PENGINGAT ITU BUKAN CELAAN: Bisa Jadi, Itulah Cara Allah Menyelamatkanmu

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar

Tidak semua orang yang menegur kita sedang membenci. Tidak semua perkataan yang membuat hati tidak nyaman bermaksud menyakiti. Kadang, Allah menghadirkan seseorang untuk mengatakan sesuatu yang tidak ingin kita dengar, justru karena itulah yang sedang kita butuhkan.

Bacaan Lainnya

Pernahkah kita berpikir, jangan-jangan teguran yang membuat kita tersinggung justru merupakan bentuk kasih sayang Allah?

Ego selalu ingin terlihat benar. Ia senang dipuji, tetapi sulit menerima koreksi. Sebaliknya, hati yang hidup berani berkata, “Mungkin ada yang harus kuperbaiki.” Karena itu, ketika sebuah pengingat datang, jangan terlalu sibuk melihat siapa yang berbicara. Dengarkan dahulu apa yang disampaikannya.

Orang yang mengingatkan kita pun belum tentu sempurna. Ia mungkin masih berjuang memperbaiki dirinya. Tetapi apakah kebenaran harus ditolak hanya karena disampaikan oleh orang yang juga memiliki kekurangan? Tidak. Allah dapat menyampaikan pelajaran melalui siapa saja.

Jangan menolak obat hanya karena tangan yang memberikannya belum sempurna.

Kita semua adalah makhluk lemah yang sesekali kehilangan arah. Ketika seseorang berkata, “Jangan ke sana, ada jurang,” mengapa kita harus merasa direndahkan? Bisa jadi ia bukan sedang menunjuk kesalahan kita, tetapi sedang mengulurkan tangan sebelum kita jatuh.

Karena itu, bedakan antara celaan dan kepedulian. Celaan bertujuan menjatuhkan, sedangkan pengingat bertujuan menyelamatkan. Celaan membuka aib, sementara teguran yang tulus berusaha menjaga kita dari kesalahan yang lebih besar.

Namun, orang yang mengingatkan juga harus memiliki adab. Jangan menjadikan kebenaran sebagai alasan untuk merasa lebih suci. Jangan mempermalukan orang yang sedang salah. Jangan menjadikan kelemahan orang lain sebagai panggung untuk menunjukkan bahwa kita lebih baik.

Apakah kita mengingatkan karena benar-benar peduli, atau hanya ingin membuktikan bahwa kita benar?

Pengingat yang kehilangan kelembutan dapat berubah menjadi luka. Karena itu, pilihlah waktu yang tepat, gunakan bahasa yang baik, dan sampaikan dengan kasih sayang. Tujuannya bukan membuat seseorang merasa kecil, tetapi membantunya bangkit dan menjadi lebih baik.

Begitu pula ketika kita menerima teguran. Jangan langsung membangun tembok di dalam hati. Dengarkan, renungkan, lalu periksa diri. Jika benar, terimalah. Jika ada yang perlu diperbaiki, perbaikilah.

Berapa banyak kesalahan yang mungkin telah kita hindari karena dahulu ada seseorang yang berani mengingatkan kita?

Sering kali, nilai sebuah pengingat baru kita pahami setelah waktu berlalu. Dahulu kita merasa tersinggung. Hari ini kita sadar bahwa teguran itu mungkin telah menyelamatkan kita dari penyesalan yang lebih panjang.

Karena itu, jangan menunggu penyesalan untuk menghargai sebuah peringatan. Lebih baik sedikit sakit karena ditegur daripada terluka lebih dalam karena mengabaikan kebenaran.

Ketika menerima pengingat, jangan hanya bertanya, “Mengapa dia menegurku?” Tanyakan pula, “Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui teguran ini?”

Sebaliknya, ketika mengingatkan orang lain, jangan bertanya, “Bagaimana agar dia tahu bahwa aku benar?” Tanyakan, “Bagaimana agar kebenaran ini sampai ke hatinya tanpa merendahkan dirinya?”

Itulah kedewasaan, yakni sikap rendah hati ketika menerima koreksi dan tulus ketika memberikan pengingat.

Allah berfirman:
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.”(QS. Adz-Dzariyat: 55)

Rasulullah SAW. bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama itu adalah pengingat .”
(HR. Muslim)

Dan Allah mengajarkan agar kebenaran disampaikan dengan hikmah:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)

Maka, jangan merasa hina ketika menerima pengingat dan jangan merasa tinggi ketika memberikannya.

Sampaikan dengan kasih sayang. Terima dengan kelapangan. Renungkan dengan kejujuran. Perbaiki dengan kesungguhan.

Sebab mungkin, kalimat yang hari ini terasa pahit adalah cara Allah menyelamatkanmu dari luka yang jauh lebih dalam.

Dan mungkin pula, orang yang hari ini membuatmu tersinggung bukan sedang menjatuhkanmu. Melainkan ia sedang membantu menunjukkan jalan pulang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *