Survei kecil-kecilan terhadap mahasiswa Rumpun Manajemen FEB UNJ angkatan 2025 membongkar selera jajan generasi muda: dari filling keju bawang sampai level pedas yang ternyata tidak seekstrem namanya.
Oleh Cathrine Chalina Fatwana, Rahayu Octa Romadhon, dan Sidiqoh Nurhafidhoh | Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jakarta
Sore hari di sekitar kampus FEB UNJ, pemandangan mahasiswa menenteng kemasan camilan kekinian bukan hal asing lagi. Salah satu yang belakangan ramai jadi buruan adalah Chikuro, camilan kuliner kekinian yang menawarkan kombinasi filling, seasoning powder, dan level kepedasan yang bisa dipilih sendiri sesuai selera. Produk ini bukan sekadar tren musiman ia mencerminkan bagaimana industri makanan ringan di Indonesia terus berinovasi untuk merebut hati konsumen muda.
Industri makanan dan minuman memang sedang berlari kencang. Kementerian Perindustrian mencatat sektor ini menyumbang 6,55% terhadap Produk Domestik Bruto nasional pada 2023, sementara jumlah usaha kuliner di Indonesia melonjak 21,13% dibandingkan tahun 2016 (BPS, 2023). Di tengah pertumbuhan itu, varian rasa menjadi senjata utama produsen camilan untuk membedakan diri dari kompetitor sekaligus menjawab gaya hidup mahasiswa yang serba cepat dan dinamis.
Pertanyaannya: dari sekian banyak pilihan rasa yang ditawarkan Chikuro, varian mana yang sebenarnya paling digemari mahasiswa, dan apakah rasa favorit itu benar-benar membuat mereka mantap membeli, kembali lagi? Untuk menjawabnya, tim peneliti dari Program Studi Rumpun Manajemen FEB UNJ angkatan 2025 menyebarkan kuesioner daring kepada 29 mahasiswa yang pernah mencicipi Chikuro minimal sekali, selama tiga hari pada 17-19 Juni 2026.
Royal Garlic Cream Cheese, Sang Juara Tak Terbantahkan
Hasilnya cukup telak. Dari tiga pilihan filling atau dipping sauce yang tersedia, Royal Garlic Cream Cheese menyabet 79,31% suara responden, jauh meninggalkan Kuriimii Mentai (17,24%) dan Furuchizu Sauce yang hanya dipilih satu orang (3,45%). Artinya, hampir empat dari lima mahasiswa yang disurvei menjatuhkan pilihan pada perpaduan rasa gurih dan creamy khas keju bawang ini.
Dominasi serupa juga terjadi pada kategori seasoning powder. Japanese Truffle menjadi favorit dengan perolehan 62,07%, mengalahkan Japanese Nori (24,14%) dan Sweet BBQ (13,79%). Aroma truffle yang khas dan rasa gurihnya rupanya berhasil mencuri perhatian lidah mahasiswa Jakarta, sebuah temuan yang sejalan dengan riset Wu dan kawan-kawan yang menyebut karakteristik sensorik seperti rasa dan aroma sebagai faktor penentu kepuasan konsumen pangan (Wu et al., 2022).
Menariknya, urusan pedas justru tidak seekstrem yang dibayangkan. Level Mild menjadi favorit dengan 41,38% suara, disusul Spicy (37,93%), sementara Original dan Screaming sama-sama hanya meraih 10,34%. Jika dijumlahkan, hampir 80% mahasiswa memilih level pedas ringan hingga sedang. Sepertinya, meski generasi muda dikenal suka tantangan rasa, urusan perut tetap perlu dijaga, apalagi di tengah jadwal kuliah yang padat.
Siapa Sebenarnya Penggemar Chikuro Ini?
Dari sisi demografi, potret pembeli Chikuro di kalangan mahasiswa UNJ cukup jelas. Mayoritas responden, yakni 72,41%, adalah perempuan, sementara laki-laki hanya 27,59%. Temuan ini senada dengan riset Ramadhani dan Deliana yang juga mendapati perempuan lebih tertarik pada produk makanan dengan variasi rasa yang kaya dibandingkan laki-laki (Ramadhani & Deliana, 2026).
Dari segi usia, hampir seluruh responden (93,10%) berada di rentang 19-20 tahun, sebuah kelompok yang menurut penelitian Martin dan kawan-kawan memang dikenal aktif menjajal produk makanan dengan cita rasa baru (Martin et al., 2020). Sementara dari sisi program studi, mahasiswa Pemasaran Digital paling banyak menjadi responden (58,62%), diikuti Bisnis Digital (24,14%) dan Manajemen (17,24%).
Satu temuan yang juga menarik perhatian adalah soal kantong mahasiswa. Mayoritas responden (44,83%) memiliki uang saku bulanan antara Rp500.000 hingga Rp1.000.000, dan jika ditotal, sebanyak 65,52% responden memiliki uang saku di bawah atau sama dengan Rp1.000.000 per bulan. Artinya, Chikuro berhasil menempatkan diri sebagai camilan yang ramah di kantong mahasiswa kelas menengah ke bawah, bukan sekadar jajanan mahal yang eksklusif.
Apakah Rasa Favorit Benar-Benar Mendorong Pembelian?
Menyukai suatu rasa adalah satu hal, tetapi benar-benar mantap membeli dan berniat membeli lagi adalah hal lain. Untuk mengujinya, tim peneliti menyilangkan data preferensi rasa dengan tiga indikator keputusan pembelian: daya tarik varian rasa, kesesuaian rasa dengan selera, dan niat membeli ulang.
Hasilnya cukup menggembirakan bagi produsen Chikuro. Secara keseluruhan, 48,28% responden setuju bahwa varian rasa Chikuro menarik dan sesuai dengan selera mereka, sementara 51,72% menyatakan niat untuk membeli lagi. Di antara pengguna Royal Garlic Cream Cheese, misalnya, 37,9% menyatakan setuju bahwa rasa tersebut mendorong mereka untuk membeli, dan 44,8% dari pengguna varian ini berniat membeli ulang. Pola yang sama juga muncul pada penggemar Japanese Truffle, di mana 34,5% dari mereka menyatakan setuju untuk membeli lagi, tingkat loyalitas tertinggi dibandingkan seasoning lain.
Untuk level kepedasan, kombinasi Mild dan Spicy juga unggul dalam mendorong niat beli ulang, masing-masing dengan 24,1% dan 17,2% responden yang menyatakan setuju. Sebaliknya, tidak satu pun responden penggemar level Screaming yang menyatakan setuju bahwa level pedas ini menarik dan mendorong pembelian mereka. Ini mengindikasikan bahwa konsumen yang menyukai sensasi pedas ekstrem justru merasa ekspektasi rasa pedasnya belum sepenuhnya terpenuhi oleh Chikuro saat ini, sebuah celah yang bisa menjadi pekerjaan rumah bagi produsen.
Bukan Sekadar Soal Lidah, tapi Juga Soal Dompet
Menariknya, kalau ditelusuri lebih jauh, pola pilihan rasa di atas tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan karakteristik mahasiswa sebagai kelompok konsumen yang punya keterbatasan anggaran namun rasa ingin tahu yang tinggi terhadap produk baru. Mahasiswa Rumpun Manajemen, yang notabene mempelajari ilmu pemasaran dan perilaku konsumen di bangku kuliah, ternyata juga tidak kebal dari daya tarik kemasan rasa yang variatif. Mereka tetap memilih berdasarkan kombinasi rasa yang familiar dan aman, seperti gurih-creamy dan pedas ringan, ketimbang mengambil risiko pada rasa yang terlalu ekstrem atau asing di lidah.
Hal ini sejalan dengan teori preferensi konsumen yang menyebut bahwa pilihan seseorang terhadap suatu produk terbentuk dari interaksi faktor internal seperti kebutuhan dan pengalaman sebelumnya dengan faktor eksternal seperti atribut rasa, harga, dan promosi (Kotler & Keller, 2016). Dalam kasus Chikuro, atribut rasa tampak menjadi penentu utama, sementara harga yang terjangkau menjadi faktor pendukung yang membuat produk ini mudah diterima mahasiswa dengan uang saku terbatas.
Yang juga patut digarisbawahi, keputusan pembelian mahasiswa terhadap camilan seperti Chikuro tidak melulu soal rasional dan terukur. Kotler dan Armstrong menjelaskan bahwa keputusan membeli juga dipengaruhi faktor budaya, sosial, personal, dan psikologis (Kotler & Armstrong, 2018). Tren di media sosial, rekomendasi teman sekelas, hingga rasa penasaran karena sering muncul di linimasa, bisa jadi turut berkontribusi pada keputusan seorang mahasiswa untuk akhirnya mencoba dan kemudian jatuh hati pada varian tertentu.
Catatan dari Mereka yang Suka Tantangan Pedas
Satu kelompok kecil yang patut mendapat perhatian khusus adalah mereka yang memilih level Screaming, level kepedasan paling ekstrem dari Chikuro. Meski jumlahnya hanya tiga responden atau 10,34% dari total, datanya cukup mengejutkan: tidak satu pun dari mereka yang menyatakan setuju bahwa varian rasa Chikuro menarik dan mendorong keputusan pembelian. Bahkan satu di antaranya secara tegas menyatakan sangat tidak setuju.
Fenomena ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa konsumen pencinta pedas ekstrem cenderung memiliki ekspektasi yang lebih tinggi dan lebih sulit dipuaskan dibandingkan konsumen pada level kepedasan lain. Bagi sebagian dari mereka, sensasi pedas bukan sekadar pelengkap rasa, melainkan pengalaman utama yang dicari saat mengonsumsi camilan. Jika rasa pedas yang ditawarkan dirasa kurang menggigit atau kurang otentik, kekecewaan pun lebih mudah muncul, bahkan ketika dari sisi kemasan dan rasa dasar produk sudah cukup baik.
Bagi produsen, segmen ini sebenarnya menyimpan peluang tersendiri. Alih-alih mengabaikan kelompok minoritas ini, peningkatan intensitas dan otentisitas rasa pedas pada level tertinggi bisa menjadi pembeda yang membuat Chikuro semakin kuat bersaing, khususnya di tengah maraknya tren camilan pedas ekstrem yang belakangan digandrungi anak muda di berbagai platform media sosial.
Pelajaran untuk Produsen Camilan Kekinian
Temuan-temuan di atas menegaskan satu hal: variasi rasa bukan sekadar pemanis strategi pemasaran, melainkan benar-benar berpengaruh pada keputusan beli konsumen muda. Bagi produsen Chikuro, mempertahankan dan memperkuat dua andalan, Royal Garlic Cream Cheese dan Japanese Truffle, tampaknya menjadi pilihan paling masuk akal mengingat tingginya preferensi dan dampak positifnya terhadap keputusan pembelian. Konsistensi rasa di setiap gerai juga penting dijaga agar kepercayaan dan niat beli ulang konsumen tidak goyah.
Sementara itu, untuk segmen pencinta level Screaming yang jumlahnya memang masih minoritas, produsen bisa mempertimbangkan peningkatan intensitas atau autentisitas rasa pedas agar ekspektasi mereka lebih terpenuhi. Strategi pemasaran berbasis karakteristik demografis, seperti jenis kelamin dan kisaran uang saku, juga berpotensi membuat komunikasi promosi Chikuro lebih tepat sasaran, terutama mengingat mayoritas konsumennya adalah mahasiswi dengan uang saku menengah ke bawah.
Pada akhirnya, riset sederhana ini menunjukkan bahwa selera mahasiswa terhadap camilan kekinian seperti Chikuro bukan sekadar soal ikut-ikutan tren. Ada pola preferensi yang cukup konsisten, mulai dari rasa gurih creamy yang mendominasi, aroma truffle yang memikat, hingga level pedas yang ternyata lebih disukai dalam takaran sedang. Bagi pelaku industri makanan ringan, data semacam ini bisa menjadi peta jalan kecil namun berharga untuk merancang produk yang benar-benar sesuai dengan selera generasi muda Indonesia.
Artikel ini merupakan hasil ringkas dari penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan terhadap 29 mahasiswa Rumpun Manajemen FEB UNJ angkatan 2025 melalui metode survei dan tabulasi silang, dan ditulis ulang dalam format populer untuk pembaca umum.






