SURABAYA – BELA RAKYAT – Akurasi prakiraan cuaca BMKG menjadi perhatian serius Komisi V DPR RI. Anggota Komisi V DPR RI Fadholi menilai keandalan data cuaca sangat ditentukan oleh dua faktor utama: kesiapan instrumen dan profesionalisme sumber daya manusia.
Hal itu disampaikan Fadholi saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI ke Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).
Menurut Legislator Dapil Jawa Tengah I tersebut, di era teknologi saat ini BMKG harus memastikan seluruh peralatannya masih layak dan tidak tertinggal.
“Akurasi data itu kuncinya ada dua, alat dan manusianya. Kita harus cek, peralatan ini masih memenuhi syarat atau tidak, jangan sampai ada yang sudah usang. Kita sekarang sudah di era teknologi,” kata Fadholi.
Ia juga menekankan pentingnya kompetensi pengolah data. Fadholi mengibaratkan tugas analis BMKG seperti juru masak yang mengolah bahan mentah menjadi informasi siap saji bagi masyarakat, terutama sektor pelayaran dan kelautan.
“Di sini kan tempat meramu data. Pertanyaannya, apakah semua pengolah datanya sudah profesional? Kalau juru masaknya tidak profesional, akibatnya bisa fatal. Makanya harus ada sertifikasi yang jelas,” tegasnya.
Untuk itu, Fadholi mendorong BMKG untuk aktif meningkatkan kapasitas SDM melalui program beasiswa, pelatihan, hingga studi banding ke luar negeri. Negara dengan sistem meteorologi maju seperti Jepang dinilai bisa menjadi rujukan.
“Bila perlu sekolahkan pegawai-pegawai teknis ke Jepang yang memang sudah mumpuni di bidang meteorologi, supaya mereka punya pengalaman dan wawasan lebih,” tambahnya.
Selain isu akurasi, Fadholi juga menyoroti aspek keselamatan di lingkungan stasiun. Ia menemukan ada tiang instrumen tinggi yang sudah tidak berfungsi di halaman depan kantor dan tidak dilengkapi penangkal petir.
“Di depan ada alat tinggi yang sudah tidak dipakai dan tidak ada penangkal petirnya. Itu sangat berisiko tersambar petir. Kalau memang sudah tidak terpakai, sebaiknya segera dicabut saja,” pungkasnya.






