Bulukumba Tidak Cukup Hanya Menciptakan UMKM. Kita Harus Mencetak Perusahaan, Investasi, dan Lapangan Kerja
Oleh: Syafruddin Mualla, CEO Mualla Group | Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
Bulukumba tidak kekurangan potensi ekonomi. Persoalannya adalah bagaimana potensi itu diubah menjadi perusahaan, industri, lapangan kerja, dan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.
Kita memiliki pertanian, perkebunan, perikanan, rumput laut, kelapa, peternakan, pariwisata, perdagangan, hingga sejarah panjang industri maritim melalui Pinisi.
Ekonomi daerah juga terus bergerak. Pada 2025, PDRB Bulukumba mencapai sekitar Rp21,63 triliun, dengan pertumbuhan ekonomi 4,44 persen.
Tetapi pertumbuhan ekonomi bukanlah tujuan akhir. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang lahir dari pertumbuhan tersebut?
Apakah semakin banyak perusahaan yang tumbuh? Apakah investasi semakin besar? Apakah bahan baku lokal semakin banyak diolah menjadi produk bernilai tinggi? Apakah lapangan kerja produktif semakin luas? Dan yang paling penting, seberapa besar nilai tambah dari aktivitas ekonomi tersebut yang benar-benar tinggal dan berputar di Bulukumba?
Di sinilah kita harus mulai melihat ekonomi Bulukumba dengan cara yang berbeda.
Kita sudah memiliki aktivitas ekonomi yang besar dan puluhan ribu pelaku usaha. Namun, jika sebagian besar usaha masih bertahan pada skala mikro dan basis industri pengolahan masih terbatas, maka pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya berubah menjadi kekuatan ekonomi yang lebih besar.
Kita tidak cukup hanya menghitung berapa banyak orang yang berusaha. Kita harus mulai menghitung berapa banyak usaha yang berhasil naik kelas menjadi perusahaan.
Karena perusahaan memiliki kemampuan lebih besar untuk menarik investasi, membuka pasar, menyerap tenaga kerja, membangun rantai pasok dan menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan.
Karena itu, saya menawarkan satu gagasan yang sederhana, terukur, tetapi berani: Bulukumba Melahirkan 100 Perusahaan Baru Setiap Tahun
Dari UMKM Naik Kelas Menjadi Perusahaan
Data SIDT UMKM menunjukkan terdapat 55.811 UMKM di Bulukumba, terdiri dari 55.549 usaha mikro, 218 usaha kecil, dan 44 usaha menengah.
Angka tersebut adalah kekuatan ekonomi yang luar biasa. Tetapi sekaligus menunjukkan tantangan kita: sebagian besar pelaku usaha masih berada pada skala mikro.
Maka pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak UMKM yang kita miliki. Berapa banyak yang naik kelas?
Berapa banyak yang mampu memperbesar omzet, memperluas pasar, menyerap tenaga kerja, masuk ke rantai pasok perusahaan dan akhirnya tumbuh menjadi perusahaan?
Kita tentu tidak perlu mengubah seluruh 55.811 UMKM menjadi perusahaan.
Kita perlu menemukan usaha-usaha terbaik yang memiliki potensi untuk tumbuh, lalu memberi mereka akses terhadap pembiayaan, pasar, teknologi, legalitas, pendampingan dan kemitraan.
Target 100 perusahaan baru setiap tahun hanya sekitar 0,18 persen dari jumlah UMKM yang ada. Artinya, target ini bukan sesuatu yang mustahil.
Jika konsisten selama lima tahun, Bulukumba berpotensi melahirkan 500 perusahaan baru.
Tetapi perusahaan yang dimaksud bukan sekadar badan usaha yang berdiri di atas kertas. Yang kita targetkan adalah perusahaan yang legal, aktif, memiliki pasar, menghasilkan omzet, menyerap tenaga kerja dan memiliki kemampuan untuk berkembang.
Dan penting ditegaskan, 100 perusahaan baru per tahun bukan target resmi pemerintah. Ini adalah gagasan dan target kebijakan yang saya tawarkan untuk menjadi agenda bersama pembangunan ekonomi Bulukumba.
Mengapa Harus Perusahaan?
Karena satu perusahaan tidak berdiri sendiri. Perusahaan membutuhkan tenaga kerja, bahan baku, transportasi, gudang, pembiayaan, teknologi, pemasaran, distributor dan berbagai jasa pendukung.
Artinya, ketika satu perusahaan tumbuh, banyak usaha lain ikut memperoleh peluang. Di situlah efek ekonomi yang lebih besar tercipta.
Karena itu, kita harus membangun rantai naik kelas:
Dari pedagang menjadi pengusaha.
Dari usaha menjadi perusahaan.
Dari perusahaan menjadi industri.
Dari industri menjadi lapangan kerja dan nilai tambah.
Inilah transformasi ekonomi yang harus mulai kita bangun.
Bulukumba Harus Memperbesar Basis Industri
BPS mencatat, dalam kategori industri manufaktur besar dan sedang, Bulukumba memiliki 9 perusahaan, terdiri dari 1 industri besar dan 8 industri sedang.
Angka ini bukan jumlah seluruh perusahaan yang ada di Bulukumba. Namun, angka tersebut memberi gambaran bahwa basis industri manufaktur skala menengah dan besar kita masih terbatas.
Padahal, Bulukumba memiliki bahan baku dan potensi pasar yang besar. Karena itu, kita tidak boleh selamanya menjadi daerah yang menghasilkan bahan mentah lalu melihat nilai tambahnya tercipta di tempat lain.
Kita harus membangun lebih banyak perusahaan yang mengolah bahan baku, menghasilkan produk, menciptakan merek, membuka pasar dan menyerap tenaga kerja.
Dari Komoditas Menjadi Industri
Pertanian, kehutanan dan perikanan yang menjadi bagian penting dari struktur ekonomi Bulukumba seharusnya tidak hanya dilihat sebagai sektor penyedia bahan baku.
Di dalamnya terdapat peluang industrialisasi. Rumput laut harus semakin banyak diolah menjadi produk bernilai tinggi.
Kelapa harus dikembangkan menjadi berbagai produk turunannya. Hasil perikanan membutuhkan industri pengolahan, cold storage dan rantai distribusi yang kuat.
Hasil pertanian dapat dikembangkan melalui industri pangan dan agroindustri. Peternakan membutuhkan rantai pengolahan dan pemasaran yang lebih baik.
Begitu pula dengan sektor maritim. Pinisi jangan hanya menjadi kebanggaan budaya. Pinisi harus menjadi kekuatan ekonomi.
Galangan kapal, komponen kapal, jasa kemaritiman, logistik, perikanan dan wisata bahari merupakan bagian dari ekosistem ekonomi yang dapat terus dikembangkan.
Dengan demikian, kita tidak hanya menjual komoditas. Komoditas harus menjadi produk. Produk menjadi bisnis. Bisnis menjadi perusahaan. Perusahaan berkembang menjadi industri. Di situlah nilai tambah tercipta dan tinggal lebih lama di daerah.
Investasi Harus Menghasilkan Nilai Tambah
Bulukumba juga sudah menunjukkan kemampuan menarik investasi.
Realisasi investasi pada Semester I 2025 mencapai sekitar Rp233,2 miliar dari 210 proyek. Sampai Triwulan III 2025, realisasi investasi tercatat sekitar Rp243 miliar.
Ini menunjukkan bahwa Bulukumba memiliki daya tarik bagi investor. Namun, kita tidak boleh berhenti pada pertanyaan: berapa rupiah investasi yang masuk?
Kita harus bertanya lebih jauh. Berapa tenaga kerja lokal yang terserap? Berapa bahan baku lokal yang digunakan? Berapa UMKM yang masuk ke dalam rantai pasok? Berapa produk yang dihasilkan?
Dan yang paling penting: Berapa besar nilai tambah yang tinggal di Bulukumba?
Investasi yang baik bukan sekadar investasi yang masuk. Investasi yang baik adalah investasi yang menciptakan pekerjaan, menggerakkan usaha lokal, memperkuat rantai pasok dan memperbesar nilai tambah ekonomi daerah.
Perusahaan Adalah Mesin Pencipta Lapangan Kerja
Data ketenagakerjaan Agustus 2025 mencatat sekitar 264.045 orang bekerja di Bulukumba, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka sekitar 2,12 persen.
Sekitar 131.724 orang bekerja di sektor pertanian, 99.024 orang di sektor jasa, dan 33.297 orang di sektor industri.
Tingkat pengangguran yang rendah tentu patut diapresiasi. Tetapi pembangunan ekonomi tidak boleh berhenti pada pertanyaan apakah seseorang sudah bekerja atau belum.
Kita juga harus berbicara tentang produktivitas dan kualitas pekerjaan. Bagaimana meningkatkan pendapatan pekerja? Bagaimana menciptakan pekerjaan dengan keterampilan lebih tinggi? Bagaimana membuka lebih banyak peluang bagi generasi muda? Bagaimana memperbesar jumlah tenaga kerja yang masuk ke sektor industri, pengolahan, teknologi dan jasa bernilai tambah?
Salah satu jawabannya adalah memperbanyak perusahaan yang tumbuh sehat.
Semakin banyak perusahaan yang tumbuh, semakin besar pula ruang bagi terciptanya pekerjaan produktif.
Pemerintah Tidak Perlu Mendirikan 100 Perusahaan
Target 100 perusahaan baru tidak berarti pemerintah harus mendirikan 100 perusahaan.
Justru sebaliknya. Perusahaan harus lahir dari dunia usaha.
Pemerintah bertugas menciptakan ekosistem yang membuat masyarakat dan pelaku usaha berani mendirikan serta mengembangkan perusahaan.
Pemerintah membuka jalan. Dunia usaha membangun perusahaan. Perbankan memperkuat pembiayaan.
KADIN, APINDO, FKPB dan organisasi pengusaha membuka jaringan, pasar dan kemitraan.
Perguruan tinggi membantu inovasi dan menyiapkan sumber daya manusia. Petani, nelayan, koperasi dan UMKM menjadi bagian dari rantai pasok.
Investor membawa modal, teknologi dan akses pasar. Semua harus bergerak dalam satu ekosistem ekonomi yang sama.
APBD Harus Menjadi Pengungkit
Karena itu, APBD tidak perlu digunakan untuk mendirikan 100 perusahaan. APBD harus menjadi pengungkit, bukan pengganti modal swasta.
Anggaran daerah harus diarahkan pada hal-hal yang membuat dunia usaha semakin mudah tumbuh: infrastruktur, konektivitas, kemudahan berusaha, peningkatan keterampilan tenaga kerja, promosi investasi, pengembangan kawasan ekonomi dan pelayanan publik yang efisien.
Cara pandang terhadap anggaran juga perlu berubah. Pertanyaannya jangan hanya: Berapa besar anggaran yang kita belanjakan?
Tetapi: Berapa besar investasi swasta yang berhasil kita gerakkan? Berapa perusahaan baru yang lahir? Berapa lapangan kerja yang tercipta? Berapa banyak UMKM yang naik kelas?
Inilah ukuran pembangunan ekonomi yang harus mulai kita dorong.
Target Harus Diikuti Ukuran yang Jelas
Jika gagasan 100 perusahaan baru per tahun ingin dijadikan agenda pembangunan ekonomi, maka ukurannya harus jelas dan transparan.
Setiap tahun masyarakat harus dapat melihat:
– Berapa perusahaan baru yang lahir?
– Berapa UMKM yang naik kelas?
– Berapa investasi yang masuk?
– Berapa tenaga kerja yang terserap?
– Berapa perusahaan yang masuk ke rantai pasok industri?
– Berapa produk lokal yang masuk pasar nasional?
– Berapa yang berhasil menembus pasar ekspor?
Dengan indikator tersebut, pembangunan ekonomi tidak hanya dinilai dari banyaknya kegiatan atau besarnya anggaran yang dibelanjakan.
Ukuran akhirnya adalah perusahaan yang tumbuh, investasi yang masuk, industri yang berkembang, lapangan kerja yang tercipta dan pendapatan masyarakat yang meningkat.
Saatnya Bulukumba Naik Kelas
Bulukumba memiliki modal yang cukup untuk bergerak lebih jauh. Kita memiliki ekonomi Rp21,63 triliun, 55.811 UMKM, sumber daya alam, tenaga kerja, pasar, pengusaha dan kekuatan maritim.
Investasi juga terus bergerak. Sampai Triwulan III 2025, realisasinya telah mencapai sekitar Rp243 miliar.
Namun, semua itu baru akan menjadi kekuatan ekonomi yang lebih besar jika kita memiliki mesin penggerak. Dan salah satu mesin penggerak itu adalah perusahaan.
Karena itu, gagasan 100 perusahaan baru setiap tahun bukan sekadar mengejar angka.
Ini adalah ajakan untuk mengubah cara kita membangun ekonomi Bulukumba. Dari sekadar menciptakan usaha menjadi menciptakan perusahaan.
Dari menjual bahan mentah menjadi mengolahnya menjadi produk. Dari menjadi pasar menjadi produsen.
Dari menarik investasi menjadi memastikan investasi menciptakan pekerjaan dan nilai tambah.
Dari memiliki potensi menjadi mampu mengelola potensi tersebut menjadi kemakmuran.
Bayangkan jika dalam lima tahun Bulukumba melahirkan 500 perusahaan baru.
Bayangkan berapa banyak investasi yang bisa bergerak, berapa banyak tenaga kerja yang bisa terserap, berapa banyak UMKM yang dapat menjadi pemasok, dan berapa banyak produk lokal yang bisa masuk pasar nasional bahkan ekspor.
Itulah perubahan yang harus mulai kita bayangkan dan kerjakan hari ini.
Bulukumba tidak boleh hanya menjadi daerah yang kaya sumber daya tetapi menjualnya dalam bentuk bahan mentah.
Tidak boleh hanya memiliki banyak orang yang berdagang tetapi sedikit yang tumbuh menjadi perusahaan.
Tidak boleh hanya menjadi tempat berputarnya uang, tetapi harus menjadi tempat lahirnya perusahaan, tumbuhnya industri dan terciptanya kesejahteraan.
Karena masa depan Bulukumba tidak cukup ditentukan oleh seberapa besar potensi yang kita miliki.
Masa depan Bulukumba ditentukan oleh seberapa berani kita mengubah potensi menjadi perusahaan, perusahaan menjadi industri, dan industri menjadi kesejahteraan.
Maka, mari kita mulai dengan satu target yang sederhana, terukur dan berani:
100 PERUSAHAAN BARU SETIAP TAHUN.
Dari pedagang menjadi pengusaha.
Dari usaha menjadi perusahaan.
Dari komoditas menjadi industri.
Dari investasi menjadi lapangan kerja.
Dari potensi menjadi kemakmuran.
Bulukumba tidak boleh hanya tumbuh. Bulukumba harus naik kelas.






