Mencintai Nabi Melebihi Diri Sendiri: Kunci Kesempurnaan Iman dan Kesuksesan Dunia Akhirat

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan I

“Kami tidak pernah merayakan kelahiran Nabi hanya setahun sekali. Kami mencintainya di setiap tarikan nafas kami.”

Cinta kepada Rasulullah SAW bukanlah sekadar emosi, bukan sekadar ucapan shalawat di lisan, dan bukan sekadar perayaan seremonial. Ia adalah poros iman, timbangan keimanan, dan kunci keselamatan.

Allah SWT berfirman sebagai tolok ukur cinta yang jujur:

 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” [QS. Ali Imran: 31]

Ayat ini yang dijadikan Imam Sufyan Ats-Tsauri sebagai definisi cinta hakiki.

المَحَبَّةُ اتِّبَاعُ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Al-Mahabbah adalah ittiba’ kepada Rasul ﷺ.

Maka siapa yang mengaku cinta, pembuktiannya adalah ittiba’.

1. Standar Cinta: Harus Melebihi Diri Sendiri

Iman kita belum dianggap sempurna sampai cinta kepada Rasulullah ﷺ mengalahkan cinta kepada diri kita sendiri.

Dikisahkan oleh Abdullah bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu: Kami pernah bersama Nabi ﷺ dan beliau memegang tangan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Lalu Umar berkata:

لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي

“Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.”

Kemudian Nabi ﷺ bersabda:

 

لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ

“Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, imanmu belum sempurna sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

Kemudian Umar berkata:

فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي

“Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”

Maka Nabi ﷺ bersabda:

الْآنَ يَا عُمَرُ

“Saat ini juga wahai Umar, imanmu telah sempurna.” [HR. Bukhari no. 6632]

Ini bukan sekadar kisah Umar. Ini adalah cermin untuk kita. Hadis lain dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” [HR. Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44]

Mengapa harus melebihi diri sendiri? Karena logika cinta itu sederhana, sebagaimana dijelaskan para ulama.

Jika seseorang mencintai orang lain karena telah berbuat baik kepadanya sekali dua kali dalam urusan dunia, atau menyelamatkannya dari kesulitan dunia yang fana, itu wajar. Lalu bagaimana dengan sosok yang telah memberikan nikmat yang tidak akan pernah sirna, yang menyelamatkan kita dari Neraka dan menunjukkan jalan ke Surga? Bukankah ia lebih utama untuk dicintai?

Jika seseorang mencintai raja atau pemimpin karena kekuasaannya, maka Rasulullah ﷺ terkumpul padanya segala kemuliaan: pemimpin dunia dan akhirat, pemberi syafaat, pemilik akhlak paling mulia. Dialah yang paling berhak dicintai.

2. Apa Makna Mencintai Nabi?

Al-Qadhi ‘Iyadh di dalam kitabnya yang agung Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq Al-Musthafa menjelaskan hakikat cinta kepada Nabi ﷺ dengan 4 pilar:

Pertama: Meyakini pertolongannya, tunduk pada sunnah-sunnahnya dan segan menyelisihinya.

Cinta itu adalah pembenaran. Meyakini bahwa apa yang beliau bawa adalah kebenaran, dan merasa berat untuk menyelisihi perintahnya, meski hawa nafsu mengajak ke arah lain.

Kedua: Selalu mengingat yang dicintainya.

Orang yang jatuh cinta tidak akan lepas dari mengingat kekasihnya. Bentuknya adalah memperbanyak shalawat, mempelajari sirahnya, membaca hadisnya, dan menyebut-nyebut keutamaannya. Lisan yang kering dari shalawat adalah tanda hati yang kering dari cinta.

Ketiga: Mendahulukan dan memprioritaskan yang dicintainya.

Jika Sunnah Nabi ﷺ berbenturan dengan adat, tren, atau bahkan pendapat manusia, maka yang didahulukan adalah Sunnah. Dalam pekerjaan, dalam rumah tangga, dalam berpakaian, dalam muamalah, kita tanya: “Apa yang Rasulullah ﷺ lakukan jika berada di posisiku?”

Keempat: Kecenderungan hati pada hal yang sesuai dengan yang dicintai.

Hati yang mencintai Nabi akan mencintai apa yang Nabi cintai: mencintai tauhid dan membenci syirik, mencintai kejujuran, mencintai orang-orang shalih, mencintai masjid, mencintai kebersihan, mencintai persatuan umat.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menggambarkan pesona beliau:

مَنْ رَآهُ بَدِيهَةً هَابَهُ وَمَنْ خَالَطَهُ مَعْرِفَةً أَحَبَّهُ

“Siapa saja yang memandangnya sekilas, pasti akan segan kepadanya. Dan siapa saja yang berinteraksi dengannya dengan mengenalnya lebih dekat, pasti akan mencintainya.”

Wibawa dan cinta berkumpul pada diri beliau ﷺ.

3. Cinta Nabi Adalah Kunci Kesuksesan

Mengapa cinta Nabi ﷺ adalah kunci kesuksesan dunia dan akhirat?

1. Karena ia adalah kunci persatuan.

Umat ini tidak akan bersatu dengan harta, suku, atau partai. Umat bersatu karena mencintai sosok yang sama, mengikuti teladan yang sama. Ketika figur teladan kita satu, kiblat akhlak kita menjadi satu. Cinta kepada Nabi ﷺ menghapus fanatisme sempit.

2. Karena ia adalah sumber pertolongan di hari yang tidak ada pertolongan.

Di Padang Mahsyar, semua Nabi berkata nafsi-nafsi. Hanya satu sosok yang berkata Ummati… Ummati… Dialah Muhammad ﷺ. Bagaimana mungkin kita tidak mencintai orang yang paling peduli pada keselamatan kita di saat semua orang meninggalkan kita?

3. Karena ittiba’ adalah jalan menuju cinta Allah.

Kita mencintai Nabi ﷺ, lalu dengan ittiba’ kepada Nabi ﷺ, Allah akan mencintai kita. Dan jika Allah sudah mencintai seorang hamba, tidak ada lagi kesengsaraan baginya. Itulah kesuksesan hakiki.

4. Bagaimana Mengukur Cinta Kita Hari Ini?

Mari kita jujur bertanya pada diri sendiri, bukan pada orang lain:

• Ketika adzan berkumandang dan kita sedang sibuk dengan pekerjaan atau game, mana yang kita dahulukan? Itulah bukti cinta.

• Ketika ada Sunnah yang mudah, seperti memelihara jenggot, shalat sunnah rawatib, atau jujur dalam berdagang, apakah kita melakukannya atau kita anggap remeh?

• Seberapa banyak kita bershalawat dalam sehari, dibandingkan seberapa banyak kita mengeluh?

• Apakah kita lebih hafal lirik lagu dan nama pemain bola, atau nama istri-istri Nabi dan kisah perjuangan beliau?

Mencintai Nabi ﷺ melebihi manusia lain bukan berarti membenci manusia lain. Justru karena mencintai Nabi ﷺ, kita akan mencintai orang tua, anak, dan istri dengan cara yang benar, cara yang diajarkan oleh beliau ﷺ.

Semoga Allah menanamkan di hati kita cinta yang jujur kepada Rasulullah ﷺ, cinta yang menggerakkan lisan untuk bershalawat, menggerakkan anggota badan untuk ittiba’, dan menggerakkan hati untuk rindu berjumpa dengannya di telaga Al-Kautsar.

Allahumma amin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Semoga bermanfaat. Selamat pagi dan Jum’at penuh barokah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *