Rezeki Tak Perlu Dipikirkan Berlebihan, Tapi Harus Dijemput dengan Iman dan Ikhtiar

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, F-PKS / Kalimantan Selatan I

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bacaan Lainnya

Sering kali manusia gelisah memikirkan rezeki. Bagaimana besok? Bagaimana bulan depan? Bagaimana masa depan anak-anak Bagaimana ketika usia sudah tua?

Kegelisahan itu manusiawi. Namun seorang mukmin tidak boleh tenggelam dalam ketakutan hingga melupakan bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha Memberi Rezeki.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)

Karena itu para ulama menasihati, rezeki tidak perlu dicemaskan secara berlebihan. Yang perlu diperbaiki justru hubungan kita dengan Allah, sebab pintu rezeki terbesar bukan semata kecerdasan manusia, melainkan keberkahan dari langit.

Sebagian ulama berkata:

فاعلم : أن الرزق أربعة أقسام : مضمون ، ومقسوم ، ومملوك ، وموعود

“Ketahuilah bahwa rezeki itu terbagi menjadi empat: rezeki yang dijamin, dibagikan, dimiliki, dan dijanjikan.”

1. Madhmuun (مضمون) — Rezeki yang Dijamin

Ini adalah rezeki dasar yang Allah jamin bagi seluruh makhluk hidup. Makanan, minuman, udara, kehidupan—semua telah Allah tetapkan selama ajal belum tiba.

Allah berfirman:

۞ وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Burung tidak memiliki sawah. Ikan tidak memiliki gudang makanan. Semut tidak memiliki perusahaan. Namun semuanya tetap hidup karena Allah yang memberi makan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikan hadits ini. Burung tetap keluar dari sarangnya.Artinya tawakal bukan berarti malas. Tawakal adalah hati bergantung kepada Allah sambil tubuh tetap berikhtiar.

2. Maqsuum (مقسوم) — Rezeki yang Sudah Dibagikan

Rezeki setiap manusia telah Allah tentukan sejak sebelum ia lahir. Tidak akan tertukar. Tidak akan salah alamat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya ruhul qudus membisikkan ke dalam hatiku bahwa satu jiwa tidak akan mati sampai sempurna rezeki dan ajalnya.” (HR. Abu Nu’aim)

Karena itu iri hati tidak akan menambah rezeki. Dengki kepada orang kaya tidak akan membuat seseorang menjadi kaya. Sebaliknya, syukur dan ridha justru membuka pintu keberkahan.

Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad رحمه الله berkata:

الَّذِي لِغَيْرِكْ لَنْ يَصِلْ إلَيْكْ

وَالَّذِي قُسِمْ لَكْ حَاصِلٌ لَدَيْكْ

“Apa yang menjadi milik orang lain tidak akan sampai kepadamu, dan apa yang telah dibagikan untukmu pasti akan datang kepadamu.”

Betapa banyak manusia mengejar dunia dengan cara haram karena takut miskin. Padahal yang haram tidak akan menambah jatah rezeki, justru menghilangkan keberkahan.

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah berkata:

“Rezeki itu ada dua: rezeki yang engkau cari dan rezeki yang mencarimu. Jika engkau tidak mendatanginya, ia akan mendatangimu.”

3. Mamluuk (مملوك) — Rezeki yang Dimiliki

Rumah, kendaraan, jabatan, tabungan, emas, tanah—semua hanyalah titipan sementara.

Hari ini kita berkata:

“Ini rumah saya.”

“Ini mobil saya.”

“Ini usaha saya.”

Namun ketika ruh keluar dari jasad, semuanya berpindah menjadi milik ahli waris.

Allah berfirman:

وَأَنفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ

“Infakkanlah sebagian dari harta yang Allah jadikan kamu sebagai pengelolanya.” (QS. Al-Hadid: 7)

Kita hanyalah pengelola, bukan pemilik sejati. Karena itu orang bijak tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Harta terbaik adalah harta yang menjadi bekal akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Yang dikatakan hartamu hanyalah apa yang engkau makan lalu habis, apa yang engkau pakai lalu usang, dan apa yang engkau sedekahkan lalu menjadi simpananmu di akhirat.” (HR. Muslim)

Betapa banyak orang kaya meninggal dunia, tetapi hartanya habis diperebutkan. Sebaliknya, sedekah kecil yang ikhlas justru menjadi cahaya di alam kubur.

4. Mau’uud (موعود) — Rezeki yang Dijanjikan

Ini adalah rezeki istimewa yang Allah janjikan kepada orang-orang bertakwa, ahli istighfar, ahli sedekah, dan orang yang menjaga ketaatan.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Lihatlah bagaimana Nabi Maryam عليه السلام mendapatkan buah-buahan di mihrabnya pada musim yang bukan musimnya.

Allah berfirman:

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًا

“Setiap Zakariya masuk menemui Maryam di mihrab, ia mendapati makanan di sisinya.” (QS. Ali Imran: 37)

Inilah rezeki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Begitu pula kisah Umar bin Abdul Aziz رحمه الله. Ketika beliau menjadi khalifah, beliau memperbaiki ketakwaan rakyat dan keadilan negara. Hingga dikisahkan sulit menemukan orang miskin yang mau menerima zakat karena masyarakat telah berkecukupan.

Ketakwaan mendatangkan keberkahan sosial. Maksiat mengundang kesempitan hidup.

Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Seandainya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami limpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)

Mengapa Banyak Orang Tetap Gelisah?

Karena manusia terlalu melihat sebab, tetapi lupa kepada Pemilik sebab. Kita yakin gaji memberi makan, padahal yang memberi makan adalah Allah.

Kita yakin usaha memberi kaya, padahal banyak orang bekerja keras tetapi tetap sempit hidupnya. Dan banyak pula yang rezekinya datang tanpa disangka.

Imam Syafi’i رحمه الله berkata:

“Aku mengetahui bahwa rezekiku tidak akan diambil orang lain, maka hatiku tenang.”

Ketenangan itu lahir dari keyakinan. Bukan dari banyaknya uang. Ikhtiar Tetap Wajib. Memahami takdir rezeki bukan berarti duduk berpangku tangan.

Nabi ﷺ berdagang. Para sahabat bertani. Sebagian menjadi penggembala. Ada yang menjadi pedagang internasional seperti Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه.

Ketika hijrah ke Madinah beliau datang tanpa harta. Namun karena kejujuran, kerja keras, dan keberkahan doa Rasulullah ﷺ, beliau menjadi saudagar kaya yang dermawan.

Artinya Islam tidak mengajarkan kemalasan. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.

Hal-Hal yang Membuka Pintu Rezeki

1. Istighfar

Nabi Nuh عليه السلام berkata kepada kaumnya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat dan memperbanyak harta serta anak-anakmu.” (QS. Nuh: 10-12)

2. Sedekah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)

3. Silaturahmi

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi.” (HR. Bukhari Muslim)

4. Tawakal

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

5. Takwa

Takwa adalah magnet keberkahan. Bukan sekadar banyak uang, tetapi hati tenang, keluarga harmonis, badan sehat, dan hidup penuh manfaat.

Penutup

Maka jangan terlalu takut tentang rezeki. Yang harus ditakuti justru dosa yang menghalangi datangnya keberkahan. Jangan terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa kepada akhirat.

Karena dunia yang dikejar belum tentu didapat, sedangkan akhirat yang dilupakan pasti akan dimintai pertanggungjawaban.

Berusahalah dengan halal. Berdoalah dengan khusyuk. Bersyukurlah atas yang ada. Dan yakinlah bahwa Allah tidak pernah menelantarkan hamba-Nya.

مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ

“Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.”

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang kaya hati, lapang rezeki, penuh keberkahan, serta wafat dalam husnul khatimah.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *