Pada era digital yang segalanya serba cepat ini, aplikasi TikTok telah beralih bentuk menjadi platform pemasaran yang sangat ampuh. Dengan salah satu produk yang merasakan dampaknya secara langsung yaitu Dubai Chewy Cookies. Berkat TikTok, camilan viral yang satu ini berhasil menarik banyak perhatian konsumen muda.
Meskipun awalnya platform ini hanya berfokus pada video kreatif, komedi, dan tarian pendek, kini TikTok telah berkembang menjadi salah satu aplikasi digital favorit banyak kalangan, termasuk pelaku usaha dan UMKM. Keunggulannya terletak pada algoritma pintar yang bisa menjangkau jutaan pengguna dalam waktu singkat, bahkan bagi akun baru. Karena alasan itulah banyak pelaku usaha mulai mengandalkan TikTok sebagai wadah pemasaran utama.
Fenomena ini sejatinya tidak terjadi begitu saja. Di baliknya ada pergeseran besar dalam dunia pemasaran modern, pemasaran digital. Pemasaran digital merupakan sebuah aktivitas pemasaran dengan menggunakan media digital serta teknologi internet untuk mempromosikan produk, layanan, atau merek kepada audiens yang ditargetkan (Harahap, 2025).
Pemasaran digital, sebuah aktivitas promosi yang memanfaatkan media digital dan teknologi internet, telah mengubah cara bisnis menjangkau konsumennya. Media sosial pun menjadi salah satu saluran pemasaran digital paling dominan saat ini, karena menawarkan jangkauan luas, biaya terjangkau, dan kemampuan penargetan yang jauh lebih akurat dibanding media konvensional. TikTok, dengan segala keunggulan algoritmanya, adalah puncak dari evolusi tersebut.
TikTok marketing adalah strategi digital yang memanfaatkan TikTok untuk menyampaikan promosi, menumbuhkan minat audiens, mendorong interaksi dengan calon pembeli, dan memperluas kesadaran merek, yang dikemas dalam video pendek yang kreatif dan mudah dibagikan. Algoritma TikTok yang memberi visibilitas organik tinggi membuat peluang sebuah konten menjadi viral lebih besar dibanding platform lain.
Dari sisi konsumen, paparan konten seperti ini berkaitan langsung dengan minat beli, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli produk setelah menerima informasi, melihat promosi menarik, atau menyaksikan pengalaman positif orang lain (Wardhana, 2021).
Bentuk minat beli bisa beragam, mulai dari rasa penasaran dan mencari informasi, memasukkan produk sebagai opsi pertimbangan, merekomendasikannya ke orang lain, sampai akhirnya memutuskan membeli. Video TikTok yang singkat, visual, dan persuasif terbukti efektif memicu rangkaian keputusan tersebut.
Apakah TikTok Benar-Benar Bekerja untuk Dubai Chewy Cookies? Untuk membuktikan pengaruh TikTok marketing terhadap minat beli konsumen, mahasiswa Program Studi Pemasaran Digital angkatan 2025 Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melakukan sebuah penelitian.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu sebuah metode yang mengandalkan angka dan analisis statistik. Data didapatkan dari 15 responden melalui kuesioner daring pada periode 20–23 Juni 2026. Penelitian ini membagi pengukuran menjadi dua sisi utama:
1. TikTok Marketing: mencakup daya tarik konten yang disajikan, kejelasan informasi produk yang disampaikan, tingkat kreativitas konten tersebut, dan seberapa aktif interaksi yang terjadi antara penjual dan audiens di TikTok.
2. Minat Beli: menilai seberapa besar keinginan, ketertarikan, dan kecenderungan responden untuk benar-benar membeli Dubai Chewy Cookies setelah terpapar konten pemasaran di TikTok.
Sepuluh pernyataan dalam kuesioner telah dirancang untuk menangkap gambaran nyata dari kedua aspek tersebut secara langsung dari sudut pandang mahasiswa sebagai konsumen muda.
Hasilnya menunjukkan bahwa TikTok terbukti efektif. Dari hasil kuesioner yang telah kami sebarkan, mayoritas responden berpendapat setuju hingga sangat setuju pada hampir seluruh pernyataan yang diajukan. Dengan dua temuan yang paling menonjol, yaitu:
1. Sebanyak 80% responden mengaku bahwa konten TikTok membuat mereka tertarik untuk mengetahui produk Dubai Chewy Cookies lebih lanjut.
2. Sebanyak 80% responden juga menyatakan bahwa mereka tertarik mencoba produk setelah melihat promosinya di TikTok.
Persentase 80% ini bukan angka kecil. Artinya, dari setiap 10 orang yang menonton konten TikTok tentang Dubai Chewy Cookies, 8 di antaranya merasa terdorong untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai produk dan mencicipinya.
Apa yang Membuat Konten TikTok Begitu Efektif? Terdapat beberapa faktor yang tampaknya berperan besar dalam keberhasilan strategi pemasaran ini:
1. Konten yang kreatif dan informatif. TikTok memberikan kesempatan serta tempat untuk para penjual dalam memperkenalkan produk secara visual dan dinamis. Demonstrasi produk, unboxing, hingga review jujur dari pengguna nyata menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditandingi media konvensional.
2. Kekuatan testimoni. Dalam penelitian ini, testimoni yang beredar di TikTok terbukti meningkatkan kepercayaan responden terhadap Dubai Chewy Cookies. Ketika calon pembeli melihat orang lain menikmati dan memberikan ulasan positif secara faktual, rasa ragu pun akan berkurang secara alami.
3. Efek komunitas. Bahkan, melalui penelitian ini kami menemukan bahwa sebagian responden menyatakan bersedia untuk merekomendasikan produk Dubai Chewy Cookies kepada teman atau keluarganya. Ini menunjukkan bahwa TikTok tidak hanya menciptakan minat beli, namun juga berhasil mendorong word-of-mouth dan membangun loyalitas melalui interaksi sosial.
Mengapa Konsumen Muda Mudah Terpengaruh Konten TikTok?
Efektivitas TikTok marketing pada Dubai Chewy Cookiestidak bisa dilepaskan dari karakter generasi muda sebagai penggunanya. Sebagai digital natives, generasi muda tumbuh bersama teknologi dan terbiasa mengonsumsi informasi dalam format yang serba cepat, ringkas, dan visual (Nawawi dkk., 2020).
Mereka lebih menyukai konten berbentuk micro-storytelling, yaitu cerita singkat yang dikemas dalam video pendek seperti yang ditawarkan TikTok, dibandingkan format promosi panjang dan formal (Fadhilah & Saputra, 2021). Karakter ini membuat konten Dubai Chewy Cookies yang serba cepat dan visual jauh lebih mudah menempel di ingatan dibandingkan iklan konvensional.
Faktor kedua adalah FOMO atau fear of missing out, yaitu rasa takut tertinggal dari tren yang sedang ramai dibicarakan. Ketika sebuah konten viral dan terus muncul di linimasa, generasi muda cenderung terdorong untuk turut mencoba atau membeli produk tersebut agar tidak merasa ketinggalan zaman dibanding lingkungan sosialnya (Sundava, 2025).
Perasaan ini sering bekerja lebih cepat dibanding pertimbangan rasional, sehingga konten yang sedang tren mampu mendorong keputusan mencoba produk hanya dalam waktu singkat setelah menontonnya.
Faktor ketiga adalah tingginya kepercayaan terhadap ulasan sesama pengguna, atau electronic word of mouth (E-WOM). Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih terbiasa dengan iklan satu arah, generasi muda cenderung lebih percaya pada pengalaman nyata orang lain yang terlihat jujur dan tidak dibuat-buat, karena dianggap lebih objektif dibanding klaim yang datang langsung dari penjual (Lestari, Nadjib, & Senalasari, 2021). Inilah sebabnya video testimoni maupun reaksi otentik saat mencicipi Dubai Chewy Cookiesterasa lebih meyakinkan dibanding materi promosi yang dibuat oleh brand itu sendiri.
Faktor terakhir adalah pengaruh influencer dan tren sosial. Generasi muda cenderung lebih mudah terpengaruh oleh konten visual yang menarik, pendapat figur yang mereka ikuti, serta topik yang sedang ramai dibicarakan di internet (Safitri & Rinaldi, 2023). Ketika sejumlah kreator maupun influencer ikut membuat konten tentang produk yang sama dalam waktu berdekatan, produk tersebut terasa semakin ‘wajib dicoba’, sehingga mendorong lebih banyak orang untuk turut mencari tahu dan membeli.
Kombinasi keempat faktor inilah yang menjelaskan mengapa Dubai Chewy Cookies bisa dengan cepat menarik minat beli konsumen muda hanya melalui konten TikTok, tanpa perlu mengandalkan anggaran promosi yang besar.
Temuan ini menunjukkan bahwa TikTok bukan lagi sekadar platform hiburan, melainkan telah berkembang menjadi salah satu kekuatan utama dalam dunia pemasaran digital. Saat ini, TikTok menjadi ruang di mana hiburan, informasi, dan transaksi dapat berlangsung secara bersamaan. Bagi banyak konsumen, khususnya generasi muda, pengalaman menemukan sebuah produk sering kali dimulai dari konten yang muncul di halaman “For You”, bukan dari iklan konvensional.
Hal ini menandakan adanya perubahan besar dalam cara konsumen mengambil keputusan pembelian. Jika dahulu konsumen hanya melihat iklan untuk mengetahui suatu produk, kini mereka ingin melihat bagaimana produk tersebut digunakan, dirasakan, dan direkomendasikan oleh orang lain. Melalui video pendek yang kreatif, informatif, dan autentik, TikTok memungkinkan konsumen untuk memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan produk sebelum memutuskan untuk membelinya.
Keberhasilan pemasaran melalui TikTok juga menunjukkan bahwa pendekatan pemasaran yang mengutamakan cerita, pengalaman, dan kedekatan emosional memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan promosi yang bersifat satu arah. Konten yang terasa natural dan relevan dengan kehidupan sehari-hari justru lebih mudah menarik perhatian dan membangun kepercayaan konsumen.
Bagi pelaku bisnis, terutama UMKM dan brand yang menyasar pasar anak muda, temuan ini menjadi pengingat bahwa kreativitas dan pemahaman terhadap perilaku audiens merupakan faktor penting dalam strategi pemasaran digital. TikTok tidak hanya berfungsi sebagai media promosi, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun hubungan dengan konsumen, menciptakan pengalaman, dan membentuk keputusan pembelian. Dengan kata lain, di era digital saat ini, kemampuan untuk menciptakan konten yang menarik dan autentik dapat menjadi keunggulan kompetitif yang sangat berharga.
Kasus Dubai Chewy Cookies juga membuka diskusi yang lebih luas tentang bagaimana UMKM dapat memanfaatkan TikTok, sekaligus tantangan yang harus dihadapi di baliknya.
Dari sisi peluang, TikTok menawarkan jalur promosi yang jauh lebih murah dibandingkan iklan konvensional. Pelaku usaha tidak perlu mengeluarkan biaya produksi besar untuk bermodalkan ponsel dan ide yang kreatif, produk sudah bisa menjangkau audiens dalam skala luas (Priyono & Sari, 2023). Ini menjadi kabar baik terutama bagi UMKM dengan modal terbatas yang selama ini kesulitan bersaing dengan brand besar di media konvensional.
Namun, peluang ini hanya bisa dimaksimalkan jika pelaku usaha benar-benar memperhatikan kreativitas. Strategi seperti storytelling yang menarik, penggunaan musik yang sedang populer, pemilihan hashtag yang tepat, serta konsistensi dalam mengunggah konten terbukti mampu meningkatkan kesadaran merek secara signifikan (Setiawan & Muamar, 2025). Konten yang datar dan sekadar berjualan cenderung diabaikan algoritma maupun penonton, sehingga kreativitas bukan lagi pelengkap, melainkan syarat utama untuk bisa bersaing di platform ini.
Di sisi lain, kemudahan yang ditawarkan TikTok juga berarti setiap orang punya kesempatan yang sama untuk masuk dan mencoba peruntungan, sehingga tingkat persaingan pun ikut melonjak. Banyaknya pelaku usaha yang berebut perhatian di halaman For You Page membuat visibilitas semakin sulit didapat, terutama bagi UMKM yang baru merintis dan belum memiliki basis pengikut (Rijal, Ahmad, Arisah, Nurdiana, & Hasan, 2021). Dalam kondisi ini, sekadar hadir di TikTok tidak lagi cukup; UMKM dituntut untuk benar-benar menonjol di tengah lautan konten yang terus bertambah setiap harinya.
Tantangan lain yang tidak kalah nyata adalah tren yang berubah sangat cepat. Sebuah gaya konten, musik, atau format video yang viral hari ini bisa saja terasa basi hanya dalam beberapa minggu. Pelaku usaha yang hanya mengandalkan satu formula konten tanpa mau beradaptasi berisiko kehilangan momentum, karena keberhasilan promosi di TikTok sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengikuti tren yang sedang berkembang serta menyesuaikan konten dengannya (Jamalulel dkk., 2025).
Karena itulah, inovasi berkelanjutan menjadi kunci agar UMKM tidak sekadar viral sesaat lalu tenggelam kembali. Keberhasilan sebuah merek di TikTok bukan ditentukan oleh satu video yang meledak, melainkan oleh konsistensi dalam terus menghasilkan ide baru, membangun interaksi dengan audiens, dan memanfaatkan fitur-fitur platform secara maksimal dari waktu ke waktu (Islami dkk., 2024). Dengan kata lain, TikTok memang membuka pintu peluang yang lebar, tetapi hanya UMKM yang mau terus belajar dan berinovasi yang mampu bertahan di dalamnya.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara pelaku usaha membangun hubungan dengan konsumen. Melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa TikTok memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan minat beli konsumen terhadap Dubai Chewy Cookies, khususnya di kalangan generasi muda. Konten yang kreatif, autentik, dan didukung oleh ulasan pengguna serta kekuatan algoritma TikTok mampu mendorong rasa ingin tahu, membangun kepercayaan, hingga memengaruhi keputusan pembelian.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan pemasaran digital tidak lagi hanya bergantung pada besarnya anggaran promosi, tetapi juga pada kemampuan pelaku usaha dalam memahami perilaku audiens dan menciptakan konten yang relevan dengan tren yang sedang berkembang.
Bagi UMKM maupun brand yang menyasar pasar anak muda, TikTok menawarkan peluang besar untuk meningkatkan visibilitas produk sekaligus membangun kedekatan dengan konsumen secara lebih personal. Meski demikian, tingginya persaingan dan cepatnya perubahan tren di media sosial menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu terus berinovasi, mengikuti perkembangan platform, serta menjaga kualitas produk dan interaksi dengan pelanggan agar mampu mempertahankan kepercayaan konsumen dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, fenomena viralnya Dubai Chewy Cookiesmembuktikan bahwa media sosial, khususnya TikTok, bukan hanya menjadi tempat berbagi hiburan, tetapi juga telah berkembang menjadi salah satu faktor penting yang membentuk perilaku konsumsi masyarakat. Dengan strategi pemasaran yang tepat, kreatif, dan berorientasi pada kebutuhan audiens, TikTok dapat menjadi sarana yang efektif untuk menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di era digital.
Nama Lenulis: Latifatur Rofiqoh, Khuzama Nufaisah Kholidah, Shasikirana Daniswari
Dosen pengampu: Erfi Firmansyah, S.Pd., M.A.






