LONDO IRENG: Jangan Menjadi Asing di Tanah Sendiri

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada acara Harlah PKB yang menyinggung istilah “Londo Ireng” memantik perdebatan di ruang publik. Sebagian menafsirkannya sebagai kritik terhadap pihak-pihak yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan bangsa, sementara sebagian lain mempersoalkan istilah tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Perbedaan tafsir itu adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokrasi.

Namun, alangkah ruginya jika perhatian kita hanya berhenti pada siapa yang dimaksud, bukan pesan apa yang dimaksud.

Sesungguhnya, “Londo Ireng” bukan sekadar istilah sejarah, melainkan sebuah metafora moral. Ia mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi sebuah bangsa tidak selalu datang dari luar negeri, tetapi justru dapat lahir dari anak bangsanya sendiri yang kehilangan keberpihakan kepada rakyat, rela menggadaikan integritas demi kepentingan pribadi, kelompok, atau kekuasaan.

Dalam konteks itu, pesan Presiden Prabowo semestinya dibaca sebagai ajakan untuk memperkuat nasionalisme. Sebab cinta tanah air tidak cukup diucapkan dalam pidato atau dinyanyikan dalam lagu kebangsaan, tetapi harus diwujudkan dalam kejujuran, kerja keras, pengorbanan, dan kesetiaan menjaga amanah.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini juga tidak kekurangan sumber daya alam. Yang sering kita rasakan kurang adalah keteladanan, integritas, dan keberanian mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan diri sendiri.

Jangan sampai kita menjadi “Londo Ireng” dalam makna moral, yakni hidup dari negeri ini, tetapi tidak peduli pada penderitaan rakyatnya, menikmati fasilitas negara, tetapi enggan menjaga kehormatannya, mengaku mencintai Indonesia, tetapi lebih setia kepada kepentingan sempit daripada kepentingan nasional.

Islam telah lama mengajarkan semangat itu. Rasulullah SAW. bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia.”

Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah seberapa tinggi jabatan seseorang, tetapi seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain.

Karena itu, marilah kita menjadikan polemik “Londo Ireng” bukan sebagai alasan untuk saling mencurigai, tetapi sebagai momentum untuk bertanya kepada diri sendiri, Apakah pikiran, tenaga, ilmu, jabatan, dan pengabdian kita benar-benar telah berpihak kepada agama, bangsa, dan rakyat?

Indonesia Emas 2045 tidak akan dibangun oleh mereka yang hanya pandai mengkritik atau memuji, tetapi oleh mereka yang rela berkorban, bekerja tanpa pamrih, menjaga persatuan, serta menjadikan kepentingan umat, bangsa, dan negara sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Allah Swt.

Sebab nasionalisme sejati bukanlah membenci bangsa lain, melainkan mencintai bangsa sendiri dengan bekerja jujur, mengabdi dengan ikhlas, dan tidak pernah lelah berbuat kebaikan demi kemajuan Indonesia.

#Wallahu A’lam Bishawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *