Peringati Hari Bumi, Nyoman Parta Ajak Semeton Bali Lakukan Aksi Nyata: Sekecil Apapun Sangat Berarti

BALI – Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bali I Nyoman Parta kembali memberikan seruan menyentuh hati menjelang peringatan Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April. Melalui pesan singkat yang akrab di telinga masyarakat Bali, Parta mengajak seluruh Semeton (saudara) untuk menunjukkan wujud cinta kasih kepada alam semesta.

“Ton, besok tanggal 22 April adalah Hari Bumi. Lakukan apa saja sebagai wujud cinta pada Bumi, sekecil apapun itu,” tulis I Nyoman Parta seperti dikutip di media sosialnya, Rabu (22/4/2026).

Bacaan Lainnya

Menggunakan sapaan akrab “Ton”—yang dalam dialek lokal sering digunakan sebagai panggilan persaudaraan—politisi asal Desa Guwang ini menekankan bahwa pelestarian lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan proyek besar, melainkan dari kesadaran individu di rumah masing-masing.

Aksi Nyata di Tengah Masyarakat

Parta, yang selama ini dikenal konsisten mengawal isu pengelolaan sampah, pencemaran lingkungan, serta kelestarian sungai di Bali, menjelaskan bahwa makna “cinta bumi” bisa diimplementasikan melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak luas jika dilakukan secara kolektif.

Beberapa poin yang ditekankan antara lain:

1. Pengurangan Plastik Sekali Pakai: Mengurangi penggunaan kantong plastik dan menggantinya dengan tas ramah lingkungan.

2. Pemilahan Sampah dari Sumber: Memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah agar memudahkan proses daur ulang.

3. Penghijauan Mandiri: Menanam pohon, tanaman obat keluarga (TOGA), atau tanaman hias di pekarangan rumah.

4. Gerakan Bersih Lingkungan: Menghidupkan kembali tradisi gotong royong di banjar untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Menurut Parta, jika langkah-langkah kecil ini dilakukan secara serentak oleh masyarakat Bali, maka dampaknya akan sangat signifikan dalam mengurangi beban lingkungan, khususnya persoalan sampah yang masih menjadi tantangan besar di Pulau Dewata.

Tantangan Lingkungan Bali

Parta juga menyoroti kondisi lingkungan Bali saat ini yang menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), pencemaran sungai, hingga berkurangnya ruang hijau akibat pembangunan.

Ia mengingatkan bahwa tanpa perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, masalah lingkungan akan semakin kompleks dan berpotensi mengancam sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Bali.

“Bali dikenal dunia karena alamnya yang indah. Kalau kita tidak menjaga dari sekarang, maka kita sendiri yang akan merasakan dampaknya, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun keberlanjutan budaya,” tegasnya.

Filosofi Sad Kerthi

Bagi Parta, peringatan Hari Bumi bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan bagian dari implementasi nilai-nilai kearifan lokal Bali seperti konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Ia menekankan pentingnya pengamalan nilai:

1. Danu Kerthi: menjaga kesucian dan keberlanjutan sumber air

2. Wana Kerthi: melestarikan hutan dan ekosistem daratan

3. Segara Kerthi: menjaga kelestarian laut

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, merupakan warisan leluhur Bali yang sangat relevan dalam menjawab tantangan krisis lingkungan global saat ini.

“Bumi ini adalah ibu kita. Jika kita tidak merawatnya hari ini, apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu kita nanti? Mari jadikan tanggal 22 April sebagai momentum pengingat, tapi jadikan aksi menjaga lingkungan sebagai gaya hidup sehari-hari,” ungkapnya.

Respons Positif Masyarakat

Seruan ini pun mendapat respons luas dari masyarakat Bali, khususnya di media sosial. Banyak warga menyatakan kesiapan mereka untuk turut ambil bagian dalam aksi nyata, mulai dari kegiatan bersih-bersih lingkungan, penanaman pohon, hingga edukasi pengelolaan sampah di tingkat keluarga.

Sejumlah komunitas di berbagai kabupaten/kota di Bali bahkan mulai menginisiasi gerakan kecil seperti “Satu Rumah Satu Pohon” dan “Zero Waste Banjar” sebagai bentuk dukungan terhadap ajakan tersebut.

Tak hanya itu, generasi muda Bali juga mulai menunjukkan kepeduliannya dengan aktif dalam komunitas lingkungan, kampanye digital, serta kegiatan sukarela yang berfokus pada pelestarian alam.

Ajakan Berkelanjutan

Di akhir pesannya, Nyoman Parta menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

Ia berharap momentum Hari Bumi tahun ini dapat menjadi titik awal perubahan kebiasaan menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Jangan menunggu besar untuk memulai. Dari rumah, dari diri sendiri, dari hal kecil,itulah yang akan membawa perubahan besar bagi Bali dan dunia,” tutup Parta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *