JAKARTA – BELA RAKYAT – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai perkembangan Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah wajah industri perfilman Indonesia menjadi sektor ekonomi kreatif, dari cara cerita dikembangkan hingga bagaimana dunia sinematik diproduksi dan disajikan kepada penonton. Kehadiran Bangkok Red Notice — The Series karya Wirang Birawa yang diproduksi dengan memanfaatkan teknologi AI menjadi salah satu contoh bahwa AI mulai bergerak dari sekadar alat eksperimen menjadi bagian dari proses produksi karya sinema. Proyek ini juga dikembangkan dengan investasi produksi yang mencapai ratusan juta rupiah, menunjukkan bahwa sinema berbasis AI mulai memiliki nilai ekonomi dan model produksi yang semakin serius.
Bangkok Red Notice — The Series menghadirkan sejumlah figur atau karakter di dalam film berbasis kecerdasan buatan (AI) yang disebut AI Avatar atau Metahuman dengan tokoh dan nama dari berbagai latar belakang, mulai dari politikus hingga selebriti dan figur publik Indonesia. Nama-nama yang terlibat dan muncul secara AI Avatar atau Metahuman antara lain Bambang Soesatyo, Rian D’MASIV, Tom Liwafa, Lutfi Agizal, Naufal, Wirang Birawa, Sovia Alexandra, Dodhi Wibowo, Billy, Kent, Cepot Kepin, Syarifa Husna, Hira Namira, dan E Yuwan.
“AI telah mengubah cara manusia menciptakan dan menikmati sinema. Dulu produksi film sangat bergantung pada kamera, lokasi, set, kru besar dan proses pascaproduksi yang panjang. Sekarang sebagian dari kebutuhan tersebut dapat dibantu teknologi AI. Ini membuka peluang bagi Indonesia untuk melahirkan lebih banyak kreator, mempercepat produksi, menekan biaya dan menciptakan dunia sinematik yang sebelumnya sulit diwujudkan,” ujar Bamsoet di Jakarta, Selasa (6/10/26).
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menuturkan, perkembangan AI cinema juga sudah menjadi fenomena global. World AI Film Festival di Cannes pada April 2026 menerima hampir 5.500 karya dari lebih dari 80 negara, meningkat tajam dibandingkan sekitar 1.300 karya dari 54 negara pada edisi sebelumnya. Festival tersebut secara khusus memberikan ruang bagi karya yang menggunakan teknologi generative AI dalam produksinya. Besarnya jumlah karya menunjukkan bahwa AI cinema mulai berkembang menjadi ekosistem kreatif internasional dan tidak lagi sekadar eksperimen individual.
“Indonesia jangan sampai hanya menjadi konsumen teknologi AI, sementara negara lain menjadi produsen karya dan pemilik kekayaan intelektualnya. Kita harus mulai membangun ekosistem AI cinema sendiri, dari pendidikan dan pelatihan kreator, infrastruktur komputasi, pengembangan talenta, pembiayaan, distribusi sampai perlindungan kekayaan intelektual. Kalau dikelola dengan serius, AI dapat menjadi instrumen baru ekonomi kreatif dan membuka lapangan kerja baru bagi penulis, animator, aktor, editor, musisi, pengembang teknologi dan berbagai profesi kreatif lainnya,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini mengingatkan, revolusi AI juga membawa persoalan hukum dan etika yang harus segera diantisipasi. Penggunaan wajah dan suara seseorang secara sintetis, kepemilikan karakter yang dihasilkan AI, hak cipta materi yang digunakan sebagai data pelatihan, transparansi terhadap penonton, serta perlindungan pekerja kreatif harus memperoleh kepastian hukum. Indonesia juga perlu memperkuat kebijakan agar inovasi tidak berkembang tanpa batas hingga merugikan pencipta maupun pemilik identitas. Regulasi tersebut harus menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi, kepentingan industri, hak kreator dan perlindungan publik.
“Kita jangan terjebak pada pilihan sederhana antara menerima atau menolak AI. Yang diperlukan adalah tata kelola yang cerdas. AI harus diberi ruang untuk berkembang, tetapi dengan batas yang jelas mengenai hak cipta, persetujuan penggunaan wajah dan suara, kepemilikan karya, transparansi dan perlindungan terhadap pekerja kreatif. Prinsipnya sederhana, teknologinya boleh maju, tetapi hukum dan etikanya juga harus ikut maju,” pungkas Bamsoet.






