Dulu Demo dan Lempar Molotov ke Kantor Golkar, Kini Basri Baco 3 Kali Jadi Sekretaris hingga Jadi Elite Beringin

JAKARTA – BELA RAKYAT –  Ada cerita yang tak biasa di balik perjalanan politik Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta sekaligus Sekretaris DPD Partai Golkar DKI Jakarta,L Basri Baco.

Puluhan tahun lalu, ketika gelombang Reformasi 1998 mengguncang Indonesia, Basri Baco mengaku berada di barisan mahasiswa yang turun ke jalan dan ikut mendemo kantor Partai Golkar.

Bacaan Lainnya

Bahkan, dalam sebuah pidatonya di hadapan kader Golkar Jakarta, Basri secara terbuka mengungkapkan bahwa dirinya pernah ikut melempar bom molotov ke gedung Golkar saat demonstrasi Reformasi.

Hari ini, sosok yang pernah berada di seberang pagar demonstrasi itu justru berdiri di dalam rumah politik Golkar.

Bukan sekadar menjadi kader biasa, Basri kini dipercaya sebagai Sekretaris DPD Partai Golkar DKI Jakarta dan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta.

Perjalanan itu menjadi salah satu bagian menarik dari kisah politik Basri Baco. Beginu veritanya.

“Bapak-Ibu mau tahu? Salah satu yang melempar molotov ke gedung ini adalah saya. Karena pada saat itu saya ikut mendemo kantor ini,” kata Basri dalam pidatonya, mengenang masa Reformasi 1998 di depan Sarasehan Kebangsaan Ormas Hasta Karya dan Sayap Partai Golkar DKI Jakarta di Kantor Golkar, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026).

Menurut Basri, saat itu dirinya bersama sejumlah mahasiswa melakukan demonstrasi di depan kantor Golkar.

“Dan hari ini yang melempar molotov itu jadi Sekretaris DPD. Ini fakta!” ujarnya, disambut respons dan tepuk tangan audiens.

Dari Demonstran Menjadi Orang Dalam

Perjalanan Basri tersebut memperlihatkan sebuah ironi sekaligus transformasi politik yang menarik.

Gedung yang dahulu menjadi sasaran aksi demonstrasi, kini justru menjadi bagian dari ruang perjuangannya sebagai politisi.

Basri mengatakan salah satu alasan dirinya kemudian memilih bergabung dan berlabuh ke Golkar adalah karena ia melihat adanya perubahan besar dalam tubuh partai tersebut setelah Reformasi.

Ia menyebutnya sebagai “Golkar Baru.”

Menurut Basri, Golkar telah mengalami transformasi dari kekuatan politik pada masa Orde Baru menjadi partai yang lebih terbuka dan demokratis di era Reformasi.

“Kenapa saya berlabuh ke Golkar? Karena pada saat itu Golkar sudah bertransformasi. Golkar Baru!” katanya.

Ia menggambarkan perubahan tersebut sebagai pergeseran dari Golongan Karya menuju Partai Golkar yang lebih terbuka.

“Dari Golongan Karya menjadi Partai Golkar,” ujarnya.

Bagi Basri, perubahan itu menjadi salah satu alasan penting mengapa dirinya kemudian memilih masuk ke partai berlambang pohon beringin tersebut.

Dulu Mengkritik, Kini Memimpin

Perjalanan politik Basri kemudian berkembang cukup jauh. Ia tidak hanya menjadi anggota Partai Golkar, tetapi juga aktif dalam struktur organisasi dan sayap partai.

Basri tercatat menjadi Ketua MKGR DKI Jakarta serta menduduki posisi penting dalam kepengurusan Golkar Jakarta. Di tingkat legislatif, perjalanan politiknya juga terus meningkat.

Partai Golkar berhasil memperoleh 10 kursi DPRD DKI Jakarta pada Pemilu 2024, naik dari enam kursi pada periode sebelumnya. Perolehan tersebut membuat Golkar mendapatkan posisi pimpinan DPRD DKI Jakarta.

Basri kemudian dipercaya menduduki kursi Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta periode 2024–2029. Sementara di struktur partai, ia tetap menjadi salah satu figur penting Golkar Jakarta.

Pada 2025, Basri juga masih tercatat sebagai Sekretaris DPD Partai Golkar DKI Jakarta dan secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Ahmed Zaki Iskandar untuk kembali memimpin Golkar Jakarta.

Golkar yang Dulu Didemo, Kini Menjadi Rumah Politik

Dalam pidatonya, Basri tidak menutupi masa lalunya. Justru pengalaman tersebut ia jadikan bagian dari cerita mengenai transformasi Golkar.

Ia mengakui bahwa dulu dirinya memandang Golkar dengan perspektif berbeda. Namun, setelah Reformasi, ia melihat adanya perubahan dalam tubuh partai.

Bagi Basri, Golkar hari ini tidak lagi bisa dilihat hanya dari kacamata sejarah Orde Baru.

“Di bawah itu masih banyak yang berstigma, berpikir bahwa Golkar itu partainya Orde Baru,” kata Basri.

Menurut dia, persepsi tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi kader Golkar.

Sebab, kata Basri, masyarakat perlu memahami bahwa Golkar hari ini adalah Golkar yang telah mengalami perubahan.

Ia menyebutnya sebagai Golkar Baru. Karena itu, salah satu tugas kader adalah menjelaskan transformasi tersebut kepada masyarakat.

Empat Hal yang Menurut Basri Harus Dijual Golkar

Basri kemudian memaparkan empat hal yang menurutnya harus menjadi identitas sekaligus bahan komunikasi politik Golkar kepada masyarakat.

Pertama, Golkar adalah partai yang terbuka.

Kedua, Golkar adalah partai yang demokratis.

Ketiga, Golkar adalah partai nasionalis.

Keempat, Golkar adalah partai yang religius.

Menurut Basri, empat poin tersebut harus mampu dijelaskan oleh setiap kader.

“Kalau ditanyakan, ‘Lu kenapa di Golkar?’ dia bisa jawab empat poin itu,” katanya.

Bagi Basri, seorang kader tidak cukup hanya mengetahui nama partainya. Kader harus mengetahui alasan mengapa dirinya memilih Golkar.

Dengan demikian, kader tidak hanya menjadi pengurus secara administratif, tetapi juga mampu menjadi komunikator politik di tengah masyarakat.

Siapa Saja Boleh Bermimpi”

Basri juga melihat keterbukaan sebagai salah satu kekuatan Golkar. Ia menilai Golkar memiliki ruang yang memungkinkan siapa pun, dari berbagai latar belakang, untuk berkarier dan memiliki cita-cita politik.

Ia bahkan menjadikan perjalanan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia sebagai contoh. Menurut Basri, perjalanan Bahlil menunjukkan bahwa Golkar memungkinkan seseorang dari luar lingkaran elite politik tradisional untuk mencapai posisi tertinggi di partai.

“Siapa saja boleh bermimpi menjadi apa saja,” tegasnya. Kalimat itu sekaligus menjadi bagian dari narasi yang ingin dibangun Basri tentang Golkar pasca-Reformasi.

Partai yang dulu ia datangi sebagai demonstran, kini justru menjadi kendaraan politik tempat dirinya membangun karier dan memperjuangkan gagasan.

Dari Jalanan ke Gedung DPRD

Jika perjalanan itu ditarik dalam satu garis panjang, ada perubahan posisi yang sangat kontras.

Dulu Basri berada di jalanan sebagai bagian dari gerakan mahasiswa yang menentang kekuasaan dan mendemo kantor Golkar.

Kini ia berada di gedung DPRD DKI Jakarta sebagai pimpinan lembaga legislatif sekaligus elite partai.

Dulu ia datang ke kantor Golkar sebagai demonstran. Kini ia datang sebagai pengurus partai.

Dulu ia berada di luar pagar. Kini ia berada di dalam struktur organisasi.

Namun bagi Basri, perubahan itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Justru ia menjadikannya cerita tentang perjalanan, perubahan zaman, dan transformasi politik.

Perjalanan Basri juga menunjukkan bahwa politik tidak selalu berjalan lurus. Seseorang bisa saja berada di luar sebuah partai pada satu masa, kemudian bertahun-tahun kemudian justru menjadi bagian penting dari partai tersebut.

Dan dalam kasus Basri, perubahan itu bahkan sampai pada posisi strategis. Ia kini bukan hanya kader.

Ia adalah Sekretaris DPD Partai Golkar DKI Jakarta sekaligus Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta.

Yang Penting Golkar Berubah”

Bagi Basri, kunci dari perjalanan tersebut adalah perubahan. Ia melihat Reformasi bukan hanya sebagai pergantian kekuasaan, tetapi juga sebagai momentum bagi partai politik untuk bertransformasi.

Golkar, menurut dia, harus terus menunjukkan bahwa partai tersebut merupakan bagian dari demokrasi Indonesia.

Karena itu, ia mendorong kader untuk tidak hanya membicarakan sejarah, tetapi juga memperlihatkan apa yang dilakukan Golkar hari ini.

“Suara rakyat, suara Golkar,” menjadi salah satu slogan yang ia tekankan dalam pidatonya.

Menurut Basri, setiap kader yang duduk di legislatif maupun eksekutif harus menjadikan aspirasi rakyat sebagai dasar dalam berbicara dan mengambil sikap.

Dengan begitu, Golkar tidak hanya menang dalam pemilu, tetapi juga memperoleh kepercayaan masyarakat.

Sebuah Ironi Politik yang Menarik

Kisah Basri Baco pada akhirnya menjadi gambaran menarik tentang bagaimana politik bekerja.

Seseorang yang pernah berdiri di depan kantor Golkar dalam demonstrasi Reformasi, bahkan mengaku ikut melempar molotov, kini justru berada di dalam struktur partai tersebut.

1. Dari demonstran menjadi kader.

2. Dari pengkritik menjadi pengurus.

3. Dari jalanan menuju parlemen.

Dan dari orang yang dulu ikut mendemo kantor Golkar, kini Basri menjadi salah satu orang yang ikut menentukan arah politik Golkar Jakarta. Perjalanan itu memperlihatkan bahwa politik bukan ruang yang selalu hitam-putih.

Sikap politik seseorang dapat berubah seiring perubahan zaman, pengalaman, gagasan, dan perubahan institusi yang dihadapinya.

Basri sendiri memilih menjadikan masa lalu tersebut bukan sebagai sesuatu yang harus ditutup-tutupi. Ia justru menceritakannya di depan kader.

Sebab, mungkin ada satu pesan yang ingin disampaikan dari kisah tersebut:

1. politik adalah perjalanan.

2. Orang bisa berubah.

3. Partai bisa berubah.

4. Zaman bisa berubah.

Dan seseorang yang dahulu berada di luar pagar, suatu hari bisa saja berdiri di dalam rumah yang dulu ia kritik.

Basri Baco adalah salah satu contohnya. Hari ini, rumah itu bernama Partai Golkar.

Dan dari dalam rumah tersebut, Basri kini membawa satu seruan: “Suara Rakyat, Suara Golkar.”

Sementara target politiknya bersama Golkar Jakarta untuk masa mendatang juga semakin jelas: Golkar solid, Indonesia maju. Golkar menang, menang, menang.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *