Festival Film Jelek Vol. 2, “Bertamasya”: Ketika Ruang Kreatif Menjadi Rumah Kebebasan Berekspresi yang Bertanggung Jawab

BOGOR | BELA RAKYAT — Di tengah derasnya arus industri perfilman yang kerap mengedepankan standar komersial dan kesempurnaan teknis, sebuah ruang alternatif hadir dengan semangat berbeda. Festival Film Jelek Vol. 2 ‘Bertamasya’ yang digelar di kawasan Cafe Dieu Geura, Kota Bogor, Sabtu (11/7/2026), bukan sekadar panggung apresiasi karya, melainkan sebuah perayaan keberanian untuk berkarya tanpa rasa takut terhadap stigma, sekaligus menghidupkan kembali semangat literasi visual, kebudayaan, dan kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab.

Festival tersebut menjadi bukti bahwa kualitas sebuah karya tidak selalu diukur dari kemewahan produksi, melainkan dari keberanian menyampaikan gagasan, kejujuran dalam bertutur, serta kemampuan membangun ruang dialog di tengah masyarakat. Semangat itu selaras dengan Pasal 28C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menjamin hak setiap warga negara untuk mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pendidikan, ilmu pengetahuan, seni, dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya.

Mengusung tema yang unik dan jenaka, penyelenggara justru mengajak masyarakat melihat dunia perfilman dari perspektif yang lebih humanis. Julukan “film jelek” bukan dimaknai sebagai bentuk penghinaan terhadap karya, melainkan satire kreatif yang mengingatkan bahwa setiap insan memiliki hak yang sama untuk belajar, mencoba, gagal, lalu bangkit menjadi lebih baik. Di sanalah kreativitas menemukan makna sejatinya: keberanian melangkah sebelum menjadi sempurna.

Secara hukum, ruang kreatif seperti ini juga memperoleh landasan yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menegaskan bahwa negara berkewajiban memajukan kebudayaan nasional dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam berekspresi, berkreasi, serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan budaya. Selain itu, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman turut menempatkan perfilman sebagai bagian penting pembangunan karakter bangsa, pendidikan, hiburan, diplomasi budaya, hingga penguatan identitas nasional.

Sebagai inisiator, Festival Director sekaligus Penyelenggara Festival Film Jelek, Juan Hendri menuturkan bahwa penyelenggaraan tahun ini merupakan perjalanan kedua festival tersebut yang menjadi pijakan menuju penyelenggaraan Festival Film Jelek Vol. 3. Menurutnya, konsep “Bertamasya” sengaja diusung sebagai gerakan budaya yang akan berkeliling ke berbagai kota di Indonesia untuk membuka ruang-ruang kreatif baru bagi para sineas independen dan masyarakat.

“Festival kali ini merupakan perjalanan kami yang kedua kalinya menuju Festival Film Jelek Vol. 3. Kami sengaja menghadirkan konsep ‘Bertamasya’ agar festival ini dapat berkeliling dari kota ke kota di seluruh Indonesia, membangun ruang perjumpaan, kolaborasi, dan keberanian bagi siapa saja yang ingin berkarya. Saya secara pribadi merupakan aktor sinetron di beberapa layar kaca Indonesia yang merasa sedikit miris melihat kondisi industri perfilman nasional belakangan ini yang mengalami penurunan. Karena itu, kami ingin menghadirkan ruang alternatif yang mampu menumbuhkan kembali semangat berkarya tanpa harus dibatasi stigma ataupun standar komersial semata,” ujar Juan Hendri.

Juan Hendri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap terselenggaranya festival tersebut. Menurutnya, semangat gotong royong menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem perfilman independen yang sehat. Festival Film Jelek Bertamasya Vol. 2 ‘Bertamasya’ mendapat dukungan dari Komunitas Bahasinema, Anamorfilm, Radio Ardan, Nobiplay, serta berbagai komunitas kreatif, media partner, relawan, dan pegiat seni dari berbagai daerah yang bersama-sama menjaga denyut kreativitas tetap hidup di tengah tantangan industri perfilman nasional.

Sebagai Tamu Kehormatan dalam event tersebut, Dewan Pembina RUMAH HEBAT NUSANTARA, Cakranegara, menyampaikan apresiasi atas keberanian komunitas kreatif yang menghadirkan festival dengan konsep berbeda tersebut. Menurutnya, ruang seperti ini merupakan laboratorium gagasan yang melahirkan sineas-sineas masa depan.

“Jangan pernah takut disebut belum sempurna. Semua karya besar lahir dari proses panjang yang dipenuhi kegagalan. Festival ini mengajarkan bahwa keberanian berkarya jauh lebih mulia daripada memilih diam karena takut dikritik. Selama karya kita membawa nilai, etika, dan manfaat bagi masyarakat, maka ia layak mendapatkan tempat untuk diapresiasi,” ujar Cakranegara kepada awak media BelaRakyat.com, Sabtu (11/7/2026).

Sementara itu, Sigit Pradityo, selaku Sutradara Lord Rangga VS Titan, menegaskan bahwa kegiatan ini dibangun atas semangat kolaborasi lintas komunitas dan menjadi ruang belajar terbuka bagi siapa saja yang mencintai dunia kreatif.

“Festival ini bukan tentang mencari siapa yang paling hebat, melainkan siapa yang paling berani memulai. Kami ingin menghadirkan ruang yang inklusif, tempat semua orang dapat bertumbuh, berdiskusi, saling menguatkan, dan membangun ekosistem perfilman independen yang sehat, beretika, serta menjunjung tinggi nilai kebudayaan Indonesia,” ungkapnya.

Kehadiran berbagai komunitas, media partner, sponsor, dan pegiat seni dalam festival tersebut menunjukkan bahwa ekosistem perfilman nasional sesungguhnya tumbuh dari semangat gotong royong. Kolaborasi menjadi fondasi penting dalam menciptakan regenerasi sineas muda yang tidak hanya piawai secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap nilai-nilai kebangsaan sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan konstitusi negara.

Pada akhirnya, Festival Film Jelek Bertamasya Vol. 2 bukan hanya sebuah agenda hiburan, melainkan sebuah manifestasi bahwa kreativitas adalah hak konstitusional setiap warga negara. Ketika seni diberi ruang untuk tumbuh dengan tetap menghormati norma hukum, etika, dan keberagaman budaya, maka lahirlah generasi yang tidak sekadar mampu membuat film, tetapi juga mampu merawat peradaban. Sebab sejarah selalu mencatat, bukan mereka yang takut gagal yang mengubah dunia, melainkan mereka yang berani berkarya dengan hati, menjadikan setiap keterbatasan sebagai cahaya yang menerangi masa depan.
(CP/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *