Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Rumah tangga dalam Islam bukan sekadar tempat dua orang laki-laki dan perempuan hidup bersama. Rumah tangga adalah amanah, ibadah, tempat bertumbuhnya cinta, ruang pendidikan pertama bagi anak-anak, sekaligus salah satu jalan bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena itu, membangun rumah tangga yang harmonis bukan hanya tentang bagaimana memiliki rumah yang besar, kendaraan yang bagus, penghasilan yang tinggi, atau kehidupan yang terlihat bahagia di hadapan orang lain. Rumah tangga yang sesungguhnya bahagia adalah rumah yang di dalamnya terdapat ketenangan, kasih sayang, saling menghormati, saling menguatkan, saling memaafkan, serta bersama-sama berusaha mencari ridha Allah SWT.
Ungkapan yang sangat populer di tengah masyarakat adalah “Baiti Jannati”, yang berarti “Rumahku adalah surgaku.” Ungkapan ini sangat indah sebagai gambaran ideal sebuah rumah tangga. Namun, ungkapan tersebut tidak tepat jika disebut sebagai hadis Nabi SAW yang sahih. Meski demikian, maknanya dapat menjadi gambaran tentang bagaimana seorang Muslim berusaha menjadikan rumah sebagai tempat lahirnya ketenangan, cinta, kasih sayang, dan kebaikan.
Allah SWT telah menjelaskan hakikat hubungan suami dan istri dalam firman-Nya:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat mendalam tentang tujuan pernikahan. Ada sakinah, yaitu ketenteraman. Ada mawaddah, yaitu cinta yang diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Dan ada rahmah, yaitu kasih sayang yang membuat seseorang tetap memilih berbuat baik bahkan ketika pasangannya sedang memiliki kekurangan.
Dengan demikian, rumah tangga harmonis bukan berarti rumah tangga yang tidak pernah memiliki masalah. Rumah tangga harmonis adalah rumah tangga yang ketika masalah datang, suami dan istri memilih menghadapinya bersama, bukan saling menghancurkan.
Rumah Tangga Adalah Amanah dari Allah
Pernikahan dalam Islam bukan sekadar hubungan sosial, tetapi merupakan akad yang memiliki konsekuensi agama.
Ketika seorang laki-laki mengucapkan akad nikah, ia menerima amanah besar. Begitu pula ketika seorang perempuan menerima seorang laki-laki sebagai suaminya, ia memasuki sebuah kehidupan baru yang memiliki hak dan kewajiban.
Karena itu, rumah tangga tidak boleh dibangun hanya berdasarkan perasaan. Cinta memang penting. Tetapi cinta saja tidak cukup.
Rumah tangga membutuhkan iman, ilmu, kesabaran, tanggung jawab, komunikasi, pengorbanan, kejujuran dan kemauan untuk terus belajar menjadi pasangan yang lebih baik.
Cinta bisa membuat seseorang menikah. Namun, iman dan akhlak yang membuat seseorang mampu mempertahankan pernikahan dengan cara yang baik.
Allah SWT berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut.” (QS. An-Nisa: 19)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kehidupan suami istri harus dibangun dengan ma’ruf, yaitu kebaikan yang diakui oleh syariat dan akal sehat.
Suami tidak boleh menjadikan kepemimpinan sebagai alasan untuk bersikap semena-mena.
Istri juga tidak boleh menjadikan hak-haknya sebagai alasan untuk mengabaikan kewajibannya.
Keduanya harus memahami bahwa pernikahan adalah kerja sama dalam kebaikan.
Suami Bukan Penguasa, tetapi Pemimpin yang Bertanggung Jawab
Dalam Islam, suami memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga.
Allah SWT berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan…” (QS. An-Nisa: 34)
Kepemimpinan dalam keluarga bukanlah tiket untuk menjadi penguasa yang boleh melakukan apa saja. Justru kepemimpinan berarti tanggung jawab yang lebih besar.
Seorang suami harus berusaha memberikan nafkah dari jalan yang halal, menjaga keluarganya, memberikan perlindungan, mendidik anak-anak, membimbing keluarga dalam agama, dan menjadi teladan dalam akhlak.
Seorang suami tidak cukup hanya berkata: “Ini tanggung jawab saya.”
Tetapi ia harus membuktikannya dengan tindakan. Ketika keluarga membutuhkan nafkah, ia berusaha. Ketika anak membutuhkan pendidikan, ia hadir.
Ketika istri membutuhkan dukungan, ia mendengarkan. Ketika keluarga menghadapi masalah, ia tidak melarikan diri. Dan ketika berada dalam keadaan sulit, ia tidak menyalahkan keluarga, tetapi mengajak mereka melewati kesulitan bersama.
Rasulullah SAW bersabda: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini seharusnya menjadi cermin bagi setiap laki-laki yang telah menjadi suami. Kadang seseorang terlihat sangat baik di luar rumah.
Sopan kepada teman. Ramah kepada orang lain. Santun kepada rekan kerja.
Namun, pertanyaannya: Bagaimana sikapnya ketika berada di rumah? Apakah ia tetap lembut kepada istrinya? Apakah ia menghargai anak-anaknya? Apakah ia mampu meminta maaf ketika salah? Apakah ia mau membantu ketika keluarga membutuhkan?
Sebab ukuran kebaikan seseorang tidak hanya terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain di ruang publik, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang paling dekat dengannya.
Istri Bukan Sekadar Pendamping, tetapi Mitra dalam Membangun Keluarga Begitu pula seorang istri memiliki peran yang sangat besar dalam membangun rumah tangga.
Istri bukan sekadar seseorang yang tinggal di rumah. Istri adalah pasangan hidup, sahabat, pendamping, ibu bagi anak-anak, sekaligus salah satu pilar penting dalam kehidupan keluarga.
Seorang istri yang baik berusaha menghormati suami, mendukung kebaikannya, menjaga kehormatan keluarga, mendidik anak-anak, serta membantu menciptakan suasana rumah yang penuh ketenangan.
Namun demikian, membangun keluarga harmonis tidak boleh dipahami secara sederhana sebagai kewajiban sepihak.
Suami dan istri sama-sama mempunyai tanggung jawab moral untuk saling memperlakukan dengan baik.
Keduanya harus saling menghargai. Keduanya harus saling menjaga. Keduanya harus saling mengingatkan. Keduanya harus saling mendoakan. Karena keluarga yang sehat bukan dibangun dengan pertanyaan:
“Apa yang sudah kamu berikan kepada saya?” Tetapi dengan pertanyaan: “Apa yang bisa saya lakukan agar keluarga ini menjadi lebih baik?”
Pernikahan Bukan Pertandingan Siapa yang Paling Berkuasa
Salah satu kesalahan dalam rumah tangga adalah ketika suami dan istri mulai melihat pernikahan seperti pertandingan.
Siapa yang paling benar? Siapa yang paling berkuasa? Siapa yang paling banyak berkorban? Siapa yang paling banyak bekerja? Siapa yang harus mengalah?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menjadi dasar hubungan, rumah tangga akan mudah berubah menjadi arena persaingan.
Padahal suami dan istri bukan lawan. Mereka adalah satu tim. Ketika suami berhasil, keluarga ikut merasakan manfaatnya. Ketika istri berhasil, keluarga juga ikut bahagia.
Ketika anak berhasil, kedua orang tua merasa bangga. Karena tujuan rumah tangga bukan memenangkan perdebatan.
Tujuan rumah tangga adalah membangun kehidupan yang diridai Allah SWT.
Komunikasi: Kunci Penting Rumah Tangga Harmonis
Banyak rumah tangga tidak hancur karena masalah yang besar. Ada yang justru retak karena masalah kecil yang terus menumpuk.
Masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi berubah menjadi konflik karena suami dan istri memilih diam.
Atau berbicara dengan emosi. Atau saling menyindir. Atau membawa masalah rumah tangga ke media sosial. Padahal komunikasi yang baik merupakan salah satu fondasi penting dalam pernikahan.
Suami perlu belajar mendengarkan istrinya. Istri juga perlu belajar mendengarkan suaminya. Mendengarkan bukan berarti selalu setuju.
Mendengarkan berarti memberikan kesempatan kepada pasangan untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya tanpa langsung menghakimi.
Kadang pasangan tidak membutuhkan solusi. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau berkata:
“Aku dengar.”
“Aku mengerti.”
“Kita cari jalan keluarnya bersama.”
Kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi obat bagi hati.
Jangan Membawa Masalah Rumah Tangga ke Media Sosial
Di era digital, tantangan rumah tangga semakin kompleks. Dahulu, pertengkaran rumah tangga mungkin hanya diketahui oleh keluarga terdekat.
Sekarang, satu unggahan media sosial dapat dilihat oleh ratusan bahkan ribuan orang. Karena itu, suami dan istri perlu memiliki kebijaksanaan.
Tidak semua masalah harus diumumkan. Tidak semua kekecewaan harus ditulis di media sosial.
Tidak semua pertengkaran harus diketahui orang lain. Menjaga aib pasangan merupakan bagian penting dari menjaga kehormatan keluarga.
Jika masalah sudah terlalu berat untuk diselesaikan berdua, Islam mengajarkan untuk mencari jalan penyelesaian melalui orang yang bijaksana dan dipercaya.
Allah SWT berfirman:
وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَا
“Jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan.” (QS. An-Nisa: 35)
Artinya, ketika konflik muncul, tujuan pertama adalah mencari penyelesaian, bukan memperbesar permusuhan.
Jangan Mudah Mengungkit Kesalahan Masa Lalu
Rumah tangga akan sangat berat jika setiap kesalahan selalu disimpan sebagai senjata.
Hari ini bertengkar karena masalah ekonomi. Kesalahan lima tahun lalu kembali dibicarakan.
Besok bertengkar karena pendidikan anak. Kesalahan saat awal pernikahan kembali diungkit.
Akhirnya setiap percakapan berubah menjadi pengadilan. Padahal manusia tidak sempurna.
Suami bisa salah. Istri bisa salah. Anak-anak juga bisa salah. Karena itu, rumah tangga membutuhkan budaya memaafkan dan memperbaiki.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan berarti memilih untuk tidak menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alat untuk menghancurkan masa depan.
Jangan Membandingkan Pasangan
Salah satu kebiasaan yang sangat berbahaya adalah membandingkan pasangan dengan orang lain.
“Suami orang lain lebih romantis.”
“Istri orang lain lebih perhatian.”
“Suami tetangga lebih sukses.”
“Istri teman saya lebih pintar mengurus rumah.”
Kalimat-kalimat seperti itu dapat melukai hati. Setiap keluarga memiliki perjalanan yang berbeda. Setiap pasangan memiliki kekurangan dan kelebihan.
Apa yang terlihat di luar belum tentu menggambarkan kehidupan sebenarnya. Karena itu, jangan membandingkan rumah tangga sendiri dengan rumah tangga orang lain.
Rawatlah rumah tangga sendiri. Perbaiki yang kurang. Syukuri yang ada. Dan teruslah berusaha menjadi pasangan yang lebih baik.
Nafkah Halal adalah Bagian dari Keharmonisan Keluarga
Keluarga yang harmonis tidak hanya membutuhkan cinta. Kebutuhan hidup juga harus diperhatikan.
Islam memberikan perhatian besar terhadap kewajiban mencari nafkah. Seorang suami harus berusaha memberikan nafkah kepada keluarganya melalui jalan yang halal.
Karena makanan yang masuk ke tubuh anak-anak bukan sekadar persoalan kenyang. Ada keberkahan yang harus dijaga.
Ada pendidikan akhlak yang harus dibangun. Ada masa depan generasi yang harus dipersiapkan. Karena itu, mencari rezeki halal adalah bagian dari tanggung jawab seorang kepala keluarga.
Namun keluarga juga harus memahami bahwa rezeki tidak selalu berarti kemewahan.
Ada keluarga sederhana yang sangat bahagia. Ada keluarga yang secara materi berkecukupan tetapi tidak memiliki ketenangan. Ada rumah besar tetapi penghuninya saling berjauhan. Ada rumah sederhana tetapi di dalamnya terdengar tawa, doa, dan kasih sayang.
Kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar rumah. Sering kali kebahagiaan ditentukan oleh seberapa besar hati orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Rumah adalah Sekolah Pertama bagi Anak
Anak-anak belajar tentang kehidupan pertama kali dari rumah. Sebelum belajar di sekolah, mereka belajar dari orang tua.
Anak belajar bagaimana berbicara dari orang tua. Belajar menghormati orang lain dari orang tua.
Belajar meminta maaf dari orang tua. Belajar memaafkan dari orang tua. Belajar tentang agama dari orang tua.
Bahkan cara anak memperlakukan pasangan kelak bisa sangat dipengaruhi oleh apa yang ia lihat dalam keluarganya. Jika anak tumbuh dalam rumah yang penuh penghinaan, ia bisa menganggap penghinaan sebagai sesuatu yang normal.
Jika anak tumbuh dalam rumah yang penuh kasih sayang, ia belajar bahwa cinta harus disertai penghormatan. Karena itu, pendidikan anak bukan hanya dengan nasihat.
Keteladanan jauh lebih kuat daripada seribu nasihat. Ayah yang ingin anaknya rajin beribadah harus memberi contoh.
Ibu yang ingin anaknya santun harus memberi contoh. Orang tua yang ingin anaknya tidak mudah marah harus belajar mengendalikan kemarahan mereka sendiri.
Menghidupkan Rumah dengan Al-Qur’an
Rumah yang harmonis bukan hanya rumah yang ramai oleh percakapan. Rumah juga harus dihidupkan dengan ibadah.
Biasakan membaca Al-Qur’an. Biasakan shalat berjamaah ketika memungkinkan. Biasakan berdoa bersama. Ajarkan anak mengucapkan salam. Ajarkan mereka bersyukur. Ajarkan mereka meminta maaf. Ajarkan mereka menghormati orang tua.
Sebab rumah yang di dalamnya nama Allah sering disebut akan memiliki suasana spiritual yang berbeda.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini merupakan pengingat bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya membuat anak sukses secara duniawi.
Anak bukan hanya harus pintar. Bukan hanya harus memiliki pekerjaan. Bukan hanya harus memiliki harta. Tetapi mereka juga harus mengenal Allah.
Harus memiliki akhlak. Harus memiliki iman. Harus mampu membedakan yang halal dan haram. Karena kesuksesan terbesar seorang anak bukan sekadar ketika ia memiliki jabatan tinggi.
Kesuksesan terbesar adalah ketika ia menjadi manusia yang baik, beriman, berakhlak dan bermanfaat.
Jangan Hanya Mendidik Anak untuk Sukses, tetapi Ajarkan Mereka Menjadi Baik
Dunia hari ini sering mengajarkan anak-anak untuk mengejar prestasi. Nilai tinggi. Sekolah bagus. Pekerjaan bagus. Penghasilan tinggi. Karier sukses. Semua itu tidak salah.
Tetapi jangan sampai pendidikan anak kehilangan dimensi akhlak. Anak harus diajarkan bahwa kecerdasan tanpa akhlak bisa menjadi bahaya. Kekayaan tanpa kejujuran bisa menjadi musibah.
Jabatan tanpa amanah bisa menjadi fitnah. Kekuatan tanpa kasih sayang bisa menjadi penindasan.
Karena itu, rumah harus menjadi tempat pertama anak belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu, tetapi juga tentang menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain.
Saling Menghargai Peran
Keharmonisan rumah tangga membutuhkan penghargaan terhadap peran masing-masing. Suami bekerja mencari nafkah bukan berarti istri tidak bekerja. Istri mengurus rumah dan anak bukan berarti pekerjaannya ringan.
Bahkan dalam banyak keluarga, seorang ibu menjalankan pekerjaan yang tidak mengenal jam kantor.
Pagi menyiapkan kebutuhan keluarga. Mengurus anak. Mengelola rumah. Mendampingi pendidikan anak. Menjaga kebutuhan keluarga.
Dan sering kali masih harus menghadapi berbagai persoalan lainnya. Karena itu, suami harus menghargai pengorbanan istri.
Begitu pula istri harus menghargai perjuangan suami mencari nafkah dan menjalankan tanggung jawabnya. Kalimat sederhana seperti:
“Terima kasih.”bisa memiliki arti yang sangat besar.
Jangan merasa pasangan sudah seharusnya melakukan semuanya. Karena ketika penghargaan hilang, kebaikan yang dilakukan pasangan lama-lama terasa seperti kewajiban yang tidak pernah cukup.
Belajar Mengucapkan Terima Kasih
Dalam rumah tangga, jangan pelit dengan apresiasi. Jika suami bekerja keras, katakan terima kasih. Jika istri merawat keluarga, katakan terima kasih. Jika anak membantu orang tua, berikan penghargaan.
Jangan hanya berbicara ketika ada kesalahan. Karena jika komunikasi di rumah hanya berisi kritik, lama-lama rumah akan terasa seperti tempat pemeriksaan.
Sebaliknya, rumah harus menjadi tempat seseorang merasa diterima. Bukan berarti kesalahan dibiarkan. Kesalahan tetap harus diperbaiki.
Tetapi memperbaiki kesalahan tidak harus dengan merendahkan orang yang melakukan kesalahan.
Belajar Meminta Maaf
Ada tiga kata yang sering sulit diucapkan dalam rumah tangga: “Aku salah.”
Padahal tiga kata itu bisa menyelamatkan banyak hubungan. Meminta maaf bukan tanda kelemahan.
Justru meminta maaf membutuhkan keberanian dan kedewasaan. Suami yang meminta maaf tidak kehilangan wibawa.
Istri yang meminta maaf tidak kehilangan harga diri. Orang tua yang meminta maaf kepada anak tidak kehilangan kewibawaan.
Sebaliknya, mereka sedang mengajarkan bahwa manusia boleh salah, tetapi manusia juga harus berani memperbaiki kesalahan.
Jangan Membiarkan Ego Mengalahkan Cinta
Dalam banyak konflik rumah tangga, masalah sebenarnya bukan sebesar yang dibayangkan. Yang membuatnya besar adalah ego.
Dua-duanya ingin menang. Dua-duanya ingin didengar. Dua-duanya ingin dianggap benar. Akhirnya masalah kecil berubah menjadi perang panjang.
Padahal dalam pernikahan, memenangkan perdebatan tetapi kehilangan kedamaian bukanlah kemenangan.
Kadang-kadang mengalah bukan berarti kalah. Mengalah bisa menjadi bentuk cinta. Namun mengalah juga bukan berarti membiarkan kezaliman atau kekerasan.
Jika terdapat tindakan yang membahayakan, kekerasan, atau bentuk kezaliman lainnya, masalah harus ditangani dengan serius melalui jalan yang aman, bijaksana, dan sesuai hukum serta agama.
Islam tidak mengajarkan seseorang untuk mempertahankan rumah tangga dengan cara membiarkan kezaliman.
Rumah Tangga Harus Dibangun dengan Rahmah
Allah menyebutkan dua kata penting dalam QS. Ar-Rum ayat 21:
Mawaddah dan rahmah. Mawaddah adalah cinta yang kuat. Sedangkan rahmah mengandung kasih sayang, kelembutan, kepedulian dan belas kasih.
Ketika usia bertambah, kondisi fisik berubah. Ketika pekerjaan semakin berat. Ketika ekonomi menghadapi masalah. Ketika kesehatan menurun. Ketika pasangan tidak lagi seperti saat pertama bertemu.
Di situlah rahmah menjadi penting. Cinta yang hanya bergantung pada penampilan akan mudah berubah.
Tetapi cinta yang dibangun dengan rahmah akan terus menemukan alasan untuk bertahan dan berbuat baik.
Karena pasangan tidak lagi hanya dilihat sebagai seseorang yang menyenangkan. Ia dilihat sebagai manusia yang sedang menjalani perjalanan hidup bersama kita.
Ketika Ekonomi Sedang Sulit
Tidak semua keluarga selalu berada dalam kondisi ekonomi yang baik. Ada masa ketika rezeki terasa lapang. Ada masa ketika penghasilan berkurang. Ada masa ketika kebutuhan meningkat. Ada masa ketika pekerjaan hilang.
Dalam kondisi seperti itu, suami dan istri harus menjadi tim. Jangan saling menyalahkan. Jangan mempermalukan pasangan.
Jangan menjadikan kekurangan ekonomi sebagai alasan untuk saling merendahkan. Justru masa sulit dapat menjadi momentum untuk menunjukkan kualitas sebuah keluarga.
Suami berkata: “Kita hadapi bersama.”
Istri berkata: “Aku akan mendukungmu.”
Keduanya kemudian berusaha mencari solusi. Berhemat. Menyusun kembali kebutuhan. Meningkatkan usaha. Berdoa. Dan terus berikhtiar.
Karena rezeki adalah urusan Allah, sementara manusia diperintahkan untuk berusaha.
Ketika Anak Mulai Tumbuh Dewasa
Orang tua juga harus menyadari bahwa anak-anak pada akhirnya akan tumbuh dewasa.
Mereka akan memiliki pemikiran sendiri. Memiliki cita-cita sendiri. Memiliki lingkungan pergaulan sendiri. Memiliki tantangan sendiri. Karena itu, pendidikan keluarga tidak boleh hanya berupa perintah. Anak harus dibangun dengan dialog. Diberikan kepercayaan sesuai usia. Diajarkan tanggung jawab. Diberi ruang untuk bertanya.
Dan yang paling penting, dibuat merasa bahwa rumah adalah tempat mereka dapat pulang ketika menghadapi kesulitan.
Jangan sampai anak takut pulang karena setiap masalah selalu disambut dengan kemarahan. Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk kembali.
Keluarga yang Bahagia Tidak Harus Sempurna
Tidak ada rumah tangga yang sempurna.Setiap keluarga memiliki cerita. Ada air mata. Ada tawa. Ada perbedaan pendapat. Ada kekurangan.Ada kesalahan. Ada masa sulit.
Tetapi keluarga yang baik bukan keluarga yang tidak pernah bermasalah. Keluarga yang baik adalah keluarga yang terus belajar menyelesaikan masalah dengan cara yang baik.
Mereka tidak menyerah hanya karena ada perbedaan. Mereka tidak mudah menghancurkan hubungan hanya karena emosi sesaat.
Mereka belajar. Mereka berdoa. Mereka saling memperbaiki.Mereka terus kembali kepada Allah.
Tujuan Akhirnya Bukan Hanya Bahagia di Dunia
Keluarga sakinah dalam Islam memiliki tujuan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar kebahagiaan dunia.
Tujuannya adalah berkumpul kembali di akhirat dalam keadaan diridai Allah. Karena itu, doa yang sangat indah diajarkan Allah SWT melalui QS. Al-Furqan ayat 74:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Perhatikan doa tersebut. Kita tidak hanya meminta pasangan. Kita meminta pasangan yang menjadi penyejuk mata dan hati. Kita tidak hanya meminta anak. Kita meminta keturunan yang menjadi qurrata a’yun, penyenang hati. Dan kita tidak hanya meminta kebahagiaan.
Kita meminta agar keluarga kita menjadi bagian dari orang-orang yang bertakwa. Inilah visi besar keluarga dalam Islam.
Rumah yang Dipenuhi Doa Bayangkan sebuah rumah. Di dalamnya mungkin tidak ada kemewahan luar biasa.
Tetapi ketika pagi tiba, ayah dan ibu berdoa untuk anak-anaknya. Ketika anak berangkat sekolah, orang tua mendoakannya.
Ketika suami berangkat bekerja, istri mendoakan keselamatannya. Ketika istri menjalankan aktivitasnya, suami mendoakan kebaikannya.
Ketika malam tiba, mereka kembali berkumpul. Saling bertanya tentang hari yang telah dilalui.
Makan bersama jika memungkinkan. Beribadah. Berbicara. Tertawa. Saling memaafkan. Itulah rumah yang sesungguhnya kaya. Bukan karena banyak hartanya. Tetapi karena banyak keberkahannya.
Rumah Tangga Harmonis Dimulai dari Diri Sendiri
Sering kali kita berharap pasangan berubah. Kita ingin suami lebih sabar. Kita ingin istri lebih perhatian. Kita ingin anak lebih patuh.
Tetapi perubahan keluarga sering kali harus dimulai dari diri sendiri. Sebelum bertanya: “Mengapa pasangan saya tidak memahami saya?” cobalah bertanya: “Sudahkah saya berusaha memahami pasangan saya?”
Sebelum bertanya: “Mengapa anak saya tidak mendengarkan?” bertanyalah: “Sudahkah saya menjadi teladan yang layak didengar?”
Sebelum menuntut pasangan menjadi lebih baik, mari bertanya: “Apakah saya sendiri sudah menjadi pasangan yang baik?” Inilah salah satu kunci kedewasaan dalam rumah tangga.
Menjadi Pasangan yang Dirindukan
Rumah tangga yang harmonis bukan hanya membuat seseorang ingin pulang karena di rumah ada makanan. Bukan hanya karena rumah nyaman.
Tetapi karena di rumah ada seseorang yang membuat hati merasa tenang. Suami pulang, istri menyambut dengan wajah yang menenangkan.
Istri menghadapi hari yang berat, suami menjadi tempat bersandar. Anak menghadapi masalah, orang tua menjadi tempat mencari nasihat.
Begitulah rumah berubah menjadi tempat pemulihan. Tempat seseorang mengisi kembali energi setelah menghadapi kerasnya kehidupan.
Tempat seseorang merasa: “Di luar sana mungkin dunia tidak selalu memahami saya, tetapi di rumah saya memiliki keluarga yang mencintai saya.”
Jangan Lupa Mendoakan Pasangan
Salah satu bentuk cinta yang paling tulus adalah mendoakan pasangan ketika ia tidak mengetahuinya. Doakan suami agar dimudahkan mencari rezeki halal.
Doakan istri agar selalu diberi kesehatan dan ketenangan. Doakan anak-anak agar menjadi generasi yang saleh dan salehah. Doakan keluarga agar dijauhkan dari fitnah. Doakan agar Allah menjaga rumah tangga dari godaan yang merusak. Dan doakan agar ketika usia semakin tua, cinta di antara suami dan istri justru semakin matang.
Karena manusia bisa berubah. Kondisi bisa berubah. Tetapi Allah mampu menjaga hati orang-orang yang bersungguh-sungguh meminta pertolongan-Nya.
Kesimpulan: Sakinah Bukan Berarti Tanpa Masalah
Rumah tangga sakinah bukan rumah tangga yang tidak pernah bertengkar. Rumah tangga sakinah adalah rumah tangga yang ketika terjadi pertengkaran, mereka berusaha kembali kepada kebaikan.
Bukan rumah tangga yang tidak pernah menangis. Tetapi rumah tangga yang ketika air mata jatuh, ada tangan yang menghapusnya. Bukan rumah tangga yang tidak pernah mengalami kesulitan.
Tetapi rumah tangga yang ketika kesulitan datang, mereka berkata: “Kita hadapi bersama.”
Bukan rumah tangga yang semua anggotanya sempurna. Tetapi rumah tangga yang semua anggotanya mau belajar menjadi lebih baik. Suami belajar menjadi pemimpin yang penuh tanggung jawab.
Istri belajar menjadi pasangan yang penuh kasih dan dukungan. Ayah dan ibu belajar menjadi teladan.
Anak-anak belajar menjadi generasi yang berakhlak. Dan semuanya bersama-sama belajar menjadi hamba Allah yang lebih baik.
Pada akhirnya, rumah tangga bukan hanya tentang siapa yang paling banyak memberi. Bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban. Bukan tentang siapa yang paling sering menang dalam perdebatan.
Rumah tangga adalah tentang dua insan yang memilih berjalan bersama menuju Allah. Maka mari kita jadikan rumah kita bukan sekadar tempat tinggal.
Jadikan rumah sebagai tempat ibadah. Tempat pendidikan. Tempat kasih sayang. Tempat saling memaafkan. Tempat membesarkan generasi. Tempat menyimpan kenangan. Tempat kembali setelah lelah menghadapi dunia.
Dan yang paling penting, jadikan rumah sebagai tempat seluruh anggota keluarga belajar mencintai Allah SWT.
Semoga Allah SWT memberikan kepada setiap keluarga Muslim ketenteraman, cinta dan kasih sayang.
Semoga para suami menjadi pemimpin yang amanah, lembut, bertanggung jawab dan penuh kasih.
Semoga para istri menjadi pasangan yang salehah, kuat, sabar dan menjadi penyejuk hati keluarga.
Semoga anak-anak tumbuh menjadi generasi yang beriman, berilmu, berakhlak dan bermanfaat bagi bangsa dan umat.
Dan semoga setiap keluarga yang sedang berjuang mempertahankan rumah tangganya diberikan kekuatan, kesabaran dan jalan keluar terbaik.
Mari kita senantiasa membaca doa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Semoga rumah kita menjadi rumah yang penuh sakinah, mawaddah, warahmah. Semoga di dalamnya selalu ada doa. Semoga di dalamnya selalu ada Al-Qur’an. Semoga di dalamnya selalu ada maaf. Semoga di dalamnya selalu ada senyum.
Dan semoga keluarga kita bukan hanya dipertemukan di dunia, tetapi juga dikumpulkan kembali oleh Allah SWT di dalam surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.






