Overthinking, Burnout, Anxiety? Mungkin Kamu Bukan Butuh Healing, tapi Butuh Kembali

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan

Kalau kamu sedang melawan anxiety, kekosongan, burnout, atau overthinking yang tidak ada habisnya…

Bacaan Lainnya

Berhentilah sejenak. Mungkin itu bukan sekadar trauma masa lalu. Bukan sekadar kamu kurang healing.

Mungkin itu adalah Kebutaan Spiritual. Dan salah satu pemicunya adalah sesuatu yang ada di genggamanmu setiap hari: Doomscrolling.

Kita tidak diciptakan hanya untuk menjadi budak stimulasi kimia di otak. Kita tidak diciptakan untuk hidup dari notifikasi ke notifikasi.

Kita diciptakan untuk terkoneksi. Terkoneksi pada Allah, pada kebenaran, dan pada makna.

Tapi lihat hari-hari kita sekarang: Konsumsi, Reaksi, Pelarian. Konsumsi konten, bereaksi dengan emosi, lalu lari dari kenyataan.

Dan ketika jiwa kosong, kita bertanya: “Kenapa shalatku tidak khusyuk? Kenapa Allah terasa jauh?”

Jawabannya sudah Allah firmankan 14 abad lalu:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Para ulama tafsir menjelaskan kata ضَنكًا (dhonka) bukan sekadar susah. Artinya adalah sempit, sesak, terjepit, tertekan. Seperti orang yang terjebak di ruangan tanpa jendela dan pintu. Dadanya sesak. Itulah claustrophobia spiritual.

Kamu punya segalanya, tapi hatimu sempit. Kamu tertawa di story, tapi menangis dalam sepi. Itulah ma’isyatan dhonka.

Apa Kata Dunia Modern Tentang Hati Yang Sempit Itu?
Psikologi modern ternyata hanya memberi nama baru untuk apa yang Al-Qur’an sudah jelaskan.

1. Cognitive Dissonance (Disonansi Kognitif)
Jiwamu tahu kamu diciptakan untuk tujuan mulia. Tapi perilakumu setiap hari hanya scroll konten joget-joget, ghibah selebriti, flexing orang lain, dan berita yang membuatmu takut. Jiwa memberontak, tapi otak candu. Benturan inilah yang melahirkan anxiety.

2. Existential Vacuum (Kekosongan Eksistensial)
Istilah dari Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp Nazi. Menurutnya, manusia paling menderita bukan karena tidak punya kesenangan, tapi karena tidak punya MAKNA. Dan sosial media adalah mesin pembunuh makna paling efektif. Terlalu banyak informasi, terlalu minim makna.

Rasulullah SAW sudah memperingatkan tentang penyakit ini:

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Dulu waktu luang dipakai untuk tafakur. Sekarang waktu luang dipakai untuk membuka TikTok “sebentar” yang berubah jadi 3 jam. Kita tidak sedang bersantai, kita sedang membiarkan otak kita diperkosa oleh algoritma.

Sains di Balik Hati yang Mati Rasa
Ini bukan cuma soal spiritual. Ini fisiologi.

Otak kita didesain dengan sistem Dopamin. Dopamin seharusnya keluar saat kita mencapai sesuatu yang bermakna: menyelesaikan pekerjaan, shalat tepat waktu, membantu orang.

Tapi sosial media meretas sistem ini. Setiap swipe, setiap like, setiap video baru memberi suntikan dopamin kecil, cepat, dan palsu.

Penelitian neurosains dari Stanford (Dr. Andrew Huberman & Dr. Anna Lembke) membuktikan: Dopamin tinggi yang instan = Motivasi jangka panjang yang rendah.
Kecanduan konten pendek = Kortisol (hormon stres) naik, anxiety & depresi gampang datang.

Kenapa? Karena otak punya bandwidth terbatas. Dalam Islam kita mengenalnya dengan istilah Qalb. Qalb itu hanya bisa fokus pada satu hal yang agung dalam satu waktu.

Terlalu banyak informasi = Minim makna
Terlalu banyak dopamin palsu = Minim kedamaian

Saat otakmu banjir 300 video tidak jelas dalam sehari, bagian otak yang bernama Prefrontal Cortex – bagian yang bertugas untuk khusyuk, untuk merenung, untuk terhubung pada Allah – akan semakin terkikis. Kamu tidak bisa khusyuk bukan karena Allah jauh. Tapi karena fokusmu sudah habis ditelan algoritma.

Bukan Allah yang menjauh. Kamulah yang pergi. Tapi kita perlu kembali ke Allah, ingat Dia.

Kisah Sejarah: Mereka yang Menjaga Pintu Masuk Jiwanya
Para ulama dulu sangat ketat menjaga apa yang masuk ke dalam pikirannya. Mereka menyebutnya Hifzhul Khathir – Menjaga lintasan pikiran.

1. Kisah Imam Al-Ghazali
Di puncak karirnya sebagai rektor Universitas Nizhamiyah, profesor paling terkenal di Baghdad, Al-Ghazali mengalami burnout spiritual yang parah. Ia tidak bisa bicara, tidak bisa makan. Apa yang ia lakukan? Ia meninggalkan semua ketenaran, jabatan, dan “keramaian dunia” – versi doomscrolling di zamannya – dan pergi uzlah ke Menara Masjid Damaskus selama 11 tahun.

Di sana ia menulis Ihya Ulumuddin. Ia membersihkan bandwidth otaknya dari kebisingan dunia untuk kembali menemukan Allah.

2. Kisah Abdullah bin Mas’ud
Seorang sahabat pernah bertanya, “Wahai Ibnu Mas’ud, kapan seorang hamba merasakan ketenangan?”
Ia menjawab, “Ketika ia tidak lagi memasukkan ke dalam hatinya apa yang tidak ia butuhkan.”

Inilah diet informasi yang sesungguhnya.

3. Kisah Kontemporer: The Amish dan Orang Bijak
Kenapa komunitas Amish di Amerika yang tanpa smartphone tingkat depresinya jauh lebih rendah dari anak muda Jakarta atau New York? Karena mereka menjaga pintu jiwanya.

Hari ini, algoritma TikTok, Instagram Reels, dan X dirancang oleh ribuan insinyur dengan satu tujuan: membuatmu betah selama mungkin, agar kecemasanmu bisa dijual ke pengiklan. Kamu bukan pelanggan. Kamu adalah produknya.

Lalu, Apa Resepnya? Kembali ke Operating System Asli Kita

Rasulullah SAW tidak hanya memberi kita ritual. Beliau memberi kita protokol untuk upgrade kesehatan mental dan spiritual. Sunnah adalah sistem operasi terbaik untuk jiwa.

1. Shalat Fajar & Tahajjud: Untuk Menstabilkan Dopamin
Kenapa tahajjud terasa berat tapi menenangkan? Karena saat semua orang tidur, kamu melawan candu kasur dan bangun untuk Allah. Ini adalah Dopamine Detox paling murni. Kamu mengajarkan otakmu untuk mendapatkan kenikmatan dari perjuangan, bukan dari kemudahan.

Allah berfirman: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 6)

Shalat fajar adalah titik reset dopamin harianmu. Siapa yang memulai hari dengan kemenangan atas hawa nafsu, maka seharian ia akan lebih kuat melawan scroll tanpa makna.

2. Dzikir & Tilawah Qur’an: Untuk Menstabilkan Emosi
Neurosains menyebutnya mindfulness, Islam sudah menyebutnya dzikir. Saat kamu berdzikir, otakmu beralih dari mode Default Mode Network (mode overthinking, cemas, melamun) ke mode fokus dan hadir.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Qur’an bukan untuk dikejar khatamnya saja. Satu ayat yang kamu tadabburi dengan tangis, lebih menyembuhkan dari 100 video motivasi.

3. Tawakkal & Puasa Sosmed: Untuk Menstabilkan Anxiety
Anxiety adalah ketakutan akan masa depan yang belum terjadi. Tawakkal adalah menyerahkan masa depan itu kepada Dzat yang memegang masa depan.

Coba latihan ini: Puasa Doomscrolling.
• Hapus TikTok/IG dari home screen selama 7 hari. Letakkan Qur’an dan tasbih di sana.

• Terapkan aturan: No phone 1 jam setelah bangun dan 1 jam sebelum tidur. Ganti dengan dzikir pagi-petang.

• Sebelum buka HP, tanya: “Apa niatku? Apa yang kucari? Apakah ini memberatkanku di akhirat?”

Rasulullah bersabda: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Konten ghibah, flexing, pamer aurat, adu domba politik – itu semua tidak bermanfaat bagimu. Tinggalkan.

Saudaraku, Ini bukan tentang seberapa berdosanya kamu karena menghabiskan waktu di sosial media. Allah itu Maha Pengampun.

Ini tentang seberapa rindunya jiwamu yang ingin kembali pulang kepada Tuhannya. Kekosongan yang kamu rasakan itu bukan hukuman. Itu adalah alarm. Itu adalah panggilan pulang.

Allah merindukanmu lebih dari kamu merindukan ketenangan.

Mari kita akhiri dengan doa: Ya Allah, jadikan kami hamba yang selalu mengingat-Mu di kala sempit dan lapang. Lapangkanlah dada kami yang sempit ini. Kembalikan fokus kami yang telah habis tertelan dunia. Jadikan keheningan bersama-Mu lebih manis daripada keramaian bersama makhluk-Mu.

Jika tulisan ini bermanfaat, jangan di-share dulu. Coba amalkan dulu 1 hari tanpa doomscrolling. Rasakan bedanya shalatmu malam nanti.

Semoga Allah menyembuhkan hatimu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *