JAKARTA – BELA RAKYAT – Anggota Komisi III DPR RI Habib Aboe Bakar Alhabsyi menyampaikan apresiasi terhadap kesiapan dan pemaparan visi-misi Komjen Pol. Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si., dalam pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test calon Kapolri.
Habib Aboe menilai materi visi dan misi yang disampaikan Suyudi Ario Seto menunjukkan pemahaman yang komprehensif terhadap berbagai tantangan yang sedang dihadapi Kepolisian Negara Republik Indonesia.
“Saya sangat mengapresiasi kehadiran, kesiapan, serta materi pemaparan visi-misi yang telah Jenderal susun dengan sangat komprehensif hari ini. Dokumen ini merefleksikan pemahaman mendalam Jenderal terhadap tantangan riil yang dihadapi Polri saat ini,” ujar Habib Aboe dalam fit and proper test tersebut.
Menurut Habib Aboe, rekam jejak Suyudi Ario Seto memberikan keyakinan bahwa kepemimpinan baru Polri dapat menghadirkan terobosan konkret untuk memperkuat pembenahan internal sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat.
“Saya meyakini dengan rekam jejak yang bersih dan loyal pada agenda nasional, Jenderal Suyudi memiliki kapasitas untuk mengikis sekat-sekat kultural negatif di internal Polri dan menghadirkan pembenahan yang semakin kuat,” kata anggota DPR RI Dapil Kalsel 1 tersebut.
Ia juga meyakini kepemimpinan Suyudi akan mampu membawa Polri secara konsisten memperkuat kepercayaan publik melalui perbaikan tata kelola, profesionalisme, dan pelayanan kepada masyarakat.
“Kepercayaan publik harus menjadi fondasi utama dalam membangun institusi kepolisian yang semakin profesional, modern, transparan, dan dekat dengan masyarakat. Saya yakin Jenderal Suyudi memiliki kemampuan untuk membawa Polri menuju level kepercayaan publik yang semakin tinggi secara konsisten,” ujar Habib Aboe.
Selain pembenahan internal dan kepercayaan publik, Habib Aboe memberikan perhatian terhadap persoalan narkotika dan dampaknya terhadap kapasitas lembaga pemasyarakatan.
Ia menilai pengalaman Suyudi ketika memimpin BNN menjadi modal penting untuk memperkuat sinergi antara Polri dan BNN dalam menangani persoalan narkotika secara lebih tepat sasaran.
“Pengalaman beliau ketika memimpin BNN dalam menyoroti persoalan overcapacity lembaga pemasyarakatan yang didominasi oleh tahanan kasus narkoba merupakan pengalaman yang sangat penting. Saya yakin sinergi Polri dan BNN ke depan dapat semakin diperkuat,” kata Habib Aboe.
Menurutnya, penanganan perkara narkotika perlu dilakukan secara proporsional dengan membedakan secara tegas antara jaringan pengedar atau bandar yang harus mendapatkan penindakan pidana berat dengan pengguna yang membutuhkan pendekatan rehabilitasi terpadu.
“Kita perlu memastikan bahwa jaringan pengedar dan bandar narkoba mendapatkan penindakan hukum yang tegas, sementara pengguna yang memang membutuhkan rehabilitasi dapat memperoleh penanganan yang tepat. Saya yakin Kapolri baru mampu membangun formulasi kebijakan yang semakin sinergis bersama BNN untuk mewujudkan pendekatan tersebut,” tuturnya.
Habib Aboe berharap kepemimpinan Suyudi Ario Seto nantinya dapat memperkuat agenda transformasi Polri, baik dalam aspek internal maupun dalam hubungan institusi dengan masyarakat.
“Polri membutuhkan kepemimpinan yang mampu menerjemahkan visi besar menjadi langkah konkret. Saya optimistis Jenderal Suyudi dapat membawa semangat pembaruan, memperkuat profesionalisme Polri, dan terus membangun kepercayaan masyarakat,” pungkasnya.






