri memerintahkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)

KISAH UMAR BIN ABDUL AZIZ: JABATAN TIDAK MEMBUATNYA LALAI

Dalam sejarah Islam, kita mengenal Umar bin Abdul Aziz, khalifah dari Bani Umayyah yang sering dikenang karena kezuhudan dan keadilannya.

Ketika menjadi khalifah, ia tidak melihat kekuasaan sebagai kesempatan memperkaya diri.

Justru kekuasaan menjadi beban pertanggungjawaban. Diriwayatkan dalam berbagai literatur sejarah bahwa ia sangat takut jika amanah yang diberikan kepadanya menjadi sebab kebinasaan di akhirat.

Pelajarannya bukan sekadar tentang seorang khalifah. Pelajarannya adalah: Semakin besar kekuasaan, semakin besar pula pertanggungjawaban.

Ini sangat relevan bagi pejabat publik zaman sekarang. Jabatan bukan sekadar fasilitas. Jabatan adalah amanah.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58)

Maka siapa pun yang memperoleh amanah publik harus bertanya: Apa yang akan saya jawab ketika Allah bertanya tentang amanah ini?

KISAH SALMAN AL-FARISI: HIDUP ADALAH PERJALANAN PANJANG

Salman Al-Farisi رضي الله عنه dikenal sebagai sahabat Nabi yang perjalanan hidupnya luar biasa.

Ia mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh. Ia meninggalkan kenyamanan demi menemukan jalan menuju Allah.

Perjalanannya memperlihatkan bahwa mencari kebenaran terkadang membutuhkan pengorbanan. Manusia modern pun sedang melakukan perjalanan.

Bedanya, kita mungkin tidak berjalan ribuan kilometer seperti Salman. Kita berjalan melalui kehidupan: dari sekolah, ke universitas, ke dunia kerja, ke keluarga, ke masyarakat, hingga akhirnya menuju kematian.

Pertanyaannya: Ke mana arah perjalanan kita? Karena perjalanan yang panjang tanpa arah akan membuat seseorang tersesat.

KISAH ABDULLAH BIN MAS’UD: JANGAN MEREMEHKAN AMAL

Para sahabat Nabi memahami bahwa amal kecil sekalipun memiliki nilai.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh meremehkan kebaikan, meskipun hanya bertemu saudaranya dengan wajah yang berseri. (HR. Muslim)

Inilah prinsip besar: Jangan meremehkan amal kecil. Senyum. Menolong orang tua. Membayar utang. Mengajari anak membaca Al-Qur’an. Memberikan makan kepada tetangga. Membuang sampah dari jalan. Memaafkan orang. Menahan amarah. Menghindari komentar jahat. Semua itu mungkin terlihat kecil.

Tetapi kita tidak tahu amal mana yang Allah terima.

DI ERA MEDIA SOSIAL, KEBAIKAN JUGA BISA MENJADI JARIYAH

Hari ini seseorang dapat membuat konten yang bermanfaat hanya dengan telepon genggam. Satu video tentang Al-Qur’an bisa ditonton ribuan orang.

Satu tulisan tentang kebaikan bisa dibaca banyak manusia. Satu pengingat tentang salat bisa membuat seseorang kembali ke masjid.

Satu informasi pendidikan bisa membantu anak muda. Satu ajakan bersedekah bisa membuat seseorang membantu orang lain.

Inilah peluang luar biasa. Tetapi ada sisi sebaliknya. Satu fitnah juga bisa menyebar. Satu penghinaan juga bisa viral.

Satu kebohongan bisa membentuk opini. Satu konten maksiat bisa terus ditonton. Karena itu, teknologi adalah alat.

Yang menentukan pahala atau dosa adalah bagaimana manusia menggunakannya.

JANGAN HANYA MEMBANGUN FOLLOWERS, BANGUNLAH AMAL

Ada orang yang sangat sibuk membangun personal branding. Follower bertambah. Like bertambah. View meningkat.

Tetapi salat berkurang. Al-Qur’an jarang dibaca. Orang tua mulai dilupakan. Keluarga tidak diperhatikan. Hati semakin keras. Ini paradoks kehidupan modern.

Kita sibuk membangun citra di mata manusia tetapi lupa membangun hubungan dengan Allah.

Padahal ketika kita meninggal: Followers tidak ikut masuk kubur. Like tidak ikut masuk kubur. Jabatan tidak ikut masuk kubur. Rekening bank tidak ikut masuk kubur. Yang menyertai manusia adalah amalnya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

KELUARGA ADALAH INVESTASI AKHIRAT

Kalau ingin memiliki amal yang terus mengalir, jangan lupa keluarga. Mendidik anak adalah ibadah.

Mengajarkan salat adalah ibadah. Mencari nafkah halal adalah ibadah. Membahagiakan pasangan adalah ibadah ketika diniatkan karena Allah.

Mengurus orang tua adalah ibadah. Membangun rumah tangga yang sakinah adalah bagian dari perjuangan iman.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Maka jangan hanya bertanya: “Berapa uang yang saya tinggalkan untuk anak?”

Tetapi tanyakan juga: “Iman apa yang saya tinggalkan kepada anak?”

Karena warisan terbesar bukan hanya rumah. Bukan hanya kendaraan. Bukan hanya tanah. Bukan hanya rekening. Warisan terbesar adalah iman, akhlak, ilmu dan amal.

KETIKA AJAL DATANG

Suatu hari nanti, kita akan mengalami sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Telepon akan berhenti berdering. Pesan WhatsApp tidak lagi penting.

Agenda rapat tidak lagi penting. Deadline pekerjaan tidak lagi penting. Pertengkaran tidak lagi penting. Jabatan tidak lagi penting. Uang tidak lagi penting.

Yang penting adalah: Apa yang sudah kita siapkan untuk bertemu Allah?

Allah berfirman:

“Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

“Hari esok” yang dimaksud dalam konteks ayat ini adalah kehidupan akhirat. Maka orang beriman seharusnya hidup dengan kesadaran:

Hari ini saya sedang menulis sejarah kehidupan saya sendiri. Setiap hari adalah satu halaman. Setiap perkataan adalah tinta. Setiap perbuatan adalah kalimat.

Dan suatu hari nanti, seluruh buku kehidupan itu akan dibuka.

HUSNUL KHATIMAH BUKAN KEBETULAN

Husnul khatimah bukan sesuatu yang hanya dipikirkan ketika seseorang sudah berada di ranjang kematian.

Husnul khatimah harus dipersiapkan sejak sekarang. Kalau ingin mati dalam keadaan salat, maka biasakan salat sekarang.

Kalau ingin mati dalam keadaan membaca Al-Qur’an, maka biasakan membaca Al-Qur’an sekarang.

Kalau ingin mati dalam keadaan berdzikir, maka biasakan berdzikir sekarang. Kalau ingin mati dalam keadaan membantu manusia, maka biasakan membantu manusia sekarang.

Kematian adalah penutup dari sebuah perjalanan. Dan bagaimana penutupnya sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita menjalani perjalanan tersebut.

JANGAN MENUNGGU MENJADI SEMPURNA UNTUK BERBUAT BAIK

Ada orang berkata: “Nanti kalau sudah baik saya akan mulai mengaji.” “Nanti kalau sudah kaya saya akan bersedekah.” “Nanti kalau sudah tua saya akan rajin ke masjid.” “Nanti kalau sudah pensiun saya akan memperbanyak ibadah.”

Padahal kita tidak tahu apakah “nanti” itu akan datang. Mulailah dari yang bisa dilakukan. Salat tepat waktu. Baca Al-Qur’an satu halaman. Istighfar. Sedekah. Minta maaf. Berbakti kepada orang tua. Menjaga lisan. Menahan amarah. Menghindari fitnah. Membantu orang. Semuanya sederhana.

Tetapi kalau dilakukan konsisten, ia akan menjadi jalan menuju perubahan besar.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

JIKA HARI INI ADALAH HARI TERAKHIR

Coba bayangkan. Jika hari ini adalah hari terakhir kehidupan kita, apa yang akan kita lakukan?

Apakah kita masih ingin bertengkar? Apakah kita masih ingin menghina? Apakah kita masih ingin menyimpan dendam? Apakah kita masih ingin mengejar pujian? Apakah kita masih ingin mempertahankan kesombongan?

Ataukah kita akan berkata: “Ya Allah, saya ingin pulang kepada-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada saya.”

Pertanyaan ini bukan untuk membuat kita takut berlebihan. Pertanyaan ini untuk membuat kita sadar.

Karena kematian bukan sesuatu yang perlu ditakuti dengan kepanikan. Kematian harus dipersiapkan dengan ketakwaan.

PENUTUP: HIDUPLAH SEBELUM MATI

Hidup bukan sekadar bernapas. Hidup adalah kesempatan. Kesempatan untuk bertobat. Kesempatan untuk memperbaiki diri. Kesempatan untuk meminta maaf.

Kesempatan untuk berbakti kepada orang tua. Kesempatan untuk mencintai keluarga.

Kesempatan untuk menolong sesama. Kesempatan untuk belajar. Kesempatan untuk beribadah. Kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Dan setiap hari yang berlalu sebenarnya membawa kita semakin dekat kepada kematian.

Karena itu, jangan hanya menghitung usia. Hitunglah amal.

Jangan hanya menghitung harta. Hitunglah keberkahan.

Jangan hanya menghitung follower. Hitunglah manfaat.

Jangan hanya mengejar penghargaan manusia. Carilah ridha Allah.

Jangan hanya takut kehilangan dunia. Takutlah kehilangan akhirat.

Dan jangan menunggu kematian untuk menyadari betapa berharganya kehidupan.

Karena bisa jadi: Hari ini adalah kesempatan terakhir kita untuk memperbaiki sesuatu.

Maka selama masih diberi napas: Salatlah. Bacalah Al-Qur’an. Berdzikirlah. Bersedekahlah. Berbaktilah kepada orang tua. Sayangilah keluarga. Maafkan orang lain. Minta maaflah jika bersalah. Jangan sebarkan fitnah. Jangan sakiti manusia. Jangan sombong. Jangan merasa paling suci. Jangan lelah berbuat baik.

Sebab kita tidak pernah tahu amal mana yang akan menjadi sebab Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita.

Allah SWT berfirman:

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Semoga ketika waktunya tiba, kita bukan termasuk orang yang menyesal karena terlalu banyak mengejar dunia dan terlalu sedikit mempersiapkan akhirat.

Semoga kita termasuk orang yang ketika dipanggil Allah dapat menghadap dengan hati yang tenang.

Allah berfirman:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)

Itulah kehidupan yang sesungguhnya. Kita datang dari Allah. Kita hidup dengan pertolongan Allah. Kita akan kembali kepada Allah. Maka selama perjalanan ini belum berakhir:

Jadikan hidup sebagai ibadah. Jadikan dunia sebagai bekal. Jadikan ilmu sebagai cahaya. Jadikan keluarga sebagai ladang amal. Jadikan harta sebagai sarana kebaikan. Jadikan jabatan sebagai amanah. Jadikan media sosial sebagai sarana manfaat. Jadikan setiap napas sebagai kesempatan untuk mendekat kepada Allah.

Dan ketika kematian akhirnya datang, semoga kita dapat menyambutnya bukan dengan penyesalan karena merasa belum sempat hidup, tetapi dengan keyakinan bahwa kita telah berusaha mengisi kehidupan dengan iman dan amal.

Hidup bukan untuk mati. Tetapi hidup adalah kesempatan mempersiapkan kehidupan setelah mati.

Dan ketika kematian datang, ia bukanlah akhir dari perjalanan seorang mukmin. Ia adalah pintu menuju kehidupan akhirat yang abadi.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوْءِ الْخَاتِمَةِ.

Allahumma inna nas’aluka husnal khatimah, wa na’udzu bika min su’il khatimah.

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu akhir kehidupan yang baik dan kami berlindung kepada-Mu dari akhir kehidupan yang buruk.”

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَارْحَمْنَا، وَاخْتِمْ حَيَاتَنَا بِالْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *