Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Saudaraku, seringkali kita cemas tentang rezeki. Cemas besok makan apa, cemas usaha sepi, cemas gaji tidak cukup, cemas masa depan anak. Padahal, ada satu hal yang sudah Allah jamin dan tidak akan pernah tertukar.
Tak perlu khawatir dengan rezeki, karena rezeki kita sudah diatur, sudah dicatat, dan sudah ditentukan 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash)
Jika ajal sudah Allah tetapkan waktunya, begitu pula rezeki sudah Allah tetapkan kadar dan waktunya. Kita tidak akan mati sebelum jatah rezeki kita habis sempurna.
1. Hakikat Rezeki: Bukan Soal Jumlah, Tapi Keberkahan
Renungkanlah dalam-dalam:
✅ Kalau rizki itu diukur dari kerja keras: maka kuli bangunan, buruh pelabuhan, dan petani di sawah yang bekerja di bawah terik matahari lah yang akan paling cepat kaya.
✅ Jika rizki itu ditentukan dari waktu kerja: maka warung kopi 24 jam, minimarket, dan ojek online yang tidak tidur lah yang akan paling banyak mendapatkannya.
✅ Jika rizki itu milik orang pintar: maka profesor, doktor, dan guru besar dengan gelar panjang lah yang akan menjadi 100 orang terkaya di dunia.
✅ Jika rizki itu karena jabatan: maka presiden, raja, dan menteri lah yang akan menguasai seluruh kekayaan dunia.
Ternyata tidak. Ini bukti bahwa rezeki bukan soal rumus matematika manusia.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Mengejar rezeki jangan mengejar jumlahnya, tetapi kejarlah berkahnya.”
Banyak jumlah belum tentu cukup. Sedikit tapi berkah, bisa mencukupi segalanya. Rezeki itu adalah kasih sayang Allah. Allah memberi bukan karena kita hebat, tapi karena Allah Maha Penyayang.
2. Dalil-dalil Penguat Hati
Agar hati kita tenang, Allah dan Rasul-Nya telah memberikan jaminan: Dalil Pertama: Rezeki Mengejar Seperti Ajal Mengejar
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya rezeki akan mengejar seorang hamba seperti ajal mengejarnya.” (HR. Ibnu Hibban no. 1087, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 952)
Dalam riwayat lain: “Jika salah seorang dari kalian lari dari rezekinya, maka dia akan dijemput oleh rezekinya sebagaimana dia dijemput oleh kematian.” (Shahih at-Targhib: 1704)
Kita tidak bisa lari dari rezeki, sama seperti kita tidak bisa lari dari kematian. Kalaupun kita bersembunyi, rezeki akan menemukan jalannya.
Dalil Kedua: Rezeki Telah Dijamin, Ajal Sebagai Batasnya
Imam Al-Muzani rahimahullah, murid senior Imam Asy-Syafi’i berkata: “Makhluk itu akan mati dan punya ajal masing-masing. Bila ajal tiba berarti rezekinya telah habis dan amalannya telah berakhir.”
Selama jantung masih berdetak, artinya jatah rezeki masih ada.
Dalil Ketiga: Janji Jalan Keluar Bagi Orang Bertakwa
Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Ayat ini adalah kunci. Rezeki bukan di pintu kantor, tapi di pintu ketakwaan.
3. Kisah Sejarah: Pelajaran dari Orang-Orang Dahulu
A. Kisah Burung yang Bertawakal
Rasulullah memberikan perumpamaan paling indah. Beliau bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Burung tidak punya kulkas, tidak punya tabungan, tidak punya ijazah. Tapi ia keluar sarang, bergerak, dan Allah cukupkan.
B. Kisah Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu
Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman datang tanpa harta sepeser pun. Kaum Anshar menawarkan setengah hartanya. Apa jawab beliau? “Tunjukkan padaku di mana pasar.” Beliau memilih berdagang dengan modal kejujuran dan tawakal. Allah jadikan ia salah satu sahabat terkaya, yang hartanya menjadi penopang dakwah hingga hari ini. Rezeki datang karena bergerak, bukan karena meminta-minta.
C. Kisah Nabi Sulaiman dan Seekor Cacing Buta
Dikisahkan, Nabi Sulaiman pernah melihat seekor semut membawa sebutir gandum ke tepi pantai. Dari dalam air, keluarlah seekor katak yang membawa semut itu ke dasar laut. Di sana ada cacing buta yang rezekinya adalah gandum tersebut. Allah kirim semut dari darat, dikirim katak sebagai perahunya, hanya untuk memberi makan satu ekor cacing buta di dasar lautan yang gelap.
Jika cacing buta saja tidak Allah lupakan rezekinya, bagaimana dengan kita yang siang malam bersujud kepada-Nya?
4. Konteks Kekinian: Saat Kita Terjangkit “Anxiety Rezeki”
Di zaman ini, penyakit kita bukan kurangnya rezeki, tapi kurangnya rasa cukup.
Kita hidup di era hustle culture. Harus kerja 16 jam, harus punya side hustle 3, harus flexing di Instagram. Kita mengukur rezeki dari jumlah followers, likes, dan saldo di m-banking. Akibatnya, banyak yang stres, burnout, bahkan menghalalkan segala cara: riba, judi online, korupsi, menipu.
Padahal Allah sudah berfirman:
“Dan tidak suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Jika kita menghadapi ujian hidup hanya dengan keluhan: “Ya Allah kenapa hidupku begini terus?”, maka Allah akan kirimkan ujian berikutnya yang berisi keluhan yang lebih besar lagi.
Tapi jika ujian dihadapi dengan ikhlas, sabar, dan menaikkan level keimanan, maka dari sanalah pintu rezeki akan terbuka dengan sendirinya. Rezeki bukan hanya uang. Ketenangan hati, istri shalihah, anak yang sehat, tidur yang nyenyak, bisa shalat berjamaah, itu adalah rezeki yang jauh lebih mahal dari angka.
Amalan Penjemput Rezeki yang Mengejar Kita:
1. Taqwa dan Tawakal: Ini kunci utama. Kerjakan yang halal, tinggalkan yang haram.
2. Istighfar dan Shalat Dhuha: Rasulullah menyebut shalat dhuha sebagai shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah, pembuka pintu rezeki.
3. Silaturahmi: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi.” (HR. Bukhari & Muslim)
4. Bergerak (Ikhtiar): Rezeki itu mengejar, tapi kita diperintah untuk menyambutnya. Seperti burung yang tetap terbang keluar sarang. Jangan hanya rebahan menunggu keajaiban.
Saudaraku, jangan lelah dalam doa, jangan cemas dalam ikhtiar. Tugas kita hanya bergerak dan bertakwa, biarlah Allah yang mengatur kecepatannya.
Semoga Allah perbaiki dan perbaharui iman kita semua selepas ujian apapun. Semoga rezeki kita diberkahi, dicukupkan, dan menjadi jalan untuk lebih dekat kepada-Nya.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.






