Peringatan Surah Ar-Rum kepada Manusia

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalsel I

Ketika Kerusakan di Darat dan Laut Terjadi Karena Perbuatan Tangan Manusia, Akankah Kita Kembali kepada Allah?

Bacaan Lainnya

Saudaraku yang dirahmati Allah…

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca. Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan.

Ia berbicara tentang manusia, keluarga, masyarakat, ekonomi, kekuasaan, alam, sejarah, moral, kematian, kebangkitan, dan kehidupan akhirat.

Salah satu surat yang memiliki pesan sangat kuat tentang perjalanan manusia adalah Surat Ar-Rum.

Surat ke-30 dalam Al-Qur’an ini terdiri dari 60 ayat dan secara umum dikategorikan sebagai surat Makkiyah.

Di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat luas. Surat ini berbicara tentang kekuasaan Allah.

Tentang perubahan sejarah. Tentang kemenangan dan kekalahan. Tentang keterbatasan pengetahuan manusia.

Tentang fitrah. Tentang keluarga. Tentang rezeki. Tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Dan tentang kerusakan yang terjadi akibat perbuatan manusia. Tentang kehidupan dunia yang sering membuat manusia terlena. Bahkan tentang kepastian hari kebangkitan.

Karena itu, Surat Ar-Rum seolah-olah mengajak manusia berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri: Ke mana sebenarnya kehidupan ini sedang kita arahkan?

SURAT AR-RUM: PERINGATAN UNTUK MANUSIA

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang sangat sering dibicarakan ketika manusia membahas kerusakan lingkungan.

Namun kandungannya jauh lebih luas. Kata fasad dalam Al-Qur’an memiliki makna yang luas: kerusakan, penyimpangan, kekacauan, dan hilangnya keseimbangan.

Kerusakan itu dapat muncul dalam berbagai bentuk. Kerusakan alam. Kerusakan moral. Kerusakan sosial. Kerusakan ekonomi. Kerusakan dalam hubungan antarmanusia. Kerusakan akibat kezaliman. Bahkan berbagai bentuk penyimpangan lainnya.

Karena itu, ketika membaca ayat ini, kita jangan hanya berpikir tentang hutan yang ditebang atau laut yang tercemar.

Kita juga harus bertanya: Apakah tangan manusia sedang merusak bumi sekaligus merusak dirinya sendiri?

KERUSAKAN DI DARAT DAN LAUT

Allah mengatakan: “Disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” Ini adalah peringatan keras.

Manusia diberikan akal. Manusia diberikan ilmu. Manusia diberikan kemampuan untuk mengelola bumi.

Namun kemampuan tersebut dapat menjadi rahmat apabila digunakan dengan benar, dan dapat berubah menjadi bencana apabila digunakan dengan keserakahan.

Hutan ditebang tanpa memperhatikan keseimbangan. Sungai dicemari limbah.

Laut dipenuhi sampah. Tanah rusak karena eksploitasi yang tidak terkendali.

Udara tercemar. Hewan kehilangan habitat. Sumber daya alam dieksploitasi tanpa memperhatikan generasi mendatang.

Semua itu menunjukkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar terhadap bumi.

Allah SWT tidak memberikan bumi kepada manusia untuk dirusak sesuka hati. Manusia diberi amanah untuk mengelolanya.

KERUSAKAN BUKAN HANYA SOAL LINGKUNGAN

Yang sering dilupakan adalah bahwa fasad tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Ada pula kerusakan moral.

Ketika kebohongan menjadi kebiasaan, itu kerusakan. Ketika korupsi dianggap biasa, itu kerusakan.

Ketika suap dianggap sebagai jalan pintas, itu kerusakan. Ketika fitnah dan hoaks menyebar tanpa tanggung jawab, itu kerusakan.

Ketika manusia kehilangan rasa malu terhadap dosa, itu kerusakan. Ketika orang kuat menindas orang lemah, itu kerusakan.

Ketika kekayaan hanya berputar di kalangan tertentu sementara orang miskin semakin terpinggirkan, persoalan keadilan muncul.

Ketika ilmu digunakan untuk menipu dan mengeksploitasi manusia, ilmu kehilangan keberkahannya. Maka Surat Ar-Rum mengajak kita melihat kerusakan secara lebih menyeluruh.

Bumi dapat rusak karena tangan manusia, tetapi masyarakat juga dapat rusak karena hati manusia.

AGAR MEREKA MERASAKAN SEBAGIAN AKIBAT PERBUATAN MEREKA

Allah melanjutkan:

لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41)

Perhatikan kalimat terakhir:

لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Agar mereka kembali.”

Ini sangat penting. Peringatan Allah bukan semata-mata untuk menghukum manusia.

Peringatan adalah kesempatan untuk kembali. Ketika manusia mengalami akibat dari kesalahannya, seharusnya ia melakukan introspeksi.

Jika alam mulai rusak, manusia harus memperbaiki cara memperlakukannya. Jika keluarga mulai retak, manusia harus memperbaiki komunikasi.

Jika masyarakat dipenuhi konflik, manusia harus kembali kepada keadilan. Jika hati semakin jauh dari Allah, manusia harus kembali kepada taubat.

🕌 ALLAH MASIH MEMBERIKAN KESEMPATAN

Ada pesan kasih sayang yang sangat dalam dalam ayat tersebut.

Allah tidak mengatakan bahwa seluruh akibat perbuatan manusia langsung diberikan.

Allah mengatakan: “sebagian dari apa yang mereka kerjakan.” Ini menunjukkan bahwa manusia masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

Masih ada waktu untuk bertaubat. Masih ada waktu untuk memperbaiki kerusakan. Masih ada waktu untuk meminta maaf. Masih ada waktu untuk mengembalikan hak orang lain. Masih ada waktu untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga. Masih ada waktu untuk meninggalkan dosa.

Selama nyawa belum sampai tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.

MANUSIA ADALAH KHALIFAH DI BUMI

Allah SWT berfirman:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Konsep khalifah mengandung amanah. Manusia bukan pemilik mutlak bumi. Allah adalah pemiliknya. Manusia hanya diberi amanah untuk mengelola.

Karena itu, kekayaan alam tidak boleh dipandang sebagai izin untuk melakukan eksploitasi tanpa batas. Ada tanggung jawab. Ada keseimbangan. Ada hak generasi berikutnya. Ada hak makhluk lain.

Dan yang paling penting: Ada pertanggungjawaban di hadapan Allah.

PERINTAH MELIHAT SEJARAH

Setelah mengingatkan tentang kerusakan, Allah berfirman:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلُ

“Katakanlah: Berjalanlah di bumi lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu.” (QS. Ar-Rum: 42)

Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk belajar dari sejarah. Sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal.

Sejarah adalah cermin. Bangsa-bangsa yang kuat pernah ada. Kerajaan-kerajaan besar pernah berdiri.

Kekuasaan yang tampak tidak terkalahkan pernah berjaya. Tetapi semuanya memiliki akhir.

Ada yang runtuh karena kezaliman. Ada yang hancur karena kesombongan. Ada yang kehilangan moral. Ada yang menolak kebenaran. Ada yang menghancurkan dirinya sendiri.

Maka manusia hari ini jangan merasa bahwa kekuatan, teknologi, jabatan, dan kekayaan akan membuatnya kebal dari hukum Allah.

JANGAN MERASA KUAT HANYA KARENA MEMILIKI KEKUASAAN

Kekuasaan selalu memiliki batas. Kekayaan memiliki batas. Kesehatan memiliki batas. Usia memiliki batas.

Bahkan sebuah bangsa pun memiliki perjalanan sejarah. Allah dapat memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang Dia kehendaki.

Karena itu, orang yang memiliki jabatan harus rendah hati. Orang yang memiliki kekayaan harus dermawan.

Orang yang memiliki ilmu harus amanah. Orang yang memiliki pengaruh harus bertanggung jawab. Karena semuanya adalah titipan.

AYAT 1–6: KEKUASAAN ALLAH DALAM PERUBAHAN SEJARAH

Surat Ar-Rum diawali dengan berita tentang bangsa Romawi:

غُلِبَتِ الرُّومُ “Telah dikalahkan bangsa Romawi.”

Kemudian Allah menjelaskan bahwa setelah kekalahan tersebut, mereka akan memperoleh kemenangan dalam beberapa tahun.

Pada masa turunnya ayat ini, informasi tersebut menjadi sesuatu yang penting bagi kaum Muslimin karena menunjukkan bahwa perjalanan sejarah berada dalam kehendak Allah.

Allah berfirman:

لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ

“Milik Allah segala urusan sebelum dan sesudahnya.” (QS. Ar-Rum: 4)

Inilah inti pesannya. Sebelum peristiwa terjadi, Allah berkuasa. Ketika peristiwa terjadi, Allah tetap berkuasa.

Setelah peristiwa terjadi, Allah tetap berkuasa. Sejarah manusia tidak pernah berada di luar pengetahuan Allah.

AYAT 7: MANUSIA SERING HANYA MEMAHAMI DUNIA

Allah SWT berfirman:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka mengetahui yang lahiriah dari kehidupan dunia, tetapi terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)

Ayat ini sangat relevan dengan zaman modern. Manusia semakin maju dalam teknologi.

Kita dapat berbicara dengan orang di negara lain hanya dalam hitungan detik. Kita dapat melihat informasi dari seluruh dunia melalui telepon genggam.

Bahkqn kita mampu mengembangkan kecerdasan buatan. Kita mampu melakukan perjalanan dengan sangat cepat.

Namun pertanyaannya: Apakah kemajuan teknologi selalu membuat manusia semakin dekat kepada Allah?

Belum tentu. Manusia bisa semakin pintar, tetapi semakin jauh dari kebijaksanaan.

Bisa semakin kaya, tetapi semakin gelisah. Bisa semakin terkenal, tetapi semakin kosong. Bisa memiliki ribuan pengikut di media sosial, tetapi merasa sendirian di dalam hati.

Inilah peringatan Surat Ar-Rum. Jangan hanya menguasai dunia secara lahiriah, tetapi kehilangan arah kehidupan akhirat.

AYAT 30: KEMBALI KEPADA FITRAH

Salah satu ayat paling terkenal dalam Surat Ar-Rum adalah ayat 30:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30)

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia memiliki kecenderungan kepada kebenaran dan pengenalan terhadap Tuhannya.

Namun lingkungan, hawa nafsu, kebiasaan, dan pilihan hidup dapat menjauhkan seseorang dari fitrahnya. Karena itu Islam mengajak manusia kembali.

Kembali kepada tauhid. Kembali kepada shalat. Kembali kepada kejujuran. Kembali kepada amanah. Kembali kepada akhlak. Kembali kepada kasih sayang. Kembali kepada Allah.

AYAT 21: PERNIKAHAN ADALAH TANDA KEKUASAAN ALLAH

Menariknya, Surat Ar-Rum tidak hanya berbicara tentang sejarah dan kerusakan. Allah juga berbicara tentang keluarga.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Perhatikan betapa luasnya Surat Ar-Rum. Ketika membahas kerusakan manusia, Al-Qur’an juga mengingatkan tentang rumah tangga.

Mengapa? Karena masyarakat yang baik dimulai dari keluarga yang baik.

Keluarga yang penuh kasih sayang melahirkan anak-anak yang lebih kuat secara moral.

Sebaliknya, kerusakan keluarga dapat memberikan dampak besar terhadap masyarakat.

Karena itu: menjaga keluarga juga bagian dari menjaga kehidupan.

TANDA-TANDA ALLAH ADA DI SEKITAR KITA

Allah dalam Surat Ar-Rum mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Pergantian malam dan siang. Penciptaan manusia. Perbedaan bahasa dan warna kulit. Tidur pada malam hari. Usaha mencari karunia Allah pada siang hari.

Hujan. Hidupnya bumi setelah kematiannya. Penciptaan langit dan bumi. Semua itu adalah ayat-ayat kauniyah.

Artinya, alam semesta sendiri adalah tanda yang mengarahkan manusia kepada kebesaran Allah.

Karena itu, semakin manusia mempelajari alam dengan benar, seharusnya semakin tunduk kepada Penciptanya.

Ilmu seharusnya melahirkan kekaguman kepada Allah, bukan kesombongan.

HUJAN: RAHMAT YANG SERING KITA LUPAKAN

Allah menyebutkan hujan sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya.

Air turun dari langit. Tanah yang sebelumnya kering menjadi hidup. Tumbuhan tumbuh. Pertanian berkembang. Manusia mendapatkan makanan. Hewan mendapatkan kehidupan. Satu tetes air tampak sederhana.

Tetapi di baliknya terdapat sistem kehidupan yang sangat luar biasa.

Namun manusia sering baru menyadari pentingnya air ketika kekeringan datang. Begitu pula banyak nikmat Allah.

Kita sering menyadarinya setelah nikmat tersebut berkurang atau hilang. Maka jangan menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur.

ALLAH MENCIPTAKAN DENGAN KESEIMBANGAN

Surat Ar-Rum mengajarkan kita melihat tanda-tanda keteraturan Allah.

Alam memiliki keseimbangan. Manusia memiliki kebutuhan. Masyarakat membutuhkan keadilan.

Keluarga membutuhkan kasih sayang. Ekonomi membutuhkan kejujuran. Kekuasaan membutuhkan amanah. Ilmu membutuhkan akhlak.

Teknologi membutuhkan tanggung jawab. Ketika keseimbangan tersebut dihancurkan oleh keserakahan, muncullah kerusakan.

Karena itu, menjaga keseimbangan adalah bagian dari amanah manusia.

AYAT 55–57: KETIKA WAKTU SUDAH HABIS

Allah SWT mengingatkan tentang keadaan manusia ketika hari kiamat tiba.

Orang-orang yang berdosa akan merasa bahwa kehidupan dunia terasa sangat singkat.

Ketika hari itu datang, kesempatan untuk kembali dan memperbaiki diri sudah tidak seperti ketika hidup di dunia.

Inilah yang harus kita renungkan. Sekarang kita masih memiliki kesempatan.

Hari ini kita masih bisa shalat. Hari ini kita masih bisa bertaubat. Hari ini kita masih bisa meminta maaf. Hari ini kita masih bisa bersedekah. Hari ini kita masih bisa memperbaiki hubungan dengan keluarga. Hari ini kita masih bisa meninggalkan dosa.

Tetapi tidak ada seorang pun yang tahu kapan kesempatan itu berakhir.

KEMATIAN ADALAH PASTI

Tidak ada manusia yang dapat menghindari kematian. Jabatan tidak bisa mencegahnya. Uang tidak bisa membelinya. Teknologi tidak bisa menghapusnya. Popularitas tidak bisa menundanya. Semua manusia akan kembali kepada Allah.

Karena itu, orang cerdas bukanlah orang yang hanya memikirkan bagaimana hidupnya nyaman di dunia.

Orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang mempersiapkan kehidupan setelah dunia.

SURAT AR-RUM DAN KRISIS DUNIA MODERN

Jika kita membaca Surat Ar-Rum dengan hati yang terbuka, pesannya terasa sangat relevan dengan zaman sekarang.

Dunia menghadapi berbagai persoalan:

1. Perubahan iklim.

2. Pencemaran lingkungan.

3. Sampah plastik.

4. Deforestasi.

5. Krisis air.

6. Kerusakan ekosistem.

7. Konflik sosial.

8. Korupsi.

9. Kesenjangan ekonomi.

10. Krisis moral.

11. Disinformasi.

12. Kecanduan teknologi.

Dan berbagai persoalan kemanusiaan lainnya.

Kita tidak boleh mengatakan bahwa setiap bencana tertentu secara otomatis merupakan hukuman langsung Allah kepada orang atau wilayah tertentu.

Itu membutuhkan kehati-hatian. XNamun kita dapat mengambil pelajaran bahwa tindakan manusia memang dapat menimbulkan konsekuensi nyata.

Dan QS. Ar-Rum: 41 mengingatkan agar manusia tidak melakukan kerusakan.

KERUSAKAN DI ERA MEDIA SOSIAL

Pada zaman dahulu manusia bisa menyebarkan fitnah kepada beberapa orang. Sekarang satu unggahan dapat menjangkau jutaan manusia.

Dahulu kebohongan mungkin hanya terdengar dari mulut ke mulut. Sekarang sebuah berita palsu dapat menyebar dalam hitungan menit.

Karena itu, tanggung jawab moral manusia semakin besar. Sebelum membagikan sesuatu, bertanyalah:

Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini dapat merugikan orang lain?Apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?

Jangan sampai jari kita menjadi sebab lahirnya fasad baru di dunia digital.

KERUSAKAN KARENA KESERAKAHAN

Allah memberikan rezeki yang cukup untuk manusia. Namun ketika manusia tidak pernah merasa cukup, keserakahan muncul.

Masalahnya bukan sekadar memiliki harta. Islam tidak melarang manusia menjadi kaya.

Yang menjadi masalah adalah ketika harta menguasai hati. Ketika keuntungan menjadi lebih penting daripada keadilan.

Ketika manusia mengorbankan lingkungan demi keuntungan. Ketika orang miskin diperlakukan tidak manusiawi. Ketika jabatan digunakan untuk kepentingan pribadi. Ketika amanah berubah menjadi kesempatan memperkaya diri.

Pada titik itu, harta yang seharusnya menjadi sarana justru menjadi sumber kerusakan.

LALU APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

Surat Ar-Rum bukan hanya memberi peringatan.

Ia juga menunjukkan jalan.

1. Kembali kepada tauhid

Jadikan Allah sebagai pusat kehidupan.

2. Perbaiki shalat

Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi jalan untuk membangun hubungan dengan Allah.

3. Perbanyak taubat

Akui kesalahan dan tinggalkan dosa.

4. Jaga lingkungan

Jangan membuang sampah sembarangan. Jangan merusak alam. Gunakan sumber daya dengan bijaksana.

5. Jaga keluarga

Bangun rumah tangga dengan cinta, komunikasi, dan kasih sayang.

6. Jaga lisan dan media sosial

Jangan menyebarkan fitnah, kebohongan, dan informasi yang belum jelas.

7. Tegakkan keadilan

Jangan menzalimi orang lain karena jabatan, harta, atau kekuasaan.

8. Belajar dari sejarah

Jangan ulangi kesalahan bangsa-bangsa terdahulu.

9. Jangan tertipu oleh dunia

Nikmati dunia sebagai amanah, bukan sebagai tujuan akhir.

10. Persiapkan akhirat

Karena kehidupan yang sebenarnya tidak berhenti ketika manusia meninggal.

DARI AYAT 41, MARI MEMULAI PERUBAHAN DARI DIRI SENDIRI

Kadang kita sibuk menyalahkan pemerintah. Menyalahkan pengusaha. Menyalahkan masyarakat. Menyalahkan generasi muda. Menyalahkan teknologi. Menyalahkan keadaan. Padahal Al-Qur’an mengajak kita melihat diri sendiri.

Apa yang sudah saya lakukan? Apakah saya ikut menjaga lingkungan? Apakah saya membuang sampah sembarangan? Apakah saya ikut menyebarkan berita palsu?Apakah saya pernah mengambil hak orang lain? Apakah saya pernah menyakiti orang? Apakah saya sudah menjaga amanah? Apakah saya sudah menjalankan shalat dengan baik? Apakah saya sudah memperlakukan keluarga dengan baik?

Perubahan besar sering dimulai dari pertanyaan kecil: “Apa yang bisa saya perbaiki hari ini?”

JANGAN MENUNGGU DUNIA BERUBAH UNTUK BERUBAH

Kita sering mengatakan: “Kalau semua orang jujur, saya juga akan jujur.”

“Kalau orang lain baik kepada saya, saya akan baik kepada mereka.”

“Kalau lingkungan sudah bersih, saya akan ikut menjaga.”

“Kalau masyarakat sudah berubah, saya baru akan berubah.”

Islam mengajarkan sebaliknya. Mulailah dari diri sendiri.

Jika kita ingin lingkungan bersih, mulai dari rumah. Jika ingin masyarakat jujur, mulai dari diri sendiri. Jika ingin keluarga harmonis, mulai dengan kelembutan. Jika ingin dunia damai, jangan menjadi sumber kebencian. Jika ingin hidup diberkahi, tinggalkan yang haram.

PESAN TERBESAR SURAT AR-RUM

Jika seluruh Surat Ar-Rum kita renungkan, ada satu pesan yang sangat kuat: Jangan sampai manusia terlalu sibuk membangun dunia sampai lupa siapa yang menciptakan dunia.

Jangan sampai kita mengejar harta tetapi kehilangan keberkahan. Jangan sampai mengejar jabatan tetapi kehilangan amanah.

Jangan sampai mengejar popularitas tetapi kehilangan keikhlasan. Jangan sampai mengejar kemajuan tetapi menghancurkan alam.

Jangan sampai menguasai teknologi tetapi kehilangan akhlak. Jangan sampai mengetahui banyak hal tentang kehidupan dunia tetapi lupa mempersiapkan kehidupan akhirat.

RENUNGAN PENUTUP

Saudaraku… Suatu hari kita akan meninggalkan semua yang kita miliki.

Rumah akan kita tinggalkan. Kendaraan akan kita tinggalkan. Jabatan akan kita tinggalkan. Uang akan kita tinggalkan.

Selain itu, popularitas akan kita tinggalkan. Media sosial akan kita tinggalkan. Yang ikut bersama kita hanyalah amal.

Karena itu, jangan biarkan hidup berlalu tanpa makna. Jadikan ilmu sebagai jalan menuju Allah. Jadikan harta sebagai sarana berbuat baik. Jadikan jabatan sebagai amanah. Jadikan keluarga sebagai tempat menumbuhkan kasih sayang. Jadikan bumi sebagai amanah yang harus dijaga. Jadikan waktu sebagai kesempatan untuk beribadah.

Dan jadikan setiap musibah sebagai kesempatan untuk kembali kepada Allah.

Allah SWT telah mengingatkan:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar mereka merasakan sebagian akibat dari perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41)

Maka pertanyaannya bukan hanya: “Mengapa dunia semakin rusak?”

Tetapi juga: “Apa yang sudah kita lakukan untuk memperbaikinya?”

Bukan hanya: “Mengapa manusia semakin jauh dari agama?”

Tetapi: “Sudahkah kita menjadi teladan dalam menjalankan agama?”

Bukan hanya: “Mengapa banyak orang berbuat dosa?”

Tetapi: “Sudahkah kita memperbaiki diri sendiri?”

Dan bukan hanya: “Kapan Allah akan mengubah keadaan?”

Tetapi: “Kapan kita benar-benar kembali kepada Allah?”

Semoga Surat Ar-Rum tidak hanya menjadi surat yang kita baca dengan lisan, tetapi menjadi surat yang mengubah cara kita memandang kehidupan.

Semoga Allah menjadikan kita manusia yang menjaga bumi, menjaga amanah, menjaga keluarga, menjaga lisan, menjaga hati, serta menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah memperbaiki keluarga kita. Semoga Allah melindungi negeri kita dari kerusakan, kezaliman, bencana, dan perpecahan.

Semoga para pemimpin diberikan amanah dan keadilan. Semoga masyarakat diberikan ketenteraman. Semoga lingkungan kita dijaga dari kerusakan.

Dan semoga ketika kehidupan dunia berakhir, kita termasuk orang-orang yang kembali kepada Allah dalam keadaan diridhai-Nya.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا

“Ya Allah, perbaikilah hati kami, perbaikilah amal kami, dan perbaikilah keadaan kami.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *