Catatan Sang Ayah Tamsil Linrung: Untuk Sang Anak Nurul Izzah, Cahaya yang Lebih Dulu Pulang

Tidak ada seorang ayah yang benar-benar siap menerima kenyataan bahwa langkah anaknya harus berhenti lebih dahulu. Tidak ada ruang kuliah yang mengajarkan bagaimana menahan dada ketika tanah perlahan menutup jasad darah daging sendiri. Tidak ada buku yang sanggup menerjemahkan sunyi yang lahir setelah seorang ayah mengucapkan selamat tinggal kepada putri yang begitu dicintainya.

Di hadapan pusara, semua kata terasa kehilangan makna. Yang tersisa hanyalah doa, air mata yang ditahan, dan keyakinan bahwa setiap ketetapan Allah selalu mengandung hikmah, meski tak selalu mampu dijangkau oleh hati manusia.

Bacaan Lainnya

Ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk hilang. Ia tidak sembuh oleh waktu, tidak pula lenyap oleh kesibukan. Luka itu hanya berubah menjadi teman perjalanan, dipikul dengan sabar, diselimuti keikhlasan, dan diserahkan sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Menguatkan.

Putri sulung saya, Azizah Nurul Izzah, telah kembali memenuhi panggilan Rabb-nya. Setelah melewati ujian sakit dengan kesabaran yang mengajarkan banyak hal kepada kami, Allah memilihnya untuk pulang lebih dahulu. Bukan karena usianya telah terlalu panjang, melainkan karena setiap kehidupan telah memiliki garis akhir yang telah ditetapkan sejak sebelum manusia dilahirkan.

“Setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34).

Nurul bukan sekadar anak pertama yang Allah titipkan kepada keluarga kami. Ia adalah pintu yang mengantarkan saya memasuki dunia yang paling mulia: menjadi seorang ayah.

Sebelum ia hadir, saya hanyalah seorang lelaki yang menjalani hidup sebagaimana mestinya. Namun sejak tangis pertamanya terdengar, Allah menghadiahkan sebuah amanah yang tidak dapat ditukar dengan kehormatan apa pun di dunia.

Gelar “Ayah” pertama kali saya sandang karena dirinya.

Dan bagi seorang ayah, anak pertama bukan sekadar urutan kelahiran. Ia adalah bagian dari hati yang berjalan di luar tubuhnya. Sejauh apa pun ia melangkah, setinggi apa pun usianya, ikatan itu tidak pernah terputus.

Nama Azizah Nurul Izzah pun lahir dari sebuah kisah yang menyimpan harapan.

Saat bertugas di Malaysia sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMIAT), saya berkesempatan mengenal Dato’ Seri Anwar Ibrahim, yang saat itu menjadi pembina organisasi tersebut dan kini mengemban amanah sebagai Perdana Menteri Malaysia.

Saya terkesan dengan nama putri beliau, Nurul Izzah. Sebuah nama yang sederhana, namun sarat makna: cahaya kemuliaan.

Nama itu saya hadiahkan kepada putri pertama saya sebagai doa, agar seluruh hidupnya selalu berada dalam limpahan cahaya kemuliaan yang diridai Allah.

Hari ini saya baru memahami bahwa Allah mengabulkan doa dengan cara-Nya sendiri-cara yang tidak pernah mampu dibayangkan oleh seorang hamba.

Sejak tahun 2010, nama Nurul Izzah tidak lagi hanya hidup sebagai nama seorang anak.

Nama itu diabadikan menjadi nama masjid di lingkungan Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), sekolah yang kami bangun dengan harapan melahirkan generasi berilmu, beriman, dan berakhlak.

Masjid Nurul Izzah menjadi pusat denyut ruhani sekolah itu. Di sanalah azan berkumandang lima kali sehari.

Di sanalah ayat-ayat suci terus dilantunkan. Di sanalah anak-anak belajar mengeja Kalamullah, para guru menadahkan tangan dalam doa, dan dahi-dahi bersujud memohon ampunan kepada Allah.

Kala itu, saya tidak pernah berpikir bahwa nama tersebut kelak menjadi penghibur terbesar bagi seorang ayah yang kehilangan putrinya.

Kini setiap gema azan yang berkumandang dari masjid itu terasa seperti salam rindu yang menembus langit.

Setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca para santri menjadi harapan agar pahalanya mengalir kepada Nurul.

Setiap sujud yang dilakukan di rumah Allah itu menjadi doa yang diam-diam saya titipkan untuknya.

Barangkali, beginilah cara Allah menghibur hamba-Nya. Allah tidak menghapus kesedihan, tetapi mengubahnya menjadi jalan menuju pahala.

Allah tidak menghilangkan kerinduan, tetapi menjadikannya doa yang terus hidup.

Allah tidak mengambil cinta seorang ayah, melainkan mengarahkannya menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Banyak orang berkata bahwa waktu mampu menyembuhkan segala luka. Namun bagi seorang ayah, kehilangan anak bukanlah sesuatu yang selesai oleh pergantian hari.

Waktu hanya mengajarkan bagaimana tersenyum di tengah rindu, bagaimana melanjutkan kehidupan dengan hati yang telah kehilangan sebagian dirinya.

Sebab cinta seorang ayah tidak pernah berhenti saat kematian datang. Ia hanya berpindah tempat.

Dulu cinta itu hadir dalam pelukan, tawa, percakapan, dan kebersamaan.

Kini ia menjelma menjadi doa yang dipanjatkan seusai salat, menjadi air mata yang jatuh tanpa suara di sepertiga malam, menjadi harapan agar Allah mempertemukan kembali kami di surga-Nya.

Karena cinta sejati tidak mengenal batas dunia. Ia melintasi waktu, menembus alam, bahkan tidak mampu diputus oleh kematian.

Ya Allah…

Terimalah Azizah Nurul Izzah dalam keluasan rahmat-Mu.

Jadikan setiap rasa sakit yang pernah ia tanggung sebagai penghapus dosa. Lapangkan alam kuburnya.

Terangi barzakhnya dengan cahaya-Mu. Naungkan ia bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Dan apabila Engkau berkenan, pertemukanlah kami kembali di tempat yang tidak lagi mengenal air mata, tidak mengenal kehilangan, dan tidak mengenal perpisahan.

Di antara begitu banyak nikmat yang Allah titipkan kepada saya, Nurul Izzah adalah salah satu karunia yang paling indah.

Kini ia telah kembali kepada Pemilik sejatinya. Namun cinta seorang ayah tidak pernah ikut dikuburkan bersama tanah yang menutup pusaranya.

Cinta itu hidup dalam setiap doa yang tak pernah putus. Hidup dalam setiap langkah anak-anak yang menuntut ilmu.

Hidup dalam setiap lantunan Al-Qur’an yang menggema di Masjid Nurul Izzah. Selama rumah Allah itu tetap berdiri, selama azan masih memanggil manusia menuju salat, selama ada ayat-ayat suci yang terus dibaca dan doa-doa yang terus dipanjatkan, saya percaya nama Nurul Izzah tidak pernah benar-benar pergi.

Ia tetap hidup sebagai cahaya. Bukan hanya di dalam kenangan seorang ayah, tetapi juga di dalam setiap amal yang terus mengalir menuju langit.

Sebab kasih sayang yang dibangun karena Allah tidak pernah berakhir oleh kematian. Ia hanya berpindah dari pelukan dunia menjadi keabadian doa, hingga kelak Allah mempertemukan kembali mereka yang saling mencintai di taman-taman surga yang abadi.

Versi ini mempertahankan seluruh substansi tulisan asli, tetapi menggunakan alur, pilihan diksi, dan struktur yang berbeda sehingga terasa lebih puitis, reflektif, dan memiliki nuansa sastra tanpa mengubah makna utama.

Oleh: Tamsil Linrung, Wakil Ketua DPD RI 2024-2029

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *