Manfaatkan Kesehatan dan Waktu Sebelum Datang Kematian: Renungan Mendalam atas Nasihat Imam Hasan Al-Bashri

“Sesungguhnya kalian pada hari ini mampu untuk melakukan hal-hal yang tidak mampu dilakukan oleh saudara-saudara kalian di alam kubur, maka manfaatkan dengan sebaik-baiknya kesehatan dan waktu luang, sebelum datangnya kematian dan waktu penghitungan amal.”

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering kali tenggelam dalam kesibukan dunia. Waktu berlalu begitu cepat, sementara usia terus berkurang. Setiap detik yang berlalu sejatinya adalah bagian dari umur yang tidak akan pernah kembali. Namun ironisnya, banyak orang baru menyadari berharganya waktu ketika kesempatan telah hilang.

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar generasi tabi’in yang dikenal karena kezuhudan dan kedalaman ilmunya, pernah memberikan nasihat yang sangat menyentuh hati. Beliau mengingatkan bahwa orang-orang yang telah berada di alam kubur sangat berharap dapat kembali ke dunia meski hanya sesaat untuk menambah amal saleh. Akan tetapi, kesempatan itu telah tertutup selamanya.

Sementara kita yang masih hidup justru memiliki kesempatan yang sangat luas. Kita masih bisa shalat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, menolong sesama, memperbaiki akhlak, bertaubat, menuntut ilmu, serta meninggalkan dosa. Karena itu, setiap detik kehidupan adalah karunia Allah yang tidak ternilai.

Hasan Al-Bashri: Ulama yang Menghidupkan Hati

Imam Hasan Al-Bashri lahir pada tahun 21 Hijriah di Madinah. Beliau termasuk generasi tabi’in yang bertemu dengan banyak sahabat Rasulullah ﷺ seperti Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, dan Abdullah bin Umar.

Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat takut kepada Allah, banyak menangis ketika mengingat akhirat, dan selalu mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia.

Beliau pernah berkata:

“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka berkurang pula sebagian dirimu.”

Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa usia manusia bukan bertambah, tetapi justru berkurang menuju ajal yang telah ditentukan Allah.

Kehidupan Dunia Hanyalah Persinggahan

Allah SWT berfirman:

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Ayat ini mengingatkan bahwa dunia bukan tujuan akhir, melainkan tempat ujian. Segala kenikmatan dunia akan sirna, sedangkan amal saleh akan tetap menemani seseorang hingga hari kiamat.

Penyesalan Penghuni Kubur

Al-Qur’an menggambarkan bagaimana penyesalan orang yang telah meninggal.

Allah SWT berfirman:

“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang dahulu aku tinggalkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)

Namun permintaan tersebut ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan beramal hanya ada selama manusia masih hidup.

Begitu ruh keluar dari jasad, maka lembaran amal tertutup, kecuali tiga perkara sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Nikmat Sehat yang Sering Dilupakan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Hadis ini sangat sejalan dengan nasihat Imam Hasan Al-Bashri.

Seseorang yang sehat sering menunda ibadah karena merasa masih muda. Ia mengira masih memiliki banyak waktu. Namun ketika sakit datang, banyak ibadah yang tidak lagi mampu dilakukan.

Waktu Lebih Berharga daripada Emas

Para ulama mengatakan:

“Waktu adalah kehidupan.”

Harta yang hilang masih dapat dicari. Jabatan yang hilang masih mungkin kembali. Tetapi satu detik umur yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Karena itu para salaf sangat menjaga waktu mereka. Imam Nawawi hampir tidak pernah menyia-nyiakan waktunya.

Imam Syafi’i berkata:

“Waktu ibarat pedang. Jika engkau tidak memotongnya dengan kebaikan, maka ia akan memotongmu dengan kerugian.”

Umar bin Abdul Aziz: Pemimpin yang Menghargai Waktu

Khalifah Umar bin Abdul Aziz hanya memimpin sekitar dua tahun lima bulan. Namun dalam waktu yang sangat singkat beliau berhasil melakukan reformasi besar.

Beliau mengembalikan harta negara kepada rakyat. Beliau memberantas korupsi.

Beliau memperkuat keadilan. Beliau memperhatikan fakir miskin.

Bahkan disebutkan bahwa pada masa pemerintahannya sulit menemukan orang yang mau menerima zakat. Semua itu terjadi karena beliau memanfaatkan setiap waktunya untuk kemaslahatan umat.

Sahabat Nabi yang Berlomba dalam Amal

Abu Bakar Ash-Shiddiq selalu berusaha menjadi yang terdepan dalam amal.

Umar bin Khattab berlomba bersedekah.

Utsman bin Affan membeli sumur Raumah agar masyarakat dapat memperoleh air secara gratis.

Ali bin Abi Thalib terkenal dengan ilmu dan keberaniannya.

Abdurrahman bin Auf menggunakan kekayaannya untuk dakwah.

Mereka memahami bahwa umur sangat singkat. Karena itu mereka berlomba-lomba dalam kebaikan.

Bahaya Menunda Taubat

Setan memiliki satu strategi yang sangat ampuh, yaitu membuat manusia berkata:

“Nanti saja.”

Nanti shalat lebih khusyuk. Nanti berhijrah. Nanti membaca Al-Qur’an. Nanti bersedekah. Nanti memperbaiki diri. Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal datang.

Allah berfirman:

“Tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)

Kematian Datang Tanpa Pemberitahuan Kematian tidak mengenal usia. Anak-anak meninggal. Pemuda meninggal. Orang tua meninggal.

Orang kaya meninggal. Orang miskin meninggal. Pejabat maupun rakyat biasa semuanya akan menghadap Allah.

Allah SWT berfirman:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Bekal Terbaik Adalah Takwa

Allah SWT berfirman:

“Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Takwa bukan hanya banyak ibadah. Takwa juga berarti jujur. Menjaga amanah. Menghindari riba. Tidak memfitnah. Tidak mengambil hak orang lain. Berbuat baik kepada orang tua. Menyambung silaturahmi. Mmalan yang Terus Mengalir

Selama masih hidup, seseorang hendaknya memperbanyak amal yang pahalanya terus mengalir.

Di antaranya: Membangun masjid. Mewakafkan Al-Qur’an. Membantu pendidikan. Menggali sumur. Menanam pohon yang bermanfaat.

Menyebarkan ilmu agama. Membantu anak yatim dan kaum dhuafa. Menjadi teladan dalam akhlak. Semua itu akan menjadi investasi akhirat yang sangat berharga.

Muhasabah Setiap Hari

Umar bin Khattab berkata:

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

Muhasabah membuat seseorang sadar atas dosa dan kekurangannya. Orang yang setiap hari mengevaluasi dirinya akan lebih mudah memperbaiki amal.

Menjadi Hamba yang Produktif

Islam tidak mengajarkan kemalasan. Rasulullah ﷺ bekerja. Bara sahabat bekerja. Para ulama bekerja.

Mereka tetap rajin beribadah sambil memberikan manfaat bagi masyarakat. Seorang muslim hendaknya menjadi pribadi yang produktif, amanah, disiplin, dan bermanfaat.

Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, waktu luangmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)

Hadis ini merupakan pedoman hidup bagi setiap muslim agar tidak menunda amal.

Dunia Adalah Ladang Akhirat

Para ulama mengatakan: “Dunia adalah ladang akhirat.”

Apa yang ditanam hari ini akan dipanen pada hari kiamat. Jika seseorang menanam amal saleh, ia akan memanen kebahagiaan.

Sebaliknya, jika menanam kemaksiatan, ia akan menuai penyesalan.

Jangan Meremehkan Amal Kecil

Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah engkau meremehkan sedikit pun kebaikan.” (HR. Muslim)

Senyum. Menyingkirkan duri dari jalan. Memberi makan. Menghibur orang sedih. Mendoakan saudara. Semuanya bernilai ibadah bila dilakukan karena Allah.

Penutup

Nasihat Imam Hasan Al-Bashri merupakan panggilan untuk membangunkan hati yang lalai. Orang-orang yang telah berada di alam kubur tidak lagi memiliki kesempatan untuk memperbaiki amal. Mereka hanya bisa menunggu keputusan Allah pada hari kebangkitan.

Sebaliknya, kita yang masih diberi kesehatan, usia, dan waktu memiliki kesempatan yang sangat besar untuk memperbanyak amal saleh. Jangan sampai kesempatan emas ini berlalu tanpa makna.

Marilah kita mengisi setiap hari dengan shalat yang lebih khusyuk, membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, berbakti kepada orang tua, menjaga amanah, memperbaiki akhlak, menolong sesama, dan memperbanyak istighfar.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu memanfaatkan umur, kesehatan, dan waktu dengan sebaik-baiknya, mengakhiri kehidupan dengan husnul khatimah, melapangkan alam kubur kita, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ, para nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *