10 Cahaya Sunnah Nabi SAW yang Menerangi Hidup

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan I

Ambil satu cahaya, hidupmu satu langkah lebih terang.

Saudaraku yang dirahmati Allah…

Ada kalanya hidup terasa begitu terang. Kita bangun dengan hati tenang, pekerjaan lancar, keluarga harmonis, rezeki terasa cukup, dan ibadah pun terasa ringan.

Namun ada pula masa ketika hidup terasa gelap. Bukan karena tidak ada lampu di rumah. Bukan karena tidak punya uang. Bukan pula karena tidak memiliki banyak teman.

Tetapi karena hati kehilangan cahaya. Kita bisa memiliki rumah yang besar tetapi hati terasa sempit. Kita bisa memiliki banyak uang tetapi tidur tidak nyenyak. Kita bisa memiliki banyak pengikut di media sosial tetapi merasa sendirian.

Bahkan, kita bisa memiliki ilmu yang tinggi tetapi mudah marah. Kita bisa terlihat bahagia di hadapan manusia tetapi menangis ketika sendirian.

Di sinilah kita perlu memahami bahwa manusia bukan hanya membutuhkan cahaya untuk menerangi jalan fisiknya. Manusia juga membutuhkan cahaya hidayah untuk menerangi jalan hatinya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Allah adalah cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35)

Dan di antara bentuk rahmat Allah kepada manusia adalah diutusnya Rasulullah ﷺ sebagai pembawa petunjuk, pembimbing, dan pemberi peringatan.

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada Allah dengan izin-Nya serta sebagai cahaya yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab: 45–46)

Karena itu, mengikuti Nabi ﷺ bukan sekadar mengetahui kisah kehidupan beliau. Mengikuti Nabi ﷺ bukan sekadar memakai pakaian tertentu.

Mengikuti Nabi ﷺ bukan hanya berbicara tentang sunnah. Tetapi sunnah harus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di rumah. Di masjid. Di tempat kerja. Dalam berdagang. Dalam mendidik anak. Dalam berbicara dengan pasangan. Dalam menggunakan media sosial. Dalam menghadapi orang yang berbeda pendapat. Dalam keadaan senang.

Bahkan ketika kita sedang marah dan kecewa. Sunnah Nabi ﷺ adalah petunjuk bagaimana seorang Muslim menjalani kehidupan dengan benar.

Berikut di antara 10 cahaya sunnah harian yang dapat kita hidupkan.

1. CAHAYA BANGUN PAGI: MEMULAI HARI DENGAN DZIKIR DAN WUDHU

Salah satu kesalahan manusia adalah memulai hari hanya dengan memikirkan urusan dunia.

Bangun tidur langsung mencari handphone. Membuka WhatsApp. Melihat Facebook. Mengecek Instagram. Membaca berita. Melihat notifikasi.

Padahal sebelum semua itu, ada sesuatu yang jauh lebih penting: mengingat Allah.

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ketika bangun tidur: “Alhamdulillahil-ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin-nusyur.”

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kami akan kembali.” (HR. Bukhari)

Perhatikan maknanya. Ketika kita tidur, kita sebenarnya berada dalam keadaan yang menyerupai kematian sementara. Allah kemudian mengembalikan kesadaran kita.

Artinya, setiap pagi adalah kesempatan baru. Kemarin mungkin kita melakukan kesalahan.

Kemarin mungkin kita marah. Kemarin mungkin kita menyakiti seseorang. Kemarin mungkin kita lalai dari Allah.

Tetapi pagi ini Allah masih memberikan kesempatan. Kita masih bernapas. Masih bisa bersujud. Masih bisa meminta ampun. Masih bisa memperbaiki hubungan. Masih bisa berbuat baik.

Maka jangan sia-siakan kesempatan itu. Kemudian berwudhulah dan bersiap menunaikan shalat.

Mulailah hari bukan dengan keluhan, tetapi dengan syukur. Bukan dengan kemarahan, tetapi dengan doa.

Bukan dengan kecemasan, tetapi dengan tawakal. Pagi yang dimulai dengan mengingat Allah akan memberikan arah bagi perjalanan hari itu.

 2. CAHAYA HATI: SHALAT DHUHA

Di tengah kesibukan dunia, ada satu ibadah sunnah yang sering terlupakan: shalat Dhuha.

Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap hari. Dan shalat Dhuha dua rakaat dapat mencukupi kebutuhan sedekah tersebut. (HR. Muslim)

Betapa indahnya Islam. Kita tidak selalu memiliki uang untuk bersedekah.

Tetapi Allah membuka pintu sedekah melalui amal yang sederhana. Dua rakaat.

Tidak membutuhkan waktu lama. Tidak membutuhkan tempat khusus yang mewah.

Yang diperlukan adalah kemauan. Ketika matahari mulai meninggi, tinggalkan sejenak kesibukan.

Berwudhu. Menghadap kiblat. Takbir. Kemudian bersujud. Saat orang lain sibuk mengejar dunia, kita mengingat Dzat yang mengatur dunia.

Ingatlah: Rezeki bukan hanya soal jumlah.

Rezeki adalah ketika sesuatu yang kita miliki memberikan ketenangan dan keberkahan.

Ada orang memiliki banyak uang tetapi hidupnya gelisah. Ada orang memiliki sedikit tetapi hatinya lapang. Ada orang rumahnya besar tetapi tidak bahagia. Ada orang rumahnya sederhana tetapi penuh cinta.

Karena itu, jangan hanya meminta: “Ya Allah, tambahkan hartaku.”

Tetapi mintalah: “Ya Allah, berkahilah hartaku.”

Shalat Dhuha menjadi salah satu cara untuk menjaga hubungan kita dengan Allah di tengah aktivitas dunia.

 3. CAHAYA LISAN: SEDIKIT BICARA, BANYAK DZIKIR

Salah satu sumber masalah terbesar manusia adalah lisan. Banyak persahabatan hancur karena perkataan. Banyak keluarga retak karena ucapan. Banyak dosa dilakukan hanya dalam beberapa detik.

Satu kalimat bisa membuat seseorang bahagia. Tetapi satu kalimat juga bisa menghancurkan hati seseorang selama bertahun-tahun.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah salah satu prinsip besar dalam kehidupan seorang Muslim. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua berita harus dibagikan. Tidak semua kesalahan orang harus diumumkan. Tidak semua perbedaan harus menjadi pertengkaran. Dan tidak semua provokasi harus dijawab.

Kadang-kadang diam adalah kemuliaan. Apalagi di zaman media sosial. Jari kita bisa menjadi lisan. Komentar bisa menjadi dosa. Postingan bisa menjadi fitnah. Forward bisa menjadi penyebaran kebohongan.

Karena itu sebelum mengetik sesuatu, bertanyalah: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini perlu disampaikan? Jika tidak, lebih baik diam.

Dan gantilah banyak perkataan yang tidak berguna dengan dzikir.

Subhanallah.

Alhamdulillah.

Allahu Akbar.

La ilaha illallah.

Istighfar.

Lisan yang terbiasa berdzikir akan lebih terjaga dari perkataan yang sia-sia.

4. CAHAYA WAJAH: SENYUM DAN WAJAH YANG CERAH

Sunnah Nabi ﷺ bukan hanya perkara ibadah yang terlihat berat. Bahkan senyum kepada saudara kita dapat bernilai sedekah.

Rasulullah SAW bersabda: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)

Bayangkan. Sesuatu yang tidak mengeluarkan uang dapat menjadi amal.

Kita tidak perlu kaya untuk membuat orang lain bahagia. Kadang seseorang hanya membutuhkan senyuman.

Ada orang yang datang ke tempat kerja dengan masalah dari rumah. Ada orang yang sedang menghadapi kesulitan. Ada orang yang sedang menyembunyikan kesedihan.

Kemudian kita menyambutnya dengan wajah ramah. Mungkin bagi kita itu sederhana. Tetapi bagi dia, bisa jadi itu sangat berarti.

Karena itu jangan biasakan wajah kita selalu menunjukkan kemarahan. Jangan jadikan rumah sebagai tempat melampiaskan emosi. Jangan hanya ramah kepada orang penting. Jangan hanya tersenyum kepada orang yang bisa memberikan keuntungan kepada kita.

Senyumlah kepada siapa saja dengan niat karena Allah. Senyum adalah bahasa sederhana yang bisa membuka pintu persaudaraan.

5. CAHAYA RUMAH: HIDUPKAN AL-QUR’AN DI DALAM RUMAH

Rumah bukan hanya tempat tidur. Rumah adalah tempat membangun generasi. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Rumah adalah tempat hati seharusnya mendapatkan ketenangan.

Karena itu jangan biarkan rumah hanya dipenuhi suara televisi, media sosial, pertengkaran, dan percakapan dunia.

Hidupkan Al-Qur’an. Baca Al-Qur’an. Dengarkan Al-Qur’an. Ajarkan anak membaca Al-Qur’an. Ajak keluarga shalat. Biasakan dzikir.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah.” (HR. Muslim)

Rumah yang hidup dengan Al-Qur’an bukan berarti tidak pernah memiliki masalah. Tetapi ketika masalah datang, keluarga memiliki tempat kembali: Allah.

Suami yang marah kembali kepada Allah. Istri yang sedih kembali kepada Allah. Anak yang takut kembali kepada Allah.

Keluarga yang sedang menghadapi kesulitan berdoa kepada Allah. Itulah rumah yang memiliki cahaya.

Jangan hanya membangun rumah dengan tembok yang kuat. Bangun juga rumah dengan iman yang kuat.

6. CAHAYA REZEKI: JUJUR DALAM BERDAGANG DAN BEKERJA

Rezeki yang berkah bukan sekadar rezeki yang banyak. Rezeki yang berkah adalah rezeki yang halal dan membawa kebaikan.

Islam mengajarkan kejujuran dalam transaksi. Dan itu patokan hidup lebih tenang nan damai.

Rasulullah SAW bersabda tentang dua orang yang melakukan jual beli: jika keduanya jujur dan menjelaskan keadaan barang, transaksi mereka diberkahi; tetapi jika berdusta dan menyembunyikan keadaan barang, keberkahan transaksi mereka dihapus. (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu jangan mencari keuntungan dengan kebohongan. Jangan menipu ukuran. Jangan memalsukan kualitas. Jangan menyembunyikan cacat barang. Jangan mengambil hak orang lain. Jangan menghalalkan segala cara hanya karena ingin cepat kaya.

Sebab harta yang banyak tetapi tidak berkah dapat menjadi sumber masalah. Sebaliknya, harta yang halal walaupun tidak banyak bisa menjadi sumber ketenangan.

Ajarkan kepada anak-anak kita: Tidak apa-apa hidup sederhana, asalkan halal. Tidak perlu terlihat kaya di depan manusia dengan mengorbankan keberkahan. Tidak perlu mengejar gengsi sampai berutang tanpa kemampuan. Tidak perlu membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.

Karena rezeki setiap manusia sudah Allah atur. Tugas kita adalah berikhtiar dengan cara yang halal.

7. CAHAYA KELUARGA: LEMBUT KEPADA ISTRI, SUAMI, DAN ANAK

Ada orang yang sangat sopan kepada orang lain. Di luar rumah ia ramah. Di tempat kerja ia sabar. Di hadapan teman ia tersenyum.

Tetapi ketika sampai rumah, emosinya meledak. Padahal akhlak seseorang justru sangat terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang terdekatnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Sunnah Nabi SAW mengajarkan kelembutan. Jangan menjadikan rumah sebagai arena kekuasaan.

Suami bukan penguasa yang bebas merendahkan istri. Istri bukan musuh yang harus selalu dikalahkan.

Anak bukan tempat melampiaskan kegagalan orang tua. Keluarga adalah amanah.

Jika anak melakukan kesalahan, ajari. Jika pasangan melakukan kesalahan, nasihati. Jika terjadi konflik, selesaikan dengan kepala dingin. Jangan semua masalah dibawa ke media sosial. Jangan semua pertengkaran diceritakan kepada orang lain. Dan jangan merendahkan pasangan di hadapan anak-anak.

Kadang keluarga tidak membutuhkan rumah mewah. Mereka hanya membutuhkan: kata-kata lembut, pelukan, perhatian, doa, dan kehadiran.

 8. CAHAYA JIWA: PUASA SENIN DAN KAMIS

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Puasa adalah latihan mengendalikan diri.

Kita belajar bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita lakukan. Kita belajar menahan marah. Menahan hawa nafsu. Menahan perkataan. Menahan pandangan. Menahan diri dari sesuatu yang Allah larang.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa amal-amal manusia dihadapkan pada Allah pada hari Senin dan Kamis, dan beliau menyukai ketika amal beliau dihadapkan dalam keadaan berpuasa. (HR. Tirmidzi)

Puasa Senin dan Kamis adalah salah satu amalan sunnah yang dapat menjadi latihan spiritual.

Ketika lapar, kita belajar bersabar. Ketika haus, kita belajar mengingat Allah. Ketika ada kesempatan melakukan sesuatu yang tidak baik, kita belajar berkata: “Tidak. Saya sedang menjaga diri karena Allah.”

Puasa bukan sekadar membuat tubuh menahan makanan. Puasa seharusnya membuat hati semakin peka.

Mata dijaga. Lisan dijaga. Tangan dijaga. Pikiran dijaga. Hati dijaga.

9. CAHAYA MALAM: TIDUR DALAM KEADAAN WUDHU

Malam adalah waktu ketika manusia beristirahat. Tetapi sebelum tidur, jangan biarkan hari berakhir tanpa mengingat Allah.

Rasulullah SAW mengajarkan agar ketika hendak tidur kita berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa indahnya apabila hari kita ditutup dengan kesucian.

Sebelum tidur: Berwudhu. Membaca doa. Berdzikir.

Membaca ayat-ayat yang disunnahkan. Memaafkan orang lain. Memohon ampun kepada Allah. Dan berniat untuk memperbaiki diri esok hari.

Jangan tidur dengan membawa dendam. Jangan tidur dengan hati penuh kebencian. Jangan biarkan pertengkaran menjadi kalimat terakhir kepada pasangan.

Jika kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki, maka perbaikilah. Sebab kita tidak pernah tahu apakah esok pagi kita masih membuka mata.

Tidur adalah latihan kecil untuk mengingat kematian. Karena itu, tutuplah hari dengan mengingat Allah.

10. CAHAYA AKHIRAT: MEMPERBANYAK SHALAWAT

Di antara amalan yang sangat mulia adalah bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan keutamaan orang yang paling banyak bershalawat kepada beliau di hari kiamat. (HR. Tirmidzi)

Shalawat bukan sekadar ucapan di bibir. Ia adalah bentuk cinta kepada Rasulullah.

Tetapi cinta kepada Rasulullah SAW harus dibuktikan dengan mengikuti petunjuk beliau.

Kita mengucapkan: Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Namun setelah itu kita berusaha memperbaiki akhlak.

Kita memperbaiki shalat. Kita memperbaiki hubungan dengan keluarga. Kita meninggalkan kebohongan. Kita menjaga lisan. Kita memperbanyak sedekah. Kita berusaha mengikuti sunnah.

Karena orang yang benar-benar mencintai Nabi SAW akan berusaha mengikuti jalan beliau.

JANGAN LUPA: NYALAKAN CAHAYA DI SEPERTIGA MALAM

Ada satu waktu yang sering ditinggalkan manusia: sepertiga malam terakhir. Saat dunia tertidur. Saat sebagian besar manusia tidak melihat kita. Saat tidak ada kamera. Tidak ada penonton. Tidak ada pujian. Tidak ada komentar.

Di waktu itulah seorang hamba berdiri di hadapan Rabb-nya. Melaksanakan shalat tahajud. Berdoa. Menangis. Mengadu. Memohon ampun. Meminta petunjuk. Memohon rezeki. Memohon perlindungan bagi keluarga. Dan menyerahkan semua kegelisahan kepada Allah.

Tahajud mengajarkan satu hal penting: Hubungan kita dengan Allah tidak boleh hanya terjadi ketika kita sedang membutuhkan sesuatu.

Jangan hanya sujud ketika sedang sakit. Jangan hanya berdoa ketika sedang bangkrut. Jangan hanya menangis ketika sedang mendapatkan masalah.

Dekatilah Allah ketika kita senang, agar ketika kita susah kita tidak merasa sendirian.

SUNNAH BUKAN SEKADAR PENAMPILAN

Saudaraku… Kadang kita memahami sunnah hanya dari sesuatu yang tampak.

Pakaian. Jenggot. Cara makan. Cara tidur. Dan berbagai perkara lainnya. Semua itu bisa menjadi bagian dari sunnah.

Tetapi jangan sampai kita mengambil sunnah yang tampak lalu meninggalkan akhlak Nabi SAW.

Apa gunanya seseorang rajin membicarakan sunnah tetapi lisannya menyakiti orang? Apa gunanya seseorang merasa paling mengikuti Nabi tetapi mudah merendahkan orang lain? Apa gunanya seseorang rajin menyampaikan hadis tetapi masih gemar berdusta? Apa gunanya seseorang berbicara tentang agama tetapi keluarganya tidak merasakan kelembutan darinya?

Sunnah Nabi SAW juga berarti: jujur. amanah. sabar. pemaaf. lembut. adil. menjaga lisan. menolong orang lain. menghormati orang tua. menyayangi anak. memuliakan tetangga. menjaga hak manusia.

Jadi jangan hanya bertanya: “Apakah saya sudah banyak melakukan sunnah?”

Tetapi tanyakan juga: “Apakah akhlak saya sudah semakin dekat dengan akhlak Rasulullah SAW?”

SATU SUNNAH YANG DIHIDUPKAN LEBIH BAIK DARIPADA SERIBU NASIHAT YANG HANYA DIUCAPKAN

Kita tidak harus langsung sempurna. Jangan menunggu menjadi orang yang sempurna untuk mulai mengikuti sunnah. Mulailah dari yang mampu.

Hari ini bangun dengan dzikir. Besok shalat Dhuha. Kemudian belajar menjaga lisan. Mulai tersenyum. Baca Al-Qur’an bersama keluarga. Jujur dalam pekerjaan. Bersikap lembut kepada pasangan. Mencoba puasa Senin-Kamis. Tidur dalam keadaan berwudhu. Memperbanyak shalawat.

Kemudian bangun malam walaupun hanya beberapa rakaat. Sedikit demi sedikit. Yang penting istiqamah.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka jangan meremehkan amal kecil. Satu senyuman. Satu istighfar. Dua rakaat Dhuha. Satu halaman Al-Qur’an. Satu shalawat. Satu kebaikan. Satu perkataan yang kita tahan agar tidak menyakiti orang.

Bisa jadi sesuatu yang kecil di mata manusia justru besar di sisi Allah.

KETIKA SUNNAH HIDUP DI RUMAH

Bayangkan sebuah rumah. Ayahnya menjaga shalat. Ibunya menjaga kehormatan. Anak-anak dibiasakan membaca Al-Qur’an.

Ketika masuk rumah mengucapkan salam. Ketika makan membaca basmalah. Ketika mendapatkan nikmat mengucapkan hamdalah. Ketika melakukan kesalahan segera beristighfar. Ketika marah belajar diam. Ketika berselisih belajar memaafkan. Ketika mendapatkan rezeki belajar berbagi.

Itulah rumah yang memiliki cahaya. Bukan karena lampunya mahal. Tetapi karena iman hidup di dalamnya.

Rumah seperti itu mungkin tidak sempurna. Tetap ada masalah. Tetap ada perbedaan pendapat. Tetap ada kesalahan.

Tetapi ketika masalah datang, mereka memiliki arah untuk kembali:Allah dan Rasul-Nya.

SUNNAH DI ERA MEDIA SOSIAL

Hari ini kita hidup di zaman ketika satu orang bisa berbicara kepada ribuan bahkan jutaan orang.

Karena itu, sunnah menjaga lisan harus diperluas menjadi sunnah menjaga jari dan media sosial.

Jangan mudah menyebarkan berita yang belum jelas. Jangan ikut menghina. Jangan mempermalukan orang. Jangan menyebarkan aib. Jangan membuat fitnah. Jangan memancing pertengkaran. Jangan merasa harus selalu menang dalam perdebatan.

Ingatlah: Apa yang kita tulis bisa hilang dari layar, tetapi catatannya tidak hilang dari amal. Maka sebelum menekan tombol “kirim”, pikirkan: “Apakah saya berani mempertanggungjawabkan kalimat ini di hadapan Allah?”

Jika tidak, hapus. Jika tidak bermanfaat, tinggalkan. Jika dapat menyakiti orang, jangan sebarkan.

Media sosial bisa menjadi ladang pahala. Tetapi media sosial juga bisa menjadi ladang dosa.

Semua tergantung bagaimana kita menggunakannya.

HIDUP TIDAK SELALU HARUS TERANG SEPERTI SIANG

Saudaraku… Ada masa ketika doa kita belum dikabulkan. Ada masa ketika rezeki terasa sempit. Ada masa ketika keluarga diuji. Ada masa ketika usaha gagal. Ada masa ketika orang yang kita cintai pergi. Ada masa ketika kita merasa tidak dipahami.

Tetapi jangan menyimpulkan bahwa Allah meninggalkan kita. Bisa jadi justru pada masa gelap itulah Allah sedang mengajarkan kita arti tawakal.

Karena cahaya bukan berarti hidup tanpa masalah. Cahaya berarti kita tahu ke mana harus berjalan ketika masalah datang.

Orang beriman tetap bisa menangis. Tetap bisa sedih. Tetap bisa kecewa.

Tetapi ia tidak kehilangan Allah. Ia tetap shalat. Tetap berdoa. Tetap berdzikir. Tetap berusaha. Tetap berharap.

Tetap percaya bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktu yang paling tepat.

MULAI MALAM INI

Tidak perlu menunggu tahun depan. Tidak perlu menunggu Ramadan. Tidak perlu menunggu menjadi orang alim. Tidak perlu menunggu kaya. Tidak perlu menunggu tua.

Mulailah sekarang. Sebelum tidur, berwudhu. Baca doa. Istighfar.

Besok ketika bangun, baca dzikir. Shalat Subuh. Jika mampu, lanjutkan dengan shalat Dhuha. Jaga lisan. Tersenyumlah. Baca Al-Qur’an. Jujurlah dalam bekerja. Lembut kepada keluarga. Perbanyak shalawat.

Dan jika Allah memberikan kekuatan, bangunlah di sepertiga malam.

Tidak harus langsung banyak. Satu langkah. Kemudian satu langkah lagi.

Sampai akhirnya jalan yang dahulu terasa gelap mulai terlihat terang.

SEPULUH CAHAYA, SATU JALAN

Mari kita ingat kembali:

1. Cahaya pagi: bangun dengan dzikir dan wudhu.

2. Cahaya hati: menjaga shalat Dhuha.

3. Cahaya lisan: berkata baik atau diam.

4. Cahaya wajah: tersenyum dan bermuka ramah.

5. Cahaya rumah: hidupkan Al-Qur’an.

6. Cahaya rezeki: jujur dan amanah.

7. Cahaya keluarga: lembut kepada pasangan dan anak.

8. Cahaya jiwa: memperbanyak puasa sunnah, termasuk Senin dan Kamis.

9. Cahaya malam: tidur dalam keadaan wudhu dan berdzikir.

10. Cahaya akhirat: memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ.

Dan jangan lupakan satu cahaya yang sangat besar:

Tahajud di sepertiga malam.

DOA

Ya Allah…

Terangi hati kami dengan iman.

Terangi rumah kami dengan Al-Qur’an.

Terangi lisan kami dengan dzikir.

Terangi wajah kami dengan senyuman.

Terangi langkah kami dengan ketaatan.

Terangi rezeki kami dengan keberkahan.

Terangi keluarga kami dengan kasih sayang.

Terangi malam kami dengan tahajud.

Terangi hidup kami dengan sunnah Rasul-Mu.

Ya Allah… Jangan biarkan kami hanya pandai berbicara tentang sunnah, tetapi jauh dari akhlak sunnah.

Jangan biarkan ilmu membuat kami sombong.

Jangan biarkan ibadah membuat kami merasa lebih baik daripada orang lain.

Jadikan ilmu kami ilmu yang bermanfaat.

Jadikan ibadah kami ikhlas.

Jadikan hati kami lembut.

Jadikan lisan kami terjaga.

Jadikan keluarga kami keluarga yang mencintai-Mu dan mencintai Rasul-Mu ﷺ.

Ya Allah…

Jika hidup kami sedang gelap, berikan cahaya.

Jika hati kami sedang gelisah, berikan ketenangan.

Jika kami sedang jauh, dekatkan kami kepada-Mu.

Jika kami sedang lalai, bangunkan hati kami.

Jika kami sedang berdosa, bukakan pintu taubat.

Jika kami sedang diuji, kuatkan kesabaran kami.

Jika kami sedang mendapatkan nikmat, jadikan kami hamba yang bersyukur.

Dan ketika tiba saat kami kembali kepada-Mu, wafatkan kami dalam keadaan membawa iman dan husnul khatimah.

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

آمين يا رب العالمين.

PENUTUP

Saudaraku yang dirahmati Allah… Sunnah itu seperti cahaya. Tidak selalu membuat perjalanan menjadi mudah. Tetapi membuat kita tahu ke mana harus melangkah.

Karena itu jangan menunggu seluruh hidup kita sempurna untuk menjalankan sunnah.

Nyalakan satu cahaya hari ini. Besok nyalakan cahaya yang lain. Teruslah berjalan. Teruslah memperbaiki diri. Teruslah belajar. Teruslah mencintai Nabi Muhammad SAW.

Sebab hidup yang penuh cahaya bukanlah hidup tanpa masalah.

Hidup yang penuh cahaya adalah hidup yang selalu memiliki Allah sebagai tempat kembali.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ, mengikuti sunnahnya, menghidupkan ajarannya, memperindah akhlak kita dengannya, dan dikumpulkan bersama beliau kelak di surga.

“Ambil satu cahaya, hidupmu satu langkah lebih terang.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *