10 Pesan Bumi kepada Manusia: Renungan soal Hidup, Mati dan Bekal Menuju Akhirat

.

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI/ F-PKS / Kalimantan Selatan

Bacaan Lainnya

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Dialah yang menciptakan langit dan bumi, menghidupkan dan mematikan seluruh makhluk, serta menjadikan kehidupan dunia sebagai tempat ujian sebelum kehidupan yang kekal di akhirat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Dunia Hanyalah Tempat Singgah

Setiap hari kita menginjak bumi. Kita berjalan di atasnya, bekerja, membangun rumah, mencari rezeki, bercanda bersama keluarga, mengejar cita-cita, bahkan melakukan berbagai macam aktivitas tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari nanti bumi yang kita pijak inilah yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir jasad kita.

Allah SWT mengingatkan bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali kepada tanah.

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakan kamu, kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun jabatan seseorang, sebanyak apa pun hartanya, secantik apa pun wajahnya, atau setinggi apa pun ilmunya, semuanya akan kembali kepada satu tempat yang sama, yaitu liang kubur.

Kuburan tidak membedakan antara raja dan rakyat, pejabat dan masyarakat biasa, orang kaya dan orang miskin. Yang membedakan hanyalah amal saleh dan ketakwaannya.

Seruan Pertama:

“Kamu berjalan di atasku, kelak kamu akan masuk ke dalam perutku.”

Hari ini kaki kita melangkah dengan bebas. Kita pergi ke kantor, sekolah, pasar, masjid, bahkan tempat-tempat maksiat. Kita merasa dunia ini milik kita.

Namun bumi seakan berkata: “Wahai manusia, jangan terlalu bangga berjalan di atasku. Suatu saat langkahmu akan berhenti. Orang-orang akan mengangkat tubuhmu, mengusungmu dengan keranda, lalu menurunkanmu ke dalam perutku.”

Betapa banyak orang yang pagi hari masih tertawa, sore harinya telah dikuburkan.

Kematian tidak menunggu tua. Tidak menunggu kaya. Tidak menunggu sehat. Tidak menunggu selesai membangun rumah.

Tidak hanya itu, kematian tak menunggu anak-anak sukses. Karena kematian datang tepat pada waktu yang telah Allah tetapkan.

Allah berfirman:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Seruan Kedua:

“Kamu berbuat maksiat di atasku, kelak kamu akan disiksa di dalam perutku.”

Bumi menjadi saksi semua dosa. Tidak ada satu langkah yang luput dari pengawasan Allah.

Mata boleh melihat. Mulut boleh berbicara. Tangan boleh mengambil. Kaki boleh melangkah. Tetapi semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah berfirman:

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Az-Zalzalah: 4)

Bayangkan ketika bumi yang kita pijak selama puluhan tahun menjadi saksi di hadapan Allah.

Bumi akan berkata:

“Ya Allah, di tempat ini ia pernah mencuri.”

“Di sini ia pernah berdusta.”

“Di sana ia pernah memfitnah.”

“Di tempat itu ia pernah menzalimi orang lain.”

Maka sebaik-baiknya kehidupan adalah memperbanyak taubat sebelum bumi bersaksi.

Seruan Ketiga:

“Kamu tertawa di atasku, kelak kamu akan menangis di dalam perutku.”

Islam tidak melarang tertawa. Namun Rasulullah SAW mengingatkan agar jangan terlalu banyak tertawa hingga melupakan akhirat.

Banyak orang tertawa karena dunia. Tertawa karena harta. Tertawa karena jabatan.Tertawa karena berhasil menjatuhkan orang lain.

Padahal tangisan di alam kubur jauh lebih berat apabila seseorang datang tanpa amal. Tangisan saat itu tidak lagi berguna. Penyesalan datang terlambat. Karena pintu amal telah tertutup.

Seruan Keempat:

“Kamu makan yang haram di atasku, kelak kamu akan dimakan ulat di perutku.”

Rezeki halal adalah sumber keberkahan. Sebaliknya, harta haram akan menjadi sebab kesengsaraan.

Korupsi. Suap. Riba. Menipu. Mengurangi timbangan. Mengambil hak anak yatim. Semuanya mungkin tampak menguntungkan di dunia.

Namun ketika jasad telah berada di liang lahat, semua kenikmatan itu telah hilang. Yang tersisa hanyalah amal.

Seruan Kelima:

“Kamu sombong di atasku, kelak kamu akan berduka di dalam perutku.”

Kesombongan adalah penyakit hati. Iblis terusir dari surga karena sombong. Fir’aun binasa karena sombong. Qarun tenggelam bersama hartanya karena sombong.

Betapa ironisnya manusia. Diciptakan dari setetes air hina. Hidup membawa kotoran dalam perut.

Mati menjadi bangkai. Tetapi masih sempat menyombongkan diri.

Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.

Karena itu, rendah hati merupakan pakaian orang-orang beriman. Dan pakaian itu akan menyelamatkan kita kelak di akhirat.

Seruan Keenam:

“Kamu berjalan di tempat terang, kelak kamu berada di tempat gelap.”

Kubur adalah tempat yang gelap. Tidak ada lampu. Tidak ada listrik. Tidak ada sinar matahari.

Yang menerangi hanyalah amal saleh. Shalat yang khusyuk. Sedekah yang ikhlas. Al-Qur’an yang dibaca. Dzikir yang rutin. Air mata taubat. Semuanya akan menjadi cahaya.

Seruan Ketujuh:

“Kamu hidup bersama banyak orang, kelak kamu sendirian.” Hari ini rumah kita ramai.

Banyak keluarga. Teman. Tetangga. Saudara. Namun ketika berada di kubur, semua akan pulang.

Tidak ada istri. Tidak ada suami. Tidak ada anak. Tidak ada sahabat. Yang menemani hanyalah amal.

Karena itulah Rasulullah SAW bersabda bahwa mayit diiringi oleh tiga hal: keluarga, harta, dan amal. Dua akan kembali, sedangkan yang tinggal hanyalah amal.

Seruan Kedelapan:

“Kamu hidup di atas yang hijau dan indah, kelak kamu berada di tempat yang hancur.”

Dunia penuh keindahan. Gunung. Pantai. Hutan. Sawah. Gedung megah. Mobil mewah. Semuanya akan ditinggalkan.

Kuburan mengajarkan kesederhanaan. Tidak ada kasur empuk. Tidak ada pendingin ruangan. Tidak ada kemewahan. Semua manusia sama.

Seruan Kesembilan:

“Kamu kumpulkan harta di atasku, kelak kamu akan hancur di dalam perutku.”

Manusia bekerja keras siang malam. Sebagian bahkan lupa shalat. Lupa keluarga. Lupa kesehatan. Semata-mata mengejar harta.

Padahal saat meninggal, semua harta berpindah tangan. Rumah diwariskan. Mobil diwariskan.

Tabungan diwariskan. Yang dibawa hanyalah amal.

Allah berfirman:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Seruan Kesepuluh:

“Kamu hidup bebas tanpa aturan di atasku, kelak kamu diam tak berdaya.”

Di dunia manusia bisa memilih. Mau taat atau maksiat. Mau shalat atau meninggalkan shalat. Mau jujur atau berdusta.

Mau bersedekah atau kikir. Tetapi ketika maut datang, pilihan telah selesai.

Tidak ada lagi kesempatan kembali. Yang ada hanyalah penyesalan.

Tiga Pelajaran Besar

Pertama: Jangan Sombong

Dunia hanyalah titipan. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya di hadapan Allah.

Kerendahan hati adalah kemuliaan. Tak ada gunanya sombong di dunia ini.

Kedua: Persiapkan Alam Kubur

Bekal terbaik adalah:

1. Shalat lima waktu tepat waktu.

2. Membaca Al-Qur’an setiap hari.

3. Memperbanyak sedekah.

4. Berbakti kepada orang tua.

5. Menjaga lisan.

6. Menolong sesama.

7. Menjaga amanah.

8. Memperbanyak istighfar.

9. Memperbanyak dzikir.

10. Menjaga silaturahmi.

Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi, dinilai hasan)

Ketiga: Jangan Lupa Akhirat

Dunia hanyalah ladang. Akhirat adalah masa panen. Apa yang ditanam di dunia akan dipetik di akhirat.

Tidak ada amal yang sia-sia. Sekecil apa pun kebaikan akan dibalas. Sekecil apa pun keburukan akan diperlihatkan.

Bagaimana Menjawab Seruan Bumi?

Jawaban pertama adalah taubat yang sungguh-sungguh. Allah berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 8 agar orang-orang beriman bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Jawaban kedua adalah menegakkan shalat, karena shalat menjadi tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab.

Jawaban ketiga adalah memperbanyak sedekah, sebab sedekah menjadi sebab datangnya rahmat Allah dan menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya.

Jawaban keempat adalah membaca serta mengamalkan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup dan pemberi syafaat bagi orang yang senantiasa membacanya dan mengamalkan isinya.

Jawaban kelima adalah memperbanyak amal saleh, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 110 bahwa apa pun kebaikan yang kita kerjakan akan kita temukan balasannya di sisi Allah.

Penutup

Saudaraku yang dirahmati Allah…

Hari ini kita masih diberi kesempatan bernapas. Masih bisa sujud. Masih bisa meminta maaf. Masih bisa bersedekah. Masih bisa membaca Al-Qur’an. Masih bisa memperbaiki diri.

Tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah esok pagi masih menjadi miliknya.

Maka jangan tunda taubat. Jangan tunda shalat. Jangan tunda berbuat baik.

Karena suatu hari nanti bumi yang selama ini kita pijak akan memeluk tubuh kita, menjadi saksi atas seluruh amal yang kita lakukan, lalu menyerahkan semuanya kepada keputusan Allah Yang Maha Adil.

Semoga Allah menjadikan kubur kita sebagai taman dari taman-taman surga, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, meneguhkan hati kita di atas iman, dan mengumpulkan kita kelak bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam surga Firdaus.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *