Nasehat Nabi kepada Umatnya: Jangan Sampai Dunia Memenuhi Hati, tapi Allah Justru Kehilangan Tempat di Dalamnya

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS/ Kalimantan Selatan I

Ada nasihat yang semakin sering kita butuhkan justru ketika kehidupan semakin ramai.

Bacaan Lainnya

Kita hidup di zaman ketika manusia bisa memiliki banyak teman tetapi merasa sendirian. Bisa memiliki rumah besar tetapi tidak mendapatkan ketenangan. Bisa memiliki rekening yang penuh tetapi hati tetap gelisah. Bisa mendapatkan banyak pujian tetapi diam-diam takut kehilangan penilaian manusia.

Kita mengejar dunia dari pagi sampai malam. Mengejar jabatan. Mengejar uang. Mengejar popularitas. Mengejar pengakuan. Mengejar jumlah pengikut. Mengejar rumah. Mengejar kendaraan. Mengejar penghargaan.

Bahkan terkadang kita mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak kita perlukan hanya karena melihat orang lain memilikinya.

Pada saat yang sama, kita lupa bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa semua ini? Ke mana perjalanan hidup ini akan berakhir? Apakah dunia adalah tujuan? Ataukah dunia hanya tempat singgah sebelum manusia kembali kepada Allah?

Di sinilah nasihat-nasihat Rasulullah ﷺ tentang kehidupan menjadi sangat berharga.

Nabi Muhammad ﷺ tidak mengajarkan umatnya untuk membenci dunia. Islam bukan agama yang menyuruh manusia meninggalkan pekerjaan, kekayaan, rumah, keluarga, jabatan, atau kemajuan.

Islam justru mengajarkan sesuatu yang jauh lebih tinggi: Miliki dunia di tanganmu, tetapi jangan biarkan dunia menguasai hatimu.

Sebab masalah manusia bukan selalu karena memiliki harta. Masalahnya adalah ketika harta mulai memiliki manusia. Bukan jabatan yang berbahaya.

Yang berbahaya adalah ketika jabatan membuat seseorang lupa bahwa suatu hari ia akan turun dari kursinya.

Bukan rumah besar yang salah. Yang salah adalah ketika rumah menjadi lebih diperhatikan daripada hati.

Bukan popularitas yang haram. Yang berbahaya adalah ketika manusia rela melakukan apa saja demi dipuji manusia, tetapi lupa apakah dirinya masih dicintai Allah.

1. JANGAN MARAH KEPADA TAKDIR ALLAH

Di antara nasihat yang sering beredar di tengah masyarakat adalah:

“Barang siapa bangun pagi dalam keadaan bersedih karena kesusahan hidup, seolah-olah ia sedang mencela perbuatan Tuhannya.”

Kalimat ini harus dipahami dengan sangat hati-hati. Islam tidak melarang manusia bersedih.

Nabi Ya’qub AS menangis dan bersedih ketika kehilangan Nabi Yusuf AS.

Allah mengabadikan perkataannya: “Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86)

Ini adalah pelajaran luar biasa. Sedih boleh. Menangis boleh. Lelah boleh. Mengeluh kepada Allah boleh.

Yang tidak boleh adalah menjadikan kesedihan sebagai alasan untuk menuduh Allah tidak adil.

Ada perbedaan besar antara: “Ya Allah, aku sedang kesulitan. Tolong aku.”

dengan: “Ya Allah, mengapa Engkau melakukan ini kepadaku?”

Kalimat pertama adalah doa. Kalimat kedua bisa berubah menjadi keberatan terhadap ketetapan Allah apabila diucapkan dengan sikap menolak dan menyalahkan-Nya.

Nabi ﷺ sendiri mengajarkan doa ketika seseorang mengalami kesulitan. Karena manusia memang lemah.

Allah berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini bukan berarti setiap masalah terasa ringan. Tidak. Kadang masalah memang sangat berat.

Tetapi ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak pernah sendirian menghadapi ujian.

Ada Allah. Ada doa. Ada sabar. Ada tawakal. Ada pahala. Dan ada kehidupan akhirat.

2. JANGAN MENGUKUR NIKMAT HANYA DENGAN UANG

Salah satu penyakit manusia modern adalah menganggap bahwa nikmat hanya berbentuk materi.

Kalau punya uang banyak, dianggap sukses. Kalau rumah besar, dianggap berhasil. Kalau kendaraan mewah, dianggap hebat. Kalau memiliki jabatan tinggi, dianggap mulia. Padahal Nabi ﷺ mengajarkan ukuran kenikmatan yang jauh lebih sederhana.

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Barang siapa di antara kalian memasuki pagi dalam keadaan sehat badannya, aman dalam dirinya, dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.”

Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama.

Perhatikan. Nabi tidak mengatakan: “Siapa yang memiliki miliaran rupiah…” Tidak.

Nabi menyebut: kesehatan, keamanan, dan makanan. Tiga hal yang sering kita anggap biasa.

Kita bangun pagi. Bisa bernapas. Bisa berjalan. Bisa melihat. Bisa mendengar. Bisa makan. Bisa bertemu keluarga. Bisa bekerja. Bisa beribadah.

Tetapi karena semua itu sudah menjadi rutinitas, kita lupa bahwa semuanya adalah nikmat. Kita baru sadar betapa mahalnya kesehatan setelah sakit.

Kita baru sadar betapa berharganya keluarga setelah kehilangan. Kita baru sadar betapa mahalnya ketenangan setelah mengalami kekacauan.

Kita baru sadar betapa pentingnya kebebasan ketika berada dalam keterbatasan. Karena manusia sering kali tidak menghargai nikmat ketika nikmat masih berada di tangannya.

3. JANGAN BIARKAN KESEDIHAN TERHADAP DUNIA MENGALAHKAN HARAPAN KEPADA ALLAH

Ada orang yang ketika kehilangan uang, merasa hidupnya selesai. Ketika kehilangan pekerjaan, merasa masa depannya hancur.

Ketika gagal dalam politik, bisnis, pendidikan, atau karier, merasa dirinya tidak berguna. Padahal kegagalan dalam satu urusan tidak berarti kegagalan dalam seluruh kehidupan.

Kadang Allah menutup satu pintu karena Dia sedang mengarahkan kita menuju pintu lain.

Kita hanya melihat pintu yang tertutup. Allah mengetahui seluruh jalan. Kisah Nabi Yusuf AS adalah contoh yang luar biasa.

Yusuf kecil dibuang ke dalam sumur. Kemudian ditemukan dan dijual sebagai budak. Kemudian menghadapi fitnah. Kemudian masuk penjara.

Kalau manusia melihat perjalanan Yusuf hanya dari satu potongan episode, semuanya tampak seperti kehancuran.

Tetapi Allah sedang menyusun perjalanan menuju kekuasaan. Dari sumur menuju istana. Dari kehinaan menuju kemuliaan.

Dari kesendirian menuju kedudukan. Dari ujian menuju hikmah.

Maka jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa sesuatu yang menyakitkan adalah sesuatu yang buruk.

Allah berfirman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini adalah obat bagi hati. Tidak semua yang kita inginkan baik bagi kita. Tidak semua yang kita benci buruk bagi kita.

Karena pengetahuan manusia terbatas. Sedangkan ilmu Allah sempurna.

4. DUNIA BOLEH DICINTAI, TETAPI JANGAN MENJADI TUHAN BARU

Islam tidak menyuruh kita menjadi miskin. Islam tidak memusuhi kekayaan. Nabi Sulaiman AS adalah seorang nabi yang memiliki kerajaan besar. Nabi Dawud AS juga seorang raja.

Para sahabat Rasulullah ﷺ ada yang kaya raya seperti Utsman bin Affan RA dan Abdurrahman bin Auf RA. Tetapi kekayaan mereka tidak menghalangi mereka untuk menjadi hamba Allah.

Inilah perbedaannya. Harta yang berada di tangan orang saleh dapat menjadi alat kebaikan. Tetapi harta yang berada di hati manusia dapat menjadi sumber kehancuran.

Allah berfirman:

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…” (QS. Al-Hadid: 20)

Dunia itu indah. Tetapi dunia sementara. Dunia menawarkan banyak hal. Tetapi semuanya memiliki tanggal kedaluwarsa.

Rumah akan ditinggalkan. Mobil akan berganti. Jabatan akan berakhir. Tubuh akan menua. Popularitas akan hilang. Nama akan dilupakan. Pada akhirnya manusia masuk ke dalam tanah hanya membawa amal.

5. LIMA KECINTAAN YANG BISA MEMBUAT MANUSIA LUPA

Nasihat ini menyebut gambaran tentang manusia yang mencintai lima perkara tetapi melupakan lima perkara:

1. Mencintai dunia dan melupakan akhirat.

2. Mencintai kehidupan dan melupakan kematian.

3. Mencintai rumah megah dan melupakan kuburan.

4. Mencintai harta dan melupakan hisab.

5. Mencintai makhluk dan melupakan Allah.

Sebagai nasihat moral, pesan ini sangat dalam. Allah berkali-kali mengingatkan manusia tentang akhirat.

Allah berfirman:

“Sedangkan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17)

Persoalannya bukan apakah kita boleh menikmati dunia. Tentu boleh. Persoalannya: Apakah dunia membuat kita lupa akhirat?

6. RUMAH BESAR TIDAK AKAN MENJADI TEMPAT TINGGAL SELAMANYA

Ada manusia yang menghabiskan bertahun-tahun membangun rumah. Mendesain ruang tamu. Memilih keramik. Menghias halaman. Membeli furnitur. Memperindah kamar.

Tetapi lupa mempersiapkan tempat tinggal terakhirnya. Kuburan. Rumah dunia memiliki pintu. Kuburan juga memiliki pintu. Rumah dunia bisa direnovasi. Kuburan tidak. Rumah dunia bisa dihias.

Kuburan hanya membutuhkan amal. Rumah dunia memiliki listrik, air, internet, televisi. Kuburan tidak membutuhkan semua itu. Yang dibutuhkan manusia di sana adalah amal saleh.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Maka pertanyaan penting bukan: “Seberapa besar rumah yang kita bangun?”

Tetapi: “Seberapa besar amal yang kita siapkan untuk rumah terakhir?”

7. JANGAN MENJADIKAN ORANG KAYA SEBAGAI UKURAN KEMULIAAN

Ada nasihat populer: “Barang siapa merendahkan dirinya kepada orang kaya karena kekayaannya, maka hilang dua pertiga agamanya.”

Redaksi ini juga sebaiknya tidak langsung dipastikan sebagai hadis sahih tanpa takhrij yang jelas. Tetapi pesan moralnya memiliki dasar yang kuat. Sebagai nasehat saja.

Islam tidak mengajarkan manusia untuk menghormati seseorang hanya karena hartanya. Kekayaan bukan ukuran kemuliaan.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Perhatikan. Allah tidak mengatakan: Yang paling kaya. Yang paling terkenal. Yang paling banyak pengikutnya. Yang paling tinggi jabatannya. Yang paling mahal mobilnya. Yang paling mewah rumahnya.

Allah mengatakan: yang paling bertakwa. Karena ukuran manusia berbeda dengan ukuran Allah. Manusia melihat penampilan. Allah melihat hati dan amal. Manusia melihat jabatan. Allah melihat amanah. Manusia melihat jumlah harta. Allah melihat dari mana harta itu diperoleh dan ke mana ia digunakan.

8. HATI-HATI DENGAN PENYAKIT DENGKI

Dalam bahan nasihat disebutkan bahwa dengki dapat menghancurkan agama seseorang. Al-Qur’an dan hadis memang sangat keras memperingatkan penyakit hasad.

Allah mengajarkan kita untuk berlindung:

“Dan dari kejahatan orang yang dengki ketika ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5)

Dengki berbeda dengan sekadar ingin memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain. Misalnya seseorang melihat temannya sukses lalu berkata: “Semoga suatu hari aku juga bisa sukses seperti dia.”

Ini belum tentu dengki. Tetapi jika ia berkata: “Aku tidak suka dia sukses. Semoga kesuksesannya hilang.”

Itulah penyakit hati. Dengki adalah ketika seseorang tidak senang melihat nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.

Lebih buruk lagi apabila ia berusaha menghancurkan nikmat tersebut. Dengki dapat membuat saudara menjadi musuh.

Teman menjadi lawan. Tetangga menjadi sumber kebencian. Bahkan sesama muslim saling menjatuhkan.

Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya agar tidak saling dengki, saling membenci, dan saling memutus hubungan.

Karena penyakit hati sering kali lebih berbahaya daripada penyakit tubuh. Tubuh sakit membuat seseorang lemah. Hati yang sakit dapat membuat seseorang kehilangan arah.

9. MARAH: API YANG MEMBAKAR AKAL

Dalam bahan awal disebutkan: “Akal bisa hilang karena marah.”

Secara makna, ini mengingatkan kita pada bahaya kemarahan yang tidak dikendalikan.

Rasulullah ﷺ pernah memberikan nasihat yang sangat singkat kepada seseorang yang meminta nasihat.

Orang itu berkata: “Berilah aku nasihat.”

Nabi ﷺ menjawab: “Jangan marah.”

Orang tersebut mengulangi permintaannya. Nabi tetap menjawab: “Jangan marah.”

Nasihatnya pendek. Tetapi dalamnya luar biasa. Karena ketika manusia marah, ia dapat mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

Memukul seseorang. Menghina orang tua. Menceraikan pasangan. Memutus persahabatan. Merusak reputasi. Menyebarkan aib. Mengirim pesan yang kemudian disesali. Bahkan melakukan tindakan kriminal. Semua bisa terjadi dalam beberapa detik.

Karena itu Islam mengajarkan pengendalian diri. Orang kuat bukan hanya orang yang mampu mengangkat beban berat.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

10. MALU ADALAH PERISAI KEHIDUPAN

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.”

Malu bukan berarti minder. Malu bukan berarti takut tampil. Malu dalam Islam adalah kesadaran moral yang membuat seseorang enggan melakukan keburukan meskipun tidak ada manusia yang melihat.

Itulah yang sangat penting di zaman digital. Dulu orang mungkin malu melakukan keburukan karena takut dilihat tetangga.

Sekarang seseorang dapat melakukan keburukan di kamar sendirian dengan telepon genggam.

Tidak ada tetangga. Tidak ada teman. Tidak ada kamera manusia. Tetapi ada Allah.

Maka iman mengajarkan: Jangan hanya takut kepada manusia. Takutlah kepada Allah.

Karena kamera manusia dapat dimatikan. Kamera CCTV bisa rusak. Pesan bisa dihapus. Postingan bisa dihapus. Tetapi tidak ada satu pun amal yang hilang dari pengetahuan Allah.

11. GHIBAH: DOSA YANG SERING DIANGGAP SEBAGAI HIBURAN

Salah satu penyakit sosial yang paling berbahaya adalah ghibah. Allah memberikan gambaran yang sangat keras:

“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Mengapa Allah menggunakan gambaran seperti itu? Karena manusia sering menganggap ghibah sebagai hal kecil.

“Cuma ngobrol.” “Cuma cerita.” “Cuma bercanda.” “Kan memang benar.” Justru di sinilah bahayanya.

Kalau yang dibicarakan tidak benar, bisa menjadi fitnah. Kalau yang dibicarakan benar tetapi dia tidak suka hal itu dibicarakan, itu bisa menjadi ghibah.

Maka jangan merasa aman hanya karena: “Saya ngomong benar kok.”

Kebenaran tentang keburukan seseorang tidak otomatis membuat kita boleh menyebarkannya.

Ada kondisi tertentu yang dibenarkan syariat, misalnya mengadukan kezaliman kepada pihak yang berwenang, meminta fatwa, meminta nasihat untuk menghindari bahaya, atau memberikan kesaksian yang memang diperlukan.

Tetapi membicarakan aib orang demi hiburan? Itulah yang harus ditakuti.

12. ZAMAN SEKARANG: GHIBAH TIDAK LAGI HANYA DI WARUNG KOPI

Dulu ghibah mungkin terjadi di teras rumah. Sekarang ghibah bisa terjadi dalam grup WhatsApp. Di kolom komentar. Di TikTok. Di Instagram. Di Facebook. Di podcast. Di ruang obrolan.

Bahkan dalam bentuk meme. Satu kalimat bisa discreenshot. Satu video bisa disebarkan. Satu tuduhan bisa ditonton jutaan orang.

Bayangkan jika seseorang telah meninggal dunia, tetapi video yang mempermalukannya masih beredar bertahun-tahun.

Karena itu seorang muslim harus memiliki etika digital. Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan:

Apakah benar? Apakah perlu? Apakah bermanfaat? Apakah orang yang dibicarakan akan tersakiti?

Apakah saya berani mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah? Kalau jawabannya tidak jelas, lebih baik diam.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Ini adalah salah satu prinsip komunikasi paling luar biasa sepanjang sejarah.

13. HARTA: NIKMAT ATAU UJIAN?

Harta bukan hanya nikmat. Harta juga ujian.Allah memberikan harta untuk melihat apa yang dilakukan manusia dengannya.

Apakah ia bersedekah? Apakah ia membantu keluarga? Apakah ia membayar zakat? Apakah ia membantu orang miskin?

Apakah ia menggunakannya untuk pendidikan? Apakah ia membangun usaha yang halal? Ataukah semuanya hanya digunakan untuk memenuhi hawa nafsu?

Allah berfirman:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Ayat ini tidak mengatakan harta tidak berguna. Allah menyebutnya sebagai perhiasan. Tetapi perhiasan bukan tujuan akhir.

14. KISAH UTSMAN BIN AFFAN: KAYA TETAPI HATINYA TIDAK DIKUASAI HARTA

Utsman bin Affan RA adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang dikenal kaya. Tetapi kekayaannya tidak menjadikannya jauh dari Allah.

Sebaliknya, kekayaan tersebut menjadi sarana untuk berbuat kebajikan. Ia membantu perjuangan umat.

Ia membeli sumur untuk kepentingan masyarakat. Ia memberikan hartanya untuk kebutuhan kaum muslimin.

Inilah teladan penting: Bukan berapa banyak yang kita punya, tetapi apa yang kita lakukan dengan apa yang kita punya.

Ada orang kaya yang miskin di hadapan Allah karena hartanya hanya digunakan untuk dirinya sendiri.

Ada orang sederhana yang sangat kaya di sisi Allah karena tangannya selalu memberi.

15. ABDURRAHMAN BIN AUF: KEKAYAAN YANG TIDAK MEMBUAT LUPA AKHIRAT

Abdurrahman bin Auf RA juga merupakan sahabat yang kaya.

Ketika hijrah ke Madinah, ia tidak datang membawa kekayaan seperti sebelumnya.

Ia membangun kehidupannya kembali. Ia bekerja. Ia berdagang. Ia menjadi kaya.

Namun kekayaannya tidak menghalangi jihad, sedekah, dan pengorbanannya. Ini membuktikan bahwa Islam bukan ideologi kemiskinan.

Islam adalah agama keseimbangan. Bekerjalah keras. Carilah rezeki halal.

Bangun usaha. Jadilah kaya jika Allah memberikan kemampuan. Tetapi jangan sampai kekayaan membuat kita lupa bahwa kita adalah hamba.

16. CINTA KEPADA MAKHLUK JANGAN MENGALAHKAN CINTA KEPADA ALLAH

Manusia memang membutuhkan manusia lain. Kita mencintai orang tua. Mencintai pasangan. Mencintai anak. Mencintai sahabat. Mencintai guru. Mencintai masyarakat. Semua itu merupakan bagian dari fitrah.

Namun cinta kepada makhluk tidak boleh mengalahkan cinta kepada Allah. Karena manusia bisa pergi. Manusia bisa berubah. Manusia bisa mengecewakan. Manusia bisa meninggal.

Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Banyak manusia mencari ketenangan ke mana-mana. Mencari hiburan. Mencari validasi. Mencari popularitas. Mencari pasangan. Mencari uang. Mencari kekuasaan.

Padahal ketenangan hati memiliki sumber yang jauh lebih dalam: hubungan dengan Allah.

17. DUA PERKARA YANG PALING BERHARGA: IMAN DAN MEMBERI MANFAAT

Bahan nasihat di awal juga mengangkat pesan tentang dua perkara yang sangat baik: Beriman kepada Allah dan memberikan manfaat kepada manusia.

Walaupun redaksi populer tersebut perlu bukan hadis yang benar-benar terverifikasi. Namun prinsipnya sangat selaras dengan ajaran Islam.

Iman bukan sekadar ucapan. Iman harus melahirkan manfaat.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Makna ini seharusnya menjadi filosofi hidup. Ketika bangun pagi, jangan hanya berpikir: “Hari ini saya dapat apa?”

Cobalah bertanya: “Hari ini saya bisa memberi apa?” Bisa jadi hanya membantu seseorang. Membayar makanan orang lain. Mengangkat barang. Mengajarkan ilmu. Memberikan pekerjaan. Menyumbang. Mendengarkan orang yang sedang kesepian. Membantu tetangga. Membela orang yang dizalimi. Menghibur orang yang sedang sedih. Mendoakan orang lain. Kadang manfaat terbesar tidak selalu berbentuk uang.

18. MENYAKITI MANUSIA BUKAN PERKARA KECIL

Sebaliknya, jangan merasa bahwa ibadah pribadi otomatis membuat kita bebas menyakiti manusia.

Seseorang mungkin rajin salat. Rajin mengaji. Rajin bersedekah.

Tetapi kalau lisannya menghina orang, tangannya menzalimi orang, atau ia mengambil hak orang lain, persoalannya sangat serius.

Dalam hadis tentang orang yang bangkrut di akhirat, Rasulullah ﷺ menggambarkan seseorang yang datang membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi juga membawa dosa karena mencaci, menuduh, mengambil harta, menumpahkan darah, dan menyakiti orang lain.

Pahalanya kemudian diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Ini adalah peringatan keras: Jangan hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi lupakan hubungan dengan manusia. Islam mengajarkan keduanya.

19. JANGAN MERASA PALING BAIK

Ada satu penyakit yang jauh lebih halus daripada dosa: merasa diri sudah baik. Orang yang berbuat dosa masih mungkin bertobat.

Tetapi orang yang merasa dirinya paling suci sering kali tidak merasa membutuhkan pertobatan.

Ia melihat orang lain rendah. Melihat orang lain bodoh. Melihat orang lain sesat. Melihat orang lain tidak pantas. Melihat dirinya sendiri selalu benar. Padahal kita tidak pernah tahu bagaimana akhir kehidupan seseorang.

Seseorang yang hari ini jauh dari masjid bisa saja besok menjadi ahli ibadah. Seseorang yang hari ini dikenal buruk bisa saja bertobat dan meninggal dalam keadaan baik.

Sebaliknya, seseorang yang hari ini tampak saleh harus tetap takut kepada Allah dan memohon keteguhan hati. Karena yang menentukan bukan hanya bagaimana kita memulai. Tetapi bagaimana kita mengakhiri kehidupan.

20. JANGAN MERENDAHKAN ORANG YANG SEDANG JATUH

Kita tidak pernah tahu ujian apa yang sedang dihadapi seseorang. Orang yang terlihat diam mungkin sedang berperang dengan dirinya sendiri.

Orang yang terlihat ceria mungkin sedang menyimpan kesedihan. Orang yang kehilangan pekerjaan mungkin sedang mempertahankan keluarganya.

Orang yang gagal mungkin sedang belajar. Orang yang miskin mungkin memiliki hati yang sangat kaya.

Orang yang tidak memiliki jabatan mungkin justru lebih dekat kepada Allah. Karena itu jangan mengukur manusia hanya berdasarkan penampilan.

Nabi ﷺ mengajarkan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amal.

Maka berhentilah sibuk menghakimi. Lebih baik sibuk memperbaiki diri.

21. KEMATIAN ADALAH JANJI YANG TIDAK PERNAH INGKAR

Semua manusia memiliki satu kesamaan: akan mati. Yang kaya mati. Yang miskin mati. Yang terkenal mati. Yang tidak dikenal mati. Presiden mati. Rakyat mati. Raja mati. Rakyat jelata mati. Orang yang memiliki jutaan pengikut mati. Orang yang tidak memiliki satu pun pengikut juga mati.

Allah berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Tidak ada negosiasi. Tidak ada perpanjangan kontrak. Tidak ada tawar-menawar. Maka manusia yang cerdas bukanlah manusia yang tidak memikirkan kematian.

Manusia yang cerdas adalah manusia yang mengingat kematian sebagai alasan untuk memperbaiki kehidupan.

Mengingat mati bukan berarti pesimis. Justru mengingat mati membuat hidup lebih bermakna. Karena kita sadar: waktu terbatas.

22. JANGAN MENUNDA TAUBAT

Salah satu tipu daya terbesar setan adalah membisikkan:“Nanti saja.”

Nanti salat. Nanti sedekah. Nanti minta maaf. Nanti berhenti maksiat. Nanti membaca Al-Qur’an. Nanti berbakti kepada orang tua. Nanti memperbaiki hubungan. Nanti bertobat.

Masalahnya: kita tidak tahu apakah masih memiliki “nanti”.

Berapa banyak manusia tidur malam dengan rencana bangun pagi, tetapi tidak pernah bangun lagi? Berapa banyak orang pergi bekerja dan tidak pernah pulang? Berapa banyak orang menunda meminta maaf, kemudian kematian datang lebih dahulu?

Karena itu jangan menunggu menjadi sempurna untuk mendekat kepada Allah. Datanglah kepada Allah dalam keadaan kita sekarang.

Dengan dosa. Dengan air mata. Dengan kelemahan. Dengan penyesalan. Karena pintu taubat Allah terbuka.

23. BERSYUKUR KETIKA DIBERI, BERSABAR KETIKA DIUJI

Hidup seorang mukmin berada di antara dua keadaan. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapatkan ujian, ia bersabar.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa urusan orang mukmin itu menakjubkan: ketika mendapatkan kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya; ketika mendapatkan kesusahan ia bersabar dan itu pun baik baginya.

Inilah mentalitas seorang mukmin. Bukan berarti ia tidak boleh menangis. Bukan berarti ia tidak boleh merasa sakit. Tetapi ia tidak kehilangan Allah ketika kehilangan sesuatu. Itulah perbedaannya.

24. KETIKA DUNIA TERASA TERLALU BERAT, KEMBALILAH KEPADA ALLAH

Ada masa dalam kehidupan ketika semua terasa berat. Doa terasa belum dijawab. Pekerjaan belum membaik.

Kemudian, usaha belum berhasil. Keluarga menghadapi masalah. Hubungan retak. Kesehatan menurun. Keuangan tertekan. Masa depan tidak jelas.

Dalam keadaan seperti itu, jangan menjauh dari Allah. Justru mendekatlah. Perbanyak istighfar. Perbanyak salat. Baca Al-Qur’an. Perbanyak sedekah. Bangun malam. Berdoa. Dan jangan berhenti berharap.

Allah berfirman:

“Jangan berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini bukan sekadar ayat untuk orang yang berdosa. Ini juga ayat untuk orang yang sedang merasa hidupnya hancur.

Allah ingin kita tahu: seberat apa pun keadaanmu, rahmat Allah lebih luas daripada masalahmu.

25. UKUR KESUKSESAN DENGAN CARA YANG BERBEDA

Mungkin dunia berkata: Sukses adalah ketika kamu memiliki banyak uang.

Islam mengajarkan: Sukses adalah ketika harta tidak membuatmu jauh dari Allah.

Dunia berkata: Sukses adalah ketika semua orang mengenalmu.

Islam mengajarkan: Tidak masalah jika manusia tidak mengenalmu, selama Allah mengenalmu sebagai hamba yang baik.

Dunia berkata: Sukses adalah memiliki jabatan tinggi.

Islam mengajarkan: Jabatan adalah amanah dan akan dipertanggungjawabkan.

Dunia berkata: Sukses adalah menang dari orang lain.

Islam mengajarkan: Kemenangan terbesar adalah mampu mengalahkan hawa nafsu sendiri.

26. TANYAKAN KEPADA DIRI SENDIRI SEBELUM TIDUR

Setiap malam, sebelum tidur, mari bertanya kepada diri sendiri: Hari ini apakah saya membuat orang lain bahagia atau justru menyakiti mereka?

Apakah hari ini saya mengingat Allah? Apakah saya salat dengan baik? Apakah saya membaca Al-Qur’an? Apakah saya berbohong? Apakah saya menggunjing seseorang? Apakah saya iri terhadap nikmat orang lain? Apakah saya membantu seseorang? Apakah saya meminta maaf kepada orang yang saya sakiti? Apakah hari ini saya mendapatkan rezeki halal? Apakah saya menggunakan nikmat Allah dengan benar? Kalau malam ini Allah memanggil saya, apakah saya siap?

Pertanyaan terakhir mungkin yang paling penting.

27. EMPAT BEKAL YANG HARUS DIJAGA

Dari pesan moral bahan nasihat tersebut, kita dapat mengambil empat bekal besar:

Pertama: AKAL

Gunakan akal untuk membedakan benar dan salah. Jangan biarkan kemarahan mengambil alih keputusan. Jangan membuat keputusan besar ketika emosi sedang memuncak.

Kedua: AGAMA

Jaga iman. Jangan menjual prinsip hanya demi keuntungan sesaat. Jangan menukar kebenaran dengan jabatan. Jangan menjual harga diri demi pujian.

Ketiga: MALU

Miliki rasa malu kepada Allah. Malu berbuat dosa. Malu menzalimi. Malu berbohong. Malu mengambil hak orang. Malu menyebarkan aib.

Keempat: AMAL SALEH

Jangan berhenti berbuat baik. Karena pada akhirnya yang menemani manusia bukan jumlah followers, bukan jabatan, bukan popularitas, melainkan amal yang dilakukan karena Allah.

28. KALAU PUNYA JABATAN, INGATLAH KUBURAN

Jabatan adalah ujian. Semakin tinggi jabatan, semakin besar tanggung jawab.

Orang yang berada di bawah mungkin hanya ditanya tentang dirinya. Orang yang diberi amanah memimpin akan ditanya tentang orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya.

Maka jangan gunakan jabatan untuk menindas. Jangan gunakan kekuasaan untuk mempermalukan. Jangan gunakan posisi untuk memperkaya diri secara zalim. Jangan gunakan pengaruh untuk menghancurkan orang.

Sebab jabatan dunia memiliki umur. Hari ini seseorang duduk di kursi kekuasaan. Besok kursi itu diduduki orang lain. Nama bisa diganti. Papan nama bisa dicopot. Foto bisa diturunkan. Tetapi catatan amal tidak bisa dihapus.

29. KALAU PUNYA HARTA, INGATLAH HISAB

Harta akan ditanya. Dari mana mendapatkannya? Untuk apa menggunakannya? Apakah halal? Apakah ada hak orang lain? Apakah zakat ditunaikan? Apakah keluarga diberi nafkah? Apakah orang miskin diperhatikan?

Karena itu jangan hanya menghitung uang. Hitung juga pertanggungjawabannya. Jangan hanya melihat saldo. Lihat juga keberkahannya. Sebab uang banyak belum tentu membuat hidup berkah.

Sedangkan rezeki yang sedikit tetapi halal dan cukup bisa menjadi sumber ketenangan.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *