SEVILLA – BELA RAKYAT – Real Madrid harus menelan pil pahit pertamanya musim ini. Sang juara bertahan LaLiga tumbang 1-0 dari Real Betis di Estadio La Cartuja, Sabtu (5/9/2026) dini hari WIB, dalam laga yang akan dikenang sebagai malam di mana tim bertabur bintang dipermalukan oleh tim pekerja keras.
Kekalahan ini mengakhiri perfect start pasukan Jose Mourinho, yang sebelumnya menyapu tiga kemenangan beruntun di awal musim LaLiga 2026/27. Di atas kertas, ini adalah David vs Goliath versi modern. Madrid datang dengan skuad senilai lebih dari 1,2 miliar euro, dihuni Kylian Mbappe, Vinicius Jr., dan Jude Bellingham. Betis hanya mengandalkan skuad sederhana dengan total nilai tak sampai seperempatnya.
Jalannya pertandingan seperti menonton film yang sama berulang-ulang. Real Madrid mendominasi total, menciptakan puluhan peluang, namun selalu mentah di depan gawang. Betis, yang musim lalu hanya finish papan tengah, memilih bertahan dengan 11 pemain di belakang bola dan menunggu satu keajaiban.
Keajaiban itu datang pada menit ke-81. Pelatih Betis memasukkan Troy Parrott, striker Irlandia yang merupakan pemain pengganti dan belum mencetak gol sama sekali musim ini. Dari sebuah serangan balik yang sederhana, Parrott melepaskan tembakan yang merobek jala Andriy Lunin. Gol yang mengubah skor menjadi 1-0 dan membungkam ribuan Madridista yang hadir.
Real Madrid panik. Mereka mengurung pertahanan Betis. Pada menit ke-87, sempat terjadi momen yang dikira menjadi penyelamat. Umpan luar kaki Vinicius Jr. disambut salto akrobatik Carlos Espi yang masuk ke gawang, namun VAR menganulirnya karena offside terlebih dahulu. Gol spektakuler itu hilang begitu saja, membuat para pemain Madrid semakin frustrasi.
Puncak drama terjadi jauh di masa injury time. Bek Betis, Natan, melakukan pelanggaran terhadap Vinicius di kotak penalti. Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih. Seluruh stadion menahan napas. Inilah momen penebusan bagi Real Madrid yang bertabur bintang.
Kylian Mbappe, sang eksekutor utama dan pemain termahal di dunia, maju sebagai algojo. Di depannya berdiri Alvaro Valles, kiper Betis yang musim lalu hampir terdegradasi dan didatangkan secara gratis. Duel harga 180 juta euro melawan kiper gratisan.
Dan yang mustahil terjadi. Valles membaca arah bola dengan sempurna dan menyelamatkan penalti Mbappe di detik-detik terakhir untuk mengamankan tiga poin bagi Betis. Penalti di masa tambahan waktu dari Kylian Mbappe berhasil diselamatkan untuk menjaga keunggulan dan mengamankan tiga poin.
Tangis pecah di bench Madrid. Kasihan melihat Los Blancos malam ini. Mereka memiliki segalanya: pelatih sekaliber Jose Mourinho, penyerang terbaik dunia, gelandang terbaik dunia, tapi mereka tidak punya satu hal yang dimiliki Betis malam ini – hati dan keberuntungan. Tim sederhana itu berlari 12 kilometer lebih banyak dari Madrid.
Menurut data ESPN, ini adalah kekalahan pertama Madrid sejak final musim lalu. Betis yang hanya melepaskan 3 tembakan tepat sasaran, mampu mengalahkan Madrid yang melepaskan 8 tembakan tepat sasaran. Statistik yang memalukan bagi tim sekelas Real Madrid.
Kini, Real Betis merayakan kemenangan bersejarah mereka seperti juara Liga Champions, sementara Real Madrid harus pulang dengan kepala tertunduk ke ibu kota, membawa luka bahwa di sepak bola, terkadang bintang-bintang di langit pun bisa kalah oleh satu lilin kecil yang menyala terang di Sevilla.





