JAKARTA | MEDIA BELA RAKYAT — Di tengah riuhnya peringatan Hari Puisi Indonesia bertajuk “Unjuk Rasa, Unjuk Karya” di Selasar Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 25-26 Juli 2026 kemarin, terdapat sosok yang tak hanya datang membawa suara, tetapi juga perjalanan panjang seorang seniman. Ia adalah Jajat Napiansyah, yang kini lebih dikenal dengan nama Jack Dwipangga. Pria rupawan yang lahir di Bogor pada 1 Juli 1980, perjalanan hidupnya menjadi kisah tentang keberanian meninggalkan zona nyaman demi mengikuti panggilan jiwa. Dari dunia farmasi, properti, hingga bisnis, ia memilih menempuh jalan yang lebih sunyi namun penuh makna: dunia seni, sastra, teater, dan perfilman. Baginya, seni bukan sekadar profesi, melainkan cara manusia menjaga nurani bangsa.
Momentum peringatan Hari Puisi Indonesia tersebut sekaligus menjadi tonggak penting dalam perjalanan kepenyairan dan pengabdian seninya. Di hadapan para seniman, budayawan, sastrawan, serta pegiat kebudayaan dari berbagai daerah, ia secara resmi mengumumkan pergantian nama panggung dari Jack Al-Ghozali menjadi Jack Dwipangga. Pergantian nama itu bukan sekadar perubahan identitas artistik, melainkan penegasan atas babak baru perjalanan hidup dan visi kebudayaannya. Nama Jack Dwipangga dipilih sebagai simbol komitmen yang semakin kuat untuk mengabdikan diri pada dunia sastra, teater, perfilman, dan gerakan kebudayaan yang berpihak kepada kepentingan rakyat. Bagi Jack, seni bukan hanya ruang berekspresi, melainkan medium perjuangan, pendidikan, serta ikhtiar menjaga martabat dan jati diri kebudayaan Indonesia di tengah arus perubahan zaman.
Perjalanan Jack Dwipangga bukan kisah instan. Bertahun-tahun ia menempa diri di berbagai panggung teater dengan membawakan karya-karya besar seperti Tumirah Sang Muncikari karya Seno Gumira Ajidarma, Orang-orang di Tikungan Jalan karya W.S. Rendra, HAH karya Putu Wijaya, Orkes Madun Umang-Umang karya Arifin C. Noer, hingga Nomaden karya Ujang GB. Ia juga terlibat dalam perjalanan budaya sejauh 5.500 kilometer dari Jakarta menuju Ende, Nusa Tenggara Timur, melalui program Napak Tilas Bung Karno, memerankan tokoh Proklamator Ir. Soekarno. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa panggung sesungguhnya bukan hanya berada di gedung pertunjukan, melainkan juga di tengah kehidupan masyarakat yang terus memperjuangkan identitas budayanya.
Kemampuan aktingnya kemudian membawanya menembus layar kaca dan layar lebar. Namanya tercatat pernah terlibat dalam sejumlah sinetron seperti Spontan, Gerhana, Tukang Ojek Pengkolan, Misteri Gunung Merapi, Kian Santang, hingga Jeritan Istri. Di dunia perfilman, ia ikut ambil bagian dalam produksi seperti The Raid, Headshot, Buya Hamka, Kafir, dan Jurig Marakayangan. Tidak berhenti di situ, Jack juga tampil dalam berbagai iklan nasional, mulai dari Tokopedia, Bank BRI, Bank Mandiri, Pertamina, Pesona Indonesia, hingga puluhan film pendek produksi Institut Kesenian Jakarta. Namun di balik deretan karya tersebut, ia tetap memperkenalkan dirinya sebagai seorang penyair yang percaya bahwa kata-kata mampu menggerakkan kesadaran lebih kuat daripada tepuk tangan.
Karena itu, kehadirannya dalam aksi budaya “Unjuk Rasa, Unjuk Karya” bukanlah sekadar memenuhi undangan komunitas seni. Jack hadir sebagai bagian dari denyut perjuangan para seniman yang menolak kebudayaan direduksi menjadi sekadar komoditas ekonomi. Bersama Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPSTIM), komunitas sastra, pegiat budaya, dan masyarakat, ia berdiri menyuarakan pentingnya menjaga ruang kebudayaan sebagai ruang dialog, kritik, pendidikan, dan kebebasan berekspresi. Sejalan dengan semangat UUD NRI Tahun 1945 serta Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, perjuangan tersebut menegaskan bahwa seni merupakan hak setiap warga negara untuk mencipta, menyampaikan gagasan, dan berpartisipasi dalam kehidupan kebudayaan bangsa.
Dalam kesempatan itu, Jack Dwipangga menyampaikan pernyataan yang menggambarkan sikap hidupnya sebagai seniman, “Saya melihat apa yang dilakukan kawan-kawan seniman di Taman Ismail Marzuki bukan sekadar aksi protes. Ini adalah ikhtiar kebudayaan. Ketika seniman mulai bertanya, ketika penyair mulai membaca puisi dengan kegelisahan, ketika musik dan karya seni menjadi suara kritik, maka sesungguhnya kebudayaan sedang menyelamatkan dirinya sendiri. Taman Ismail Marzuki bukan sekadar bangunan, bukan sekadar alamat, dan bukan sekadar aset yang dapat dipandang hanya dari sisi ekonomi. Di sana ada sejarah, ada keringat seniman, ada ingatan bangsa, dan ada ruang hidup bagi gagasan. Karena itu saya berdiri bersama kawan-kawan seniman TIM. Bila perjuangan ini membutuhkan kami turun gunung dari Bekasi ke Ibu Kota Jakarta, maka kami akan datang. Sebab, ketika rumah kebudayaan sedang dipertanyakan masa depannya, tidak boleh ada seniman yang memilih diam. Puisi boleh lembut, tetapi kebenaran tidak boleh kehilangan keberanian. Seni tidak akan pernah tumbuh dari rasa takut. Ia lahir dari kebebasan, keberpihakan kepada manusia, dan keberanian menjaga martabat kebudayaan Indonesia,” Jelasnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa bagi Jack Dwipangga, puisi bukan sekadar rangkaian diksi yang indah, melainkan manifestasi keberanian moral. Ia memandang penyair bukan hanya pencipta kata-kata, melainkan penjaga nurani publik. Dalam setiap bait yang ia tulis maupun setiap karakter yang ia perankan, tersimpan keyakinan bahwa seni harus mampu menjadi jembatan antara sejarah, kemanusiaan, dan masa depan. Pandangan itu pula yang membuat kiprahnya di dunia teater, film, sastra, hingga gerakan kebudayaan saling bertaut dalam satu napas perjuangan. Ujar Jack Dwipangga, Selasa (28/7/2026).
Bagi banyak kalangan seniman, sosok Jack Dwipangga menghadirkan contoh bahwa seorang pekerja seni tidak harus memilih antara berkarya atau bersikap. Ia membuktikan bahwa panggung hiburan dapat berjalan berdampingan dengan panggung kebudayaan. Ketika kamera berhenti merekam, perjuangan menjaga ruang ekspresi tetap berlanjut. Ketika lampu panggung padam, suara penyair tetap menyala melalui puisi, diskusi, manifesto, dan aksi budaya yang berpijak pada nilai-nilai konstitusi serta penghormatan terhadap keberagaman budaya Indonesia. Pungkasnya.
Pada akhirnya, perjalanan Jajat Napiansyah yang kini dikenal sebagai Jack Dwipangga adalah cermin bahwa kesenian bukan sekadar jalan menuju popularitas, melainkan jalan panjang menuju pengabdian. Dari panggung teater hingga layar lebar, dari bait puisi hingga mimbar kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, ia terus mengingatkan bahwa bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung megah, tetapi juga oleh seniman yang berani menjaga ingatan kolektifnya. Selama masih ada penyair yang menulis, aktor yang memaknai perannya sebagai panggilan nurani, dan masyarakat yang mencintai kebudayaan, maka harapan itu akan tetap hidup karena peradaban selalu dimulai dari keberanian untuk berkarya dan keberanian untuk bersuara.
(CP/red)






