TANGERANG SELATAN – BELA RAKYAT – Anggota Komisi V DPR RI Hamka B. Kady mewanti-wanti pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) agar tidak dilakukan tanpa kajian matang. Ia menilai survei keberadaan awan hujan wajib dilakukan sebelum penyemaian, agar anggaran miliaran rupiah tidak terbuang sia-sia.
Hal itu disampaikan Hamka usai Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI di Apartemen/Rusun Samesta Mahata Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (28/8/2026).
Menurut Hamka, tidak semua awan bisa disemai. Syarat utama hujan buatan adalah adanya awan yang mengandung air dalam jumlah cukup. Hal ini perlu dianalisis oleh tenaga ahli.
“Persoalannya penyemaian hujan buatan itu tidak mudah. Harus dilihat dulu di mana kumpulan awan yang mengandung hujan, kemudian diteliti,” ujarnya.
Ia menjelaskan, jika analisis menunjukkan awan mengandung air, barulah pesawat diterbangkan untuk menaburkan bahan semai seperti NaCl di atas awan untuk merangsang hujan.
“Kalau awannya tidak ada yang mengandung unsur air, bagaimana mungkin? Secara teknologi itu tidak bisa. Tidak sembarang juga harus minta kepada BMKG, minta hujan buatan. Tidak mudah,” tegas politisi Fraksi Golkar itu.
Hamka mengingatkan, setiap satu kali operasi penyemaian awan membutuhkan biaya hingga miliaran rupiah. Tanpa survei yang akurat, operasi berpotensi gagal.
“Harus disurvei dulu, awan mana yang mengandung air. Bayangkan berapa biayanya, miliaran satu kali penaburan itu. Kalau tidak dapat air, bagaimana? Itu membuang-buang uang,” katanya.
Ia juga menyinggung prakiraan BMKG terkait El Nino yang diperkirakan berlangsung panjang hingga awal Januari 2027. Meski begitu, beberapa daerah diprediksi sudah mulai memasuki musim hujan pertengahan September mendatang. Kondisi ini harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu pelaksanaan TMC.
“Kuncinya survei pertama. Ahlinya melihat, oh ini ada awan mengandung hujan, oke dilanjutkan,” tutupnya.






