Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI/ F-PKS/ Kalimantan Selatan I
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian bagi manusia. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah hingga hari kiamat.
Setiap manusia pasti akan meninggalkan dunia. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindari kematian. Setelah kematian, manusia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat, dihisab seluruh amalnya, lalu melewati Ash-Shirath, yaitu jembatan yang dibentangkan di atas Neraka Jahannam menuju surga.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa jembatan itu sangat dahsyat. Lebih tipis daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang. Setiap manusia akan melewatinya sesuai kadar iman dan amal salehnya. Ada yang melintas secepat kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti kuda yang berlari kencang, ada yang berjalan, merangkak, bahkan ada yang terjatuh ke dalam neraka. Na’udzubillahi min dzalik.
Dalil Al-Qur’an
Allah SWT berfirman:
“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu melainkan akan mendatanginya (melewati neraka itu). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketetapan yang sudah ditetapkan.”
“Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalamnya dalam keadaan berlutut.”(QS. Maryam: 71–72).
Ayat ini dijelaskan oleh para ulama tafsir bahwa seluruh manusia akan melewati Ash-Shirath, sedangkan keselamatan ditentukan oleh ketakwaan kepada Allah.
Dalil Hadis
Rasulullah ﷺ bersabda: “Kemudian dibentangkan jembatan di atas neraka Jahannam, maka aku dan umatku menjadi orang pertama yang melaluinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain disebutkan: “Di antara mereka ada yang melewatinya seperti kedipan mata, seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda yang berlari, ada yang berlari, berjalan, merangkak, dan ada yang disambar pengait-pengait neraka.” (HR. Muslim)
Betapa dahsyatnya keadaan saat itu. Tidak ada jabatan, harta, keturunan, ataupun kekuasaan yang dapat menyelamatkan seseorang. Yang menyelamatkan hanyalah rahmat Allah dan amal saleh.
Lima Amalan yang Insya Allah Mempermudah Melewati Ash-Shirath
1. Menjaga Shalat Fardhu, Terutama Berjamaah
Shalat adalah amal pertama yang dihisab pada Hari Kiamat.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Amalan pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Allah berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45).
Shalat Subuh dan Isya berjamaah memiliki keutamaan yang sangat besar.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya manusia mengetahui keutamaan shalat Isya dan Subuh berjamaah, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Taubatan Nasuha
Tidak ada manusia yang luput dari dosa.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. At-Tahrim: 8).
Taubat yang tulus akan menghapus dosa-dosa.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah)
3. Memperbanyak Sedekah
Sedekah bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga menjadi penyelamat pada Hari Kiamat.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sedekah dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.”(HR. Tirmidzi)
Dalam hadis lain:
“Naungan seorang mukmin pada Hari Kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)
4. Memperbanyak Doa Memohon Keselamatan
Di antara doa yang baik dibaca:
اللهم إني أسألك الجنة وأعوذ بك من النار، وأسألك الجواز على الصراط.
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, berlindung kepada-Mu dari neraka, dan memohon kemudahan untuk melintasi Ash-Shirath.”
Selain itu, perbanyak membaca:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (QS. Al-Baqarah: 201)
5. Menolong Sesama Muslim
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang memudahkan urusan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Membantu orang lain, meringankan kesulitan mereka, menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin, hingga memberi senyum kepada sesama adalah amal yang sangat dicintai Allah.
Pelajaran dari Sejarah
Sejak zaman Nabi Muhammad ﷺ hingga generasi sahabat, perhatian terhadap amal saleh sangat besar karena mereka benar-benar meyakini adanya kehidupan akhirat.
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menginfakkan hampir seluruh hartanya demi Islam. Ketika ditanya Rasulullah ﷺ apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, beliau menjawab, “Allah dan Rasul-Nya.” Keimanan yang demikian lahir dari keyakinan bahwa kehidupan akhirat jauh lebih kekal daripada dunia.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu terkenal sangat takut kepada Allah. Meskipun dijamin sebagai penghuni surga dalam hadis, beliau tetap sering menangis karena khawatir amalnya tidak diterima. Ini menunjukkan bahwa orang yang paling dekat kepada Allah justru paling besar rasa takutnya kepada-Nya.
Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu terkenal dermawan. Sumur Ruumah yang beliau beli dan wakafkan untuk kaum muslimin menjadi contoh bahwa sedekah yang ikhlas dapat terus mengalir pahalanya.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengajarkan agar manusia tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Menurut beliau, dunia akan pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat akan datang menghampiri.
Generasi salaf juga memiliki kebiasaan memperbanyak qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, dan menjaga shalat berjamaah. Mereka sadar bahwa bekal menuju akhirat bukanlah harta, melainkan ketakwaan.
Pelajaran dari Zaman Sekarang
Di era modern, manusia disibukkan oleh pekerjaan, media sosial, hiburan, dan urusan dunia. Banyak yang mengejar jabatan, kekayaan, dan popularitas, tetapi melupakan bekal menuju akhirat. Padahal setiap hari kita menyaksikan kabar kematian dari berbagai usia. Hal itu menjadi pengingat bahwa tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang.
Teknologi adalah nikmat jika digunakan untuk kebaikan, seperti menyebarkan ilmu, mengingatkan waktu salat, bersedekah secara daring kepada yang membutuhkan, dan menyambung silaturahmi. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sebab dosa jika digunakan untuk ghibah, fitnah, menyebarkan kebencian, atau melihat hal-hal yang diharamkan. Karena itu, seorang mukmin hendaknya memanfaatkan setiap nikmat sebagai jalan mendekat kepada Allah.
Allah SWT berfirman: “Dan berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197).
Penutup
Saudaraku, kehidupan dunia hanyalah persinggahan yang sangat singkat. Tidak ada yang akan menemani kita di alam kubur selain iman dan amal saleh. Oleh karena itu, marilah kita memperbaiki shalat, memperbanyak istighfar, bersedekah, berbakti kepada orang tua, menjaga silaturahmi, membantu sesama, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, serta menghidupkan malam dengan qiyamul lail.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan yang memperoleh cahaya iman, dimudahkan hisabnya, diberi syafaat Nabi Muhammad ﷺ, serta mampu melewati Ash-Shirath dengan selamat hingga memasuki surga tanpa azab.
اللهم اجعلنا من أهل الجنة، وأجرنا من النار، ويسر لنا المرور على الصراط المستقيم، وثبت أقدامنا يوم تزل الأقدام.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga, lindungilah kami dari api neraka, mudahkanlah kami melewati Ash-Shirath, dan teguhkanlah langkah kami pada hari ketika banyak kaki tergelincir.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.





