Mempermudah Melewati Jembatan Shirathal Mustaqim

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS/ Kalimantan Selatan I

Menjaga Shalat, Memperbanyak Taubat, Sedekah, Menolong Sesama, dan Memohon Keselamatan kepada Allah

Bacaan Lainnya

Saudaraku yang dirahmati Allah…

Ada satu perjalanan yang pasti akan ditempuh oleh setiap manusia. Bukan perjalanan menuju kantor. Bukan perjalanan menuju sekolah. Bukan perjalanan menuju pasar. Bukan pula perjalanan menuju negeri yang jauh.

Tetapi perjalanan menuju akhirat. Perjalanan itu dimulai sejak kematian. Kemudian manusia memasuki alam barzakh, dibangkitkan pada hari kiamat, dikumpulkan di Padang Mahsyar, menghadapi hisab dan berbagai peristiwa dahsyat, hingga akhirnya manusia melewati Shirath, sebelum memperoleh keputusan akhir menuju kenikmatan surga atau kebinasaan.

Karena itu, orang yang cerdas bukanlah orang yang hanya memikirkan bagaimana hidupnya nyaman di dunia.

Orang yang benar-benar cerdas adalah orang yang mempersiapkan perjalanan setelah kematian.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)

Dunia ini singkat. Umur kita mungkin puluhan tahun. Tetapi akhirat adalah kehidupan yang kekal.

Allah SWT berfirman:

“Dan kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)

Maka jangan sampai kita terlalu sibuk memperbaiki rumah di dunia, tetapi lupa memperbaiki rumah kita di akhirat.

Jangan sampai kita begitu takut kehilangan harta, tetapi tidak takut kehilangan iman. Jangan sampai kita sibuk menghitung tabungan, tetapi lupa menghitung amal. Jangan sampai kita takut sakitnya tubuh, tetapi tidak takut sakitnya hati.

Dan jangan sampai kita mempersiapkan perjalanan dunia selama berbulan-bulan, tetapi tidak mempersiapkan perjalanan akhirat yang panjangnya tidak terbayangkan.

APAKAH SHIRATH ITU?

Shirath adalah jalan yang akan dilalui manusia pada hari kiamat.

Dalam berbagai hadis sahih dijelaskan tentang adanya Shirath yang terbentang di atas Jahannam. Rasulullah ﷺ menggambarkan adanya pengait-pengait yang dapat mencelakai manusia sesuai dengan amal mereka.

Dalam hadis riwayat Muslim, ketika para sahabat bertanya tentang Shirath, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa Shirath tersebut sangat sulit dan penuh bahaya.

Namun, orang-orang beriman akan melewatinya dengan kecepatan yang berbeda-beda.

Dalam hadis Sahih Muslim disebutkan bahwa manusia akan melewati Shirath sesuai dengan amal mereka. Ada yang seperti kedipan mata, seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda yang berlari, dan ada pula yang berjalan, merangkak, hingga akhirnya ada yang tersambar dan jatuh ke dalam neraka.

Ini adalah gambaran yang sangat serius. Artinya, persoalan Shirath bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh.

Pada saat itu tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki amal. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia.

Tidak ada lagi kesempatan untuk mengatakan: “Ya Allah, beri aku satu hari lagi.”

Tidak ada lagi kesempatan mengatakan: “Ya Allah, aku akan mulai shalat.”

Tidak ada lagi kesempatan berkata: “Ya Allah, aku akan berhenti berbuat maksiat.”

Tidak ada lagi kesempatan mengatakan: “Ya Allah, aku akan memperbanyak sedekah.”

Semuanya sudah terlambat. Karena itu, kesempatan terbesar adalah hari ini.

ALLAH TELAH MENGINGATKAN TENTANG PERJALANAN INI

Allah SWT berfirman dalam Surah Maryam ayat 71:

“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak melewatinya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan.” (QS. Maryam: 71)

Ayat berikutnya menjelaskan:

“Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS. Maryam: 72)

Ayat ini seharusnya membuat hati kita bergetar. Karena Allah tidak mengatakan bahwa perjalanan menuju akhirat adalah sesuatu yang hanya akan dialami orang tertentu.

Setiap manusia akan menghadapi ketetapan Allah. Yang membedakan adalah bagaimana keadaan kita ketika menghadapi perjalanan tersebut.

Apakah kita datang dengan iman? Apakah kita datang dengan tauhid? Apakah kita datang dengan shalat? Apakah kita datang dengan taubat? Apakah kita datang dengan amal saleh? Ataukah kita datang dengan dosa yang belum ditaubati?

☝️ KESELAMATAN BUKAN SEMATA-MATA KARENA AMAL, TETAPI KARENA RAHMAT ALLAH

Ada satu hal penting yang harus kita pahami. Jangan sampai artikel tentang amalan melewati Shirath membuat seseorang merasa:

“Kalau saya melakukan lima amalan ini, pasti saya akan melewati Shirath seperti kilat.”

Tidak demikian. Keselamatan seseorang pada akhirnya berada di bawah rahmat Allah SWT.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak seorang pun masuk surga hanya karena amalnya.

Para sahabat bertanya, termasuk beliau? Nabi ﷺ menjawab bahwa beliau pun tidak, kecuali apabila Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya.(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, amal saleh sangat penting. Tetapi amal bukan alasan untuk menyombongkan diri. Amal adalah bentuk ketaatan dan sebab untuk memperoleh rahmat Allah.

Karena itu, kita harus menggabungkan dua hal: Takut kepada Allah dan berharap kepada rahmat Allah.

Kita takut terhadap dosa. Tetapi kita tidak boleh berputus asa dari ampunan Allah. Kita berusaha memperbaiki amal.

Tetapi kita tidak boleh merasa paling suci. Kita mengejar surga. Tetapi kita tetap memohon kepada Allah agar diberikan rahmat-Nya.

🕌 AMALAN PERTAMA: MENJAGA SHALAT FARDHU

Kalau ingin mempersiapkan diri menghadapi akhirat, mulailah dari shalat. Jangan mencari amalan besar tetapi meninggalkan kewajiban yang paling mendasar.

Shalat adalah tiang agama dan salah satu amal yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Shalat bukan sekadar gerakan tubuh. Shalat adalah perjumpaan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Ketika kita mengangkat tangan untuk takbir, kita meninggalkan dunia. Ketika kita membaca Al-Fatihah, kita sedang berdialog dengan Allah.

Ketika kita rukuk, kita merendahkan diri. Ketika kita sujud, kita meletakkan bagian tubuh yang paling mulia di tempat paling rendah sebagai bentuk ketundukan kepada Allah.

Maka jangan heran apabila orang yang menjaga shalat memiliki hati yang lebih mudah mengingat Allah.

🌙 SHALAT ISYA DAN SUBUH MEMILIKI KEUTAMAAN BESAR

Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus terhadap shalat Isya dan Subuh.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya manusia mengetahui keutamaan shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.”

Ini menunjukkan betapa besar keutamaan kedua shalat tersebut. Shalat Subuh menguji kita ketika tubuh masih ingin tidur.

Shalat Isya menguji kita ketika tubuh sudah lelah. Karena itu, orang yang mampu menjaga keduanya sedang melatih dirinya untuk mendahulukan Allah daripada kenyamanan dirinya.

Tetapi perlu diluruskan: Tidak ada dalil sahih yang secara khusus mengatakan bahwa orang yang shalat Isya dan Subuh berjamaah pasti melewati Shirath seperti kilat.

Yang benar, shalat berjamaah memiliki keutamaan yang sangat besar, dan amal-amal tersebut menjadi bagian dari bekal seorang mukmin dalam perjalanan akhirat.

Jadi, jangan mengurangi kemuliaan shalat dengan membuat klaim yang tidak memiliki dasar.

Cukup katakan: Jagalah shalat karena Allah memerintahkannya, dan karena shalat merupakan bekal terbesar seorang mukmin.

🕯️ AMALAN KEDUA: TAUBAT NASUHA

Tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Yang membedakan adalah apakah seseorang terus mempertahankan dosanya atau kembali kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)

Taubat bukan sekadar mengatakan: “Astaghfirullah.”

Taubat harus diikuti perubahan. Jika dosa berkaitan dengan meninggalkan kewajiban, maka kewajiban tersebut harus diperbaiki.

Jika dosa berkaitan dengan maksiat, maka maksiat harus ditinggalkan. Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka hak tersebut harus dikembalikan atau diselesaikan dengan cara yang benar.

Taubat yang sungguh-sungguh memiliki beberapa unsur:

Pertama: meninggalkan dosa.

Kedua: menyesali dosa.

Ketiga: bertekad tidak mengulanginya.

Keempat: jika berkaitan dengan hak manusia, maka hak tersebut harus dikembalikan atau dimintakan penyelesaian.

Jangan menunggu tua untuk bertaubat.Jangan berkata: “Nanti kalau sudah pensiun saya akan rajin ibadah.”

Siapa yang menjamin kita hidup sampai pensiun? Jangan berkata: “Nanti kalau sudah kaya saya akan banyak sedekah.”

Siapa yang menjamin kekayaan itu datang? Jangan berkata: “Nanti kalau sudah tua saya akan rajin ke masjid.”

Siapa yang menjamin kita sampai tua? Taubat terbaik adalah taubat yang dilakukan sebelum ajal datang.

💰 AMALAN KETIGA: MEMPERBANYAK SEDEKAH

Sedekah bukan hanya memberikan uang kepada orang miskin.Sedekah memiliki cakupan yang luas.

Memberikan makanan. Membantu orang yang kesulitan. Menyingkirkan gangguan dari jalan. Membantu orang tua. Membantu tetangga. Memberikan ilmu. Menghibur orang yang sedang bersedih.

Bahkan senyum yang tulus kepada saudara kita juga termasuk sedekah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)

Allah SWT juga menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang bersedekah.

Allah berfirman:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir ada seratus biji.” QS. Al-Baqarah: 261)

Bayangkan. Satu pemberian kecil di mata manusia dapat menjadi sangat besar di sisi Allah apabila dilakukan dengan ikhlas.

Karena itu, jangan meremehkan sedekah. Mungkin bagi kita hanya Rp10.000.

Tetapi bagi orang yang sedang lapar, itu bisa menjadi penyelamat. Mungkin bagi kita hanya sebungkus nasi.

Tetapi bagi orang yang belum makan, itu adalah kebahagiaan. Mungkin bagi kita hanya membantu biaya sekolah seorang anak.

Tetapi bagi anak itu, bantuan tersebut bisa menjadi jalan menuju masa depan.

🤲 AMALAN KEEMPAT: MEMPERBANYAK DOA MEMOHON KESELAMATAN

Seorang mukmin tidak hanya mengandalkan amal. Ia juga berdoa.

Karena hati manusia berada dalam kekuasaan Allah. Salah satu doa yang sangat baik untuk memohon surga dan perlindungan dari neraka adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Allahumma inni as’alukal jannata wa a’udzu bika minan-nar.”

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka.”

Kita juga dapat memohon kepada Allah agar diberikan keselamatan dalam seluruh perjalanan akhirat.

Namun, perlu diperhatikan bahwa kalimat khusus: “Allahumma inni as’alukal jannata wa a’udzu bika minan naar, wa jawaazan ‘alash-shiraath”

Jangan disebut sebagai doa khusus yang pasti diajarkan Nabi ﷺ kecuali ada dalil yang sahih untuk itu. Kita boleh berdoa dengan makna yang baik.

Tetapi jangan menisbatkan suatu lafaz tertentu kepada Rasulullah ﷺ tanpa dasar. Ini adalah bentuk kehati-hatian dalam agama.

🤝 AMALAN KELIMA: MENOLONG SESAMA

Islam tidak mengajarkan manusia hidup hanya untuk dirinya sendiri. Orang beriman harus memiliki kepedulian sosial.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa memudahkan kesulitan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, Allah akan memudahkan baginya suatu kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

Perhatikan hubungan yang luar biasa ini. Kita membantu orang lain di dunia. Allah memberikan pertolongan kepada kita di akhirat.

Kita meringankan beban manusia.Allah meringankan beban kita. Kita menutup aib saudara. Allah menjaga kehormatan kita. Kita membantu orang yang sedang kesulitan. Allah membantu kita ketika kita paling membutuhkan pertolongan. Karena itu, jangan hanya bertanya: “Apa yang bisa saya dapatkan dari orang lain?”

Tetapi biasakan bertanya: “Apa yang bisa saya berikan kepada orang lain?”

❤️ JANGAN MEREMEHKAN KEBAIKAN SEKecil APA PUN

Kadang-kadang manusia terlalu sibuk mencari amal besar. Padahal bisa jadi Allah memasukkan seseorang ke dalam rahmat-Nya karena sebuah amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas.

Ada orang yang memberikan air minum. Ada orang yang memberi makan hewan. Ada orang yang menolong orang tua menyeberang jalan. Ada orang yang memaafkan kesalahan saudaranya. Ada orang yang menjaga lisannya sehingga tidak menyakiti orang lain. Ada orang yang setiap malam mendoakan keluarganya. Tidak ada kebaikan yang sia-sia di sisi Allah.

Allah SWT berfirman:

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Maka jangan pernah berkata: “Kebaikanku terlalu kecil.” Bisa jadi kecil di mata manusia, tetapi besar di sisi Allah.

🌟 CAHAYA ORANG BERIMAN PADA HARI KIAMAT

Al-Qur’an menggambarkan bahwa orang-orang beriman akan memiliki cahaya pada hari kiamat.

Allah SWT berfirman:

“Pada hari ketika kamu melihat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka…” (QS. Al-Hadid: 12)

Cahaya itu merupakan gambaran kemuliaan dan pertolongan Allah kepada orang-orang beriman.

Karena itu, kehidupan dunia sebenarnya adalah masa untuk mengumpulkan bekal cahaya.

Setiap shalat yang ikhlas. Setiap bacaan Al-Qur’an. Setiap sedekah. Setiap air mata taubat. Setiap amal baik. Setiap kesabaran. Setiap perjuangan melawan hawa nafsu. Setiap kali kita memilih memaafkan daripada membalas. Setiap kali kita memilih berkata jujur daripada berdusta. Semua itu adalah bagian dari perjalanan seorang hamba menuju Allah.

⚠️ JANGAN MERASA AMAN DARI DOSA

Ada orang yang rajin beribadah tetapi lisannya menyakiti orang lain. Ada yang rajin bersedekah tetapi masih menipu. Ada yang sering ke masjid tetapi masih merendahkan manusia.

Ada yang membaca Al-Qur’an tetapi masih gemar memfitnah. Ada yang berbicara tentang surga tetapi kehidupannya dipenuhi kezaliman. Kita harus berhati-hati.

Ibadah tidak boleh berhenti pada ritual. Ibadah harus melahirkan akhlak.

Shalat seharusnya membuat kita semakin takut berbuat dosa. Puasa seharusnya membuat kita semakin mampu mengendalikan hawa nafsu.

Zakat seharusnya membuat kita semakin peduli. Haji seharusnya membuat kita semakin rendah hati.

Membaca Al-Qur’an seharusnya membuat kita semakin tunduk kepada Allah.

🗣️ JAGA LISAN

Salah satu perkara yang sering dianggap ringan tetapi sangat berbahaya adalah lisan. Satu kalimat dapat membuat seseorang bahagia. Tetapi satu kalimat juga dapat menghancurkan kehidupan seseorang.

Fitnah. Ghibah. Caci maki. Dusta. Adu domba. Penghinaan. Tuduhan tanpa bukti. Semua itu dapat menjadi dosa besar.

Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa seseorang dapat mengucapkan satu perkataan yang tidak dipikirkan akibatnya, lalu perkataan tersebut menjadi sebab ia terjerumus ke dalam kebinasaan.

Karena itu, sebelum berbicara, tanyakan: Apakah benar? Apakah perlu? Apakah bermanfaat? Kalau tidak, diam bisa menjadi ibadah.

👀 JAGA MATA

Mata juga harus dipersiapkan untuk akhirat. Di zaman digital, godaan bukan hanya ada di jalan.

Godaan bisa berada di dalam genggaman. Satu sentuhan layar.

Satu klik. Satu pencarian. Satu video. Satu akun. Kemudian hati perlahan berubah.

Karena itu, orang beriman harus mampu mengendalikan dirinya. Jangan biarkan teknologi mengendalikan iman.

Gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan. Gunakan teknologi untuk belajar. Gunakan internet untuk mencari ilmu. Gunakan media sosial untuk mempererat silaturahmi.

Jangan sampai perangkat yang kita gunakan setiap hari justru menjadi saksi atas dosa-dosa kita pada hari kiamat.

💔 JAGA HATI DARI SOMBONG, DENGKI DAN RIYA

Ada dosa yang tidak terlihat oleh mata. Namanya penyakit hati. Sombong. Dengki. Hasad. Riya. Ujub. Merasa paling suci. Merasa paling benar. Merasa amal kita paling banyak.

Padahal bisa jadi seseorang yang kita anggap biasa justru jauh lebih mulia di sisi Allah.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ukuran kemuliaan bukan jabatan. Bukan kekayaan. Bukan jumlah pengikut. Bukan popularitas. Bukan jumlah kendaraan. Bukan rumah besar. Bukan pakaian mahal. Bukan banyaknya orang yang mengenal kita. Ukuran kemuliaan adalah takwa.

🕊️ JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH

Mungkin ada di antara kita yang merasa: “Dosa saya terlalu banyak.” “Saya sudah terlalu jauh dari Allah.” “Apakah Allah masih mau mengampuni saya?”

Jawabannya: Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini adalah pintu harapan. Selama nyawa belum sampai tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.

Bangunlah. Wudhulah. Shalatlah. Menangislah di hadapan Allah.

Katakan: “Ya Allah, aku telah banyak salah. Aku telah banyak lalai. Aku telah jauh dari-Mu. Tetapi hari ini aku ingin kembali.” Allah Maha Mengetahui isi hati kita.

🌄 MULAILAH DARI HARI INI

Tidak perlu menunggu Ramadan. Tidak perlu menunggu usia tua. Tidak perlu menunggu kaya. Tidak perlu menunggu memiliki rumah besar. Tidak perlu menunggu hidup sempurna. Mulailah sekarang.

Jika selama ini shalat sering terlambat, mulai jaga waktunya. Jika selama ini jarang membaca Al-Qur’an, mulai satu halaman sehari. Jika selama ini jarang bersedekah, mulai dari jumlah yang mampu.

Jika selama ini hubungan dengan orang tua kurang baik, segera perbaiki. Jika ada saudara yang kita sakiti, minta maaf.

Jika ada utang, niatkan untuk membayar dan tunaikan sesuai kemampuan. Jika pernah mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika sering marah, belajar menahan diri.

Jika sering menggunjing, berhenti. Jika sering melihat sesuatu yang haram, palingkan pandangan. Karena perjalanan seribu langkah dimulai dari satu langkah.

🕌 JADIKAN MASJID SEBAGAI TEMPAT KEMBALI

Masjid bukan hanya tempat shalat. Masjid adalah tempat hati menemukan ketenangan. Di masjid kita belajar bahwa semua manusia sama.

Yang kaya berdiri di samping yang miskin. Yang berpangkat berdiri di samping rakyat biasa. Yang terkenal berdiri di samping orang yang tidak dikenal.

Semua menghadap kiblat. Semua mengucapkan:

الله أكبر

Allah Maha Besar.

Artinya, tidak ada jabatan yang lebih besar daripada Allah. Tidak ada kekayaan yang lebih besar daripada Allah.

Tidak ada kekuasaan yang lebih besar daripada Allah. Tidak ada popularitas yang lebih besar daripada Allah.

🌙 SUBUH: PERJUANGAN MELAWAN KENYAMANAN

Ada orang yang bisa bangun ketika hendak bekerja. Ada orang yang bisa bangun ketika hendak bepergian. Ada orang yang bisa bangun ketika ada urusan penting.

Tetapi ketika azan Subuh terdengar, ia memilih melanjutkan tidur. Padahal Subuh adalah panggilan Allah.

Ketika kita bangun untuk Subuh, sebenarnya kita sedang berkata: “Ya Allah, Engkau lebih penting daripada rasa kantukku.” Itulah latihan iman.

ISYA: MENUTUP HARI BERSAMA ALLAH

Setelah seharian bekerja, belajar, berdagang, mengurus keluarga, menghadapi masalah, dan berhadapan dengan dunia, seorang mukmin kembali kepada Allah melalui shalat Isya.

Bayangkan jika setiap malam sebelum tidur kita melakukan evaluasi: Apa dosa yang aku lakukan hari ini? Siapa yang aku sakiti? Apa kebaikan yang aku lakukan? Sudahkah aku bersyukur? Sudahkah aku meminta maaf? Sudahkah aku bertaubat?

Kemudian kita tidur dalam keadaan berwudhu, membaca doa, berdzikir dan menyerahkan diri kepada Allah.

Jika ternyata malam itu adalah malam terakhir kita di dunia, alangkah indahnya jika kita menghadap Allah dalam keadaan berusaha memperbaiki diri.

🌉 SHIRATH SEHARUSNYA MENGUBAH CARA KITA MENJALANI HIDUP

Membicarakan Shirath bukan untuk membuat kita hanya takut. Tetapi agar kita sadar.

Setiap hari sebenarnya kita sedang berjalan menuju akhirat. Umur berkurang. Kesempatan berkurang. Waktu terus berjalan. Anak-anak tumbuh. Orang tua menua. Teman-teman pergi satu demi satu.

Satu hari nanti nama kita mungkin disebut: “Telah meninggal dunia.”

Saat itu, semua urusan dunia berhenti. Yang dibawa hanya amal.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim)

Karena itu, mari tinggalkan sesuatu yang bermanfaat. Tinggalkan ilmu. Tinggalkan sedekah. Tinggalkan anak-anak yang saleh. Tinggalkan kebaikan.

Tinggalkan jejak yang membuat orang lain mendoakan kita. Jangan hanya meninggalkan foto. Jangan hanya meninggalkan jabatan. Jangan hanya meninggalkan harta. Tetapi tinggalkan amal yang terus mengalir.

❤️ LIMA BEKAL BESAR YANG HARUS KITA JAGA

Jika diringkas, mari kita jadikan lima hal berikut sebagai pengingat:

1️⃣ JAGA SHALAT

Jangan tinggalkan shalat. Usahakan tepat waktu. Jika mampu, jaga shalat berjamaah. Terutama jangan meremehkan Subuh dan Isya.

2️⃣ PERBANYAK TAUBAT

Jangan menunggu tua. Setiap kali terjatuh dalam dosa, segera kembali kepada Allah.

3️⃣ PERBANYAK SEDEKAH

Sedekah bukan hanya soal jumlah. Yang Allah lihat adalah keikhlasan.

4️⃣ PERBANYAK DOA DAN DZIKIR

Mohon kepada Allah agar diberikan iman yang kokoh, husnul khatimah, keselamatan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga.

5️⃣ JADILAH ORANG YANG BERMANFAAT

Bantu orang lain. Ringankan kesulitan. Jaga silaturahmi. Hormati orang tua. Sayangi keluarga. Tolong tetangga. Maafkan kesalahan. Jangan menjadi sumber penderitaan bagi orang lain.

🤲 DOA AGAR DISELAMATKAN PADA HARI AKHIR

Mari kita memperbanyak doa:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu surga dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka.”

Kita juga dapat berdoa:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Dan:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim.”

(QS. Al-A’raf: 126)

🌹 PENUTUP: JANGAN TAKUT KEPADA SHIRATH, TAKUTLAH JIKA TIDAK MEMPERSIAPKANNYA

Saudaraku… Shirath bukan sekadar cerita tentang sebuah jembatan.

Shirath adalah pengingat bahwa kehidupan ini memiliki tujuan. Kita tidak diciptakan untuk makan, tidur, bekerja, mencari uang, mengejar jabatan, lalu mati.

Allah SWT berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Maka hidup ini adalah perjalanan pulang. Kita berasal dari Allah. Kita hidup dengan pertolongan Allah.

Dan pada akhirnya kita akan kembali kepada Allah. Ketika perjalanan itu tiba, tidak ada yang dapat menolong kita kecuali dengan izin Allah.

Harta tidak dapat berjalan menggantikan kita. Jabatan tidak dapat berjalan menggantikan kita. Popularitas tidak dapat berjalan menggantikan kita.

Teman tidak dapat berjalan menggantikan kita. Keluarga tidak dapat berjalan menggantikan kita.

Yang menemani kita adalah iman dan amal yang diterima Allah, kemudian rahmat-Nya. Maka selama Allah masih memberikan umur…

Jangan sia-siakan waktu. Selama jantung masih berdetak… Perbaiki shalat.

Selama dosa masih bisa ditaubati… Segera bertaubat.

Selama tangan masih bisa bergerak… Bersedekahlah.

Selama kaki masih bisa berjalan… Datanglah ke masjid dan tempat-tempat kebaikan.

Selama lisan masih bisa berbicara… Ucapkan yang baik.

Selama orang tua masih hidup… Berbaktilah.

Selama saudara masih ada… Jaga silaturahmi.

Selama kesempatan masih diberikan… Jadilah manusia yang bermanfaat.

Karena kita tidak tahu kapan perjalanan dunia ini berakhir. Bisa jadi hari ini adalah hari terakhir kita. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi tidur malam ini adalah tidur terakhir kita.

Maka jangan tidur sebelum meminta ampun kepada Allah. Jangan tidur dalam keadaan menyimpan kebencian. Jangan tidur sambil membawa dendam.

Jangan tidur tanpa memohon kepada Allah agar diberikan husnul khatimah. Dan jangan pernah merasa terlalu jauh untuk kembali kepada Allah.

Selama nyawa belum sampai tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.

Semoga Allah memberikan kepada kita iman yang kokoh, hati yang bersih, amal yang ikhlas, rezeki yang halal dan berkah, keluarga yang sakinah, keturunan yang saleh, umur yang bermanfaat, husnul khatimah, keselamatan di alam barzakh, kemudahan ketika menghadapi hari kiamat, pertolongan ketika melewati Shirath, dan akhirnya memasukkan kita ke dalam Jannatun Na’im bersama Rasulullah ﷺ, keluarga, para sahabat, orang-orang saleh, serta orang-orang yang kita cintai.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اللهم ثبتنا على الإيمان، وتوفنا مسلمين، واحشرنا مع الصالحين، وأدخلنا الجنة برحمتك، وأجرنا من النار وعذاب القبر، وثبت أقدامنا على الصراط يوم تزل الأقدام.

“Ya Allah, teguhkanlah kami di atas iman, wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim, kumpulkanlah kami bersama orang-orang saleh, masukkanlah kami ke dalam surga dengan rahmat-Mu, lindungilah kami dari neraka dan azab kubur, serta teguhkanlah langkah kami di atas Shirath pada hari ketika banyak kaki tergelincir.”

Wallaahu a’lam bish-shawaab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

🌿 RENUNGAN HARI INI

Kita tidak tahu seberapa cepat kita akan melewati Shirath nanti. Tetapi kita masih diberi kesempatan untuk menentukan bekal apa yang akan kita bawa menuju Shirath itu.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *