JAKARTA – BELA RAKYAT – Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Bali I Nyoman Parta menilai tradisi Mecepuk atau Mecampuh merupakan salah satu kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Bali yang perlu terus dijaga serta diwariskan kepada generasi muda.
Sebagai informasi, tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini bukan sekadar ritual adat, tetapi juga menjadi simbol kuat persatuan antardesa adat, penghormatan kepada leluhur, serta wujud pengabdian kepada Tuhan.
Tradisi tersebut hidup di tujuh desa adat yang memiliki ikatan spiritual yang sangat erat, yakni Desa Adat Seronggo, Desa Adat Lebih, Desa Adat Siangan, Desa Adat Tedung, Desa Adat Tojan, Desa Adat Tusan, dan Desa Adat Sarimerta.
Selama berabad-abad, ketujuh desa ini menjaga kesinambungan ritual melalui semangat kebersamaan yang dalam tradisi Bali dikenal sebagai pasubayan, yakni ikatan persaudaraan, persatuan, atau persekutuan yang dibangun atas dasar kesamaan tujuan, keyakinan, dan tanggung jawab adat.
Menurut Parta, keberlangsungan tradisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Bali memiliki sistem sosial yang kuat sehingga mampu mempertahankan warisan budaya di tengah perubahan zaman.
“Tradisi seperti Mecepuk bukan hanya milik masyarakat adat setempat, tetapi merupakan kekayaan budaya bangsa. Nilai gotong royong, spiritualitas, penghormatan kepada alam, dan penghormatan kepada leluhur harus terus dirawat,” ujar Parta seperti dikutip di akun Instagram pribadinya.
Apa Itu Mecepuk atau Mecampuh?
Bagi masyarakat di luar Bali, istilah Mecepuk atau Mecampuh mungkin masih terdengar asing. Ritual ini merupakan prosesi sakral yang berkaitan dengan perjalanan suci Sesuwunan atau Ida Bhatara, yakni manifestasi Tuhan yang distanakan pada tapakan.
Dalam tradisi Hindu Bali, tapakan bukan sekadar benda atau arca biasa. Tapakan merupakan media suci yang diyakini menjadi tempat berstana kekuatan spiritual Ida Bhatara ketika berlangsung upacara keagamaan. Karena itu, tapakan selalu diperlakukan dengan penuh penghormatan.
Prosesi Mecepuk dilaksanakan ketika Ida Bhatara “tedun” atau turun dari pura untuk melakukan perjalanan suci menuju hutan atau kawasan tertentu guna nunas taru.
Memahami Istilah “Nunas Taru”
Istilah nunas dalam bahasa Bali berarti memohon atau mengambil dengan penuh penghormatan. Sementara taru berarti pohon atau kayu.
Dengan demikian, nunas taru bukanlah kegiatan menebang pohon secara sembarangan, melainkan prosesi spiritual memohon izin kepada alam dan Tuhan sebelum mengambil kayu yang nantinya digunakan sebagai bagian dari sarana upacara keagamaan.
Dalam pandangan masyarakat Hindu Bali, setiap pohon dipercaya memiliki kehidupan serta energi spiritual sehingga pengambilan kayu harus dilakukan melalui ritual tertentu agar tetap menjaga keseimbangan alam.
Kayu yang diambil sering disebut pula sebagai tuwed taru, yaitu bagian pohon yang telah mendapatkan restu secara niskala (spiritual) untuk dimanfaatkan dalam kepentingan suci.
Tidak Dilaksanakan Setiap Tahun
Keunikan lain tradisi Mecepuk adalah tidak memiliki jadwal pelaksanaan yang pasti.
Secara umum, pelaksanaannya diatur melalui pararem desa, yakni keputusan atau aturan adat hasil musyawarah masyarakat adat.
Biasanya ritual ini diselenggarakan sekitar lima tahun sekali. Namun pelaksanaannya tetap bergantung pada pawisik atau petunjuk spiritual yang diterima oleh pemuwus, yakni tokoh adat atau pihak yang memperoleh isyarat suci dari Ida Bhatara mengenai waktu yang tepat untuk melaksanakan ritual tersebut.
Artinya, keputusan pelaksanaan tidak hanya berdasarkan pertimbangan administratif, tetapi juga keyakinan spiritual masyarakat adat.
Perjalanan Suci Ida Bhatara
Saat prosesi berlangsung, berbagai petapakan atau simbol-simbol suci diusung oleh para penyungsung menuju lokasi pengambilan taru.
Para penyungsung merupakan umat yang memiliki tanggung jawab spiritual untuk merawat pura beserta seluruh sarana sucinya.
Selama perjalanan, seluruh peserta menjaga kesucian perilaku, ucapan, hingga pikiran. Berbagai sarana upacara dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya.
Suasana sakral berpadu dengan semangat gotong royong masyarakat yang secara sukarela terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Filosofi Keharmonisan
Menurut Parta, makna terdalam Mecepuk bukan hanya terletak pada prosesi mengambil kayu suci.
Lebih jauh, Parta menjelaskan, ritual ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parhyangan), hubungan antarmanusia (Pawongan), serta hubungan manusia dengan alam (Palemahan), yang merupakan konsep utama Tri Hita Karana, filosofi kehidupan masyarakat Bali.
Melalui ritual ini masyarakat diajak untuk selalu menghormati alam sebagai sumber kehidupan, sekaligus menyadari bahwa setiap pemanfaatan sumber daya alam harus dilakukan secara bertanggung jawab.
Memperkuat Persatuan Tujuh Desa Adat
Tradisi Mecepuk juga menjadi momentum penting mempererat hubungan antartujuh desa adat yang selama ini memiliki sejarah panjang kebersamaan.
Seluruh krama adat bergotong royong menyiapkan berbagai kebutuhan upacara mulai dari perlengkapan ritual, konsumsi, hingga pengamanan jalannya prosesi.
Kebersamaan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi adat tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Warisan Leluhur yang Perlu Dijaga
Parta menegaskan bahwa pelestarian tradisi seperti Mecepuk menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya Bali di tengah derasnya arus modernisasi.
Menurutnya, generasi muda perlu memahami makna filosofis di balik setiap ritual agar tidak sekadar melihatnya sebagai atraksi budaya, melainkan sebagai warisan spiritual yang sarat nilai kehidupan.
“Tradisi ini mengajarkan penghormatan kepada Tuhan, alam, leluhur, dan sesama manusia. Nilai-nilai inilah yang harus terus diwariskan agar Bali tetap kokoh menjaga jati dirinya,” kata Parta.
Ia berharap berbagai tradisi sakral yang masih lestari di Bali dapat terus didokumentasikan, dipelajari, dan dipromosikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, tanpa mengurangi nilai kesucian maupun makna spiritual yang terkandung di dalamnya.
Bagi masyarakat Bali, Mecepuk bukan sekadar ritual adat yang dilaksanakan setiap beberapa tahun sekali. Ia merupakan peristiwa spiritual yang mempertemukan keyakinan, sejarah, budaya, serta persaudaraan dalam satu rangkaian upacara suci yang telah diwariskan oleh leluhur selama ratusan tahun dan tetap hidup hingga sekarang.






