Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Rasulullah SAW. pernah mengingatkan dengan sebuah kalimat yang singkat, tetapi mengguncang sendi-sendi peradaban:
إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Jika engkau tidak lagi memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)
Hadis ini bukanlah izin untuk berbuat semaunya, melainkan vonis terhadap manusia yang telah kehilangan benteng terakhir moralitasnya. Sebab ketika rasa malu telah mati, hati kehilangan penjaganya, akal kehilangan penuntunnya, dan hawa nafsu mengambil alih kemudi kehidupan.
Malu bukanlah kelemahan. Ia adalah cahaya yang menjaga martabat, rem yang menahan manusia dari kehinaan, dan suara hati yang masih hidup ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Karena itu, hilangnya rasa malu bukan sekadar hilangnya sebuah sifat, tetapi pertanda bahwa nurani mulai kehilangan daya hidupnya.
Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang tidak lagi takut berbuat salah, tetapi takut tidak dikenal. Dosa dipertontonkan, kebohongan dipoles menjadi pencitraan, fitnah dijadikan hiburan, dan kehormatan dipertaruhkan demi beberapa saat menjadi pusat perhatian. Yang dahulu disembunyikan karena memalukan, kini dipamerkan karena dianggap mendatangkan popularitas.
Lebih mengkhawatirkan lagi, rasa malu perlahan bergeser maknanya. Banyak orang malu hidup sederhana, tetapi tidak malu hidup dari korupsi. Malu terlihat miskin, tetapi tidak malu berutang demi gengsi. Malu tidak viral, tetapi tidak malu mengorbankan harga diri. Malu dikritik, tetapi tidak malu berbuat zalim. Inilah ironi ketika rasa malu kehilangan arah.
Padahal, setiap peradaban besar berdiri di atas pondasi akhlak. Ketika rasa malu dicabut dari suatu masyarakat, hukum menjadi kehilangan wibawa, agama kehilangan pengaruh, ilmu kehilangan keberkahan, dan kekuasaan kehilangan keadilan. Yang tersisa hanyalah perlombaan memenuhi hasrat tanpa batas dan kepentingan tanpa nurani.
Maka pertanyaan terbesar bukanlah, “Masihkah kita memiliki rasa malu di hadapan manusia?” Yang jauh lebih penting adalah, “Masihkah kita merasa malu di hadapan Allah?” Sebab orang yang masih memiliki rasa malu kepada Tuhannya akan menjaga lisannya, tangannya, hartanya, jabatannya, bahkan pikirannya, meskipun tidak ada seorang pun yang menyaksikannya.
Sesungguhnya, kehancuran sebuah bangsa tidak selalu diawali oleh kemiskinan atau kebodohan. Sering kali ia dimulai ketika rasa malu telah menghilang dari hati manusia. Karena itu, selama rasa malu masih hidup, harapan untuk memperbaiki diri selalu ada. Namun jika rasa malu telah mati, maka yang tersisa hanyalah tubuh yang berjalan tanpa nurani dan peradaban yang perlahan kehilangan kemanusiaannya.
#Wallahu A’lam Bishawab🙏






