Tiga Pintu Menuju Kehinaan

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar

Sebuah bangsa tidak selalu hancur karena perang, tidak pula selalu runtuh karena kemiskinan. Sering kali, sebuah peradaban roboh ketika keadilan dijual, ilmu kehilangan ketakwaan, dan manusia rela menjual harga dirinya demi kepentingan dunia.

Berabad-abad yang lalu, seorang sufi besar, Ibrahim bin Adham, meninggalkan sebuah kalimat yang terasa seolah ditulis untuk zaman kita hari ini.

قال إبراهيم بن أدهم:

«كل ملك لا يكون عادلا، فهو واللص سواء، وكل عالم لا يكون تقيا، فهو والذئب سواء، وكل من ذل لغير الله، فهو والكلب سواء.

“Setiap raja yang tidak berlaku adil, maka ia dan pencuri adalah sama. Setiap orang alim yang tidak bertakwa, maka ia dan serigala adalah sama. Dan setiap orang yang merendahkan diri kepada selain Allah, maka ia dan anjing adalah sama.”(Siyar A’lam al-Nubala’, Jilid 7, hlm. 394).

Kalimat ini pendek, tetapi menghantam kesadaran. Mengapa penguasa yang zalim disamakan dengan pencuri?
, Karena pencuri hanya merampas harta seseorang, sedangkan penguasa yang tidak adil dapat merampas hak, harapan, masa depan, bahkan kepercayaan rakyat kepada negara. Pencurian terbesar bukan selalu mengambil uang dari laci, tetapi mengambil hak orang lain dengan menggunakan kekuasaan.

Lalu mengapa ulama yang tidak bertakwa disamakan dengan serigala?

Karena serigala memangsa mangsanya dengan taring, sedangkan ilmu yang kehilangan ketakwaan dapat memangsa akal, hati, dan keyakinan manusia. Ketika ilmu diperdagangkan demi jabatan, popularitas, atau kekuasaan, ia tidak lagi menjadi cahaya yang membimbing, melainkan alat yang menyesatkan. Ilmu tanpa takwa bukan melahirkan kebijaksanaan, tetapi kesombongan yang tampak suci.

Dan mengapa orang yang merendahkan diri kepada selain Allah disamakan dengan anjing?

Bukan karena Islam merendahkan makhluk itu, tetapi sebagai metafora tentang hilangnya kemerdekaan jiwa. Ketika seseorang rela menggadaikan prinsip, menjual kehormatan, dan mengorbankan kebenaran demi pujian, jabatan, atau materi, sesungguhnya ia telah kehilangan sesuatu yang paling mahal dalam hidupnya: martabat. Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang dimuliakan. Karena itu, tidak sepantasnya ia menghinakan dirinya di hadapan sesama demi memperoleh keuntungan dunia yang sementara.

Betapa relevannya nasihat ini dengan realitas zaman kita. Ketika kekuasaan lebih sibuk melayani kepentingan daripada keadilan, ketika ilmu lebih mengejar popularitas daripada keberkahan, dan ketika banyak orang rela menggadaikan integritas demi kenyamanan hidup, sesungguhnya kita sedang menyaksikan krisis moral yang jauh lebih berbahaya daripada krisis ekonomi atau krisis politik.

Peradaban tidak runtuh ketika gedung-gedungnya roboh, peradaban runtuh ketika keadilan kehilangan penjaganya, ilmu kehilangan nuraninya, dan manusia kehilangan harga dirinya.

Karena itu, setiap pemimpin harus bertanya, “Sudahkah aku berlaku adil?” Setiap orang berilmu harus bertanya, “Apakah ilmuku semakin mendekatkanku kepada Allah atau justru membesarkan egoku?” Dan setiap kita harus bertanya, “Apakah aku masih menjaga kemuliaan diriku, atau diam-diam telah menjualnya demi kepentingan sesaat?”

Sebab pada akhirnya, Allah tidak akan menanyakan seberapa besar kekuasaan yang kita miliki, seberapa luas ilmu yang kita kuasai, atau seberapa tinggi kedudukan yang pernah kita capai. Allah akan menanyakan bagaimana kita menggunakan kekuasaan, ilmu, dan kehormatan itu untuk menegakkan kebenaran.

“Kekuasaan tanpa keadilan adalah perampokan yang dilegalkan. Ilmu tanpa takwa adalah senjata yang kehilangan arah. Dan manusia yang kehilangan martabat akan memperoleh dunia, tetapi kehilangan dirinya sendiri.”

Wallahu A’lam Bishawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *