Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin dan Ketua Umum Terpilih IKA Darul Istiqamah
Pesantren sejak dahulu bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah rumah peradaban. Tempat lahirnya generasi yang dibentuk bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan adab, kelembutan hati, dan keteladanan akhlak. Di dalam lingkungan pesantren, masyarakat menitipkan harapan besar agar anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang santun, damai, menghormati guru, serta mampu membawa nilai-nilai Islam yang menyejukkan bagi kehidupan sosial.
Karena itu, ketika sebuah pesantren terseret dalam konflik internal yang berkepanjangan, sesungguhnya yang terluka bukan hanya nama lembaga, tetapi juga harapan masyarakat dan masa depan para santri yang sedang dibina di dalamnya.
Apa yang belakangan terjadi di Pesantren Darul Istiqamah Maccopa Maros menghadirkan keprihatinan mendalam bagi banyak kalangan. Pesantren yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam berpengaruh di Sulawesi Selatan kini berada dalam pusaran konflik yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pengurus yayasan, keluarga pendiri, hingga kelompok-kelompok yang merasa memiliki legitimasi terhadap arah dan pengelolaan pesantren.
Perbedaan pandangan sebenarnya merupakan sesuatu yang lumrah dalam sebuah organisasi. Tidak ada lembaga yang sepenuhnya bebas dari dinamika. Namun persoalan menjadi serius ketika konflik tidak lagi dikelola dengan kebijaksanaan, melainkan berubah menjadi pertarungan terbuka yang dipertontonkan di ruang publik.
Masyarakat menyaksikan bagaimana pihak-pihak yang semestinya menjaga marwah pesantren justru saling menyerang, saling menyalahkan, bahkan saling membawa persoalan ke ranah hukum. Media sosial dipenuhi narasi saling sindir dan tudingan. Ketegangan terus dipertontonkan tanpa mempertimbangkan dampak psikologis dan moral terhadap para santri.
Padahal santri datang ke pesantren bukan untuk belajar tentang permusuhan. Mereka datang untuk belajar tentang akhlak, kasih sayang, kesabaran, dan penghormatan kepada sesama manusia.
Yang paling memprihatinkan adalah ketika konflik elite perlahan menyeret santri ke dalam pusaran pertikaian tersebut. Dalam beberapa situasi, santri tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi mulai diarahkan untuk membela kelompok tertentu. Ada yang dijadikan simbol kekuatan massa. Ada yang tanpa sadar dibentuk untuk membenci pihak lain. Bahkan dalam kondisi tertentu, mereka dipertontonkan pada sikap-sikap keras yang jauh dari nilai pendidikan Islam yang damai dan penuh hikmah.
Di sinilah letak tragedi moral yang sesungguhnya
Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui pelajaran di dalam kelas atau ceramah di mimbar. Pendidikan yang paling kuat justru lahir dari keteladanan perilaku sehari-hari. Apa yang dilihat santri setiap hari akan membentuk cara berpikir dan karakter mereka di masa depan.
Jika yang mereka saksikan adalah kemarahan, penghinaan, permusuhan, ancaman, dan tindakan intimidatif, maka sesungguhnya mereka sedang menerima pelajaran diam-diam tentang bagaimana menyelesaikan masalah dengan emosi dan kekuasaan.
Inilah yang berbahaya.
Pesantren yang seharusnya melahirkan generasi berakhlak mulia justru berisiko membentuk pribadi-pribadi yang keras, mudah marah, gemar bermusuhan, dan kehilangan sensitivitas moral. Santri yang mestinya menjadi penyejuk masyarakat dapat tumbuh dengan karakter antagonis dan fanatik akibat lingkungan konflik yang terus mereka saksikan.
Padahal kekuatan utama pesantren sejak dahulu bukan terletak pada bangunan megah atau besarnya pengaruh politik, melainkan pada kemuliaan adab yang hidup di dalamnya. Pesantren dihormati karena mampu melahirkan manusia-manusia yang lembut lisannya, santun perilakunya, dan damai cara berpikirnya.
Masyarakat menaruh hormat kepada pesantren karena melihatnya sebagai benteng moral di tengah kerasnya kehidupan modern. Tempat orang mencari keteduhan ketika dunia luar dipenuhi kebisingan dan pertikaian. Karena itu, ketika pesantren sendiri dipenuhi konflik berkepanjangan, maka kepercayaan masyarakat perlahan ikut terkikis.
Sudah saatnya semua pihak yang terlibat menurunkan ego dan kembali merenungkan amanah besar yang sedang mereka pikul. Tidak ada kemuliaan dalam kemenangan yang diperoleh dengan mengorbankan ketenangan santri. Tidak ada kehormatan dalam mempertahankan pengaruh apabila harus merusak marwah lembaga pendidikan Islam.
Para pengurus yayasan, keluarga pendiri, tokoh pesantren, dan seluruh pihak yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap masa depan pesantren hendaknya memilih jalan musyawarah dan kebijaksanaan. Duduk bersama dengan hati yang jernih jauh lebih mulia daripada mempertontonkan permusuhan yang hanya melahirkan luka baru.
Karena masyarakat sesungguhnya tidak sedang menunggu siapa yang paling kuat mempertahankan kekuasaan. Masyarakat sedang menunggu siapa yang paling dewasa menjaga amanah pendidikan umat.
Pesantren harus segera dikembalikan kepada fungsi sucinya sebagai pusat pembentukan akhlak dan penjaga moral masyarakat. Santri harus kembali dididik dengan keteladanan, kelembutan, dan kasih sayang, bukan dengan kemarahan dan fanatisme kelompok.
Sebab masa depan pesantren tidak ditentukan oleh siapa yang menguasai jabatan, tetapi oleh siapa yang mampu menjaga keberkahan, akhlak, dan keteduhan di dalamnya.
Jika konflik ini terus dipelihara, maka yang rusak bukan hanya reputasi lembaga, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pesantren sebagai benteng moral bangsa. Namun apabila semua pihak bersedia berdamai dan kembali kepada semangat perjuangan para pendiri, maka pesantren akan kembali menjadi cahaya yang menerangi umat.
Dan bukankah pesantren sejak awal memang dilahirkan untuk menanamkan ilmu, adab, cinta damai, dan kasih sayang bagi sesama manusia?
Wallahu A’lam Bishawab.





