Materi Sekretaris Golkar DKI Jakarta selaligus Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Basri Baco di Acara Sarasehan Kebangsaan Ormas Hasta Karya dan Sayap Partai Golkar DKI Jakarta: Dari Sejarah, Identitas, Demokrasi hingga Strategi Menjemput Suara Rakyat
Bapak, Ibu, teman-teman semua yang saya hormati.
Saya baru berpikir. Sebelum kita bicara terlalu jauh tentang apa yang harus kita lakukan, bagaimana bentuk organisasinya, bagaimana strategi kita ke depan, ada satu hal yang paling mendasar yang harus kita tahu terlebih dahulu:
Kita ini siapa? Kekuatan kita ada di mana? Kekurangan kita ada di mana? Kondisi politik kita sekarang seperti apa?
Dan yang paling penting, apa yang bisa kita “jual” kepada masyarakat supaya orang mau bergabung, mau mendukung, dan mau bersama-sama dengan Golkar?
Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan inilah yang jauh lebih mendasar.
Sebelum kita bicara panjang tentang program, sebelum kita bicara tentang struktur, sebelum kita bicara tentang strategi pemenangan, kita harus tahu dulu siapa diri kita.
Karena kalau kita sendiri tidak tahu siapa kita, bagaimana kita mau meyakinkan orang lain?
Empat Jabatan yang Selalu Saya Bawa
Nah, sebelum lanjut, saya mohon maaf. Ini ada posisi jabatan saya yang wajib saya cantumkan.
Bukan karena saya mau pamer jabatan. Bukan.
Kalau saya tidak mencantumkan, yang protes nanti partai dan teman-teman.
Saya ini Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta.
Kalau tidak saya masukkan, nanti ada yang bilang, “Kok jabatan DPRD-nya enggak ada?”
Kemudian saya Sekretaris Partai Golkar DKI Jakarta.
Dan mungkin, sampai hari ini, saya satu-satunya manusia yang menjabat sebagai Sekretaris Golkar DKI Jakarta sampai tiga periode berturut-turut.
Jadi ini sudah bisa dibilang rekor kejuaraan! Kemudian saya juga Ketua Ormas MKGR DKI Jakarta.
Kalau MKGR tidak saya cantumkan, nanti teman-teman MKGR protes. “Kok MKGR-nya enggak ada?”
Nah, ini juga sedang menuju periode ketiga. Kemudian terakhir, Ketua Bapera DKI Jakarta.
Kalau ini tidak saya cantumkan, nanti kader-kader Bapera yang protes.
Jadi mohon maaf, empat posisi ini di setiap kartu nama di mana pun saya berada, memang wajib saya cantumkan.
Bukan karena saya mau. Tapi kalau tidak dicantumkan, yang protes banyak!
“Suara Rakyat, Suara Golkar” Sekarang kita masuk kepada slogan.
Dulu kita mengenal: “Suara Golkar, Suara Rakyat!”
Nah, zaman sekarang slogan itu kita balik. Sekarang: “Suara Rakyat, Suara Golkar!”
Ini bukan sekadar permainan kata. Ada maksud yang sangat besar di dalamnya.
Artinya, setiap kader Golkar yang berada di eksekutif, legislatif, maupun di mana pun dia berada, apa yang dia sampaikan harus berdasarkan suara dan aspirasi rakyat.
Setiap anggota dewan boleh bicara. Tetapi yang dibicarakan harus berkaitan dengan kepentingan rakyat.
Jangan menjadi anggota dewan yang asal ngomong. Jangan menjadi kepala daerah yang asal bicara. Jangan menjadi pejabat yang hanya bicara berdasarkan kepentingan dirinya sendiri.
Pegangannya harus satu: Apa yang disampaikan harus berdasarkan suara rakyat, kepentingan rakyat, kemauan rakyat, dan kebutuhan rakyat.
Karena itulah makna: “Suara Rakyat, Suara Golkar.”
Apa yang disuarakan Golkar harus berasal dari suara rakyat. Slogannya bagus. Tetapi slogan saja tidak cukup.
Yang paling penting adalah aksi nyata untuk menjalankan slogan tersebut.
Di zaman Ketua Umum Bahlil Lahadalia, ada tambahan lagi: “Golkar Solid!”
Audience: “Indonesia Maju!”
Dan yang paling penting: “Golkar!”
Audience: “Menang, Menang, Menang!”
Nah, ini bisa kita jadikan yel-yel. Kalau saya bilang: “Suara Rakyat!”
Jawab: “Suara Golkar!” Kalau saya bilang: “Golkar Solid!” Jawab: “Indonesia Maju!”
Kalau saya bilang: “Golkar!”
Jawab: “Menang! Menang! Menang!”
Zaman sekarang setiap aktivitas kita harus bisa masuk media sosial. Karena Ketua Umum Bahlil pernah bilang, jangan hanya menang di lapangan, tetapi di langit pun kita harus menang.
Artinya apa? Aktivitas kita harus terlihat. Kerja kita harus diketahui masyarakat.
Jangan kita bekerja keras, tetapi tidak pernah dikomunikasikan. Karena sekarang zamannya media sosial.
Mumpung hari ini semangat, nanti kita bikin video ucapan selamat untuk Ketua Umum Bahlil. Tapi jangan pulang dulu!
Jadi anggota dewan jangan asal bicara. Jadi wali kota jangan asal bicara. Jadi bupati jangan asal bicara. Jadi gubernur jangan asal bicara. Kalau dia kader Golkar, pegangannya harus jelas:
1. Apa yang dia sampaikan harus berdasarkan kepentingan rakyat.
2. Apa yang dia suarakan harus berdasarkan kemauan rakyat.
3. Apa yang dia perjuangkan harus berdasarkan kebutuhan rakyat.
4. Kalau itu bisa kita lakukan, di situlah kita bisa menang.
Golkar: Stabil dan Tidak Pernah Menjadi Nomor Tiga
Hari ini kita bersyukur. Dari pemilu ke pemilu, kita adalah pemenang kedua.
Dan alhamdulillah, kita belum pernah menjadi pemenang ketiga.
Memang setelah Reformasi kita belum menjadi juara satu. Tetapi kita juga belum pernah menjadi juara tiga.
Selalu nomor dua. Ada yang naik, ada yang turun. Golkar relatif stabil. Mungkin karena logonya pohon beringin. Berdiri terus!
Soekarno dan Sejarah Golkar
Sekarang saya mau masuk ke bagian sejarah. Ada satu pernyataan yang menarik.
Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, ikut mendirikan Partai Golkar.
Betul atau salah?
Audience: “Betul!”
Yang bilang betul siapa?
Saya mau tahu alasannya.
Ibu Lia, coba kasih mic. Apa bukti atau fakta yang menyatakan bahwa Presiden Soekarno ikut mendirikan Partai Golkar?
Ibu Lia menjawab bahwa pada masa itu PKI sangat kuat dan kemudian dibentuk Sekretariat Bersama dari berbagai golongan.
Nah, saya jelaskan. Sebelum Orde Lama tumbang, kita melihat bagaimana paham komunisme semakin kuat dan masuk ke berbagai lini. Bahkan pengaruhnya sudah merambah ke berbagai institusi. Soekarno pada saat itu mengumandangkan konsep Nasakom.
Tetapi di sisi lain, beliau juga menghadapi persoalan bagaimana membendung gerakan PKI yang semakin kuat. Maka muncul gagasan untuk membangun kekuatan sosial-politik yang dapat membendung pengaruh tersebut. Dari sinilah kemudian kita mengenal tiga organisasi yang menjadi bagian penting dalam sejarah awal Golkar: SOKSI, Kosgoro, dan MKGR.
Ketiganya memiliki sejarah yang sangat erat dengan unsur militer dan kelompok-kelompok masyarakat pada masa itu. Nama-nama seperti A.H. Nasution, Soeharto, dan Mas Isman juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah organisasi-organisasi tersebut.
Kemudian, ketika Orde Lama berakhir dan memasuki masa persiapan Pemilu 1971, muncul kebutuhan untuk menghimpun berbagai organisasi dalam satu wadah.”
Lahirlah Sekretariat Bersama Golongan Karya, atau Sekber
Di dalamnya terdapat banyak organisasi dan kelompok masyarakat. Ada Gakari, SOKSI, MKGR, Kosgoro, dan berbagai organisasi lainnya.
Sekber kemudian ikut dalam Pemilu 1971 dan dari sanalah perjalanan Golongan Karya sebagai kekuatan politik semakin berkembang hingga kemudian menjadi Partai Golkar.
Karena itu, kalau dikatakan bahwa Soekarno secara tidak langsung memiliki keterkaitan dengan proses lahirnya kekuatan yang kemudian menjadi Golkar, ada dasar sejarah yang bisa didiskusikan.
Tetapi kita juga harus memahami bahwa Soekarno sendiri memiliki sejarah politik yang sangat kuat dengan PNI.
Jadi sejarah itu harus kita lihat secara utuh. Jangan dipotong-potong.
Dari Golkar Lama Menuju Golkar Baru
Sejarah Golkar berjalan panjang. Selama Orde Baru, Golkar menjadi kekuatan politik utama selama kurang lebih 32 tahun.
Kemudian datang Reformasi 1998. Dan saya punya pengalaman pribadi dalam sejarah itu.
Tadi Ketua mengatakan bahwa gedung ini pernah menjadi salah satu target dalam kerusuhan Reformasi.
Bapak-Ibu mau tahu?
Salah satu yang ikut melempar molotov ke gedung ini adalah saya. Karena saat itu saya ikut demonstrasi. Saya ikut turun ke jalan. Saya ikut mendemo kantor ini.
Dan hari ini, orang yang dulu ikut melempar molotov itu malah menjadi Sekretaris DPD Golkar DKI Jakarta!
Ini fakta! Kenapa akhirnya saya berlabuh ke Golkar? Karena saya melihat Golkar mengalami transformasi.
Golkar Baru.
Dari Golkar yang dulu dipersepsikan sebagai kekuatan politik tertentu, berubah menjadi partai yang lebih terbuka.
Dari Golongan Karya menjadi Partai Golkar. Dari sistem yang lama menuju sistem yang lebih demokratis.
Dan itulah salah satu alasan saya memilih Golkar. Apa yang Harus Kita “Jual”? Kita harus tahu Golkar itu apa. Kita harus tahu kekuatan kita di mana.
Karena kalau kita tidak tahu kekuatan kita, bagaimana kita mau menjadikan kekuatan itu sebagai alat untuk memenangkan hati masyarakat?
Saya memilih Golkar karena ada beberapa hal yang menurut saya menjadi keunggulan.
Pertama: Golkar adalah partai yang terbuka.
Kita mengenal ada partai yang sering dipersepsikan sebagai partai keluarga. Ketua umumnya bapaknya.
Kemudian dari bapaknya turun, anaknya naik. Anaknya turun, cucunya naik.
Ada juga partai yang dianggap seperti perusahaan pribadi. Kalau bukan bagian dari lingkaran tertentu, jangan bermimpi menjadi ketua umum.
Ada juga partai yang identitasnya sangat kuat berdasarkan kelompok agama tertentu.
Tetapi di Golkar, kita punya pengalaman yang berbeda. Mau anak pejabat atau bukan anak pejabat. Mau aktivis. Mau berasal dari daerah mana pun. Mau dari etnis apa pun. Mau dari agama apa pun.
Di Golkar, siapa saja boleh bermimpi menjadi apa saja. Betul?
Audience: “Betul!”
Lihat saja perjalanan kita. Sebelumnya kita memiliki Ketua Umum seperti Airlangga Hartarto, seorang teknokrat dan anak pejabat.
Kemudian muncul Bahlil Lahadalia, anak dari Indonesia Timur, dengan perjalanan hidup yang berbeda.
Kalau bukan di partai yang terbuka, apakah perjalanan seperti itu mungkin? Itulah yang harus kita jual kepada masyarakat.
Katakan kepada mereka: “Saya di Golkar karena Golkar terbuka.”
Semua lapisan masyarakat boleh bergabung. Semua etnis boleh bergabung. Semua agama boleh bergabung. Semua orang boleh bermimpi.
Kedua: Golkar adalah Partai Demokrasi
Yang kedua: Golkar adalah partai yang menjalankan demokrasi. Salah satu ciri demokrasi adalah pemilihan. Kalau tiba-tiba ketua umum mengatakan:
“Ketua DKI, Basri saja. Yang lain tidak boleh memilih.”
Ada demokrasi? Tidak ada. Kalau ketua RW tiba-tiba menunjuk siapa yang menjadi ketua RT tanpa proses pemilihan, apakah itu demokrasi? Tidak.
Karena salah satu ciri demokrasi adalah adanya proses pemilihan. Dan di Golkar, dari tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, sampai nasional, kita memiliki mekanisme pemilihan kepemimpinan.
Memang ada musyawarah mufakat. Tetapi musyawarah mufakat juga merupakan bagian dari demokrasi.
Jadi ini juga menjadi bagian dari “jualan” kita: Golkar adalah partai yang terbuka dan demokratis.
Ketiga: Nasionalis
Yang ketiga adalah nasionalis. Apa arti nasionalis? Golkar bukan partai agama tertentu. Golkar adalah partai semua golongan. Semua agama. Semua etnis. Semua lapisan masyarakat.
Dan kita berpedoman teguh pada ideologi bangsa: Pancasila. Kita berdiri di atas kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Keempat: Religius
Yang terakhir adalah religius. Ini penting dibedakan. Golkar bukan partai agama.
Tetapi Golkar adalah partai yang religius. Artinya, kita mengakui keberadaan Tuhan dan menghormati kehidupan beragama.
Golkar bukan tempat bagi orang yang menganut ateisme atau komunisme. Tetapi pada saat yang sama, Golkar tidak mengklaim dirinya sebagai partai milik satu agama tertentu.
Karena Golkar adalah rumah bagi seluruh rakyat Indonesia yang beragama.
Jadi empat hal ini yang harus menjadi bahan “jualan” kader:
1. Terbuka.
2. Demokratis.
3. Nasionalis.
4. Religius.
Kalau ada orang bertanya: “Lu kenapa masuk Golkar?”
Kader kita harus bisa menjawab dengan empat alasan itu.
Jangan cuma jawab: “Ya karena diajak teman.”
Jangan cuma: “Karena saya dapat posisi.”
Jangan. Kita harus punya alasan ideologis. Kita harus tahu kenapa kita berada di sini.
Jangan Biarkan Golkar Hanya Dikenal sebagai Partai Masa Lalu
Ini yang harus kita gaungkan dalam pengkaderan. Dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, sampai kelurahan. Karena di bawah masih banyak masyarakat yang memiliki stigma:
“Golkar itu partainya Orde Baru.” Masih banyak yang berpikir seperti itu.
Mereka belum memahami bahwa Golkar hari ini adalah Golkar Baru. Maka tugas kita adalah memberikan informasi yang benar.
Jelaskan bahwa Golkar telah mengalami perjalanan panjang. Golkar hari ini adalah partai yang hidup dalam alam demokrasi Reformasi.
Kekuatan Besar Golkar: Ormas dan Sayap Partai
Bapak-Ibu sekalian.
Kita punya kekuatan yang luar biasa. Kita punya sejarah pendiri yang kuat. Ada Kosgoro, MKGR, dan SOKSI.
Kemudian ada organisasi yang dilahirkan Partai Golkar, seperti Al Hidayah, Satkar Ulama, HWK, MDI, dan Majelis Dakwah.
Kita juga punya organisasi sayap seperti AMPI dan KPPG. Ini kekuatan besar.
Dan jangan kita anggap kecil. Karena tidak mungkin sebuah partai mendirikan organisasi tanpa tujuan.
Dari lima organisasi yang dilahirkan Partai Golkar itu, tiga di antaranya merupakan organisasi keagamaan. Artinya apa?
Kita tidak bisa mengatakan Golkar sebagai partai agama. Tetapi kita bisa mengatakan bahwa Golkar memiliki karakter yang religius. Karena partai ini memberi ruang besar bagi kehidupan keagamaan.
Data Pemilu Menunjukkan Golkar Naik
Sekarang kita bicara data. Jangan hanya bicara perasaan. Kita lihat fakta.
Pada Pemilu 2019 dan 2024, suara Golkar di Jakarta mengalami kenaikan. Dari sekitar 300 ribu suara menjadi sekitar 500 ribu suara. Ada partai yang turun.
PDIP misalnya, mengalami penurunan suara. Gerindra juga mengalami penurunan.
Sementara Golkar mengalami kenaikan. Dan kenaikan suara itu kemudian berpengaruh kepada jumlah kursi.
Dari enam kursi menjadi sepuluh kursi. Ini sejarah.
Setelah Reformasi, Golkar pernah mendapatkan tujuh kursi, delapan kursi, enam kursi, sembilan kursi. Sekarang kita mendapatkan sepuluh kursi.
Ini merupakan capaian kursi terbesar Golkar Jakarta setelah Reformasi 1998. Jadi kita harus bersyukur. Tetapi jangan puas.
Karena kemenangan hari ini bukan tujuan akhir. Ini baru modal.
Target Golkar Jakarta Menuju 2029
Sekarang pertanyaannya: Kita mau apa? Dengan data dan fakta yang sudah kita lihat, kita harus menentukan target.
Di DKI Jakarta ada sepuluh daerah pemilihan. Target optimistis kita adalah: Satu dapil dua kursi.
Artinya, kita harus bekerja lebih keras. Target realistis kita adalah 15 kursi. Artinya, ada lima dapil yang harus mampu menghasilkan dua kursi.
Dan di sinilah peran ormas menjadi sangat penting. SOKSI harus memperkuat basisnya. Kosgoro harus memperkuat basisnya. MKGR harus memperkuat basisnya. Al Hidayah harus memperkuat basisnya. HWK harus memperkuat basisnya.
Organisasi-organisasi kita harus tahu: Di mana wilayah kekuatan kita?
Karena membangun struktur bukan sekadar membangun organisasi. Membangun struktur adalah investasi politik.
Lima Tahun ke Depan, Ormas Harus Bergerak
Lima tahun lalu mungkin kita belum terlalu peduli dengan ormas. Tetapi lima tahun ke depan, saya ingin ormas menjadi semakin kuat.
Harus ada.
Harus aktif.
Harus solid.
Karena kader-kader ormas kita harus mampu menembus gedung dewan. Jangan hanya Kosgoro, MKGR, dan SOKSI. Kita ingin Al Hidayah punya kader. Kita ingin HWK punya kader.
Kita ingin organisasi-organisasi lain punya kader yang duduk di parlemen. Tetapi ormas juga harus amanah.
Kalau ada kader Golkar yang maju, ada kader ormas yang maju, ya pilih kader kita. Jangan karena ada orang lain yang memberikan uang lebih banyak, kemudian kader sendiri ditinggalkan.
Kalau seperti itu, kapan kader ormas bisa menjadi anggota dewan?
Strategi Penggalangan: Sekasur, Sedapur, Sesumur, Selembur
Ujung dari semua strategi ini adalah satu: Kita harus mampu menggalang suara.
Semakin banyak ormas bergerak, semakin banyak struktur di masyarakat. Semakin banyak struktur, semakin banyak kader. Semakin banyak kader, semakin banyak orang yang mencari suara.
Bayangkan kalau kita punya sepuluh ormas dan semuanya bergerak sampai tingkat RT. Ditambah struktur partai. Maka di satu RT kita bisa memiliki sebelas kader penggerak.
Lalu bagaimana cara menggalang suara?Saya punya konsep sederhana.
Namanya: Sekasur. Sekasur itu siapa? Suami dan istri. Bukan selingkuhan!
Audience tertawa.
Kalau kita sebagai kader Golkar, orang pertama yang harus kita yakinkan adalah pasangan hidup kita.
Masa orang lain mau kita yakinkan masuk Golkar, tetapi pasangan sendiri tidak bisa kita yakinkan?
Kalau sekasur sudah aman, kita masuk ke: Sedapur.
Sedapur adalah keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Suami, istri, anak, keponakan, mertua, bahkan mantan suami atau mantan istri kalau masih tinggal serumah!
Ada? Ada! Jangan salah. Jadi pastikan keluarga kita dulu.
Jangan sampai kita bicara soal memenangkan rakyat, tetapi keluarga sendiri berbeda pilihan.
Setelah dapur selesai, kita masuk: Sesumur.
Artinya lingkungan sekitar. Tetangga kiri. Tetangga kanan. Satu RT. Dua RT. Gunakan keluarga. Gunakan istri. Gunakan suami. Gunakan anak. Pelan-pelan galang satu TPS.
Kemudian setelah tetangga selesai:
1. Selembur.
2. Sekampung.
3. Sedesa.
4. Se-RW.
Inilah prinsip penggalangan suara dari bawah. Tidak perlu berpikir terlalu rumit.
Mulai dari orang yang paling dekat. Dari rumah. Kemudian keluarga. Tetangga. Lingkungan. Sampai akhirnya masyarakat yang lebih luas.
Strategi Golkar Jakarta
Karena itu, strategi Partai Golkar Jakarta ke depan harus jelas. Kita kuatkan pengurus. Kita kuatkan pengurus ormas. Kita kuatkan pengurus partai. Target kita sampai tingkat RT.
Setelah struktur sampai RT terbentuk, kita bentuk saksi. Saksi caleg juga sangat penting. Kemudian kita kuatkan program sosial kemasyarakatan.
Dan jangan lupa: Optimalisasi media sosial. Betul kata Ketua. Kita bekerja satu kali, tetapi kalau dikomunikasikan dengan baik melalui media sosial, masyarakat bisa melihatnya seperti kita bekerja seribu kali.
Inilah zamannya. Mau tidak mau kita harus ikut. Jangan Bekerja Sendiri Partai tidak bisa bekerja sendiri. Ormas juga tidak bisa berjalan sendiri. Struktur partai harus ada. Struktur ormas harus ada.
Kalau semuanya bergerak maksimal, maka di setiap RT kita punya kader penggerak. Mereka mencari suara. Mereka menyampaikan program.
Mereka menjelaskan siapa Golkar. Mereka memperkenalkan calon-calon kita. Mereka menjadi wajah Golkar di masyarakat.
Karena pada akhirnya politik itu bukan hanya soal baliho. Bukan hanya soal spanduk. Bukan hanya soal kampanye. Politik adalah soal hubungan dengan manusia.
Jangan Anti Politik
Saya ingin menutup dengan satu kalimat: “Partai politik adalah pilar demokrasi. Jika kita anti terhadap partai politik, maka sama saja kita anti terhadap demokrasi.”
Betul?
Audience: “Betul!”
Kenapa politik selalu dikesankan negatif? Kenapa politik selalu dianggap kotor? Politik itu sebenarnya tidak kotor. Yang membuat politik terlihat kotor adalah orang-orang yang menjalankannya secara kotor.
Karena terlalu banyak orang baik yang memilih tidak masuk politik. Akhirnya ruang politik diisi oleh orang-orang yang tidak baik.
Maka kalau kita ingin politik menjadi lebih baik, apa yang harus kita lakukan? Orang baik harus masuk politik. Jangan menyerahkan politik hanya kepada orang-orang yang kita anggap kotor.
Kalau kita ingin memperbaiki politik, masuklah ke dalamnya. Kalau kita ingin demokrasi menjadi sehat, ikutlah membangun demokrasi. Karena kehidupan kita sehari-hari tidak pernah benar-benar terlepas dari politik.
1. Harga kebutuhan pokok dipengaruhi kebijakan politik.
2. Pendidikan dipengaruhi keputusan politik.
3. Transportasi dipengaruhi kebijakan politik.
4. Kesehatan dipengaruhi kebijakan politik.
5. Lapangan pekerjaan juga berkaitan dengan kebijakan politik.
Jadi jangan bilang: “Saya tidak mau politik.”
Karena politik tetap akan memengaruhi kehidupan kita. Yang lebih tepat adalah: Jangan anti politik.
Dan jangan anti partai politik. Karena keberadaan partai politik merupakan salah satu bukti bahwa negara kita menjalankan demokrasi.
Kalau kita anti terhadap partai politik, maka pada akhirnya kita juga sedang mempertanyakan salah satu pilar demokrasi. Karena itu, mari kita tunjukkan bahwa politik bisa menjadi jalan pengabdian.
Mari kita buktikan bahwa partai politik bisa menjadi tempat orang-orang baik bekerja.
Dan mari kita buktikan bahwa Golkar bisa hadir sebagai partai yang:
1. Terbuka.
2. Demokratis.
3. Nasionalis.
4. Religius.
Dengan satu pegangan: Suara Rakyat, Suara Golkar.
Dengan satu semangat: Golkar Solid, Indonesia Maju!
Dan dengan satu tujuan: Golkar Menang!
Menang!
Menang!
Menang!
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Audience: Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
(Tepuk tangan meriah.)






