Makna dan Implikasi Kemenangan Iran atas AS

Saya kalau menyaksikan video peluncuran rudal sijjil milik Iran menuju sasaran-sasarannya di Timur Tengah, memang sangat menggentarkan. Posturnya yang tinggi dan besar dengan ujungnya yang unik dan runcing, ditambah lagi suaranya yang mengintimidasi dengan kepulan asap yang membubung yang ditinggalkan di landasan peluncurannya, penampakan itu saja sudah mengerikan sekali. Belum lagi kecepatannya, dan ledakan yang ditimbulkannya saat menghantam sasarannya yang jauhnya ribuan kilometer. Belum itu saja, kabarnya stok rudal raksasa semacam Sijjil, Shahab, Kharmshar, dan entah apalagi namanya, menumpuk di gudang-gudang Iran di bawah tanah. Saya rasa pantaslah Amerika Serikat mengalah kepada Iran dan bersedia menandatangani perdamaian dengan Iran asal Selat Hormuz, leher jalur laut pengiriman energi untuk konsumsi global, dapat normal kembali tanpa blokade.

Perjanjian damai Iran – AS ini memberi keuntungan strategis dan economis bagi Iran. Selain pengakuan atas kedaulatan Iran atas selat Hormuz, juga kini Iran akan menikmati puluhan milyar transfer uang yang selama ini disita oleh AS ditambah AS akan membiayai rekonstruksi kerusakan di Iran akibat pemboman oleh AS bersama Israel.

Bacaan Lainnya

Jika implementasi perjanjian damai ini berjalan mulus dan stabil, Iran akan menjelma menjadi kekuatan ekonomi dan militer baru yang besar. Sebab, ekspor produk-produk Iran yang selama ini digencet, tampaknya akan mulus mengalir ke seluruh penjuru dunia. Gengsi dan moral Iran juga akan meroket di mata internasional, dan itu adalah modal dan magnet yang paling berharga untuk mengangkat lebih lanjut kapasitas negara warisan Persia ini. Dapat diprediksi, selepas perang yang telah menimbulkan luka yang parah bagi bangsa Iran dengan gugurnya Pempimpin Tertinggi dan jenderal-jenderal serta rakyatnya sendiri, Iran akan memacu lebih kuat kapabilitas dan kapasitas negara tersebut agar lebih aman dan kebal di masa mendatang dari ancaman serangan. Dan kondisi terbaik adalah sekarang di saat prospek perdamaian dan ketenangan mulai menyambut Iran. Bagaimana pun, faktanya Iran telah memenangkan perang dan berhasil survive. Dan kemenangan ini ditebus dengan harga yang sangat mahal, baik oleh hilangnya nyawa para pemimpin dan rakyatnya dan juga ujian akan ketabahan dan keteguhan hati dan persatuan rakyatnya. Bangsa ini menunjukkan diri sebagai bangsa yang lebih suka mengejar martabat, kemandirian dan kehormatan walau harus menyita pengorbanan ketimbang kedamaian dan kemewahan di bawah dikte dan kontrol asing.

*Implikasi*

Saya menduga, akan banyak negara yang akan mempelajari kesuksesan Iran dan mengadopsi strategi dan langkahnya untuk memperkuat kemandirian negara masing-masing di tengah persaingan sistem multipolar yang menggejala saat ini. Era menjadi orbit dan sapi perah dari negara lain yang lebih kuat, akan kehilangan relevansinya saat ini, kecuali bagi negara-negara yang dicengkeram oleh para diktator korup yang legitimasinya bergantung pada asing.

Dan Indonesia, harus didorong oleh generasi mudanya, untuk mengadopsi strategi dan langkah-langkah Iran yang terbukti berhasil sejauh ini. Padahal Iran sebetulnya, terinspirasi dan belajar dari ide Berdikari dari mantan Presiden Soekarno. Slogan La Syarqiyah walaa Gharbiyah (Tidak Blok Timur dan Tidak Blok Barat) yang diucapkan oleh Imam Khomenei, pemimpin Revolusi Islam Iran, merupakan sejiwa dengan ide Non Blok dan Berdikari yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno. Ironisnya, politik Berdikari ini justru berhasil dilaksanakan dan terwujud di Iran. Hal itu ditunjang oleh keberanian dan ketabahan rakyatnya untuk memegang teguh politik berdikari yang sebenarnya tidak disukai negara-negara adidaya. Embargo puluhan tahun dan Iran tetap eksis, merupakan bukti nyata keberanian dan ketabahan Iran.

Kalau ada saran yang masih masuk akal bagi Indonesia, yaitu mengikuti jalan pertahanan Iran, yaitu dengan memproduksi secara mandiri rudal-rudal presisi yang bisa menjangkau minimal seluruh daratan Asia Tenggara, Australia, Samudera Pasifik hingga Samudera Hindia. Itu akan menggentarkan musuh-musuh potensial Indonesia sekaligus mengamankan kelangsungan hidup bangsa ini. Produksi dan pengamanannya, tentu belajarlah kepada Iran.

Oleh: Syahrul E Dasopang, Pemerhati Dunia Islam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *