5 Wasiat Rasulullah SAW agar Menjadi Muslim yang Baik di Akhir Zaman

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI/ F-PKS / Kalimantan Selatan I

Memahami Hakikat Kehidupan Dunia, Menyiapkan Bekal Akhirat

Bacaan Lainnya

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Rabb semesta alam yang telah menciptakan manusia bukan sekadar untuk hidup, makan, bekerja, dan mengumpulkan harta, tetapi untuk beribadah kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat.

Menjadi seorang muslim bukan sekadar memiliki identitas Islam di kartu penduduk atau dilahirkan dari keluarga muslim. Menjadi muslim berarti tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.

Di zaman Rasulullah SAW, Islam bukan hanya mengubah keyakinan seseorang, tetapi juga mengubah cara berpikir, cara hidup, cara bermuamalah, cara bekerja, cara mengelola harta, bahkan cara menghadapi kematian.

Kini kita hidup pada zaman yang sangat berbeda. Teknologi semakin maju. Gedung semakin tinggi.

Selain itu, mobil semakin mewah. Media sosial semakin ramai. Namun ironisnya, ketenangan hati justru semakin sulit ditemukan.

Kini, banyak orang kaya tetapi gelisah. Banyak yang terkenal tetapi kesepian. Banyak yang memiliki rumah besar tetapi keluarganya berantakan.

Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat singgah.

Beliau bersabda: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari)

Karena itu, seorang muslim harus memiliki orientasi akhirat.

Fondasi Pertama: Rukun Islam

Dalam hadits Jibril yang sangat masyhur, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Islam dibangun di atas lima perkara.

Beliau bersabda: “Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah bagi yang mampu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah pondasi seorang muslim. Tanpa pondasi ini, bangunan keislaman akan rapuh.

Fondasi Kedua: Rukun Iman

Dalam hadits Jibril pula Rasulullah SAW menjelaskan: “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)

Iman inilah yang menjadi sumber kekuatan hati.

Lima Wasiat yang Mengajarkan Zuhud

Selain membangun pondasi aqidah dan ibadah, para ulama sejak dahulu banyak menasihati umat agar tidak diperbudak dunia. Isi lima wasiat yang disebutkan di atas selaras dengan banyak ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih tentang sikap zuhud, qana’ah, serta mengutamakan akhirat.

1. Jangan Mengumpulkan Makanan yang Tidak Akan Dimakan

Islam melarang pemborosan.

Allah berfirman:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Dalam kehidupan modern, banyak makanan terbuang sia-sia sementara masih banyak saudara kita yang kelaparan.

Rasulullah SAW mengajarkan menghormati nikmat. Beliau bahkan memungut makanan yang jatuh lalu memakannya selama masih bersih.

Beliau bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggalkan makanan yang jatuh, hendaklah ia membersihkan lalu memakannya dan jangan membiarkannya untuk setan.” (HR. Muslim)

Pelajarannya bukan sekadar soal makanan, tetapi menghargai seluruh nikmat Allah.

Kisah Para Sahabat

Abu Hurairah RA pernah menahan lapar berhari-hari.

Umar bin Khattab RA pernah mengikat batu di perutnya karena lapar.

Namun ketika menjadi khalifah, mereka tidak hidup bermewah-mewahan. Karena mereka sadar bahwa nikmat dunia hanyalah sementara.

2. Jangan Membangun Rumah yang Tidak Ditinggali

Islam tidak melarang memiliki rumah yang baik. Namun Islam melarang kesombongan.

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong.” (QS. Al-Isra’: 37)

Rumah hanyalah sarana. Rumah terbaik bukan yang paling mahal.

Rumah terbaik adalah yang dipenuhi shalat, Al-Qur’an, dzikir, ilmu, dan kasih sayang. Ayo isi rumah dengan jenis ibadah itu bukan dengan kemewahan.

Rasulullah SAW bersabda: “Jadikanlah sebagian shalat kalian di rumah, dan janganlah menjadikan rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kondisi Kekinian

Hari ini banyak orang berlomba membeli rumah kedua, ketiga, keempat hanya demi gengsi, sementara masjid di sekitar rumah sepi dari jamaah.

Rumah megah tidak akan menemani kita di alam kubur. Yang menemani hanyalah amal saleh.

3. Jangan Berlomba Mengumpulkan Sesuatu yang Akan Ditinggalkan

Inilah penyakit terbesar manusia.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)

Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keinginan manusia tidak pernah selesai. Naik motor ingin mobil. Sudah punya mobil ingin mobil mewah. Sudah punya rumah ingin istana. Padahal semua akan ditinggalkan.

Kisah Qarun

Al-Qur’an mengabadikan kisah Qarun. Ia sangat kaya.

Kunci-kunci gudang hartanya saja dipikul banyak orang kuat. Namun ketika sombong, Allah menenggelamkannya bersama seluruh hartanya. (QS. Al-Qashash: 76–82)

Pelajaran besarnya adalah harta tidak salah, tetapi cinta berlebihan kepada harta dapat menghancurkan manusia.

4. Bertakwalah kepada Allah karena Kelak Kita Akan Dikumpulkan di Hadapan-Nya

Hari kiamat adalah kepastian.

Allah SWT berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Kemudian Allah berfirman:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Rasulullah SAW bersabda: “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, ilmunya, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tubuhnya digunakan untuk apa.” (HR. Tirmidzi)

Setiap unggahan media sosial, setiap komentar, setiap transaksi, setiap ucapan kepada orang tua, pasangan, anak, dan tetangga akan dipertanggungjawabkan.

Kesadaran akan hisab inilah yang melahirkan ketakwaan.

5. Cintailah Akhirat karena Itulah Tempat Tinggal yang Kekal

Allah SWT berfirman:

“Sedangkan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17)

Dan firman-Nya:

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, sedangkan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Rasulullah SAW bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Artinya, seorang mukmin tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

Ia bekerja keras. Ia mencari nafkah halal. Ia membangun keluarga. Ia berkarya. Namun semua itu diniatkan sebagai ibadah.

Teladan Para Sahabat

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA

Beliau menyerahkan hampir seluruh hartanya untuk perjuangan Islam.

Ketika ditanya Rasulullah SAW apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, beliau menjawab: “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya.”

Umar bin Khattab RA

Sebagai khalifah, beliau hidup sangat sederhana. Beliau takut dimintai pertanggungjawaban bahkan jika seekor keledai tergelincir karena jalan yang rusak.

Utsman bin Affan RA

Beliau sangat kaya. Namun kekayaannya dipakai membeli sumur untuk umat Islam, membiayai pasukan, dan bersedekah tanpa batas.

Ali bin Abi Thalib RA

Beliau pernah berkata: “Dunia sedang pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat sedang datang menghampiri. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia.”

Relevansi di Akhir Zaman

Hari ini manusia menghadapi tantangan yang belum pernah ada sebelumnya:

Budaya konsumtif. Pamer kekayaan di media sosial. Gaya hidup berutang demi gengsi. Persaingan yang membuat lupa ibadah.

Kemudian, informasi yang melalaikan dari dzikir. Fitnah, hoaks, dan permusuhan di ruang digital.

Karena itu, lima wasiat ini semakin relevan. Seorang muslim hendaknya hidup sederhana, bekerja dengan jujur, mencari rezeki yang halal, memperbanyak sedekah, menjaga shalat berjamaah, berbakti kepada orang tua, mempererat silaturahmi, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

Penutup

Hidup di dunia sangat singkat.

Allah SWT mengingatkan:

“Setiap jiwa akan merasakan mati, kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-‘Ankabut: 57)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga rukun Islam, menguatkan rukun iman, hidup sederhana, tidak diperbudak dunia, bertakwa dalam setiap keadaan, dan senantiasa merindukan perjumpaan dengan-Nya.

Doa: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, jangan pula sebagai puncak ilmu kami. Jadikanlah akhirat sebagai cita-cita kami, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin. Wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah dan kumpulkan kami bersama Nabi Muhammad SAW di surga Firdaus. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *