Tamsil Bantah Dikaitkan Kekisruhan Pesantren Darul Istiqamah Maros: Mestinya Dibuktikan Saya Terlibat!

JAKARTA – Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung kembali membantah keras tudingan yang mengaitkan keterlibatan dirinya dengan kekisruhan internal di Pesantren Darul Istiqamah Maccopa, Maros, Sulawesi Selatan.

“(Kasus Keterlibatan saya) Ini simple saja. Mestinya dia tunjuk mana yang saya bangun kemudian saya miliki. Mana tanah yang dia maksud saya menguasai, saya memiliki dan atau saya mengambilnya,” kata Tamsil saat dimintai keterlibatannya kekisruhan Pesantren Darul Istiqamah, Maros, Sulsel, Ahad (13/9/2026).

Bacaan Lainnya

“Semua yang dimaksud itu saya serahkan cuma-cuma. Ambil kembali semuanya. Tapi pasti hanya berimajinasi karena memang saya tidak memiliki apapun di pesantren tersebut,” sambung Tamsil meminta pihak pesantren membuktikan keterlibatannya.

“Bahkan saya meminta Dinda Habibie (Mahabbah) jauh-jauh hari, beberapa tahun lalu. Tapi mereka enggan ketemu. Terus maunya apa? Jadi kita bingung, satu sisi kita disebut. Sisi lain, kita mau bahas semua biar tak membesar masalah ini. Malah tak mau. Ya sudah,” ungkap Tamsil.

Tamsil menegaskan dirinya tidak memiliki kepentingan apa pun terhadap pesantren tersebut, selain membantu ketika diminta. Bantahan itu disampaikan Tamsil kepada wartawan Bela Rakyat dan sebelumnya telah dimuat dalam dua bagian pemberitaan terkait persoalan Pesantren Darul Istiqamah.

Berita Terkait:

TERBONGKAR! Jawaban Tamsil Linrung Dikaitkan Terlibat Kekisruhan Pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros Sulawesi Selatan (Part I)

Tamsil Linrung Jawab Tuduhan Keterlibatan di Pesantren Darul Istiqamah: Saya Baru Pahami Kemarahan Ustadz Muzakkir Arif! (Part II)

Menurut Tamsil, dirinya justru selama ini memberikan bantuan kepada pihak pesantren. Ia menjelaskan, Ustadz Muzakkir Arif merupakan pihak yang pertama kali membawa Muzayyin kepadanya agar dapat dibantu dalam pekerjaan sesuai bidangnya.

Lebih lanjut, Tamsil juga mengungkapkan, almarhum Ustadz Arif Marzuki pernah datang ke rumahnya bersama anak-anaknya untuk menyampaikan terima kasih atas bantuan yang selama ini diberikan kepada pesantren. Pada saat yang sama, pihak pesantren juga meminta bantuan karena menghadapi persoalan keuangan.

Bahkan, menurut Tamsil, ketika Ustadz Arif hendak menyerahkan tanah sebagai jaminan atas bantuan tersebut, dirinya justru meminta agar tanah tersebut tidak perlu dijadikan jaminan.

“Ini hanya bantuan dari saya,” demikian inti penjelasan Tamsil sebagaimana disampaikannya kepada Bela Rakyat.

Tak hanya itu, Tamsil juga menjelaskan keterlibatannya dalam mendorong bantuan pembangunan GOR multifungsi melalui APBN. Menurut dia, fasilitas tersebut direncanakan dapat digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk pengajian, dan akhirnya memperoleh bantuan APBN sebesar Rp2,5 miliar.

Ia menegaskan, sejak awal dirinya meminta agar pekerjaan pembangunan ditangani tenaga profesional. Bahkan, Tamsil menyebut dirinya meminta arsitek di Jakarta untuk membuat gambar lengkap beserta RAB dan biaya arsitek tersebut dibebankan kepadanya agar tidak mengganggu anggaran APBN.

Namun, dalam pelaksanaannya, menurut Tamsil, pekerjaan tersebut kemudian menimbulkan persoalan hingga dilakukan pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal. Ia mengaku meminta stafnya melakukan penilaian terhadap pekerjaan yang telah dilaksanakan.

Lebih jelasnya, Tamsil juga membantah apabila berbagai bantuannya kepada pesantren kemudian dimaknai sebagai upaya untuk mengambil alih atau menguasai aset pesantren.

Ia justru mempertanyakan secara terbuka apa sebenarnya aset Pesantren Darul Istiqamah yang disebut telah diambil atau dikuasainya.

“Sekarang saya ingin menanyakan apa yang saya telah ambil di pesantren Darul Istiqamah. Apakah ada asetnya yang saya ambil,” tegas Tamsil.

Bagi Tamsil, dirinya bahkan merasa selama ini tidak pernah memiliki persoalan dengan Ustadz Muzakkir Arif. Ia mengaku menghormati Muzakkir dan pernah memiliki hubungan yang baik dengan keluarga besar pesantren.

Karena itu, Tamsil mengaku baru memahami adanya kemarahan Ustadz Muzakkir Arif setelah persoalan tersebut berkembang. Ia menyebut selama ini berbagai tuduhan tersebut tidak pernah sampai kepadanya.

“Saya mau pastikan bahwa semua tuduhan tersebut tidak ada satu yang benar,” ujar Tamsil. Ia secara khusus membantah tuduhan mengenai sawah yang disebut telah diambilnya.

Dalam keyerangannya, Tamsil menegaskan tidak ada sesuatu pun milik pesantren yang diambilnya. Ia meminta agar tuduhan tersebut dibuktikan secara konkret, termasuk jika benar terdapat tanah atau aset yang disebut telah dikuasainya.

Bahkan Tamsil, persoalan yang terjadi pada dasarnya merupakan pertengkaran internal di antara keluarga yang mengelola pesantren. Ia mengaku tidak mengetahui jika bantuan yang selama ini diberikan justru dimaknai secara negatif dan dianggap memiliki tujuan tertentu yang merugikan pesantren.

Tamsil juga menolak anggapan bahwa berbagai tindakan Muzayyin dilakukan atas kendalinya. Ia meminta agar hal tersebut ditanyakan langsung kepada pihak-pihak yang bersangkutan.

“Kalau yang dikatakan bahwa semua yang dilakukan Muzayyin adalah di bawah telunjuk saya, tentu ini sangat naif,” tegasnya.

Lebih terangnya, Tamsil mengatakan bahwa setelah mendengar adanya perseteruan di antara keluarga tersebut, Muzayyin bahkan pernah membawa saudara-saudaranya untuk menemui dirinya dan meminta masukan.

Kepada mereka, Tamsil mengaku menyarankan agar persoalan keluarga tidak diperpanjang hingga ke pengadilan. Ia meminta agar persaudaraan tetap dijaga dan persoalan yang dipersengketakan diserahkan jika memang menjadi tuntutan pihak lain.

Tamsil juga membuka ruang untuk bertemu langsung dengan Ustadz Muzakkir Arif guna memberikan klarifikasi secara bersama-sama. Ia menegaskan dirinya tidak berada dalam ranah perselisihan internal tersebut.

“Kalau Ustadz Muzakkir mau klarifikasi dan bertemu bersama, saya siap untuk itu,” kata Tamsil.

Tamsil: Tunjukkan Apa yang Saya Bangun, Miliki, atau Ambil

Dalam bantahannya, Tamsil pada prinsipnya meminta agar tuduhan terhadap dirinya tidak berhenti pada narasi, tetapi dibuktikan dengan fakta material.

Ia mempersilakan pihak mana pun menelusuri secara mendalam apa yang telah dilakukannya dan bagian mana dari tindakannya yang dianggap merugikan Pesantren Darul Istiqamah.

Termasuk terkait tudingan mengenai sawah seluas lima hektare, Tamsil menyatakan dirinya siap apabila tuduhan tersebut dibuktikan.

“Silakan buktikan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa dirinya lebih berkepentingan agar persoalan tersebut dilihat secara objektif dari sisi material: apakah benar ada aset pesantren yang diambil, dikuasai, atau dimiliki olehnya.

Dengan demikian, Tamsil kembali menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki aset maupun kepentingan sebagaimana yang dituduhkan dalam kekisruhan Pesantren Darul Istiqamah.

Bantahan tersebut sekaligus menjadi penjelasan terbuka Tamsil Linrung atas tuduhan yang mengaitkan namanya dengan konflik internal Pesantren Darul Istiqamah Maccopa, Maros, Sulawesi Selatan.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *