Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kita kesempatan untuk hidup, bernapas, beribadah, memperbaiki kesalahan, dan memperbanyak amal saleh. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti petunjuk beliau hingga akhir zaman.
Salah satu perkara terbesar yang wajib kita yakini sebagai seorang Muslim adalah iman kepada hari akhir. Hari ketika seluruh kehidupan dunia berakhir, manusia dibangkitkan dari kuburnya, dikumpulkan di hadapan Allah, kemudian seluruh amal perbuatannya diperhitungkan.
Iman kepada hari akhir bukan sekadar percaya bahwa kiamat akan terjadi. Lebih dari itu, iman kepada hari akhir harus mengubah cara kita menjalani kehidupan.
Kita menjadi sadar bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Jabatan akan berakhir. Harta akan ditinggalkan. Rumah, kendaraan, popularitas, kekuasaan, bahkan tubuh yang kita banggakan semuanya akan kembali kepada tanah.
Yang akan menemani kita bukanlah banyaknya pengikut, bukan tingginya jabatan, bukan kemewahan yang kita miliki, melainkan iman dan amal saleh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sungguh, hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.” (QS. Al-Hajj: 7)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa hari kiamat bukan cerita, bukan dongeng, dan bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh. Ia adalah sebuah kepastian yang telah Allah kabarkan kepada manusia.
Allah juga menyebutkan ciri orang-orang bertakwa: “…dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang telah diturunkan sebelummu, dan mereka yakin akan adanya akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 4)
Perhatikan kata “yakin”.
Artinya, seorang Mukmin tidak hanya mengetahui bahwa akhirat itu ada, tetapi benar-benar meyakininya sehingga keyakinan tersebut memengaruhi sikap dan perilakunya.
Jika seseorang benar-benar yakin akan adanya pengadilan Allah, tentu ia akan lebih berhati-hati ketika berbicara.
Ia akan berpikir sebelum menghina. Ia akan berpikir sebelum memfitnah. Ia akan berpikir sebelum mengambil hak orang lain. Ia akan berpikir sebelum menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.
Sebab ia sadar, mungkin manusia tidak melihat perbuatannya, tetapi Allah tidak pernah luput dari pengawasan.
Allah berfirman: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Ayat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk bertemu Allah?
Jangan sampai kita terlalu sibuk memperbaiki kehidupan dunia, tetapi lupa memperbaiki kehidupan akhirat. Kita sibuk mengejar uang, tetapi lupa mengejar ridha Allah.
Kita sibuk membangun rumah, tetapi lupa membangun amal. Kita sibuk memperindah penampilan, tetapi lupa memperindah akhlak. Kita takut kehilangan pekerjaan, tetapi tidak takut kehilangan keberkahan.
Dan, kita takut tidak mendapatkan tempat di dunia, tetapi kurang takut jika tidak mendapatkan tempat di sisi Allah. Padahal dunia ini hanyalah tempat persinggahan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan…” (QS. Al-Hadid: 20)
Bukan berarti Islam melarang kita bekerja, mencari harta, memiliki jabatan, membangun keluarga atau menikmati kehidupan yang halal. Tidak.
Islam mengajarkan kita untuk hidup di dunia dengan baik, tetapi jangan sampai dunia masuk ke dalam hati dan membuat kita melupakan akhirat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mengajarkan hubungan yang sangat jelas antara iman kepada Allah, iman kepada hari akhir, dan akhlak manusia.
Beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa dalam pesan ini. Iman kepada hari akhir ternyata bukan hanya urusan ibadah ritual. Ia harus terlihat dalam ucapan dan perilaku.
Kalau kita yakin akan bertemu Allah, maka lisan kita harus dijaga. Jangan mudah mencaci. Jangan mudah memfitnah. Jangan menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan.
Dan, jangan merasa bebas menyakiti orang lain hanya karena berada di balik layar media sosial. Sebab setiap kata akan dipertanggungjawabkan.
Allah berfirman: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Saudaraku, Ada satu hal yang sering kita lupakan: kematian tidak menunggu kita siap.
Kita sering berkata, “Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin ibadah.”
“Nanti kalau sudah kaya saya akan banyak bersedekah.”
“Nanti kalau sudah pensiun saya akan lebih banyak membaca Al-Qur’an.”
“Nanti kalau sudah selesai urusan dunia, saya akan bertobat.”
Padahal kita tidak pernah tahu apakah kata “nanti” itu benar-benar akan datang.
Allah berfirman: “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)
Karena itu, jangan menunda taubat. Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah. Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur. Jangan menunggu kematian orang terdekat untuk menyadari bahwa hidup ini sementara.
Dan jangan menunggu datangnya tanda-tanda besar kiamat untuk kembali kepada Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa taubat masih diterima selama matahari belum terbit dari arah barat. Ketika matahari terbit dari barat, manusia yang sebelumnya belum beriman tidak lagi mendapatkan manfaat dari keimanan yang baru muncul saat itu. (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka kesempatan kita adalah hari ini. Saat kita masih sehat. Saat jantung masih berdetak. Saat lisan masih bisa berdzikir. Saat kaki masih bisa melangkah menuju masjid. Saat tangan masih mampu bersedekah. Saat mata masih mampu membaca Al-Qur’an. Saat Allah masih memberikan kita waktu untuk meminta ampun. Jangan sia-siakan kesempatan tersebut.
Saudaraku yang dirahmati Allah, Beriman kepada hari akhir juga memberikan ketenangan bagi orang yang dizalimi.
Kadang kita merasa dunia tidak adil. Ada orang yang berbuat baik tetapi disakiti. Ada orang yang jujur tetapi difitnah. Ada orang yang bekerja keras tetapi haknya dirampas. Ada orang yang dizalimi sementara pelakunya seolah-olah tidak mendapatkan hukuman.
Namun seorang Mukmin tidak boleh kehilangan harapan. Sebab ada pengadilan yang lebih sempurna daripada pengadilan manusia.
Ada hari ketika seluruh perkara dibuka. Tidak ada satu kezaliman pun yang hilang dari pengetahuan Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah kalian takut terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada hari akhir nanti, manusia akan melihat amalnya secara sempurna. Tidak ada yang bisa disembunyikan. Tidak ada yang bisa direkayasa. Tidak ada jabatan yang bisa menyelamatkan seseorang. Tidak ada kekayaan yang bisa dibawa untuk menyuap keputusan Allah.
Yang menjadi keselamatan adalah rahmat Allah dan amal yang dilakukan dengan iman dan keikhlasan.
Allah berfirman: “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)
Karena itu, mari kita mulai memperbaiki diri. Jika selama ini salat masih sering ditinggalkan, mari kembali kepada Allah. Jika selama ini Al-Qur’an jarang dibaca, mari mulai membacanya. Jika selama ini lisan mudah menyakiti, mari belajar diam ketika tidak ada kebaikan yang hendak disampaikan. Jika pernah mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika pernah menyakiti seseorang, minta maaf. Jika pernah melakukan dosa, jangan berputus asa dari rahmat Allah.
Allah berfirman: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)
Dan salah satu bentuk nyata mempersiapkan kehidupan akhirat adalah memperbanyak amal saleh sebelum datangnya ajal.
1. Sedekah yang ikhlas.
2. Membantu orang tua.
3. Mendidik anak dengan agama.
4. Menolong tetangga.
5. Menyambung silaturahmi.
6. Menjaga amanah.
7. Mencari rezeki dengan cara halal.
8. Memaafkan kesalahan orang lain.
9. Menjaga salat.
10. Memperbanyak istighfar.
11. Membaca Al-Qur’an.
12. Bangun di sepertiga malam untuk bermunajat kepada Allah.
Tidak harus menunggu menjadi manusia sempurna untuk mendekat kepada Allah. Kita mendekat kepada Allah justru karena kita menyadari bahwa kita banyak kekurangan.
Maka, ketika malam semakin sunyi dan sebagian manusia terlelap, cobalah bangun.
Ambillah wudhu. Laksanakan shalat tahajud. Angkat tangan.
Tidak perlu doa yang panjang dan indah. Cukup katakan kepada Allah dengan hati yang jujur:
“Ya Allah, saya banyak salah. Ampunilah saya. Jangan Engkau matikan saya sebelum Engkau ridha kepada saya. Perbaikilah hidup saya, keluarga saya, dan akhir hidup saya.”
Sebab kita tidak tahu kapan perjalanan hidup ini akan selesai. Hari ini kita masih mengucapkan “insya Allah besok”.
Tetapi bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Hari ini kita masih membuat rencana untuk tahun depan.
Tetapi belum tentu kita sampai di tahun depan. Maka orang yang cerdas bukanlah orang yang hanya panjang rencana dunianya.
Orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang mempersiapkan perjumpaan dengan Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)
Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing: Jika malam ini Allah memanggil kita, sudah siapkah kita? Sudahkah salat kita? Sudahkah taubat kita? Sudahkah hubungan kita dengan orang tua? Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti? Sudahkah kita mengembalikan hak orang lain? Sudahkah kita meninggalkan dosa yang selama ini kita sembunyikan? Sudahkah kita memiliki amal yang benar-benar ikhlas hanya karena Allah?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terasa berat. Tetapi lebih baik kita merasa takut sekarang dan memperbaiki diri, daripada merasa aman sekarang tetapi menyesal ketika semuanya sudah terlambat.
Saudaraku, Hari kiamat pasti datang. Kematian pasti datang. Pertanggungjawaban pasti datang. Yang tidak kita ketahui hanyalah kapan waktunya.
Karena itu, jangan takut kepada hari akhir dengan ketakutan yang membuat kita putus asa. Jadikan iman kepada hari akhir sebagai kekuatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Jadikan ia alasan untuk lebih rajin beribadah. Jadikan ia alasan untuk menjaga lisan. Jadikan ia alasan untuk berlaku adil. Jadikan ia alasan untuk tidak mengambil hak orang lain. Jadikan ia alasan untuk memaafkan. Jadikan ia alasan untuk memperbanyak sedekah. Jadikan ia alasan untuk selalu kembali kepada Allah setiap kali kita terjatuh dalam dosa.
Semoga Allah memberikan kita husnul khatimah, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, melindungi kita dari fitnah kehidupan dan kematian, melindungi kita dari azab kubur dan azab neraka, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang saleh di dalam surga-Nya.
Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar dalam hidup kami.
Ya Allah, hidupkan kami dalam iman, wafatkan kami dalam Islam, dan bangkitkan kami bersama orang-orang yang Engkau cintai.
Ya Allah, berikan kami kesempatan untuk bertaubat sebelum ajal menjemput, berikan kami kekuatan untuk istiqamah, dan jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga bermanfaat. Mari terus memperbarui iman, memperbanyak istighfar, menjaga salat, membaca Al-Qur’an, memperbanyak amal saleh, dan jangan lupa menyisihkan waktu di sepertiga malam untuk bersujud kepada Allah.
Karena kita tidak tahu kapan perjalanan dunia ini berakhir, tetapi kita tahu pasti bahwa kita akan kembali kepada-Nya.






