Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Maulid Rasulullah SAW. bukan sekadar mengenang kelahiran manusia agung, tetapi momentum menghidupkan kembali akhlak kenabian di tengah masyarakat yang semakin mudah terhubung, namun semakin mudah terbelah. Setelah mencintai Rasulullah SAW. sudahkah akhlaknya hadir dalam cara kita berbicara, berbeda, mengkritik, memaafkan, dan memperlakukan sesama?
Rasulullah SAW. lahir di tengah masyarakat yang sarat fanatisme kesukuan. Ego kabilah sering mengalahkan kebenaran, perbedaan mudah menjadi permusuhan, dan dendam diwariskan lintas generasi. Beliau hadir bukan untuk menambah bara, tetapi menjadi air, bukan memperlebar jarak, melainkan membangun jembatan.
Ketika kabilah Quraisy berselisih tentang peletakan Hajar Aswad, Rasulullah SAW. menghadirkan solusi yang membuat semua pihak merasa dihargai. Konflik yang hampir menjadi pertumpahan darah berubah menjadi kebersamaan. Inilah Rasulullah SAW: manusia solutif, katalisator, sekaligus mediator. Di Madinah, beliau mempersaudarakan Muhajirin dan Ansar serta membangun kehidupan bersama di tengah keberagaman, mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus dihapus, tetapi dikelola dengan keadilan, penghormatan, dan persaudaraan.
Al-Qur’an menggambarkan kelembutan beliau:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”(QS. Ali ‘Imran: 159)
Dan ketika menghadapi keburukan:
اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ
“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik.”(QS. Fussilat: 34)
Beliau dihina, ditolak, disakiti, bahkan diserang, tetapi luka tidak dijadikannya alasan untuk menanam kebencian. Beliau memutus mata rantai permusuhan dengan akhlak, bukan memperpanjangnya dengan dendam. Bukankah kita sering melakukan sebaliknya? Satu kalimat dibalas dengan sepuluh kalimat, satu kritik dianggap serangan, satu perbedaan berubah menjadi permusuhan. Mungkin yang perlu kita ubah bukan dunia di sekitar kita, tetapi cara kita meresponsnya.
Indonesia yang Sedang Berjarak
Kerenggangan sosial hari ini tampak dalam berbagai bentuk. Perbedaan politik dapat menjadi permusuhan, kritik kepada pemerintah berubah menjadi penghinaan, sementara dukungan kepada pemerintah kadang membuat orang kehilangan keberanian untuk mengoreksi. Padahal, mengkritik pemerintah bukan berarti membenci negara, dan mendukung pemerintah bukan berarti membenarkan semua kebijakan. Kebijakan yang keliru harus dikritik dan yang merugikan rakyat harus dikoreksi, tetapi kritik hendaknya berbasis data dan kepentingan publik, bukan fitnah atau kebencian.
Pemerintah perlu melihat kritik sebagai cermin, bukan ancaman, masyarakat perlu memahami bahwa tidak setiap perbedaan harus menjadi pertarungan. Kita membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok, penyejuk daripada penyulut, mediator daripada provokator, dan pembawa solusi daripada pembawa kebencian.
Dalam kehidupan antaragama pun demikian. Keteguhan aqidah tidak mengharuskan hilangnya kemanusiaan. Kita dapat berbeda keyakinan tanpa saling membenci, berbeda pandangan tanpa kehilangan persaudaraan, dan berbeda pilihan tanpa memutus silaturahmi.
Maulid yang Mengubah
Maulid yang paling indah bukan yang paling megah acaranya, tetapi yang paling nyata mengubah akhlaknya. Setelah Maulid, apakah kita menjadi lebih lembut, mudah memaafkan, santun ketika mengkritik, hati-hati berbicara, dan dewasa menghadapi perbedaan? Jika belum, jangan-jangan kita baru merayakan kelahiran Rasulullah SAW.,tetapi belum menghadirkan akhlaknya.
Cinta kepada Rasulullah SAW. bukan hanya shalawat di lisan, tetapi kelembutan dalam ucapan, keadilan dalam sikap, kebijaksanaan dalam perbedaan, dan kasih sayang dalam memperlakukan sesama. Rasulullah SAW. telah wafat, tetapi akhlaknya tidak boleh ikut wafat, beliau telah meninggalkan kita, tetapi rahmatnya harus tetap hidup di tengah kita.
Maka, di zaman yang mudah terbakar oleh kata-kata, marilah kita menjadi air, di tengah masyarakat yang berjarak, jadilah jembatan, di tengah perbedaan yang tajam, jadilah ruang untuk saling memahami.
Dan ketika amarah menguasai hati, tanyakanlah: “Jika Rasulullah SAW. berada di tempatku, apakah beliau akan merespons seperti yang sedang kulakukan?” Barangkali satu pertanyaan itu cukup menahan satu amarah, menyelamatkan satu persaudaraan, dan mengubah satu konflik menjadi perdamaian.
Itulah Maulid yang sesungguhnya, bukan sekadar memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi melahirkan kembali akhlaknya dalam diri kita, agar perbedaan tidak menjadi jurang, kritik tidak menjadi kebencian, dan kehidupan bersama kembali menemukan jalan menuju persaudaraan dan kedamaian.





