Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Tertawa adalah salah satu bahasa paling tua dalam kehidupan manusia. Sebelum manusia pandai berbicara, ia telah mengenal senyum. Sebelum mengenal banyak hal tentang dunia, seorang bayi telah mampu tertawa. Karena itu, tertawa bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan agama. Justru ia merupakan bagian dari fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia.
Allah SWT. berfirman:
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى
“Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan manusia tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43)
Ayat ini menunjukkan bahwa tawa dan air mata sama-sama merupakan karunia Allah. Keduanya adalah bahasa jiwa. Keduanya mempunyai tempat dan waktunya masing-masing. Karena itu Islam bukan agama yang melarang manusia bergembira, tetapi agama yang mengajarkan bagaimana bergembira tanpa kehilangan arah.
Menariknya, Rasulullah SAW. dikenal sebagai pribadi yang murah senyum. Abdullah bin Al-Harits RA.berkata:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللهِﷺ
“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW..” (HR. Tirmidzi)
Namun senyum Nabi berbeda dengan budaya hiburan zaman sekarang. Beliau tersenyum tanpa meremehkan. Beliau bercanda tanpa menyakiti. Beliau bergembira tanpa melupakan Allah. Di sinilah letak perbedaannya. Islam tidak mempersoalkan tawa, tetapi memperhatikan apa yang melahirkan tawa itu dan ke mana tawa itu membawa manusia.
Hari ini kita hidup pada zaman ketika hiburan tersedia tanpa batas. Dalam satu genggaman, seseorang dapat tertawa berkali-kali dalam sehari melalui berbagai video, meme, dan candaan yang terus mengalir. Namun ironisnya, semakin banyak hiburan, tidak selalu berarti semakin banyak kebahagiaan. Banyak orang yang tertawa di hadapan orang lain, tetapi gelisah ketika sendirian. Banyak yang tampak ceria di media sosial, tetapi hatinya dipenuhi kecemasan.
Mungkin karena kebahagiaan sejati tidak lahir dari banyaknya hiburan, melainkan dari ketenangan hati. Karena itu Al-Qur’an tidak pernah menjadikan tawa sebagai ukuran kebahagiaan. Yang dijadikan ukuran adalah ketenteraman jiwa.
Allah berfirman:
فَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ
“Barang siapa yang Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam, maka ia berada di atas cahaya dari Tuhannya.” (QS. Az-Zumar: 22)
Karena itu, yang perlu dijaga bukanlah seberapa sering kita tertawa, tetapi apakah tawa itu membuat hati semakin hidup atau justru semakin lalai. Sebab ada tawa yang lahir dari rasa syukur, tetapi ada pula tawa yang lahir dari ejekan. Ada tawa yang mempererat persaudaraan, tetapi ada pula tawa yang meruntuhkan kehormatan orang lain.
Allah mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini sangat relevan pada zaman sekarang ketika banyak hiburan dibangun di atas olok-olok, penghinaan, dan mempermalukan orang lain demi mendapatkan perhatian. Padahal kegembiraan yang dibangun di atas luka orang lain bukanlah kegembiraan yang bermartabat.
Imam Asy-Syafi’i pernah berkata:
مَنْ كَثُرَ ضَحِكُهُ قَلَّتْ هَيْبَتُهُ
“Siapa yang terlalu banyak tertawa, berkurang kewibawaannya.”
Nasihat ini bukan larangan untuk tertawa, tetapi ajakan menjaga keseimbangan. Sebab hidup bukan hanya membutuhkan kegembiraan, tetapi juga kesadaran. Bukan hanya membutuhkan hiburan, tetapi juga perenungan.
Ali bin Abi Thalib RA. pernah mengingatkan.
إِنَّ الدُّنْيَا قَدْ ارْتَحَلَتْ مُدْبِرَةً وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدْ ارْتَحَلَتْ مُقْبِلَةً
“Sesungguhnya dunia sedang berjalan menjauh, sedangkan akhirat sedang berjalan mendekat.”
Karena itu, seorang mukmin tidak hidup dalam kesedihan yang berkepanjangan, tetapi juga tidak tenggelam dalam kegembiraan yang melalaikan. Ia mampu tertawa, tetapi tidak kehilangan rasa takut kepada Allah. Ia mampu menikmati hidup, tetapi tidak melupakan tujuan hidup.
Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa keras kita tertawa, melainkan seberapa tenang hati kita setelah tawa itu berlalu. Sebab kebahagiaan sejati bukan ketika bibir terus tersenyum, melainkan ketika hati tetap damai dalam keadaan apa pun.
Maka tertawalah ketika ada alasan untuk tertawa. Tersenyumlah kepada sesama karena itu adalah sedekah. Nikmatilah hidup sebagai karunia Allah. Tetapi jangan biarkan kegembiraan menutupi kesadaran bahwa setiap langkah hidup sedang membawa kita menuju-Nya.
Sebab tawa yang paling indah bukanlah tawa yang paling riuh, melainkan tawa yang lahir dari hati yang bersyukur, akal yang jernih, dan jiwa yang tetap dekat dengan Allah.
#Wallahu A’lam Bishawab






