JAKARTA – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi refleksi bersama tentang sejauh mana negara dan masyarakat telah menghadirkan pelindungan nyata bagi perempuan, khususnya dalam menghadapi berbagai persoalan yang masih terus terjadi hingga hari ini.
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menegaskan bahwa semangat perjuangan R.A. Kartini masih sangat relevan, terutama dalam isu pendidikan, kesehatan, serta pelindungan perempuan dan anak.
“Kartini memperjuangkan hak perempuan untuk berpikir, belajar, dan hidup bermartabat. Hari ini, semangat itu harus kita lanjutkan dengan memastikan perempuan Indonesia terlindungi dari kekerasan dan mendapatkan akses yang adil terhadap pendidikan dan layanan kesehatan,” ujar Netty.
Ia menyoroti masih tingginya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang menjadi alarm serius bagi semua pihak.
“Kekerasan seksual bukan hanya melukai fisik, tetapi juga menghancurkan masa depan korban. Negara harus memastikan sistem pelindungan yang kuat, mulai dari pencegahan, penanganan, hingga pemulihan korban,” tegasnya.
Selain itu, Netty juga menyinggung persoalan pekerja migran perempuan yang terpaksa meninggalkan keluarga demi bertahan hidup. Kondisi ini, menurutnya, seringkali berdampak pada pengasuhan anak yang tidak optimal karena kurangnya daya dukung.
“Banyak perempuan berstatus ibu yang harus bekerja ke luar negeri karena desakan ekonomi. Dengan kultur pengasuhan anak di keluarga Indonesia yang sebagian besarnya dibebankan pada Ibu, maka anak-anak mereka berisiko mengalami kurangnya pengasuhan. Hal ini tentu saja berdampak pada tumbuh kembangnya,” ujarnya.
Oleh sebab itu, Netty meminta pemerintah memberikan perhatian pada anak-anak dari keluarga Ibu sebagai PMI melalui taman pengasuhan berbasis masyarakat serta edukasi yang melibatkan para ayah dalam pengasuhan anak-anak.
Selain itu, Netty menekankan pentingnya kebijakan yang berpihak pada penguatan ekonomi keluarga.. “Jika tersedia peluang ekonomi yang luas, tentunya perempuan dengan anak-anak yang masih butuh perhatian tidak harus pergi jauh sebagai PMI,” tambahnya.
Di sisi kesehatan, Netty juga mengingatkan meningkatnya perhatian terhadap gangguan kesehatan jiwa pada ibu, yang dalam beberapa kasus ekstrem dapat berdampak pada keselamatan anak.
“Kesehatan mental ibu adalah fondasi penting dalam keluarga. Jika tidak ditangani dengan baik, dampaknya bisa sangat serius, bahkan mengancam keselamatan anak,” jelasnya.
Ia mendorong penguatan layanan kesehatan jiwa yang lebih mudah diakses, khususnya bagi para ibu, serta peningkatan edukasi masyarakat agar isu ini tidak lagi dianggap tabu.
“Layanan kesehatan mental harus menjadi bagian integral dari sistem kesehatan kita, terutama untuk ibu dan anak,” tegasnya.
Netty menegaskan bahwa perjuangan Kartini hari ini harus diwujudkan dalam kebijakan nyata yang berpihak pada perempuan dan anak.
“Memuliakan perempuan bukan sekadar slogan. Ia harus hadir dalam kebijakan yang melindungi, memberdayakan, dan memastikan setiap perempuan dapat menjalankan perannya di dalam keluarga, masyarakat dan profesi dengan aman dan bermartabat,” tutupnya.






