Basis Produksi Regional Lebih dari 624 Ribu Ton dan Peluang Hilirisasi Dinilai Menarik Investor
MAKASSAR – BELA RAKYAT – Syafruddin Mualla, Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan sekaligus Ketua Umum Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba (FKPB), mendorong Bulukumba dikembangkan sebagai salah satu pusat industri pengolahan rumput laut di Sulawesi Selatan.
Menurut Syafruddin, Bulukumba memiliki sejumlah keunggulan untuk dikembangkan sebagai lokasi industri, mulai dari basis produksi lokal, aktivitas budidaya yang telah berjalan hingga peluang membangun jaringan pasokan dari sejumlah daerah di sekitarnya.
“Rumput laut tidak seharusnya hanya dipandang sebagai komoditas yang dipanen dan dijual dalam bentuk mentah. Kita perlu mulai mengembangkan pengolahan di Bulukumba agar nilai tambahnya dapat dinikmati lebih besar oleh daerah dan masyarakat,” kata Syafruddin.
Produksi Bulukumba Lebih dari 215 Ribu Ton
Data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan mencatat produksi rumput laut Sulsel pada 2024 mencapai sekitar 4,01 juta ton.
Dari jumlah tersebut, Bulukumba menyumbang sekitar 215.341,9 ton. Angka ini meningkat dibandingkan produksi 2023 yang tercatat sekitar 208.818,2 ton.
Produksi tersebut menjadi modal penting bagi pengembangan industri pengolahan. Namun, Syafruddin menegaskan bahwa angka produksi tidak berarti seluruhnya otomatis menjadi kapasitas bahan baku sebuah pabrik.
“Kapasitas industri harus dihitung berdasarkan berapa banyak bahan baku yang bisa dikumpulkan secara konsisten, memenuhi standar kualitas dan layak secara biaya logistik,” ujarnya.
Dengan demikian, produksi sekitar 215 ribu ton per tahun merupakan basis bahan baku potensial, sementara kapasitas pabrik harus ditentukan melalui kajian teknis dan kelayakan investasi.
Basis Produksi Regional Lebih dari 624 Ribu Ton
Peluang pengembangan industri semakin terbuka karena Bulukumba berada dalam kawasan dengan produksi rumput laut yang cukup besar.
Pada 2024, produksi rumput laut tercatat sekitar 268.312,4 ton di Jeneponto, 88.686,3 ton di Bantaeng dan 51.901 ton di Sinjai.
Jika digabungkan dengan produksi Bulukumba, empat daerah tersebut memiliki produksi sekitar 624.241,6 ton basah per tahun.
Angka tersebut bukan berarti seluruh produksi regional harus masuk ke industri di Bulukumba. Namun, besarnya basis produksi dapat menjadi dasar membangun jaringan pasokan apabila secara bisnis dan logistik dinilai layak.
“Bulukumba tidak harus bergantung hanya pada produksi lokal. Kalau secara bisnis layak, kita bisa membangun jaringan pasokan dari wilayah sekitar. Tetapi kualitas, kontinuitas dan biaya logistik harus dihitung,” katanya.
Bagi investor, kondisi tersebut menawarkan kombinasi antara basis bahan baku, peluang pengolahan bernilai tambah, jaringan pasokan regional serta akses ke pasar domestik maupun ekspor.
Mengapa Bulukumba?
Menurut Syafruddin, salah satu keunggulan Bulukumba adalah daerah ini telah memiliki basis produksi sendiri.
Laporan Tahunan DKP Sulsel mencatat kegiatan budidaya rumput laut antara lain terdapat di Kecamatan Gantarang, Ujung Bulu, Ujung Loe dan Bonto Bahari.
Produksi dari empat kecamatan tersebut pada 2023 mencapai sekitar 208.780,55 ton.
Artinya, industri tidak harus membangun ekosistem dari nol. Basis produksi dan pelaku usaha telah tersedia, sementara yang perlu diperkuat adalah hubungan antara produksi, pascapanen, pengolahan dan pasar.
Pengembangan industri di Bulukumba juga berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru, mulai dari pengumpulan, pengeringan, pergudangan, transportasi, tenaga kerja hingga berbagai jasa pendukung.
“Kalau industri dibangun dekat dengan sumber bahan baku, yang tumbuh bukan hanya pabrik. Ada rantai ekonomi baru di sekitarnya,” ujar Syafruddin.
Namun, penentuan lokasi dan kapasitas industri tetap harus melalui kajian kelayakan, termasuk aspek infrastruktur, energi, air, transportasi, akses pasar dan biaya logistik.
Dari Rumput Laut Menjadi Produk Industri
Menurut Syafruddin, peluang utama bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi mengolah rumput laut menjadi produk bernilai tambah.
Jenis rumput laut tertentu dapat diolah menjadi berbagai produk antara dan produk hilir, seperti ATC (Alkali Treated Cottonii), SRC (Semi-Refined Carrageenan), refined carrageenan, agar dan berbagai bahan baku industri lainnya.
Produk tersebut dapat dimanfaatkan dalam berbagai sektor, antara lain industri pangan dan minuman, kosmetik, farmasi serta berbagai kebutuhan industri lainnya, sesuai jenis rumput laut dan teknologi pengolahan yang digunakan.
“Produksi yang besar harus diikuti dengan pengembangan industri. Jika hanya menjual bahan mentah, kita belum memperoleh seluruh potensi ekonominya,” kata Syafruddin.
Menurutnya, hilirisasi perlu dibangun sebagai rantai industri yang menghubungkan petani, pengumpul, fasilitas pascapanen, industri pengolahan hingga pemasaran.
Produk olahan tersebut juga memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri maupun pasar ekspor. Karena itu, investasi di Bulukumba tidak hanya diarahkan pada pengolahan bahan baku, tetapi juga pada pengembangan produk dengan nilai tambah dan pasar yang lebih luas.
Terbuka untuk Investor Nasional dan Internasional
Syafruddin menilai pengembangan industri rumput laut Bulukumba terbuka bagi berbagai bentuk kerja sama investasi.
Investor yang dapat dibidik antara lain perusahaan swasta nasional, investor asing, BUMN, perusahaan pengolahan dan eksportir, termasuk mitra strategis yang memiliki teknologi maupun akses pasar.
Menurutnya, pembangunan industri juga tidak harus dilakukan oleh satu pihak. Kemitraan dapat dibangun antara investor, pemasok bahan baku, perusahaan teknologi dan offtaker atau pembeli produk.
“Investor tidak cukup hanya melihat potensi bahan baku. Kita harus menawarkan proyek yang jelas, dengan pasokan terukur, model bisnis yang jelas dan pasar yang dapat dituju,” ujarnya.
Investasi Dapat Dibangun Bertahap
Syafruddin menilai industri tidak harus langsung dibangun dalam skala besar.
Tahap awal dapat dimulai dari pusat pengumpulan, fasilitas pengeringan, gudang dan quality control. Selanjutnya dikembangkan menuju pengolahan produk antara hingga produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Model tersebut memungkinkan kapasitas industri disesuaikan dengan kemampuan serapan bahan baku dan perkembangan pasar.
Konsep yang ditawarkan adalah menjadikan Bulukumba sebagai Regional Seaweed Industry Hub, yaitu pusat pengumpulan, pengolahan dan distribusi produk rumput laut untuk pasar domestik maupun ekspor.
“Yang kita dorong bukan sekadar pembangunan pabrik, tetapi terbentuknya ekosistem industri rumput laut dari hulu sampai hilir,” kata Syafruddin.
Bulukumba Perlu Naik Kelas
Syafruddin menilai pengembangan industri rumput laut dapat menjadi bagian dari diversifikasi ekonomi Bulukumba, berdampingan dengan sektor kelapa, perikanan dan pariwisata.
“Jika kita ingin Bulukumba memiliki ekonomi yang lebih kuat, kita harus mulai berpikir bagaimana komoditas daerah diolah menjadi produk industri,” katanya.
Dengan produksi rumput laut Sulawesi Selatan sekitar 4,01 juta ton pada 2024, serta basis produksi lebih dari 624 ribu ton dari Bulukumba, Jeneponto, Bantaeng dan Sinjai, peluang pengembangan industri hilir memiliki dukungan bahan baku yang besar.
Namun, keberhasilan investasi tetap bergantung pada kualitas bahan baku, kontinuitas pasokan, teknologi, efisiensi logistik, kesiapan infrastruktur, kepastian pasar dan hasil studi kelayakan.
Karena itu, Syafruddin mendorong agar potensi tersebut diterjemahkan menjadi proyek investasi yang konkret dan terukur sehingga dapat ditawarkan kepada investor nasional maupun internasional.
“Bulukumba tidak boleh hanya menjadi daerah penghasil rumput laut. Kita harus mulai membangun industri yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas ini,” tegasnya.
Gagasan tersebut membuka peluang bagi Bulukumba untuk berkembang dari sentra produksi menjadi salah satu pusat industri rumput laut Sulawesi Selatan, dengan membangun rantai usaha dari petani dan pemasok, pengolahan hingga pasar nasional dan ekspor.






